Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup:
Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel Genesis
5

Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup:
Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel Genesis

Oleh: Prass Engky

Genesis
photo by kevindooley, some rights reserved.

I. Pendahuluan

Filsafat dan sastra mempunyai dasar pijak yang sama,yaitu realitas. Bila filsafat bertolak dari kenyataan lalu diabstraksikan, dicari jati dirinya, hakikatnya, maka sastra mulai dari apa yang ada dalam kenyataan lalu diolah lewat imajinasi. Imajinasi ini ada dalam cipta kemudian dituangkan dalam tulisan atau kata-kata (Sutrisno,1995: 16). Filsafat dan sastra bisa saling bergandengan. Kita dapat saja berfilsafat lewat sastra, apapun bentuknya. Hal ini telah dilakukan oleh kalangan sastrawan yang mengungkapkan dan mengkritisi realitas tertentu lewat kata-kata/bahasa.

Munculnya novelis-novelis perempuan dalam sastra Indonesia modern antara lain menunjukkan kerinduan dan semangat perempuan untuk menggarap dan mengkritisi realitas dari sudut pandang mereka. Ada muatan filosofi yang ingin diungkapkan lewat karya imajinatif mereka. Dalam tulisan ini, saya ingin ”mengais” (atau tepatnya: menafsir) muatan filosofi dari sebuah novel karya Ratih Kumala, berjudul Genesis. Sesuai dengan judulnya, makalah ini menyoroti tema ”kebebasan perempuan”, yang diperdalam dengan bantuan pandangan eksistensialisme Sartre.

II. Sekilas Tentang Pengarang dan Judul

Ratih Kumala (Ratih), seorang novelis muda dalam sastra Indonesia dan tergolong pemula. Ia lahir di Jakarta, 4 Juni 1980, belajar sastra Inggris di Universitas Sebelas Maret-Surakarta. Selain novel Genesis (Insist Press, 2005) yang akan dibahas dalam makalah ini, ia juga telah menulis novel pertamanya Tabula Rasa (Grasindo,2004). Beberapa cerpennya dimuat di koran dan antologi bersama.

Mengenai Judul ”Genesis” yang dikenakan pada novel keduanya tidak serta-merta diterangkan pengarang. Kita dapat memaklumi kebebasan seorang pengarang sastra dalam memberi judul sastranya. Akan tetapi dari novel ini kita dapat menduga-duga adanya bagian tertentu yang memberi inspirasi penjudulan, yakni dari bagian ”Daur Penciptaan dan Pembinasaan”. Ada kaitan isi bagian ini dengan makna kata ”Genesis”.

III. Analisis Struktur Novel

Tema yang disoroti dalam Genesis
Dari bahasa novel yang terkesan religius (dengan tokoh utamanya seorang perempuan yang menjadi biarawati Katholik), pertama-tama kita dapat saja menyimpulkan bahwa tema novel Genesis menyentuh persoalan religius/agama. Hal ini didukung oleh adanya penggunaan bahasa-bahasa Kitab Suci (Alkitab, Quran, Baghawad Gita, Mahabrata) yang kerap dipakai sebagai bahan refleksi dan analogia penulis dalam menggarap realitas. Pada poin berikut kita juga bisa menyimpulkan bahwa novel Genesis — yang sebagian isinya berlatarkan kerusuhan berbau SARA di Ambon–juga menyoroti tema politik dalam kaitan dengan agama.

Namun bagi saya, kedua tema di atas jika dibahas masing-masing agaknya tidak secara keseluruhan merepresentasikan penggambaran isi novel oleh pengarang. Menurut pemahaman saya novel Genesis secara keseluruhan melukiskan pergulatan seorang perempuan berhadapan dengan tuntutan realitas hidupnya. Realitas itu bervariasi, antara lain problem hidup masa muda, konfrontasi dengan keluarga, menentukan pilihan hidup, konsekuensi dan tanggung jawab panggilan, hingga menghadapi kematian. Dari novel ini kita dapat menangkap dengan jelas perjalanan seorang perempuan menemukan kebebasan eksistensialnya untuk memaknai kehidupan dan kematiannya. Judul makalah saya ”Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup” terinspirasi oleh tema ini. Poin kebebasan perempuan inilah yang ingin saya soroti, sekurang-kurangnya sebagai sebuah ”pemikiran dan idealisme”pengarang yang tersirat dalam penggambaran kehidupan tokoh utama novel.

