Managing Writers

Pertama-tama, sebetulnya saya ingin bikin judul bahasa Indonesia, “Memenej Penulis”. Tapi kok menulis kata ‘memenej’ saja rasanya janggal, dan saya merasa lebih akrab dengan bahasa Inggrisnya. Jadi deh….

writers-block3

Saya telah menyebut diri saya sebagai penulis kira-kira delapan tahun, sejak 2002. Sejak itu pula, saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi. Alih bentuk tulisan, ya… toh semua penulis pasti akan selalu berproses (kecuali kalau ia berhenti menulis). Hingga sekarang, saya tidak bisa menghitung berapa tulisan gagal maupun berhasil yang sudah saya buat. Saya bukan seorang yang terorganisir dalam hal mengoleksi tulisan-tulisan yang telah terbit. Karier menulis saya dimulai dengan menulis novel, lalu saya mulai menulis cerpen (yang lebih banyak ditolak koran ketimbang yang dimuat), lalu saya menulis novel lagi, dan kini saya lebih banyak menulis skenario. Saya juga menulis tulisan pesanan selain menulis apapun yang saya ingin tulis. Kira-kira seperti itulah jalan karier menulis saya kalau benar-benar diringkas.

Ketika saya masuk ke dunia skenario, banyak hal baru yang saya temui, di antaranya … eng-ing-eng… ketemu selebriti! Yup… mulai dari artis jaman saya muda (serius, saya mengaku udah mulai tua) yang sekarang sudah jadi senior, artis sinetron yang baru-baru ini tengah naik daun, hingga artis-artis pendatang baru yang tenarnya masih tanggung. Mereka umumnya berusaha bersikap profesional dengan cara bergabung dalam manajemen artis (agen pemain sinetron/film/bintang iklan) tertentu. Manajemen artis mengurus segala keperluan sang artis, mulai dari dandanan, jadwal, bahkan kalau perlu demi membentuk imej publik yang oke, merekalah yang memberi “modal” seperti mobil, rumah, juga modal untuk operasi plastik sang artis! Too good to be true? Percayalah… saya sendiri masih percaya enggak percaya. Sebagai imbalannya, sang artis harus menyisihkan beberapa persen (tergantung perjanjian) dari penghasilannya untuk manajemen artis. Nah, bisa dibayangkan berapa penghasilan seorang artis jika namanya meroket, yang pasti harus cukup untuk menutupi modal yang telah diberikan manajemen artis padanya. Maka jangan heran, berbondong-bondong orang yang mendaftar ke manajemen artis demi menjadi selebriti. Beda artis, beda pula penulis. Jujur saja, seburuk-buruknya honor artis medioker, masih lebih buruk honor penulis yang tulisannya sering dimuat di koran/majalah.

Di luar negeri, di mana fungsi literary agent sudah eksis, segala urusan yang menyangkut kepenulisan (termasuk sebagai pembaca pertama, mencari penerbit, mempersiapkan peluncuran buku, memutuskan menerima/menolak sebuah wawancara/undangan acara sastra, serta tawar menawar harga jika rights buku dibeli oleh luar negeri) akan diurus mereka. Tugas penulis hanya menulis yang bagus agar tulisannya laku dijual. Sebagai imbalan (sama persis dengan manajemen artis), sekian persen dari penghasilan penulis akan dipotong sebagai honor literary agent. Singkatnya, literary agent juga berfungsi sebagai manajer penulis.

Saya menemukan fenomena baru di dunia kepenulisan Indonesia. Dengan mengesampingkan ketaktersediaan literary agent (agen sastra) di Indonesia, ternyata penulis kita mulai sadar akan pentingnya manajemen. Beberapa penulis Indonesia yang saya tahu, sudah ada yang memiliki manajer. Jika ia dihubungi oleh pers atau pihak ketiga lain yang ingin mengundangnya, ia akan bilang, “silakan hubungi manajer saya”. (Kalimat ini mengingatkan saya akan T-shirt yang dijual di Planet Hollywood, “call my agent”). Dengan kalimat ini, kita tahu bahwa segala urusan penulis yang bersangkutan akan diurus oleh manajernya.

