Perempuan yang (Tidak) Perkasa

“Kamu seharusnya lahir jadi anak laki-laki; tentulah kamu akan jadi laki-laki yang tetap berani hati,” demikianlah kami dengar setiap kali sampai jemu telinga mendengarnya.
(surat Kartini kepada Nyonya Ovink-Soer: Jepara, Agustus 1900)

 

 

Panggil dia ‘Kartini’ saja, seperti yang diminta Kartini sendiri dalam surat-suranya kepada sahabat-sahabatnya. Kalimat itu pula yang kemudian diadopsi Pramoedya Ananta Toer untuk novelnya, Panggil Aku Kartini Sajda. Tanpa embel-embel ‘Raden Ajeng’, sebuah tato yang sudah sejak lahir menempel pada awal nama Kartini, menunjukkan kedudukannya yang bukan sekedar rakyat jelata. Dari kalimat itu saja kita sudah bisa melihat bahwa sebenarnya ada perjuangan yang sebenarnya lebih besar dari pada sekedar memperjuangkan kesetaraan gender. Sebutan ‘raden ajeng’ sama dengan menunjukkan kasta yang tinggi dalam masyarakat Jawa. Kartini seakan-akan ingin menghapus ‘raden ajeng’ dari nama dan hidupnya.

Sejak SMP, pelajaran sejarah seakan-akan sudah menjebak kita, mematri di kepala kita bahwa Raden Ajeng Kartini (tanpa melepaskan embel-embel ‘raden ajeng’) sekedar pejuang emansipasi wanita. Apakah sebenarnya arti ’emansipasi’ itu sendiri?

e.man.ci.pate (verbs) | e.man.ci.pa.tion (noun)
set free, esp. from legal, social, or political restrictions: the citizen must be
(Dictionary and Thesaurus)

Sedang di dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang disusun oleh Armijn Pane (1938 ), catatan kaki menunjukkan; emansipatie=Hendak berdiri sendiri, dikatakan tentanng perempuan. Jika membaca suratnya tertanggal 25 Mei 1899 kepada Stella Zeehandelaar, kita dapat merasakan kecemburuan Kartini terhadap kaum laki-laki pada masanya yang tidak perlu dipingit, boleh keluar rumah, bisa sekolah di sekolah-sekolah Belanda, dan yang paling penting; bisa memilih istri bahkan memiliki beberapa perempuan untuk dijadikan istri maupun selir. Sedang perempuan pada masa itu selalu dihadapkan dengan adat-budaya yang sudah mengakar, di sinilah cita-cita Kartini bertabrakan. Sehingga, seakan-akan cita-citanya yang lebih tinggi -yaitu menuntut kesetaraan bangsa-bangsa- terlupakan begitu saja.

Di banyak bagian lain di surat-suratnya, Kartini sadar betul bahwa, bahkan laki-laki yang telah diberi kesempatan bersekolah sekali pun, tidak sama tingkatannya dengan orang-orang Eropa di Indonesia;

Orang Eropa makan hati melihat beberapa rupa sipat orang Jawa, misalnya sipat pelalai, malas dan sebagainya. Kalau benar hal itu mengesalkan hati orang Belanda, mengapakah tiada berbuat suatu apa juga pun akan menghilangkan sipat buruk itu? Mengapa tiada tuan ulurkan tangan tuan akan membangkitkan saudaranya si kulit hitam itu? […] Orang Belanda mentertawakan dan mencemoohkan kebodohan kami, tetapi bila kami coba memajukan diri kami, sipatnya pun terhadap kami mengancam. […] Sekarang tahulah aku, mengapa orang Belanda tiada suka, kami orang Jawa maju. Apabila si Jawa itu telah berpengetahuan tiadalah ia hendak mengia dan mengamin saja lagi, akan barang sesuatu yang dikatakan dipikulkan kepadanya oleh orang yang di atasnya. (12 Januari 1900)

Belum selesai kita belajar mengenai emansipasi, tiba-tiba feminisme masuk ke Indonesia. ‘Emansipasi’ yang berarti set free dan merujuk kepada semua warga negara, seolah-olah bagi sebagian orang artinya sama dengan feminisme. Beberapa dari kita (yang tidak tuntas belajar mengenai subjek ini) melupakan kata ‘wanita’ yang seharusnya mengikutinya.

