Masyarakat Samin dalam Film Layar Lebar


Mbah diperankan oleh WS Rendra dalam salah satu adegan Lari Dari Blora

Masyarakat Samin adalah suku pedalaman yang ada di daerah Blora, kota kecil di Jawa Tengah. Sebagai orang yang sempat tinggal di daerah Jawa Tengah, saya lumayan akrab dengan kata “samin”. Kata ini biasanya berkembang fungsinya dalam percakapan sehari-hari sebagai ejekan yang artinya “gila”.

Film Lari Dari Blora mengangkat kehidupan masyarakat Samin dan hubungan interaksinya antara masyarakat Blora, pemerintah setempat dan masyarakat Samin itu sendiri. Film yang disutradarai oleh Akhlis Suryapati ini merupakan adaptasi dari pemenang juara ketiga Sayembara Penulisan Naskah Film Depdikbud 2004 yang aselinya berjudul Cagar Pelarian. Film ini dibintangi oleh WS Rendra, Ardina Rasti, Iswar Kelana, Soultan Saladin, Nizar Zulmi dan seorang pemain asing yang berperan sebagai peneliti dari LSM Amerika, Annika Huyper.

Alkisah dua orang buronan dari Penjara Blora yang melarikan diri menuju ke desa Samin. Ketika di kota Blora orang-orang mulai waspada atas peringatan polisi setempat mengenai buronan tersebut, masyarakat Samin (yang dalam film ini diwakili oleh WS Rendra sebagai orang Samin paling terpandang di lingkungannya), justru bersikap tenang-tenang saja. Film ini berusaha menunjukan bentuk sikap masyarakat Samin yang seolah “semau gue”, tidak mau patuh pada peraturan yang seolah-olah mengeksklusifkan diri. Sepengetahuan saya mengenai masyarakat Samin, dalam film ini justru gambaran warga Saminnya masih sangat kurang Samin. Ada di antara tokoh Samin di dalam film yang kelihatan sangat khawatir dan peduli dengan peringatan aparat dan peraturan pemerintah. Melihat judul yang diangkat, seharusnya pula ceritanya seputar dua orang buronan yang kabur. Tetapi tidak, dalam perkembangannya, ceritanya makin jauh dari dua buronan ini. Saya pikir, jika menggunakan judul Cagar Pelarian (judul aseli naskahnya) justru lebih tepat ketimbang judul Lari Dari Blora.


Dua aktor pemain buronan yang kabur dari Penjara Blora

Saya sebetulnya berharap banyak atas film ini, sebab pada dasarnya ide yang diangkat lumayan menarik. Sayangnya, ternyata film ini jadi terlalu bertele-lete, terutama karena banyaknya khotbah sebagai penjelasan apa itu Samin, bagaimana peraturan pemerintah, serta apa itu terorrisme, segela penjelasan ala pemerintahan yang penuh birokrasi. Meski konfliknya makin berkembang, tetapi ritme yang terlalu lambat membuat penonton bosan di tiga puluh menit pertama. Pengambilan gambar yang banyak close-up ke wajah kasting juga mengganggu. Baik DOP maupun sutradara kelihatannya kurang memperhitungkan bahwa ini adalah film layar lebar yang notabene akan dimainkan di layar yang betul-betul lebar. Saya pikir tidak perlulah penonton melihat wajah kasting yang jelas-jelas didempul make-up. Jadinya tak ada beda dengan sinetron. Untungnya, WS Rendra berakting lumayan, meski aktor lainnya masih terlalu kaku. Justru Annika Huyper, pemain asing dengan logat Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa yang pas-pasan berakting jauh lebih natural dibanding aktor Indonesia yang ada di film Lari Dari Blora.

Di samping gambar dan kasting, musik latar yang buruk juga mengganggu penonton. Tidak masalah Rafika Duri yang menjadi penyanyi sound track lagu ini, yang menjadi masalah adalah musik latar yang berkesan dimasukkan secara paksa dan dibuat seenaknya. Seolah musik yang ada ditempel tambal-sulam di adegan sana-sini. Dengan majunya dunia musik Indonesia sekarang, dan canggihnya musik buatan pemusik-pemusik muda kita, musik latar semacam di film Lari Dari Blora seharusnya sudah ditinggal sejak dua puluh tahun lalu.

*gambar diambil dari http://www.laridariblora.com/galeri.htm

20 thoughts on “Masyarakat Samin dalam Film Layar Lebar

  1. Pingback: “Lari dari Blora”

  2. Wah pengin nonton juga nih! Kan saya lahir dari sebelahnya Blora yaitu Rembang. Siapa tahu ada filosofi orang samin yang juga dianut masyarakat Rembang.VCD nya sudah beredar apa belum mbak?

