Nonik, sebuah cerpen
6

Nonik, sebuah cerpen

Cerpen: Ratih Kumala
Dimuat: Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011

Aida tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti adegan film Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung, bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi meja yang di atasnya ada sebuah tape. Kaset berpita itu terus berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku? Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu apa-apa. Tapi toh, petugas polisi yang berpakaian preman itu tetap mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak berujung. Nonik. Nonik. Nonik. Nama itu terus disebut-sebut dalam dialog yang tak bisa dibilang beramah-tamah itu.

“Sejak kapan kamu kenal Nonik?”
Ketika itu Aida sedang berdiri di halte bus, jam di tangannya menunjukan pukul 11:12. Aida memutuskan, seperempat jam lagi bus yang ditunggunya tak juga muncul, ia terpaksa menghentikan taksi agar tak terlambat ujian di kampus. Tapi tiba-tiba sebuah sedan berhenti di depannya, kacanya turun, dan wajah seorang gadis nongol di situ. Nonik Malika Marten. Ketika itu Aida belum tahu namanya.
“Lo anak Unkris kan?”
“Iya.”
“Yuk bareng.” Aida tak lantas naik, ia ragu. “Mau ngampus kan?” Aida mengangguk. “Gue juga. Yuk!” Nadanya setengah memaksa. Aida masuk ke mobil yang kemudian melaju ke satu tujuan yang sama. Itulah perkenalan mereka. Nonik berkuliah di fakultas yang sama dengan Aida, Komunikasi. Tetapi jurusannya berbeda. Mereka tak pernah satu kelas. Tapi sejak itu keduanya jadi akrab. Nonik ternyata tinggal di kompleks perumahan orang-orang kaya yang letaknya di depan kampung tempat Aida tinggal. Dia sering melihat Aida yang pulang dengan bis dan berhenti di depan kompleks perumahannya. Diam-diam Nonik berjanji pada diri sendiri, jika ada kesempatan ia akan mengajak Aida berangkat bersama.

Rumah Aida kecil, masuk gang. Rumahnya tentu saja sisa-sisa dari perkampungan khas Betawi yang sebenarnya luas, tetapi tandas dijual ke pengembang yang lantas membangun perumahan mewah. Sebuah pagar tinggi membatasi antara kampung dan perumahan. Di satu sudut yang tertutup pohon pisang di pinggiran tembok pembatas itu, ada bagian yang dijebol orang kampung. Gunanya, agar orang kampung punya jalan pintas jika ingin ke jalan raya. Jika tidak begitu, mereka harus berputar, dan itu berarti jauh.
Rumah Nonik besar sekali. Bisa dibilang, rumahnya adalah salah satu yang paling mewah di antara rumah-rumah mewah di kompleks itu. Pagarnya putih, catnya putih, pintu masuknya besar dengan gagang keemasan berukir. Aida teringat dongeng tentang istana yang dihuni putri raja di dalamnya. Nonik adalah putri raja itu. Aida bertanya dalam hati, kapan ia bakal bisa membangun rumah sebesar itu?
Nonik ibarat putri cantik nan baik hati yang tak membeda-bedakan rakyatnya yang jelata. Diajaknya Aida pergi jalan-jalan. Ke Puncak, ke Bandung, ke kelab-kelab malam. Nonik bahkan berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke Malaysia.
“Ke kelab malam aja lo yang bayarin. Mana sanggup gue jalan ke Malaysia.”
“Tenang…lo pokoknya bikin passport aja!” Ujar Nonik.

