Papahku sekarat ketika Olimpiade di Beijing dibuka, tanggal 8-8-08. Saya, Eka, dan beberapa teman sedang berada di Oh La La-Sarinah, ketika melihat pembawa obor ‘terbang’ ditarik tali, mengelilingi stadium untuk menyulutkan api. Seperti itulah saya ingin: terbang saat itu juga menuju Solo.

Aneh, saya kerap bermimpi terbang pada suatu sore melewati pucuk-pucuk pohon dan melihat orang-orang  di bawah sedang minum teh di lapangan. Mereka melambaikan tangannya pada saya, dan sebagian memutuskan untuk ikut terbang mengekori saya.

Adik saya, Indra, tak putus mengabari saya: papah kritis, papah di ICU, papah sekarat, dan akhirnya… (tentu saja) papah udah gak ada. Ia pergi ketika pembukaan Olimpiade sudah selesai, ketika tanggal sudah masuk 9-8-08. Saya sedikit kesal sebab jaringan telepon selalu sibuk. Saya ingin papah mendengar suara saya. Saya ingin bilang, kalau saya memaafkannya.

Ya, saya memaafkannya.

Dalam dua bulan terakhir, saya -seorang anak yang bodoh dan keras kepala-, tiba-tiba berpikir ingin meneleponnya. Menyapanya. Menanyakan kabarnya. Apakah ia bahagia? Apakah ia pernah ingat saya? Apakah ia tahu saya marah? Dan masih banyak ‘apakah’ yang lain. Saya ingin menyisihkan waktu, mungkin di suatu sore, minum teh berdua di sebuah restoran atau kafe. Tanpa siapa-siapa, hanya saya dan papah. Saya ingin merasa ‘mesra’ dengan papah. Sangat ingin. 

Saya tahu nomor teleponnya. Beberapa kali saya mengangkat gagang telepon, sebayak itu pula saya tak jadi memencet tuts telepon. Ada banyak ketakutan: takut dia tak mau menerima telepon saya, takut dia sudah lupa pada saya, takut dia menghindar dari saya, dan yang paling saya takutkan… takut saya tak punya kesempatan mengatakan bahwa saya memaafkannya. 

Sekarang, ketakutan saya terbesar terjadi: saya tak sempat berkata bahwa saya memaafkannya.