  3. belum nonton filmnya. pernah pengen banget punya vcd/dvd nya. tapi keinginan itu pupus. karena banyak orang yang tidak merekomendasikannya, setelah mereka menonton sendiri. tidak hanya ratih kumala saja loh. bamgb mungkin masih tetap bisa sekedar nonton film ini karena ingin membandingkan pengetahuan saya tentang masyarakat Samin dengan film ini. jelek-jelek, saya juga pernah mengadakan studi pustaka intensif tentang suku yang dianggap gila dari blora ini. setelah studi pustaka itu, buat saya masyarakat samin justru membuat saya bangga akan keberadaannya. siapa tahu kakek/nenek buyut saya, sekian generasi di atas saya, adalah orang samin juga….saya orang blora, asli!

  4. jujur saja, mbak ratih, saya belum nonton filmnya, hehehehe :lol: tapi membaca review mbak ratih penasaran juga sih. maklum, kendal sebuah kota kecil yang jauh dari sentuhan film2 gres dan terbaru, bahkan sdh pada gulung tikar. paling2 mesti lari ke semarang. kebetulan saya lahir di grobogan-purwodadi, tidak jauh2 amat dari blora. kata “samin” sdh demikian akrab di telinga saya. bahkan, nama samin surosentika acapkali menjadi bahan perbincangan kami waktu kecil. btw, makasih kunjungannya ke blog saya ya, mbak ratih. nama mbak ratih sdh lama saya kenal lewat cerpen yang sering saya baca di berbagai koran. kebetulan saya dulu sekampus dg triyanto triwikromo, mas prasetyo utomo, dan herlino soleman. mereka bertiga dah jadi penulis hebat, sementara saya tetap katrok dan ndesa, hehehehe :lol: punya beberapa cerpen pun sulit mencari penerbit. kebetulan ada rencana utk nerbitin kumcer self publishing. doakan ya mbak, mudah2an bisa terwujud. salam kreatif!

  5. keep otonom… filmnya bagus…. aku berharap tradisi masyarakat samin menyebar disenatero indonesis ,

    Izinnya mba, sy mau posting resensi filmnya di blogku, boleh?

  6. Aku udah udah nonton dibioskop tgl 29 feb 2008. Brg ma ayat-ayat cinta. Ya meskipun ga selaris AAC. Filmini cultural bgt!! Cinematografi keren !!! Tehnik pengambilan gambarna huh natural bgt !! Syutingna di Blora, Pati, Jepara. Oya DVD na bru keluar kmarin aku udah beli cuma 30rb.

  7. oya kenapa sutradarane g izin dlu ama kelompok wong samins jujur sbgai keturunan samins asli msh mrsa kecewa dengan film trsebut

  8. Emg sama cerita dngan yg asli?Yus dpt sumberx ceritax dr spae?Q aj org Blora g tau critax?

  9. Sebuah film dengan naskah luar biasa. Bikin berlinang air mata. Buatku yang terpenting isi dari film atau ruh dari cerita film ini. Ajaran ini sangat relevan sekali dengan keadaan sekarang yang hanya dipenuhi dengan mengejar sesuatu yang tak jelas. Cermatilah dialognya, utamnya kata-kata Rendra, pahami…pahami….ORANG SAKTI ITU ADALAH ORANG YANG TAK PUNYA MUSUH. BUAT APA MENCURI, WONG MINTA SAJA DIKASIH…ini luar biasa…saudara…INI PURE AJARAN TUHAN, SEKALI LAGI AJARAN TUHAN……

    ————

    @Rachmad Sadeli: Oke deh, AJARAN TUHAN! :) kalo suka banget ama film ini, tulis aja resensinya di blog atau di note facebook, atau sebarin ke milis-milis. Film maker-nya pasti hepi! Otre! =)

  10. Sudah kok, sudah aku sebarin di FB ku, ya memang bukan berupa resensi, tapi komentar-komentarku saja. Malah aku mendapat DVD ini beberapa hari sebelum WS Rendra wafat.

    FB ku: rahmat@gramedia-majalah.com

    ——————–

    @Rahmat: wah, bagus dong… dapet DVD gratisan!

  11. lanjutkan dan senantiasa dilanjutkan hingga anak anak cucu kita seterusnya agar akar kebudayaan nenk moyangnya dan sejarah asal usulny tidak sirna ditelan oleh virus virus zaman yang justru memusnahkan dan membuat kikis atau erosi sebuah nilai yanh sudah ditanamkan oleh lelluhur kita yang terdahulu…………..MERDEKA

Comments are closed.