“Ke kelab malam? Kalian terlibat narkoba?”
Keringat Aida serasa diperas, kakinya tiba-tiba kesemutan, tenggorokannya kering. Petugas polisi itu lalu menyodorkan segelas air. Aida meneguknya sekali. Kerongkongannya terasa menyempit ketika air itu melewatinya. Aida menggeleng, lalu mengangguk, dan menggeleng lagi. Petugas polisi itu menggebrak meja, lantas dengan kasar menyuruh Aida mengingat-ingat: yang benar pernah terlibat narkoba atau tidak?
“Saya tahu Nonik pernah membeli pil di kelab malam. Tapi demi Tuhan, saya tidak pernah mencicipinya.” Meski dalam hati Aida menyesali karena pernah sekali mencoba mengisap ganja yang diselipkan dalam lintingan campuran tembakau. Itu juga setelah Nonik mengejeknya sebagai ‘anak baik-baik’.
Nonik selalu menyebutnya Si Penjaga Moral, jika ia sedang tinggi dengan teman-temannya. Senyatanya, Aida memang pantas disebut demikian. Dialah yang menyingkirkan Nonik jauh-jauh dari teman-teman laki-lakinya jika mereka mulai grepek-grepek Nonik. Dia juga yang mengangkat Nonik jika terkapar tak sadarkan diri di toilet kelab malam setelah muntah-muntah. Aida pun yang memanggilkan taksi dan mengantar Nonik pulang, lalu dengan susah payah menariknya sampai ke tempat tidurnya. Aida menjaga Nonik sedemikian rupa, karena bagi Aida, Nonik adalah gadis kaya yang sedang bingung harus diapakan uangnya yang banyak itu.
Nonik tinggal di rumahnya yang besar itu bersama mamahnya. Saking besarnya, Nonik tak pernah ketahuan pulang-pulang mabuk. Kamarnya berada di sayap kanan rumah, sementara mamahnya di sayap kiri.
“Aida… Aida… lo baik banget sih. Gue udah abis jadi pelacur kali kalo lo enggak ada pas gue teler gini. Lo ngingetin gue ama diri gue yang dulu. Anak baik-baik.” Lalu Noni tepar setelah berceloteh demikian. Ia baru akan terbangun besok sore jika malamnya mabuk seperti itu. Aida sudah terbiasa dengan keadaan Nonik yang seperti itu.
Mamah Nonik adalah perempuan pendiam dengan gaya aristokrat yang cuma mengangguk kecil dengan senyum tertahan jika bertemu Aida. Kata Nonik, mamanya senang ia berteman dengan Aida, sebab Aida perempuan. Ia tak suka melihat Nonik bergaul dengan laki-laki. Ibunya juga kerap mengingatkannya untuk mengunjungi Opa Pierre di rumah atau di rumah sakit, jika kebetulan sedang dirawat. Menurut mamahnya, Nonik harus membuat Opa Pierre senang sebab dia adalah trust fund baby, alias keturunan yang mendapat dana perwalian. Dari situlah kekayaan mereka berasal, meskipun Aida tak pernah tanya apa sebenarnya bisnis Opa Pierre.

“Kamu pernah ketemu dengan Opa Pierre?”
Setelah beberapa kali mamahnya menegur Nonik di depan Aida agar mengunjungi Opa Pierre, akhirnya Nonik pun menurut. Sore itu Aida dan Nonik ke RSCM, di ruang VIP Opa Pierre dirawat. Laki-laki itu berkulit putih, dengan bercak-bercak yang jelas di wajahnya. Rambutnya tinggal beberapa lembar, itu pun cuma di bagian belakang. Sedang di kepala atas, gundul. Tubuh Opa Pierre kegemukan, kata dokter ia harus berdiet. Tapi Opa susah sekali disuruh diet. Dia suka makan makanan enak.
“Hidup kan harus dinikmati, Nik.” Opa Pierre terkekeh. Nonik duduk di sebelahnya sambil memegang tangan Opa Pierre, sementara Aida duduk di sofa, menunggui Nonik kangen-kangenan sama opanya. Aida agak heran, kenapa Nonik ogah-ogahan menjenguk opanya. Padahal kalau sudah bertemu seperti sekarang, keduanya terlihat akrab.
Sekali, Nonik minta maaf karena tidak bisa pulang bareng Aida. Sebagai gantinya, Nonik memberikan uang untuk ongkos taksi yang kemudian ditolak Aida. Katanya, Opa Pierre akan menjemputnya, dan mereka akan makan malam bersama keluarga merayakan Opa Pierre yang dinyatakan sembuh oleh dokter. Laki-laki itu tiba di kampus dengan Mercy hitam mengkilat. Semua mata tertuju ke mobil itu. Kacanya dilapisi film gelap, sehingga tak ada yang tahu siapa di dalamnya jika Opa Pierre tidak keluar. Sopir membukakan pintu belakang, sebuah tongkat muncul duluan, disusul sepasang kaki tua yang gendut dan agak bergetar, kaki Opa Pierre. Nonik menyambut Opa Pierre dengan girang. Diciumnya tangan lelaki tua itu, lalu pipinya dan keningnya yang licin.
“Opa masih ingat Aida kan? Yang waktu itu nemanin Nonik pas ngejenguk Opa.” Opa Pierre mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aida tak yakin laki-laki itu ingat pada dirinya. Pertama, waktu menjenguk Aida cuma kenalan dan tak berbincang apa-apa dengannya. Kedua, Opa Pierre pakai kacamata yang tebalnya satu meter, mana mungkin dia melihat wajah Aida dengan jelas.
Petugas Polisi tiga kali menanyakan kapan lagi Aida bertemu Opa Pierre. Ia mengelilingi Aida. Aroma tubuhnya yang masam, membuat Aida pusing.
“Cuma dua kali itu saya ketemu Opa Pierre, Pak. Sumpah.”