fem.i.nism (noun)
The advocay of women’s rights on the grounds of poitical, social, and economical equality to men
(Dictionary and Thesaurus)

Jika dilihat dari subjek yang berjuang dan objek yang diperjuangkan, emansipasi tingkatannya lebih tinggi dari feminisme. Kartini, bagi saya, ide-idenya setingkat dengan Martin Luther King Jr. yang menuntut kesamaan hak atas ras/bangsa-bangsa; I have a dream! One day in the valley, former slave and former slave-owner will sit together in the table of brotherhood (Martin Luther King Jr.). Kalimat terkenal yang diucapkan oleh Martin Luther King Jr. tersebut sebetulnya tak jauh beda dengan kalimat Kartini berikut (yang kedengarannya amat klise dan tidak terkenal); Sekaliannya kita ini bersaudara, bukan karena kita seibu-sebapa, ialah ibu bapak kelahiran manusia, melainkan oleh karena kita semuanya makhluk kepada seorang Bapak, kepadaNya, yang bertakhta di atas langit. (25 Mei, 1899).

KartiniKutipan pembuka di awal paragraf pertama sengaja saya cantumkan untuk menunjukkan, betapa seorang Kartini untuk bisa berjuang setingkat dengan Martin Luther King Jr. pada masanya dulu harus melalui tembok yang berlapis-lapis. Kartini tidak punya akses yang luas, sedang Martin Luther King Jr. ialah seorang pendeta yang memiliki massa di gereja orang kulit hitam. Kartini seorang perempuan yang pikiran kritisnya harus menghadapi tembok adat budaya, sedang Martin Luther King Jr. seorang laki-laki yang sudah lebih memiliki kebebasan bergerak.

Lantas, pertanyaan yang timbul di benak saya adalah; kenapa kita masih saja berputar ke daerah yang sama, bahwa Kartini adalah pejuang emansipasi wanita. Kenapa tidak kita mulai berpikir, Kartini adalah pejuang emansipasi (tanpa tambahkan kata ‘wanita’). Memang, di antara sekelompok pejuang-pejuang Indonesia yang diangkat sebagai pahlawan, Kartini jadi memiliki ciri khas tersendiri. Namun, pada saat yang bersamaan -entah disadari atau tidak- kita melupakan cita-cita seorang Kartini yang sebenarnya lebih besar.

Mengapa Kartini?
Ada banyak perempuan yang menonjol yang kita kenal sejak dahulu, entah itu mitos ataupun betul-betul ada. Tetapi kenapa Kartini menjadi sangat istimewa, bahkan ada Hari Kartini setiap tahun yang dirayakan. Anak-anak TK dan SD merayakannya dengan karnaval sambil menggunakan pakaian adat daerah keliling lingkungan. Tidak ada Hari Cut Nyak Dien ataupun Hari Dewi Sartika, dua perempuan yang juga namanya tercantum sebagai pahlawan Indonesia. Kita juga tidak pernah mendengar perempuan-perempuan lain yang seangkatan dengan Kartini yang jauh lebih kritis dari Kartini, bahkan lebih betul-betul telah merealisasikan cita-citanya; emansipasi. Siti Soendari, misalnya, seorang jurnalis perempuan pada masa Kartini yang banyak menulis di surat-surat kabar, namanya nyaris tak pernah terdengar.

Bagian dari kisah hidup Kartini yang sebetulnya tidak pernah betul-betul terbuka, yaitu surat-surat Kartini kepada Dewi Sartika. Keinginan Kartini untuk membuat sekolah sebetulnya banyak dipengaruhi oleh Dewi Sartika yang sudah memulainya terlebih dahulu. Cut Nyak Dien yang betul-betul ikut bergerilya dan bahkan memimimpin pasukan tidak mendapat penghargaan setinggi Kartini yang hanya sekedar berkirim surat dan curhat tentang kehidupan dan cita-citanya. Lantas kenapa baik Dewi Sartika maupun Cut Nyak Dien tidak mendapat penghargaan setinggi Kartini? Dewi Sartika berasal dari Jawa Barat, ada kode-kode tertentu yang tak tertulis bahwa budaya jawa yang sebenarnya adalah Jawa Tengah, lagipula perjuangan Dewi Sartika sepertinya dianggap kebablasan karena dianggap sudah keluar dari kodrat perempuan yang seharusnya menurut. Begitu pula dengan Cut Nyak Dien yang berasal dari Aceh. Ia tak meninggalkan berkas-berkas tertulis seperti halnya Kartini, namun sebagai perempuan yang memimpin pasukan perang tidak bisa dihitung sebagai perjuangan yang kecil. Aceh merupakan satu-satunya wilayah Indonesia yang tidak bisa betul-betul bisa ditaklukan oleh Belanda. Ketika Indonesia mereka, Aceh dengan sukarela bergabung. Berbeda dengan Jepara, wilayah Indonesia yang sudah memang betul-betul sudah dikuasai Belanda.