Latar/Setting
Hanya ada dua latar/setting yang ditemukan dalam novel Genesis: Jakarta sebagai latar pertama kehidupan tokoh utama sebelum ia menentukan pilihan hidupnya sebagai biarawati, dan Ambon (Maluku) sebagai latar lanjutan di mana ia berkarya hingga akhir hidupnya.

Penokohan
1. Tokoh utama novel :

  • Pawestri, seorang perempuan muda yang memilih hidupnya menjadi biarawati
  • 2. Tokoh-tokoh pendukung :

  • Ayah dan Ibu Pawestri, Menur (Adik perempuan Pawestri). Mereka adalahKeluarga Katolik tulen, tinggal di Jakarta.
  • Sawitri, seorang perempuan sebaya Pawestri yang merelakan rahimnya untuk mengandung dan melahirkan janin dari rahim Pawestri.
  • Noah, anak yang berasal dari indung telur Pawestri tetapi dilahirkan oleh Sawitri.
  • 3. Tokoh-tokoh tambahan lain/pelengkap cerita

    Alur Cerita/Plot
    Novel ini menggunakan alur gabungan, dimulai dengan cerita tentang Pawestri yang setelah menjadi biarawati berkunjung ke Jakarta untuk menengok ibunya di Rumah Sakit jiwa. Dari sini cerita bergerak mundur ke masa lalu Pawestri, kemudian perlahan-lahan bergerak maju hingga akhir hidup Pawestri (sesekali mengilas masa lalu).

    Gaya Bahasa dan Sudut Pandang
    Gaya penceritaan Ratih Kumala dalam novel ini tampak mengalir dengan bahasa yang segar dan mudah dipahami. Kadang-kadang ia selipkan kutipan-kutipan berbahasa Inggris untuk memperkaya plot. Menarik juga bahwa ia pandai mengeksplorasi bahasa-bahasa religius disertai pemakaian kisah-kisah Kitab Suci untuk analogia dan metafora dari realitas yang digarap.

    Secara umum kelihatan bahwa dengan sudut pandang orang pertama tunggal ”aku”, Pengarang melalui tokoh-tokoh cerita–terutama tokoh utama–bebas membahasakan dirinya dan realitas.

    Sinopsis Novel
    Pawestri, seorang gadis, dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum nikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga,sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. Problem kehamilannya tanpa suami membuat Pawestri dikutuk oleh ayahnya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak, diusir dari rumah, dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarga. Sementara ibunya yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Namun kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan,yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Luka karena kehilangan dan tekanan-tekanan suami membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah Pawestri ada. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit jiwa.

    Setelah diusir dari rumah Pawestri bergulat sendiri menyelesaikan persoalannya dengan tinggal sementara di sebuah Kost. Ia kemudian memutuskan untuk memasang iklan, mencari, sekiranya ada seorang perempuan yang dengan ikhlas mau merelakan rahimnya menjadi tempat tinggal bagi jabang bayinya. Kebetulan sekali ada seoang perempuan muda yang telah menikah namun takut berhubungan seks dengan suaminya. Diam-diam ia menawarkan diri menyediakan rahimnya bagi janin Pawestri dan siap untuk melahirkannya. Perempuan itu adalah Sawitri. Atas bantuan seorang dukun ternama,pemindahan janin itu berhasil dilakukan. Pada saatnya Sawitri melahirkan anak laki-laki yang dibri nama Noah, seorang anak yang bukan dari indung telunya sendiri.

    Setelah janin lepas dari rahimnya Pawestri berhadapan dengan pergolakan untuk menentukan pilihan hidupnya. Demi mengurangi rasa bersalahnya ia siap mempersembahkan hidup bagi Tuhan saja. Melalui perjuangan yang panjang ia akhirnya dapat diterima sebagai biarawati (suster) pada sebuah tarekat. Setelah beberapa tahun berkaul ia diutus ke Ambon dengan mengenakan nama kebiaraan ”Sr. Maria Faustina”.