collapse_005-450w

Mungkin kita masih merasa asing dengan fenomena ini. Meski saya pikir, hal seperti itu sah-sah saja. Penulis umumnya adalah orang ‘nyeni’ yang mengikuti kata hati (baca: seenaknya sendiri, hehehe… begitulah setidaknya saya dan suami), tidak terorganisir (baca: berantakan), serta butuh waktu banyak untuk mencari inspirasi dan riset (baca: mengulur-ulur waktu menulis! Bwahahaha *pengakuan dosa*). Dengan adanya seorang manajer, maka hidup seorang penulis diharapkan jadi lebih teratur. Manajer akan memastikan berapa honor yang diterima penulis jika ia menjadi pembicara sebuah acara, atau DP setelah menandatangani surat kontrak penerbitan/pengangkatan karyanya menjadi layar lebar. Ia juga orang yang mengingatkan kapan penulis itu harus datang ke sebuah undangan wawancara, serta menyaring orang-orang yang dianggap menggangu kegiatan utama penulis, yaitu menulis. Keberadaan seorang manajer yang menjadi pagar pembatas antara penulis dengan pihak ketiga itu sebenarnya bisa dianggap publik sebagai dua hal:
1) Image building, bahwa penulis itu memang orang yang super sibuk dan (otomatis jadi) orang penting.
2) Sombong amat lu! Lu pikir gue enggak tau tulisan lu enggak laku-laku amat, dan enggak bagus-bagus amat! (hixixixixix….)

Jika yang memiliki manajer adalah penulis seperti Dee, Rieke Dyah Pitaloka dan Happy Salma, ceritanya beda lagi. Hal ini wajar sebab pada dasarnya mereka terlebih dahulu dikenal sebagai artis/selebriti. Seperti yang saya bilang tadi, artis/selebriti umumnya memang memiliki manajemen yang mengurus semuanya. Jadi jangan heran jika untuk urusan buku pun akan diurus sekalian oleh sang manajer. Lantas, bagaimana dengan Habibburrahman El Shirazy dan Andrea Hirata, mereka kan penulis yang kemudian jadi selebriti? Begini saja gampangnya, apapun karier yang dipilih seseorang pada awalnya, tetapi ujungnya lebih banyak berakhir di infotainment, maka hitunganya juga selebriti. Jadi, mereka pun sah kalau punya manajer yang memagari antara diri mereka dengan pihak ketiga (baca: publik, ya kita-kita ini yang kadang mengganggu privacy!)

Di luar negeri, untuk penulis sebesar JK Rowling, tentu saja fungsi manajer menjadi penting. Selain memang memanajeri segala hal, ia juga berfungsi menjadi bodyguard naskah agar tidak bocor ke luar sebelum buku serial Harry Potter terbaru terbit. Bagi para penulis detektif/suspense semacam Tom Clancy, John Grisham dan Agatha Christie, mungkin beda lagi. Konon, mereka memiliki tim yang selain memanajeri juga membantu riset untuk bahan tulisan. Saya tidak heran, sebab menulis cerita detektif bukanlah hal main-main. Meski fiktif, cerita itu harus begitu detil sehingga kisah detektif yang disajikan menjadi sempurna. Para penulis besar tersebut tentu saja mereka membayar manajer/asisten pribadinya dengan harga yang pantas. Buku mereka laris manis bak kacang goreng, merebak di Negara sana-sini bak jamur di musim hujan, jadi tak kan kesulitan untuk membayar seorang manajer.

Di Jepang ceritanya beda lagi, para komikus yang sudah punya nama umumnya memiliki asisten yang membantunya membuat komik. Mereka adalah komikus pemula yang memang gigih ingin belajar, dan mau dibayar murah… amat sangat murah, hingga mereka harus tinggal satu flat berempat hingga berenam. Jika mereka sedang tidak punya uang, konon saling pinjam-meminjam beras agar bisa makan.

Beberapa tahun lalu, seorang teman pernah menawarkan seseorang yang konon butuh pekerjaan untuk menjadi manajer (atau setidaknya asisten) saya. “Dia bisa mengetik, dan memang ingin belajar banyak tentang menulis,” promosi teman saya waktu itu. Saya menolak tawaran itu dengan alasan saya belum butuh manajer/asisten, sebab saya merasa tidak sesibuk yang ia bayangkan, juga seamburadulnya saya, masih merasa bisa mengatur segala hal sendiri. Saya juga tidak bisa membayangkan, menulis dengan cara diketikan orang lain sementara saya mendiktenya, akan jadi seperti apa ya? Lebih dari itu, saya juga tidak tahu bagaimana saya harus membayarnya. Menggajinya tiap bulan, tentu saja saya tidak mampu, pembantu yang bebersihpun saya tak punya. Mengandalkan persenan dari honor cerpen yang saya hasilkan? Duh… percayalah, jumlahnya tidak manusiawi. Sekali lagi, persenan dari honor penulis berbeda dengan persenan honor seorang artis, bahkan yang medioker sekalipun.

