Pengetahuan Dasar Kepenulisan
1

Pengetahuan Dasar Kepenulisan

Saya adalah orang yang lumayan sering bikin typo. Itu saya mengaku sejujur-jujurnya. Di beberapa buku, typo saya pun ada yang masih miss, alias terlanjur kena cetak. Di buku yang terbaru, Bastian dan Jamur Ajaib, meskipun saya sudah memproofreadnya, sekarang saya tetap berdoa semoga minim typo. Ya, typo itu kesalahan karena mungkin jari mengetik lebih cepat daripada bayangan sendiri. Selain karena saya juga ada sedikit disleksia. Buat saya, itu belum haram hukumnya, tapi makruh. Tapi, untuk penggunaan tanda baca, saya merasa ini hukumnya haram kalau bikin kesalahan.

Hari ini, di ruang Scipt Editor (SE) kantor saya, teman-teman SE membahas tanda baca. Pasalnya, kami menerima satu skenario dengan tanda baca amburadul. Karakter yang seharusnya kalem, dialognya semua diakhir dengan tanda seru (!). Tak tanggung-tanggung, tanda seru itu bukan cuma satu, melaikan tiga bahkan ada yang empat di satu kalimat. Salah satu SE pun bilang, “gue males pake penulis ini lagi!”

Pembahasan kami berkembang dengan penggunaan tanda baca lainnya, seperti: setelah koma (,) seharusnya spasi, kapan harus pakai tiga titik (…) atau empat titik (….), juga tanda tanya (?) yang sering alpa diletakkan di sebuah kalimat tanya. Selain itu, pembahasan kapan imbuhan di- dan ke- harus disambung dengan kata yang mengikutinya, kapan harus dipisah. Tanda baca dalam dialog skenario adalah petunjuk untuk pemain, haruskah dia marah-marah. Karakter yang kalem tidak mungkin kalimat dialognya diakhir dengan tanda seru berbaris-baris. Bisa-bisa pemainnya jadi teriak-teriak ketika akting. Saya termasuk SE yang masih punya maklum terhadap penulis. Kalau hasil tulisannya bagus (alur, dialog, deskripsi jelas untuk tim produksi), tapi tanda bacanya ngaco, saya masih memaafkan. Toh, sebuah skenario hasil akhirnya adalah materi tayangan. Tapi, kalau tulisannya parah plus tanda bacanya berantakan, rasanya saya ingin gantung diri ketika membacanya.

Kami lalu bertanya-tanya, sejak kapan penempatan tanda baca ini diajarkan? Ada teman yang bilang, dia diajarkan ketika masih SD, aja juga yang bilang ketika SMP. Saya bilang, saya masih diajarkan di SMA, di perkuliahan juga diulang lagi. Jika benar sampai empat kali diulang, seharusnya siapapun yang makan sekolahan sudah bisa menulis dengan format tanda baca yang benar.

Belum lama saya membaca sebuah buku yang penulisnya lumayan terkenal. Tapi alamaaak… penempatan tanda bacanya parah sekali. Untuk orang yang rada-rada OCD, pasti risih membacanya. Saya saja yang tidak OCD risih, dan rasanya ingin mengambil pensil lalu mencoret-coret demi bisa mengedit ulang buku tersebut. Pertanyaan saya kemudian: ini buku diedit dulu atau tidak sih? Saya juga berusaha berbaik sangka terhadap penulis ini, mungkinkah dia ketika sedang pelajaran Bahasa Indonesia bab penempatan tanda baca, mungkin sedang absen. Bagi saya, ini parah. Kalau skenario sih, tidak diterbitkan secara umum. Tapi kalau sudah jadi novel? Aduhhh…. Untung saja ini penulis ini lumayan terkenal, jadi tulisannya lolos di penerbitan.

Ketika saya bercita-cita menjadi penulis, hal pertama yang saya lakukan adalah mengingat-ingat bagaimana meletakkan tanda baca yang baik dan benar. Sebab itu adalah pelajaran yang amat sangat mendasar, sebelum akhirnya saya harus berlatih menulis yang benar. Tapi setidaknya, format tulisan saya tidak ngaco. Mungkin, saya menulis ini akan dilempar aqua kosong oleh orang banyak. Mungkin, akan dianggap songong karena banyak yang merasa tersinggung. Tapi, saya cuma mau bilang: kalau kamu memang bercita-cita jadi penulis, atau jadi editor, baik itu buku ataupun skenario, saya mohon dengan sangat, pelajari dulu hal mendasar. Mungkin saja nasib tulisanmu itu tergantung dari kemampuanmu menempatkan tanda baca.

One thought on “Pengetahuan Dasar Kepenulisan

  1. Hai kak ratih , saya novriza
    maaf lancang , apakah saya bisa minta alamat email kakak? ada yang mau saya tanyakan tentang skenario dan sebagainya :)

Comments are closed.