    Di Ambon dia malah berhadapan dengan resiko hidup-mati oleh karena kerusuhan berbau agama (Islam vs Kristen). Status dan penampilannya yang sangat jelas menunjukkan identitas dirinya sebenarnya sangat membahayakan dia dalam suasana kerusuhan itu. Namun ia nekad dan tak terganggu oleh perasaan takut. Sebuah godaan besar yang timbul oleh karena rasa kesepian dan kedekatan dengan seorang Pastor pun akhirnya dapat dikalahkannya melalui sebuah pergulatan panjang.

    Suatu ketika pada remang-remang sore menjelang malam terjadi penyerbuan oleh orang-orang Kristen terhadap perkampungan Muslim yang terletak jauh di pesisir utara Ambon. Suster Faustina memberanikan diri untuk menyusul ke tempat itu hendak meredahkan amarah para penyerbu. Namun di sana ia hanya dapat terbelalak, ngeri meyaksikan adegan pembantaian terhadap orang-orang muslim. Dia menjadi saksi mata dari peristiwa naas itu dan hanya berhasil menyelamatkan seorang bocah yang kehilangan segalanya. Setelah kejadian itu ia tak segera kembali ke biaranya di Ambon yang berjauhan dengan tempat kejadian. Sepanjang malam ia hanya bersama si bocah dalam kesunyian yang mencekam. Keesokan harinya saat berjalan menyusuri pantai, ia berjumpa dengan Kapal Motor”Srigunting”yang membawa bantuan medis untuk korban kerusuhan tersebut. Sr. Faustina memohon agar diantarkan ke Ambon, dan para kru Srigunting bersedia dengan syarat ia harus bersama-sama mereka dalam pelayanan medis untuk beberapa hari berikutnya. Menjadi sukarelawan di Zona Putih (sebutan untuk wilayah Acang/Muslim) menuntut Sr. Faustina untuk sementara melepaskan busana dan identitas kebiaraannya demi keamanan dirinya. Ia harus menempatkan dirinya sebagai pihak netral. Dengan kejadian pembantaian tersebut timbul berbagai pertanyaan dan pergolakan dalam batinnya yang sampai menghantarnya pada pertanyaan esensial…di manakah Tuhan…, mengapa dia membiarkan kejahatan terjadi?

    Hari pertama setelah kembali ke Ambon, Sr. Faustina kedatangan pihak keamanan dan membawanya ke Kepolisian. Katanya ia akan dijadikan saksi dari pembantaian beberapa waktu lalu. Namun kenyataan selanjutnya tidak demikian. Ia dijebloskan ke dalam sebuah ruangan tertutup tanpa tahu di mana persisnya letak tempat itu dan tidak juga tahu apa yang dikehendaki dari dirinya. Hari demi hari ia diinjeksi dengan cairan penenang”Pentobarbital”, yang sekaligus membunuhnya secara pertlahan-lahan. Pemberontakan dirinya untuk dibebaskan sama sekali tidak berarti apa-apa. Bahkan pada akhirnya tanpa sadar tubuhnya dihanyutkan ke laut dan terdampar di pantai. Ia ditemukan oleh awak kapal Srigunting yang pernah bersama-sama dengan dia dalam misi ke White Zone, dalam kondisi koma. Dia menjadi korban politik, penghilangan jejak saksi demi kepentingan golongan tertentu? Oleh Kru Srigunting yang dominan atheis, diadakan voting untuk menentukan ajal Pawestri (Sr.Faustina). Euthanasia lewat injeksi cairan akan dilaksanakan untuk mengakhiri penderitaan dan hidup Pawestri. Terakhir, tubuhnya dibuang ke laut. Pawestri telah mati dengan cara yang tak manusiawi. Namun, pada pergulatan akhir sebelum ajal ia mencoba menerima dan memaknai kematiannya secara positif.