Hingga sekarang saya menjadi super sibuk, nyaris waktu tidurpun harus mencuri, saya masih sama sekali tidak berniat punya seorang manajer pribadi. Saya lebih suka sesederhana mengangkat HP ketika seseorang menelepon saya, menerimanya baik-baik seperti juga menolaknya baik-baik jika ia meminta waktu untuk bertemu tetapi saya tidak punya cukup luang. Akhir-akhir ini saya juga menolak beberapa penulis pemula yang meminta masukan saya untuk tulisannya, saya bilang, “maaf, saya benar-benar sibuk sekali. Lebih baik saya menolak di awal daripada saya menyanggupi tapi tulisanmu tidak pernah saya baca.” Begitulah kira-kira.

Jikapun ada seseorang yang saya anggap sebagai “manajer”, maka orang itu adalah editor saya. Saya termasuk penulis yang nurut pada editor. Saya percaya padanya, dia punya mata yang tajam bagaimana kover buku seharusnya dibuat, bagaimana buku akan dipromosikan, selain tentu saja dia mengedit buku saya. Jika buku saya akan diterbitkan di luar negeri atau dibeli rightsnya untuk diangkat menjadi film, misalnya, tentu saja saya akan menyerahkannya kepada editor, sebab itu semua tercantum di dalam surat kontrak perjanjian. Tapi untuk urusan sekedar menjadwalkan undangan wawancara/menjadi pembicara, menolak menjadi proofreader, atau mencari beberapa buku untuk bahan riset, cukup saya sendiri yang melakukannya. Bagi saya pribadi, inilah bentuk kepraktisan manajemen sebagai penulis.

6 thoughts on “Managing Writers

  1. oo…begitu ya..mbak….jadi pada intinya profesi sebagai penulis belum dapat menjadi suatu karir yang menjanjikan untuk dibuat profesional seperti artis sinetron gitu ya?

    saya suka menulis mbak..cuman miris juga sih kalau melihat jumlah 223 juta penduduk indonesia {jumlah yang menurut saya cukup banyak} ternyata kontras dengan jumlah penyebaran buku yang hanya terkonsentrasi pada pulau jawa saja – terutama jawa barat.

    itu juga yang baca pasti hanya kalangan2 tertentu saja {yang memiliki hobi baca}, sementara yang lain (which is yang kita sudah tahu klo rata2 orang indonesia baik mahasiswa, siswa-siswi SMP maupun SMU) masih memiliki minat yang rendah dalam membaca buku.

    padahal kalau kita, penduduk indonesia memilki tingkat baca yang tinggi saya rasa kita bisa meningkatkan mutu pendidikan kita dan yang lebih penting mungkin memajukan kasana sastra kita, dan tak ketinggalan profesi penulis menjadi sebuah profesi yang tida dipandang sebelah mata lagi. tapi akan menjadi sebuah profesi yang mulia layaknya guru & dosen.

  2. “penulis hanya menulis yang bagus agar tulisannya laku dijual”

    Saya kok kurang setuju ya tentang kalimat ini, seolah-olah kita tertekan harus menulis, padahal menulis bukan yang dipaksakan karena untuk mencari nafkah. Trus dimanakah tingkat kesenangan dari menulis itu sendiri?

    lebih cocok, “penulis hanya menulis hal yang ia minati”

    salam
    masterofcpu

  3. Akhir-akhir ini saya sedang mencoba untuk membuat novel setelah sekian lama ingin menulis novel namun selalu menggantung.Doakan supaya bisa cepat selesai yaa mbak dan semua orang menyukai alur ceritanya.
    Saya juga mulai tertarik sebagai penulis skenario.Kira-kira bisa engga ya?.Hmm harus dicoba tuh xoxo :D

Comments are closed.