Membaca Catatan Harian Si Boy
1

Membaca Catatan Harian Si Boy

Saya harus curiga tiap kali Joko Anwar di twitter terlalu bersemangat mempromosikan satu film. Jika tidak film itu bikinannya sendiri, atau dia terlibat jadi sesuatu di situ. Ketika dia semangat mempromosikan Catatan Harian Si Boy (CHSB), saya jadi mencari-cari wajah Joko Anwar di film ini, dan betul saja…begitu adegan opening dia jadi bodyguard Si Boy yang perannya lumayan cool mirip-mirip Man in Black *nyengir*. Tak hanya itu, ternyata di credit tittle terlihat namanya menjadi consultant film ini.

Saya berkesempatan menonton film ini bersama beberapa rekan kerja. Film Catatan Si Boy (yang masih dibintangi Onky Alexander) memang bukan film angkatan saya. Saya menonton film ini ketika diputar di televisi, bertahun lalu, bukan di bioskop. Saya mungkin masih terlalu kecil ketika Catatan Si Boy versi Onky Alexander diputar di bioskop, pada era ’80-an. Namun begitu, saya cukup akrab sebab film ini (selain Lupus, Olga Sepatu Roda, Si Kabayan, dan Si Doi) masuk begitu saja dalam ingatan saya dan berdiam cukup lama. Terutama, tentu saja karena Onky Alexander ganteng, hahahaha. Saya pun sempat mengikuti gosip tentang Onky Alexander jaman dulu, dengan siapa dia pacaran, dan dengan siapa akhirnya dia menikah.

Ada yang berbeda dengan Si Boy yang sekarang. Dari segi film, perhatikan judulnya, bukan lagi Catatan Si Boy, melainkan Catatan Harian Si Boy. Meskipun kata ‘harian’ di posternya seperti diselipkan, hingga yang besar-besar terbaca adalah Catatan Si Boy. Kisah ini tetang Boy yang sudah sukses, susah ditemui dan berubah. Pacar Boy yang bernama Nuke (kalau tidak salah, dulu dimainkan oleh Paramitha Rusady) terbaring sakit. Ia memegang buku harian milik Boy. Anak perempuan Nuke (diperankan Carissa Putri) mencari-cari Boy agar bisa bertemu dengan ibunya yang sakit. Dia pun dibantu Satriyo (Ario Bayu) mencari Boy. Kisah cinta segitiga terselip di antara mereka, sebab ternyata putri Nuke ini sudah punya pacar yang hobi judi dan mengandalkan harta orangtua.

Awalnya saya menebak-nebak, apakah film ini akan bercerita tentang Si Boy dengan versi baru? Tetapi ternyata saya salah, film ini tentang Satriyo yang membaca catatan milik Si Boy yang kita kenal dulu. Karakter Boy jaman dulu, diwakili oleh Satriyo yang sekarang. Cakep, hobi balap, rajin salat, anak orang kaya, baik-baik tapi rebelious, dan rada-rada narsis. Sedangkan karakter Emon yang kebanci-bancian dan Kendi yang serampangan yang dulu diperankan oleh Didi Petet dan Dede Yusuf, diwakili oleh tokoh Heri dan Andi. Turunan karakter-karakter ini cukup cerdas diambil oleh penulisnya Priesnanda Dwisatria, dan tentu saja, sutradaranya Putrama Tuta.

Film CHSB ini cukup menghibur terutama dengan dialog yang sangat kekinian, blak-blakan dan lucu. Saya sempat banyak tertawa mendengar dialog-dialognya. Favorit saya, ketika tokoh Andi menasehati Satriyo dengan kalimat, “Lu ninggalin taik di sini, ninggalin taik di sana, lama-lama dunia ini penuh ama taik lu.” Sederhana, kocak, tapi ternyata penuh pesan moral. Meskipun sebenarnya di beberapa adegan dragging, seperti misalnya adegan ngobrol di kafe, tetapi kebosanan penonton bisa diselamatkan karena dialog yang hidup. Lebih dari itu, sinematografi yang oke dan editingnya membuat film ini berkesan sangat dinamis.

Yang saya agak kecewa adalah, mengenai pencarian Si Boy ini terkesan tempelan saja, agar sekedar bisa membawa nama besar Catatan Si Boy, yang memang sudah sangat populer dan sukses dari sononya. Tapi inti ceritanya mengenai kisah cinta dan persahabatan Satriyo dan teman-temannya. Padahal, jika ingin berdiri sendiri dengan -misalnya- dikasih judul Blog Si Satriyo (secara jaman sekarang catatan harian/jurnal sudah enggak ngetrend lagi *maksa sih*), kisah Satriyo dkk ini sudah cukup kuat dan menarik. Tapi tentu saja, dari segi penjualan mungkin akan tersendat, sebab Si Satriyo tidak memiliki nama besar seperti Si Boy. Anyway, itu sah-sah saja, apalagi jika memang tujuan film ini adalah komersil, dan bukan festival.

Seandainya saja, soal pencarian Si Boy porsinya ditambah (tak perlulah harus sampai seperti pencarian di reality show Termehek-mehek), tapi ditambah barang tiga atau empat scene lagi saja, pasti akan jadi perfect. Cara Satriyo akhirnya ketemu Si Boy pun terkesan dipaksa. Dia ke kantor Si Boy, meskipun sudah diusir satpam, Si Boy yang kebetulan sedang nongol langsung dikejar-kejar hingga ke helipad. Dan…viola! Ketemulah! Satriyo pun membacakan isi catatan harian itu ke Boy.

Adegan closing, adalah adegan penting yang ditunggu-tunggu: pertemuan Boy (Onky ALexander) dan Nuke. Tapi, yang mengecewakan adalah wajah keduanya tak kelihatan. Hhhmmm…I wonder why. Mungkinkah pakai peran pengganti? Wajah Nuke, yang dulu diperankan oleh Paramitha Rusady pun tak terlihat dari awal hingga akhir. Padahal ia adalah karakter kunci, meskipun cuma berakting di tempat tidur. Saya merasa, karena keterbatasan pemain ada adegan dengan dialog-dialog penting yang terpaksa dihilangkan. Yah, untungnya cerita masih bisa berjalan.

Apapun adanya Boy sekarang, film ini mampu menghibur saya sebagai film komersil. Dan untuk ini, saya bersyukur sebab jadi bisa ketawa-ketiwi. Cuma satu yang kuraaaaang banget: ke mana lagu “Terserah Boy” karya Harry Sabar? Padahal saya pengin sekali dengar itu sebagai OST film ini.

One thought on “Membaca Catatan Harian Si Boy

  1. Ya ampun, sampe acara ngikutin gosipnya Mas Onky segala hihihi.
    Kalo gak salah yg jadi Nuke itu Ayu Azhari deh Mbak, pas preskon ada wartawan yg mendiskusikan Ayu Azhari soale.

    ———-

    @Haqi: Ow, ternyata yang jadi Nuke itu Ayu Azhari ya dulu. Maklum, udah lama banget sih nonton Catatan Si Boy itu, hehe.

Comments are closed.