    IV. Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel Genesis

    4.1. Kebebasan Perempuan dari Sudut Pandang Genesis

    Pada pembahasan sebelumnya tentang tema, telah dikemukakan bahwa tulisan ini menyoroti kebebasan perempuan dalam hal”memberi arti/makna”pada kehidupannya dari perspektif novel Genesis. Kebebasan perempuan ini terepresentasi dalam lakon tokoh utama Pawestri,dengan segala kharakter yang menyertainya. Maka penggalian hikmah kebebasan ini dimulai dengan menyoroti peristiwa-peristiwa tertentu dalam hidup Pawestri sebagai poin-poin penting yang mengindikasikan lakon kebebasan seorang perempuan dalam memberi arti bagi hidupnya.

    Menghadapi Otoritas Ayah
    Berhadapan dengan sikap keras ayahnya, Pawestri justru menemukan dan menyadari dirinya sebagai makhluk perempuan yang disubordinasi.

    Laki-laki angkuh itu lalu pergi entah ke mana, meninggalkan aku yang tengah berbadan dua. Pada saat yang sama diusir pula aku dari rumah. Aku bukan lagi anak, jelas bukan isteri orang. Aku hanyalah: perempuan. (Kumala, 2005: 11)

    Makhluk laki-laki memiliki derajat tertinggi dalam hidup… Mungkin aku dulu telah berbuat salah maka kini dihukum jadi perempuan. (Kumala, 2005: 17)

    …tak mungkin aku kembali ke rumah orang tuaku. Mereka tak lagi menganggapku ada. (Kumala, 2005: 81)

    Tumbuhnya kesadaran Pawestri ini menghantar dia menuju pencerahan diri. Ia membutuhkan kebebasan untuk menentukan dan menjalani hidupnya sendiri, tanpa harus bergantung atau takluk pada otoritas keluarga. Menerima kenyataan bahwa ia diusir dari rumah keluarga adalah sikap yang paling tepat, di mana ia dapat mengaktualisasikan dirinya secara lebih bebas dalam kehidupan yang baru.

    Aku tak inginkan pertemuan dengan keluarga walaupun aku rindu mereka. Maka aku mulai menata hidupku lagi di tempat orang-orang yang tak menghakimi masa laluku dengan pandangan mereka. Aku ingin punya kehidupan yang baru. (Kumala, 2005: 84)

    Dengan kesadaran ini pula dapat dikatakan bahwa Pawestri tengah bergerak maju memahami eksistensinya; makhluk bermartabat yang dari kodratnya pantas diterima, dicintai dan dihargai, juga dengan kelemahan dan keterbatasan yang ada. Pawestri telah memberi makna baru bagi dirinya terhadap realitas yang sungguh tak dikehendakinya. Ini adalah cela menuju kebebasan eksistensial yang dirindukan begitu banyak perempuan di dunia. Cela yang membuatnya terbebas dari belenggu adat patriarkhi dan dari kungkungan otoritas keluarga yang konservatif.

    Diam-diam aku menginginkan sebuah kebebasan; keluar dari rumah dan membuat perjalanan sebagai rumahku yang selalu bisa kusinggahi… (Kumala, 2005: 120)

    Pemindahan Janin
    Jika dapat dikatakan sebagai sebuah kebebasan, maka kebebasan yang dimaksud dari keputusan dan tindakan ini perlu digaris bawahi. Sebab pemindahan janin adalah sebuah tindakan melawan kodrat,bentuk pelarian dari tanggung jawab yang tak dapat dibenarkan. Dalam konteks Pawestri keputusan tersebut diambil dengan sadar,tahu dan mau, sebab ia menyadari ada kehidupan baru dalam rahimnya.

    Star tidak pernah menuntut apa-apa dariku, dia hanya butuh tempat untuk berteduh, sebuah rumah. Dan dia memilih tubuhku sebagai rumahnya. Dia tidak menuntut aku untuk memperhatikannya…. Dia tidak membuatku mual di pagi hari ataupun muntah saat sikat gigi. (Kumala, 2005: 25)

    Kesadaran tersebut menghantar dia untuk tidak mementingkan diri sendiri dengan mengambil tindakan secara gegabah seperti pengguguran atau aborsi misalnya. Dia mengambil keputusan yang lebih berkadar manusiawi: memindahkan janin ke rahim lain tanpa merusaknya. Hanya dengan bantuan seorang dukun?

    Bagi saya, pemindahan janin ini hanyalah sebuah tindakan simbolik; sebuah pemberontakan perempuan oleh dorongan kerinduan untuk bebas, sebebas laki-laki yang seenaknya menghamili dan menunggalkan perempuan tanpa tahu bertanggung jawab.

