Berdamai Dengan Air

Saya tidak akan pernah lupa nasihat ibu saya, “nyalakan air jika bak kamar mandi kosong. Isikan sampai sedikit meluber, tapi jangan biarkan air di kamar mandi terbuang banyak karena kran tak dimatikan.” Bagi ibu saya, itu bukan sekedar nasehat berhemat air, itu juga falsafah hidupnya. Menyalakan air kran kamar mandi adalah metafora rejeki. Jika tampungan kosong maka rejeki harus diisi sampai penuh dan sedikit meluber (luberan air yang sedikit itu melambangkan ‘pembersihan’). Tapi tidak boleh membuang rejeki dengan sia-sia (kran tak dimatikan). Sampai sekarang saya selalu mematikan kran air, sekaligus risih dengan kran yang tak dimatikan baik itu di rumah sendiri atau di tempat-tempat umum.

Sejujurnya saya belum pernah merasa kekurangan air. Saya selalu bisa mandi dan minum sepuas-puasnya. Kalimat ‘air adalah sumber kehidupan’ bagi saya hanya lewat di telinga (meski saya tahu betul bahwa air memang penting). Ketika tahun lalu Jakarta dilanda banjir besar, saya sempat kena imbasnya. Selain tak bisa ke mana-mana karena terkepung air (meskipun tak kebagian banjir), tapi tetap saja air kran kalau diperhatikan benar-benar jadi agar berwarna kecokelatan. Tak bisa pula kami pesan air galon, karena selama satu minggu tak ada transportasi yang bisa lewat. Saya sempat diare ketika banjir terjadi.

Film Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak (Ngobrol dengan Mbok Giyem) adalah film dokumentasi produksi Matabunga Institute dan disutradarai oleh M. Toha Nuhson Hajji, teman baik saya. Hari Sabtu (29/03) lalu film ini memenangi Kompetisi Film Dokumentasi Forkami: Manusia dan Air. Mbok Giyem, perempuan yang tinggal di daerah Boyolali harus berjalan sekitar 5 jam untuk mencari air. Ia nggrundel mengenai pembagian kerja mengambil air dengan suaminya. Di awal pernikahannya, Mbok Giyem sempat was-was soal air, namun lama-kelamaan mengambil air adalah kegiatan robotik, dan semua orang di desa itu melakukannya.

Toha dan Pita (produser), datang jauh-jauh dari Solo, Sabtu sore. Sabtu siang saya baru ditelepon bahwa mereka akan ke CCF, berkaitan dengan film bertema air yang mereka buat. Saya pikir hanya screening biasa, sampai diumumkan bahwa film Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak masuk enam besar dan akan dipilih juara satu, dua, dan tiga. Saya sudah celingat-celinguk, Pita dan Toha datang terlambat gara-gara pesawatnya didelay; kalau mereka menang, berarti sayalah yang harus maju mewakili mereka. Saya mulai deg-degan, panas-dingin, jangan-jangan kalau betulan menang, saya harus kasih speech atau semacamnya. Ternyata…, tepat ketika diumumkan juara pertama, Toha dan Pita muncul dengan lugu dan bingung, sementara semua orang yang hadir di CCF bersorak menyuruh mereka maju mengambil hadiah. Nggak jadi deh saya speech, hehehe.

Saya sempat terlibat di salah satu film bertema air garapan Matabunga Institute sekitar dua tahun lalu. Pita dan Toha meminta saya untuk mengerjakan subtitle bahasa Inggris. Film itu berjudul Air di Tanah Kami berdurasi 56′. Sedang film Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak (durasi 19′ 59″) masih merupakan bagian dari film pertama, namun difokuskan pada Mbok Giyem sebagai ‘pemeran utama’.

Mereka shooting di desa kering di Boyolali selama 10 hari, bermodalkan galon besar aqua yang sengaja mereka bawa untuk minum. Karena kekurangan air, tentu saja 10 hari itu mereka tak mandi! Bahkan untuk buang air besar pun masih dengan sistem gali lobang, tumpuk tanah, tumpuk tinja lagi, lalu kalau sudah penuh, baru tutup lobang. (Yak, sesusah itulah kehidupan Mbok Giyem akan air.) Boyolali mungkin terkenal subur, tapi tak banyak orang tahu, karena bentuk fisiknya yang berbukit, justru ada desa-desa di Boyolali yang betul-betul kekeringan. Contohnya; Desa Blado, Kec. Juwangi, Kab. Boyolali, tempat tinggal Mbok Giyem. Menurut Pita, karakter tanah di Desa Blado berpasir, jadi air langsung masuk ke dalam tanah.

Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak mengalahkan sekitar 40 film dokumenter lainnya (yang juga bertemakan air). Saya sempat melihat beberapa film lainnya; ada orang yang menampung air dengan mengandalkan kabut, ada orang yang minum air masih berwarna cokelat, ada pula anak-anak yang mandi berlumuran lumpur. Bagaimana pun, saya sekarang lebih bersyukur bisa hidup tanpa kekurangan air.

Ps.
Untuk tahu lebih jauh tentang film Punggung Berkeringat di Tanah yang Retak (Ngobrol dengan mbok GIyem), silakan kontak ke matabunga@yahoo.com atau surat ke Matabunga Institute, Jalan Gajahan I Rt.03/03 Gajahan, Solo.

One thought on “Berdamai Dengan Air

  1. waktu menumpang tidur di apartemen ratih, kami sempat mendengar suara kematian. Suara itu terdengar pagi-pagi. Suara itu mengumumkan kematian mantan ibu RW di sebuah kampung di bawah ruang apartemen ratih yang terletak di lantai 17. tapi sayangnya kami tidak sempat melayat. pasawat kami terbang hari itu juga pada siang harinya. makasih ya ratih telah mau menampung kami selama semalam. dan salam duka cita untuk bapak mantan RW.

Comments are closed.