“Kamu dan Nonik jadi ke Malaysia?”
Nonik sudah menyiapkan dua tiket, satu untuknya, satu lagi untuk Aida. Tiket itu dibelinya begitu Nonik selesai sidang gelar S1-nya. Aida sendiri sudah selesai duluan tiga bulan lalu. Ia sengaja menunda wisuda demi bisa wisuda bareng Nonik. Aida juga yang membantu Nonik menyelesaikan skripsinya. Sebenarnya, Aida tak diijinkan pergi oleh Aep, pacarnya. Tapi karena itu adalah bulan terakhir Aida melajang, Aep akhirnya mengijinkannya. Tiga minggu dari hari kepulangan mereka dari Malaysia, Aida dan Aep akan melangsungkan pernikahan.
Aida melewati koridor-koridor bandara dengan mata berbinar sekaligus kikuk. Serasa ada kupu-kupu terbang di dalam perut menggelitiknya penuh keriangan. Itu adalah kali pertama ia naik pesawat. Aida tak pernah menyangka bisa pergi ke luar negeri. Gratis pula. Untuk liburan, bukan untuk bekerja. Ia beruntung sekali bisa berteman baik dengan Nonik. Sesampai di Kuala Lumpur, seorang laki-laki muda menjemput mereka. Tanpa malu-malu, Nonik langsung berhambur menciumi lelaki itu.
“Ichsan.” Demikian lelaki itu memperkenalkan dirinya. Berkulit putih, tampan, dan kelihatan cerdas. Aida harus membuka telinga lebar-lebar jika berbicara dengan Ichsan, sebab meski Bahasa Indonesia masih nyambung dengan orang Malaysia yang berbahasa Melayu, tetapi logat dan beberapa kata berbeda dari Bahasa Indonesia.
Nonik mengajak Aida bersenang-senang. “Anggap aja ini kado kawinan gue buat lo. Tapi bukan buat Aep.” Derai tawa Nonik mengikuti setelah ia mengatakan kalimat itu. Ya, Aep tak mungkin diharapkan untuk mampu membiayai bulan madu. Ia baru lulus kuliah, kerja pun masih dalam masa percobaan, belum diangkat jadi pegawai. Tapi laki-laki itu tulus dan serius menyintai Aida, meski ia kadang menunjukan ketidaksukaan kedekatan Aida dengan Nonik.
Nonik dan Aida berdiam selama enam malam tujuh hari di Kuala Lumpur. Sesiangan mereka jalan-jalan pelesir kota. Malamnya berisitirahat di hotel. Dari total enam malam itu, Nonik cuma tinggal satu malam di kamar hotel mereka. Sisanya, Nonik lebih memilih bobok bareng Ichsan.
“Lo enggak takut hamil?”
“Kalo hamil ya udah…kebetulan. Gue juga pengin punya anak dari Ichsan.” Nonik menjawab ringan.
“Cinta emang buta ya.”
“Cinta enggak buta, Da. Yang buta itu uang!” Derai tawa Nonik terdengar renyah. Aida juga tertawa, meski sebenarnya ia masih mencoba mencerna kalimat Nonik.
Nonik nangis-nangis ketika berpisah di bandara, tak yakin kapan akan bisa bertemu lagi dengan Ichsan. Di pesawat pun, Aida masih berusaha menenangkan Nonik yang belum usai menangisi perpisahannya. Kelihatannya Nonik cinta mati pada Ichsan.