    Menentukan Pilihan Hidup
    Lepas dari ikatan keluarga dan beban janinnya, Pawestri sampai kepada kebebasan dirinya yang penuh. Kesadaran akan eksistensinya menghantar dia kepada sebuah pilihan bebas, tanpa tekanan, desakan dan pengaruh pihak manapun. Ia menentukan pilihannya menjadi biarawati. Di sanalah ia menemukan kebebasannya.

    Aku ingin memulai sebuah hidup yang benar-benar baru… aku ingin mengabdikan diriku kepada Tuhan. (Kumala, 2005: 86)

    Sebuah keanehan terjadi; aku menggapai kebebasanku dengan mengikat diri dalam selibat. (Kumala, 2005: 120)

    Dari poin ini dapat dikatakan bahwa melalui tokoh Pawestri, pengarang ingin mengangkat kesadaran perempuan akan kebebasan menentukan sendiri kehidupannya dan memberi arti padanya.

    Menghadapi Konsekuensi dan Resiko dalam Karya
    Pilihan hidup yang bebas dari dirinya sendiri menghantar Pawestri kepada penerimaan tugas secara bebas pula. Ia tidak takut menghadapi resiko bahwa Ambon adalah sebuah medan karya yang berbahaya baginya.

    Aku datang membawa status, sebuah dogma yang sedikit banyak kusesali sekaligus kubanggakan… ini bisa saja menjadi senjataku sekaligus titik lemahku, sebab setiap saat jika aku terjebak di tempat yang salah maka akan digorok leherku… (Kumala, 2005: 69)

    Tak kupercaya, aku benar-benar berani pergi ke suatu tempat asing, sendirtian pula. (Kumala, 2005: 71)

    Dalam pergulatan menghadapi godaan hidup ia tegas menentukan sikap.

    Ada perang di dalam diriku. Aku harus mengalahkan diriku sendiri. (Kumala, 2005: 78)

    Aku menjauhinya karena aku ingin kembali bersetia pada cinta yang sejak awal kuberikan hanya untuk Allah. (Kumala, 2005: 79)

    Juga ketika menyaksikan sendiri peristiwa pembantaian, hatinya bergolak menanyai Tuhan.

    Jangan Kau reka sebuah skenario yang membuatku jatuh tak percaya pada-Mu Tuhanku…
    Telah lama aku menaruh curiga, dan tak cukupkah hukuman yang diberikan kepada manusia?
    Bukankah Kau telah dengan sengaja menciptakan kami manusia sebagai boneka mainan-Mu dan menjanjikan Surga atau Neraka bagi mereka yang mengimani-Mu dan yang tidak mengimani-Mu? (Kumala, 2005: 124)

    Jika Kau benar ada, lindungi aku… (Kumala, 2005: 125)

    Berbagai pergulatan ini menunjukkan perjuangan Pawestri untuk memberi makna/arti pada pilihan hidupnya sendiri. Ia telah bebas memilih, maka ia dengan bebas dan berani pula menjalaninya. Bukankah ia telah memberi makna pada eksistensi dirinya sebagai makhluk yang bebas memaknai kehidupan sendiri?

    Menghadapi Kematian
    Fakta bahwa ia menjadi saksi dari peristiwa pembantaian menghantar dia menuju sebuah ruangan gelap, tertutup. Nyawanya dihabisi secara perlahan-lahan dengan injeksi cairan penenang dan dibuang ke laut untuk menghilangkan jejaknya. Namun awak kapal Srigunting menemukannya masih dalam keadaan koma, dan demi mengahkiri penderitaanya dia di-eutanasia. Jazadnya diapungkan di laut pula.

    Akhir hidupnya yang memilukan ini diterima dan dimaknai secara bebas oleh Pawestri dalam soliloqui menjelang ajalnya.

