Pemulung Plastik

Di rumah, saya punya banyak sendok plastik yang saya dapat dari makan nasi kotak, pengaduk cappucino, makanan pesan-antar, dll. Memang, dibandingkan sendok logam, sendok plastik jelas berkualitas rendah. Setelah sekitar sepuluh kali pemakaian, sendok plastik biasanya patah. Setelah itu, baru saya anggap daya sendok plastik tak ada lagi. Saya membuangnya. Tapi, selama sendok plastik belum patah, saya akan memperlakukannya seperti sendok logam lain; mencuci dan menyimpan baik-baik setelah makan.

Ya, saya tahu tentang rumor yang bilang, bahwa bahan plastik tidak baik dipergunakan berulang-ulang, terutama kalau untuk makanan atau minuman panas. Kata orang, zat yang menguar dari plastik, bisa membayahakan kesehatan. Segala yang berbahan plastik, seperti sedotan, sendok-garpu plastik, botol aqua, dll, seharusnya bersifat dispossal, alias sekali pakai langsung buang. Tapi sumpah, saya tidak tega membiarkan sendok-sendok plastik itu teruang sia-sia. Begitu juga dengan wadah makanan berbahan stereofoam yang biasanya masih dilapili plastik (lagi!). Alasannya mungkin akan terdengar sok cinta lingkungan, atau sok jadi pendukung Al Gore, ya… saya memang peduli lingkungan. Meski tidak cinta-cinta amat. Saya bukan salah satu pendukung Green Peace yang biasa menawarkan kepedulian kita di mall-mall, saya juga tidak suka berkebun atau melaksanakan aksi penghijauan karena saya jijik dengan cacing tanah. Pada dasarnya, saya hanya tidak suka melihat plastik (dan stereofoam) terbuang sia-sia, itu saja.

Bayangkan, jika semua orang pakai satu kali sendok plastik langsung dibuang. Atau semua orang pakai satu sedotan dan langsung dibuang. Berapa banyak yang menumpuk?! Dan bahan plastik maupun stereofoam tidak bisa diuraikan dengan tanah. Bisa-bisa, kita musti pindah ke angkasa, persis film Wall-E.

Selain sendok, saya juga hobi mengumpulkan kantong plastik (kresek) yang saya dapat sehabis belanja. Di supermarket, mbak penjaga kasir cenderung memisahkan antara bahan makanan dengan bahan non-makanan (seperti detergen dan pembersih lantai). Tujuannya sih bagus, jaga2 kalau ada kebocoran pada kemasan non-makanan biar tidak meracuni makanan. Tapi saya suka gemes lihat plastik lagi, plastik lagi. Setiap habis belanja, saya akan melipat kresek jadi bentuk segitiga yang praktis. Saya menargetkan pada diri saya sendiri, setidaknya harus dipakai satu kali lagi sebelum benar-benar dibuang. Di rumah, ada satu laci berisi kresek, dan sekarang laci itu sudah tidak muat. Ya, say memang “pemulung plastik”. Botol aqua berukuran besar juga kadang saya gunakan lagi untuk diisi ulang air galon. Agar menghindar dari toxin yang ada, saya selalu mengisi dengan air dingin, bukan air panas.

Satu hal yang akhir-akhir ini bikin saya sebal adalah: J.Co. Ya, J.Co donat itu tuh. Saya hobi sekali ke sana. Saya suka cappucinonya. Tapi kenapa sih, sedotan saja harus dibungkus plastik?! Ini bikin saya kesal. Plastik pembungkus sedotan plastik itu praktis langsung dibuang, dan tidak bisa digunakan ulang. Lalu, sedotan itu sendiri juga akan langsung dibuang. Dunia ini tidak seharusnya membungkus sedotan! Buat saya itu konyol dan yang pasti menambah-nambah sampah.

Lain saya, lain lagi Eka, suami saya, dia hobinya mengingatkan saya untuk selalu mencabut colokan meskipun alat elektronik itu dalam keadaan off. Entah itu pengering rambut, charger HP/laptop, pengisap asap kompor, dll. Katanya, meskipun dalam keadaan off, tapi “listrik pasif” itulah yang bikin dunia ini tambah panas. Walhasil, jadilah Al Gore mengingatkan kita soal bahaya global warming lewat film Inconvinient Truth.

8 thoughts on “Pemulung Plastik

  1. Halo. Kata ilmu kimia, plastik bereaksi bila bertemu zat bersuhu tinggi, misalnya air panas. Zat yang dihasilkan oleh reaksi kimiawi ini membahayakan tubuh. Gunakan sendok plastik untuk mengaduk zat bersuhu rendah, es teh misalnya. Gunakan cangkir untuk wedang kopi, jangan pakai gelas karena rawan pecah. Konsepnya gelas untuk zat bersuhu rendah, misalnya bir dingin…

  2. lebih sip lagi plastik yang terkumpul itu dijadikan barang yang punya nilai jual lagi…, ngomong2 selamat ya “sepotong tangan” masuk 5 besar cerpen terbaik anugerah sastra pena. sy tunggu karyanya yang aneh lainnya…

  3. Pemulung plastik (sungguhan) di pasar mainan anak Prumpung..juga rajin mengumpulkan gelas bekas Es teh Poci dagangan saya…mudah-mudahan dagangan saya laris..sehingga lebih banyak gelas yang bisa mereka kumpulkan…

  4. mmmmmmmm…… bisa… yang penting kita harus tau yang bikin dunia ini tambah panas adalah pola hidup manusia sendiri, sejauh kita sadar dan MELAKUKAN bagaimana cara mencegah panasnya bumi ini mungkin bumi masih bisa diselamatkan sebelum terlambat….. go veg be green….

  5. waw!!!
    saya setuju sekali!!
    saya juga gatel liat plastik dmana2..
    gimana ilangnya coba itu plastik…

    OMG saya shock membaca salah satu komen d atas..
    maaf..tp ingt lhoh saudara..plastik g bs di uraikan…kalaupun ada yang memungut itu tidak menyelesaikan masalah..karena nantinya pun yang memungut dan sampai akhirnya ke TPA si plastik akan terkapar saja dan tidak berubah menjadi apapun..
    ayo kurangi plastik!!:)

    love our earth yg uda mw kiamat
    Hhehe…

Comments are closed.