“Kapan terakhir kali kamu ketemu Nonik?”
Hari H pernikahan Aida dan Aep dilangsungkan sederhana. Nonik berdandan dengan kebaya, sebagai sahabat dekat mempelai. Dengan senang Nonik membantu Aida menyediakan apa yang dia butuhkan selama hari pernikahannya. Mulai dari mengambilkan makan dan minum, mencarikan peniti ketika mengenakan baju pengantin, sampai akhirnya ikut beres-beres mengangkut kado dan menyimpankan uang saweran dari tetamu.
Aida baru selesai difoto di kamar penganten bersama Aep ketika Nonik pamit pulang.
“Gue minggu depan mau ke Malaysia, Da. Keliatannya enggak bakal balik lagi ke Jakarta.”
“Hah?! Serius?”
“Gue iri lihat lo sama Aep, berani memulai keluarga baru, meskipun kalian enggak punya apa-apa. Gue juga mau kayak lo.”
“Lo mau kawin? Eh…, nikah sama Ichsan?”
Aida mengangguk mantap, “Nanti gue kirimin lo tiket PP ke Kuala Lumpur kalau tanggal nikah gue udah fix. Tapi jangan bilang-bilang orang ya kalo gue ke Malaysia.” Nonik memeluk Aida dan pergi masih dengan kebaya.
Seperti kebanyakan pengantin baru yang betah berlama-lama di dalam kamar. Aida dan Aep tak segera keluar kamar meski hari telah benderang. Ia baru keluar pukul satu siang, disambut suara-suara kerabat saudaranya yang bersiul-siul menggoda pasca malam pertama. Aida menyiapkan air teh untuk suaminya ketika tanpa sengaja ia mendengar berita di televisi. Kematian tragis seorang gadis dan ibunya di rumahnya, ada 12 tusukan di tubuh Nonik, dan delapan tusukan di tubuh ibunya. Aida seperti kehilangan kekuatan, air teh yang dipegangnya terjatuh. Cangkir itu menjadi keping. Disebutkan rumah Nonik penuh dengan ceceran darah, sebab ia tak langsung mati ketika baru beberapa tusukan, ia sempat menyeret tubuhnya demi melawan mata pisau. Seisi rumah melotot nganga tak percaya melihat foto Nonik di televisi. Menjelang Maghrib, tiga petugas polisi berpakaian preman mendatangi Aida. Mereka tak memberi kesempatan pada Aida untuk menuntaskan salat Maghrib, dan memaksannya langsung ikut ke kantor untuk diinterogasi.

Aida dilepas keesokan paginya, menjelang Subuh. Aep menunggu semalaman di kantor polisi. Beberapa hari kemudian, mata Aida masih saja lekat ke televisi setiap berita kriminal dimulai. Mereka telah menemukan tersangka utamanya, seorang pejabat komisaris sebuah bank yang diduga adalah suami Nonik dengan inisial PM. Nonik adalah istri keenam dari lelaki itu.
“PM?” Aida tertegun. Sebuah nama muncul begitu saja di kepalanya. “Pierre Marten? Opa Pierre!”
Aida memang tak pernah mendengar kabar apa-apa lagi dari polisi. Ibarat arsip yang terus tertumpuk, berdebu, lalu terlupakan. Berita kematian Nonik tertelan oleh berita-berita kriminal lain. Aida menata sendiri puzzle kematian sahabatnya. Ada banyak ‘mungkin’ yang muncul di kepala Aida. Mungkin, ia cuma gadis yang dijual mamahnya ke Opa Pierre sebagai istri ke sekian agar kehidupan mereka bisa sejahtera, lalu mengaku-aku sebagai trust fund baby agar tak dicurigai orang. Nonik tak pernah menyintai Opa Pierre. Mungkin, cinta sejatinya adalah Ichsan, dan dengannya ia ingin menghabiskan sisa hidupnya. Mungkin, Opa Pierre telah mencium rencana Nonik untuk minggat ke Malaysia. Dan mungkin, Opa Pierre benar menyintainya hingga ia terbutakan oleh rasa cemburu. Tapi toh Nonik tak pernah percaya bahwa cinta itu buta.
Cuma uang yang bisa bikin buta.

-rk-

6 thoughts on “Nonik, sebuah cerpen

Comments are closed.