    Jika aku pergi menuju inkarnasiku esok hari, maka buatlah cepat. Aku ingin menjadi Amba yang menceburkan diri ke dalam api agar bisa lahir kembali sebagai Srikandi yang memanah mati Bhisma. Melaksanakan tugas yang belum selesai tuntas. Bukankah malaikat maut yang sebenarnya telah bermofosis menjadi waktu? Semua hanya tinggal menunggu waktu. Dan jika aku telah benar-benar menjadi tinggal seonggok tubuh kosong, biarkan aku bersahabat dengan laut. Ajari aku menjadi ikan yang mampu terbang menuju tujuh lapis langit. (Kumala, 2005: 198)

    Beruntunglah aku yang akan ditidurkan bersama jutaan teman-teman baruku, hewan-hewan laut.
    Hingga tak perlu lagi merepotkan juru kunci untuk menggali lubang bagi aku dan peti mati. (Kumala, 2005: 199)

    Kesadaran untuk memaknai kematian ini dapat dilihat sebagai kesadaran Pawestri akan eksistensinya sendiri. Hidup yang adalah sebuah eksistensi telah diberinya arti melalui seluruh perjuangan, dan usaha untuk menerima dan memaknai kematian adalah puncak kesadaran akan eksistensi itu sendiri. Cara ajal menjemput bukanlah patokan penilaian atas eksistensi seseorang, juga bila dia hanyalah seorang perempuan dalam pandangan dunia.
    Menyoroti Kebebasan Eksistensial bersama Sartre

    Novel Genesis telah melukiskan gerak kebebasan seorang perempuan untuk memaknai kehidupannya. Bagaimanakah kebebasan ini disoroti dalam filsafat eksistensialisme? Hemat saya, pemikiran Jean Paul Sartre tentang”kebebasan”cukup relevan dalam pembahasan ini. Meskipun ia tidak secara khusus memberi pandangannya tentang kebebasan perempuan. Ia hanya meletakan dasar pemikirannya tentang kebebasan eksistensial manusia secara umum. Lagi pula jika kita menerima kesamaan martabat laki-laki dan perempuan apakah perlu membedakan kebebasan laki-laki dan kebebasan perempuan? Bukankah itu hanyalah wacana dan produk kebudayaan patriarkhi?

    Perlu diketahui bahwa Sartre adalah seorang filsuf atheis. Namun baiklah kita menyoroti pandangannya tentang kebebasan manusia lepas dari pandangan kebebasan radikalnya sebagai seorang atheis. Artinya dalam pembahasan ini hanya dilihat ”kebebasan manusia dalam hubungan antar manusia” (bdk. Muzairi, 2002: 166–180).

    Bagi Sartre, ”manusia itu bebas”, bahkan”manusia adalah kebebasan itu sendiri”. Ke-apa-an dan ke-bagaimana-an manusia tergantung pada kemauan dan kemerdekaannya sendiri (Muzairi, 2002: viii). Sartre menegaskan doktrinnya:”manusia adalah apa yang ia cita-citakan, manusia ada sejauh ia merealisasikan dirinya, dan oleh karena itu ia adalah keseluruhan tindakannya. Manusia bukanlah apa-apa, kecuali apa yang dinyatakan oleh hidupnya” (Sartre, 2002: 73). Dengan pernyataan ini Sartre ingin menegaskan bahwa eksistensi manusia adalah menyangkut keseluruhan rangkaian usaha-usaha yang ia lakukan dalam hidupnya. “Manusia bukanlah siapa-siapa, selain apa yang diperjuangkan dalam hidupnya” (Sartre, 2002: 76). Pernyataan-pernyataan eksistensial ini perlu dipahami dengan baik sebagai dasar untuk memahami kebebasan manusia. Menarik bahwa ia menyoroti kebebasan manusia secara umum dan netral, laki-laki dan perempuan dipandang sama sebagai manusia yang bebas.

    Dengan pendasaran ini saya boleh mengatakan bahwa kebebasan perempuan perspektif novel Genesis mendapat afirmasinya dari pemikiran eksistensial Sartre ini. Kebebasan seorang perempuan (sebagai manusia) yang diwakili oleh Pawestri telah menjadi model konkrit dari kebebasan manusia yang digambarkan Sartre. Pawestri telah berjuang untuk memilih, memutuskan dan memaknai kehidupannya secara bebas hingga akhir hidupnya. Ia telah bebas membentuk dirinya seturut apa yang dicita-citakannya, ia telah bebas merealisasikan dirinya dalam panggilan hidupnya, bebas mengekspresikan dirinya dalam seluruh tindakannya. Bahkan lebih jauh ia telah bebas memaknai kematiannya untuk menerimanya sebagai kelanjutan dari hidup. Pawestri telah menggapai eksistensinya sebagai manusia-perempuan yang bebas.