Baik disadari ataupun tidak, ada beberapa kepentingan politis yang melibatkan Belanda sebagai mantan penjajah Indonesia, juga ada unsur kepentingan mempertahankan sistem patriarki yang sudah mengakar dan ingin mengembalikan perempuan kepada fitrah-nya; yang kodratnya adalah masak-macak-manak (bahasa Jawa=memasak-berdandan-melahirkan). Buku Habis Gelap Terbitlah Terang pun awalnya diterbitkan dalam bahasa Belanda terlebih dahulu dengan judul Door Duisternis Tot Licht, surat-surat Kartini dibukukan atas usul . Seolah-olah kepada generasi baru, dikatakan, “beginilah cara berjuang yang baik dan benar.” Dengan kata lain, tak usah ikut bergerilya, tak perlu susah-susah mendirikan sekolah, tapi tetap pintar/tidak bodoh sehingga tidak memalukan nama keluarga, dan tetap menyadari kodratnya sebagai perempuan. Bahkan dalam surat-suratnya setelah ia menikah, Kartini menunjukkan bahwa dia bersyukur telah menikah, padahal awalnya ia seperti kehilangan semangat hidup atas pernikahannya; Saya mengucap syukur, membiarkan saya dibimbing oleh orang yang ditunjukkan oleh Allah Yang mahakuasa menjadi kawan saya seperjalanan menempuh hidup yang luas yang kerapkali sangat sukarnya ini. (Rembang, 11 Desember 1903)

Kartini ditundukkan oleh pernikahan, momok yang sangat ditakutinya terutama ketika ia harus menjalani masa pingit saat usia 12-16 tahun. Ia toh akhirnya harus tunduk kepada ayahnya yang sudah memilihkan calon baginya. Kartini, yang dikatakan Armijn Pane sebagai ‘seolah-olah bunga teratai hendak beralih, tetapi tertahan oleh tangkainya dan akarnya, cuma dapat seolah-oleh berayun perlahan-lahan, tertahan-tahan’ mau tak mau sebagai bukti menunjukkan baktinya harus menurut kepada ayahnya untuk menikah dengan Raden Adipati Djaja Adiningrat.

Pram dalam bukunya Panggil Aku Kartini Sadja, menceritakan sebetulnya ada kekhawatiran yang timbul dari pihak Belanda akibat surat-surat Kartini yang dianggap terlalu kritis, maka pihak Belanda pun menyurati R.M. Adipati Ario Sosroningrat, memerintahkan agar Kartini segera dinikahkan. Belanda memiliki rumus, untuk menghadapi orang-orang keraton yang terlalu kritis (apalagi perempuan), dengan cara dinikahkan agar sibuk dengan urusan rumah tangga. Rumus tersebut agaknya betul-betul berhasil, mengingat ayahanda Kartini yang menjabat sebagai Bupati Jepara tentu harus tunduk kepada pemerintah Belanda yang berkuasa pada masa itu.

Keluar dari Lingkungan Domestik
Cita-cita Kartini berujung dalam lingkungan domestik, lingkungan yang dianggap sebagai kodrat perempuan. Sebetulnya, apakah yang dimaksud dengan ‘kodrat perempuan’ itu? Kata ‘kodrat’ yang berarti garis hidup, pembawaan, fitrah; bagi saya merujuk kepada bentuk fisik perempuan dan kemampuan-kemampuan yang ditimbulkan atas fisiknya tersebut, dalam hal ini melahirkan. Sedangkan memasak, mencuci dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang diidentikkan dengan tugas utama perempuan bukanlah kodrat. Semua itu merupakan hasil penciptaan budaya yang memaksa adanya pembagian akibat perbedaan bentuk dan fungsi fisik laki-laki dan perempuan. Budayalah yang membentuk sistem patriarki. Dan budaya dibuat oleh manusia, bukan datang dari kodrat. Budaya pula yang tiba-tiba menentukan bahwa perempuan kebagian tugas membersihkan rumah, inilah yang kemudian menjadi lingkungan domestik perempuan sebentara laki-laki di luar bekerja mencari uang.