    Namun kebebasan yang dimiliki Pawestri bukanlah sebuah kebebasan absolut yang tidak mengandaikan tanggung jawab. Sebab pengandaian bahwa kebebasan terpisah dari tanggung jawab adalah suatu abstraksi yang tak dapat dibenarkan (Muzairi, 2002: 181). Tentang poin inipun Pawestri telah membuktikannya. Tanggung jawab dirinya sebagai manusia yang bebas terpelihara antara lain karena dalam kebebasannya ia tetap memiliki pegangan, dari mana dan ke mana tujuan hidupnya. Kesadaran tentang hal ini terungkap dalam refleksi terakhirnya yang menutup kisah novel:

    Tuhan telah memberi, Tuhan telah mengambil (Kumala, 2005: 202).

    V. Penutup

    Dengan memahami novel Genesis secara lebih dalam disertai suguhan filosofi kebebasan Sartre, saya dapat menyimpulkan bahwa novel Genesis (betapapun sederhana kisahnya) telah mengedepankan poin kebebasan perempuan sebagai manusia yang bereksistensi. Tema tentang kebebasan perempuan ini senantiasa relevan untuk segala zaman, juga dewasa ini. Sebab realitas adanya subordinasi perempuan telah membatasi kebebasan perempuan sampai pada tataran eksistensial: penentuan pilihan hidup sendiri dan pemberian makna atasnya. Banyak kali perempuan tersesat dalam lingkaran ini. Maka perlulah kesadaran perempuan untuk menggapai kembali kebebasan eksistensialnya, kebebasan dari segala belenggu ideologi, budaya, dan otoritas patriarkhi.

    Perempuan harus keluar dari kepasifan diri sebagai obyek yang serba diatur untuk meraih kembali eksistensinya sebagai subyek yang aktif, yang bebas menentukan sendiri arah kehidupannya. Di sinilah letak sumbangan novel Genesis sebagai sastra yang mau mengangkat kesadaran perempuan akan kodrat kebebasannya sebagai manusia. Semoga saja para pembaca Genesis dapat menangkap hikmah yang tersirat dalam kisah novel ini. Menangkap kerinduan dan idealisme pengarang sebagai seorang perempuan yang hidup pada jaman ini.

    KEPUSTAKAAN
    Kumala,Ratih.Genesis.Yogyakarta: INSISTPress,2005

    Muzairi,H,Drs,MA.Eksistensialisme Jean Paul Sartre;Sumur Tanpa Dasar Kebebasan Manusia.Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2002

    Sartre,Jean Paul.Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto.Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2002

    Sutrisno,Mudji,SJ.Filsafat,Sastra dan Budaya.Jakarta: OBOR,1995

    5 thoughts on “Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup:
    Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel Genesis

    1. yang terjadi dari jaman nabi-nabi hingga jaman sekarang, memang begitu, perempuan selalu di pandang sebagai objek lebih jelas lagi;” badan yang berbahaya”
      ia mempunyai keanggungan yang mematikan
      kelembutannya adalah kekuatannya
      kecantikan adalah perengkapnya
      dan kelahiran adalah potensi segala dosa
      kita mencintai sekaligus membenci
      megagungkan, memuja sekaligus menghinakan.

    2. mbak…..neh novel keren juga! aku sampe bingung dibuantnya. oh ya mbak…novel ini aku buat untuk skripsi aku…tapi ya gitu…aku kebingungan buat ref. coz aku mo gunakain kajian interteks.mbak..aku bisa minta emailnya…bair aku bisa sekalian konsultasi gitu…thanks…

    3. wanita sedang bergualt dengan dirinya. dan pergulatan itu belum tuntas terselesaikan. adakah kamu menuntas pekerjaan rumah ribuan wanita yang sedang bergulat apda hal yang sama?

    4. Pingback: Genesis | insistpress

    Comments are closed.