Ketika perempuan seperti Sipon (istri dari penyari Wiji Thukul yang suaminya hilang oleh pemerintah orde baru), maupun Suciwati (istri Munir yang suaminya belum lama meninggal diracun arsenik) dikagetkan oleh kenyataan bahwa dirinya tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa dirinyalah yang kini memimpin keluarga, maka dia dipaksa keluar dari lingkungan domestik. Lebih dari sekedar bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus menjadi kepala keluarga, mereka bergelut menghadapi pertanyaan yang menjadi pe-er; apa yang sebenarnya terjadi pada suamiku? Sampai sekarang pertanyaan itu belum tuntas terjawab. Kedua perempuan yang saya anggap perkasa itu dipaksa menghadapi pihak pemerintah, pihak angkatan bersenjata, bahkan pihak mafia Indonesia.

Di Indonesia, pemahaman feminisme masih bias. Ketika kita belum tuntas dengan emansipasi, feminisme datang. Kita sekaligus mengimpor ide-ide feminisme yang kemudian menjadi trend; bahwa dengan perempuan bekerja dan tidak menikah berarti feminis. Dengan semakin banyaknya perempuan yang bekerja, menunjukkan kuantitaif feminis yang semakin membengkak dan mungkin pihak laki-laki merasa sedikit terancam. Tetapi bagaimana dengan ukuran kualitatif? Padahal, menurut Angger jati Wijaya, jika ukurannya adalah kuantitatif, maka yang terjadi seolah-olah perempuan sedang merancang dunianya sendiri untuk menjadi subkultur yang kemudian secara radikal melakukan subversi terhadap kultur dan struktur sosial patriarki (baca; laki-laki).

Bagi saya, sikap feminis itu harus timbul dari pikiran, jika tak ingin masuk ke dalam jerat budaya. Jika seorang perempuan sudah bisa menunjukkan eksistensi pikirannya, maka ia bisa disebut sebagai feminis.

(Ratih Kumala, makalah untuk diskusi “Quo Vadis… Semangat Emansipsi Perempuan” di STT Telkom Bandung, April 2007)

3 thoughts on “Perempuan yang (Tidak) Perkasa

  1. Mbak Ratih Kumal a. I met her, knew her from a friend which is my sister (??). Did not concern so much how she developed a lot recently, most of the time I know her from her friend. What I know is that she’s a writer, very talented one, open mind, beautiful, married, and probably getting more famous both in her community and in Indonesia. Sometimes I made jokes, I said.. Ratih Kumala.. can I get your autograph on your book please..?? And all the time she would hit me when I said that, jokingly of course. He..he.. so funny. So many times I feel I can’t reach her ‘level’ on the frame of literature coz I always stated to public that I’m not a good reader.. well, I can say I’m not a reader actually. All books I ever read.. the number is too small and most of the time, for me they are either to answer my questions and curiosity, recommended by friends, or just for entertaiment. However, once you talk with her, you’ll find that you don’t need to feel stupid coz she, indeed, respects others’ point of view, even to a ‘non-reader’ like me. For sure, I’m interested to other stuffs. And it’s fun to have discussion with people who are almost completely different from you. One common thing about mbak Ratih and me is, I think, open mind.. Mbak Ratih, you know exactly what I mean.., ne?

    And btw, I like your writing about Kartini. I can say why, and I will say why.. but directly when we meet (when???)

    Just one thing, did you deliver it in STT Telkom Bandung???? You know what, I hate that place!!

  2. Bagi saya feminisme itu berarti pemberian kesempatan yang sama dan seluas-luasnya kepada kaum wanita untuk berkarya sesuai dengan kemampuan, minat dan bakatnya. Kemampuan, minat, dan bakat yang saya maksud disini termasuk terhadap lingkungan domestik.

  3. Pingback: My Blog » Blog Archive » cerpen

Comments are closed.