Perjalanan Spiritual: Sunan Gunung Jati

image

Di dalam hidup, saya tidak pernah menyangka akan pergi ke makam para Sunan Wali Songo. Saya bukanlah orang yang terlalu religius. Tapi agaknya, kali ini religi menghampiri saya dan memaksa saya untuk bernapak tilas.

Perjalanan saya dimulai bersama empat rekan kantor, untuk meniti jejak para Sunan Wali Songo plus Syekh Siti Jenar.

Jam 4:30 pagi saya sudah stand by di kantor, supir dan mobil sudah siap mengantar kami. Dimulailah perjalanan kami menuju Cirebon. Sowan ke makam Sunan Gunung Jati. Kota ini menyambut kami dengan terik mataharinya, sehingga ubun-ubun kami memanas. Tetapi dorongan menemui Sunan Gunung Jati seperti memngalahkan rasa letih yang telah mendidih.

Kami bertemu dengan salah satu kuncen makam sunan gunung Jati, namanya Pak Otong. Dalam bayangan saya sejak di Jakarta, yang namanya kuncen tentu seorang tua, seperti misalnya almarhum Mbah Marijan, kuncen Gunung Merapi. Tetapi tidak, Pak Otong (mungkin lebih pantas disebut Mas Otong) adalah lelaki usia dua puluhan akhir. Di tangan kanannya, pada jari manis dan kelingking melingkar dua cincin bertahtakan berlian, dan mata saya tidak bisa lepas dari situ.sambilepalasaya bertanya-tanya dari mana dia mendapat cincin berlian itu? Karena saya lihat dia satu-satunya kuncen yang memakai cincin semacam itu, dan di situ ada lebih dari 100 kuncen.

Menurutnya, tidak semua orang bisa masuk ke Makam Sunan gunung Jati, kebanyakan mereka akan berhenti di pintu ke-3. Dari balik pintu lantai ke-3, kami mendengar suara doa-doa orang yang tahlilan dengan khusuk. Jika ingin masuk ke Makam Sunan gunung Jati, maka harus ada izin dari Kraton. Untungnya, kami mendapatkan “izin” itu dengan harga tertentu. Pak Otong menyuruh kami untuk memakai baju khusus. Yang cowok dengan sarung dan baju koko putih, dan saya harus memakai mukena. Kami berjalan menuju lantai 9, lantai tertinggi di pemakaman tersebut, di mana dibaringkan Sunan Gunung Jati. Menuju ke situ, kami dikelilingi makam-makam para kerabat kerajaan. Pak Otong lumayan hapal makam-makam siapa saja itu, meskipun tidak semuanya. Karena makam-makam tersebut sudah sangat tua. Dia juga menjelaskan silsilah Sunan Gunung Jati, termasuk siapa saja yang menjadi istri-istrinya.

Seorang istri Sunan Gunung Jati yng pling terkenal adalah Putri Ong Tien dari China, yang didapatinya dari sayembara. Sunan gunung Jati yang tiba di China disuruh menebak, siapa di antara kedua putri raja yang hamil. Putri Ong Tien menipunya dengan cara mengganjal perutnya sehingga terlihat hamil. Sunan Gunung Jati menebak bahwa dia tidak hamil, tetapi Putri Ong Tien bersikeras kalau dirinya hamil. Maka Sunan Gunung Jati pun menjadikannya hamil. Hanya melalui lisan. Setelah Sunan Gunung Jati kembali ke Majapahit, Putri Ong tien mendapati dirinya benar-benar hamil, dan dia pun menyusul ke Majapahit dengan tujuh buah kapal berisi perbekalan. Sampai di Majapahit, dia menuntut Sunan Gunung Jati untuk bertanggung jawab, Sunan Gunung Jati bersedia, asal Putri Ong Tien mengucap dua kalimat syahadat dan masuk Islam. Sejak itulah Putri Ong Tien menjadi mualaf.

Harta benda yang dibawa Putri Ong Tien sangatlah banyak. Guci-guci China, giok-giok, piring-piring, segala yang kini menjadi hiasan ornamen makam Sunan Gunung Jati adalah hasil bawaan Putri Ong Tien dari China. Sebuah giok besar pun menghias di ujung atap makam Sunan Gunung Jati. Konon, menurut Pak Otong, jika marabahaya di Indonesia akan terjadi, maka giok tersebut akan menyala berpendar-pendar di malam hari.

Pak Otong menunjukan sebuah pohon bernama pohon nagasari yang konon berasal dari pusaka keris milik Sunan Gunung Jati yang ditancapkan dan secara gaib berubah menjadi pohon nagasari,d enga sebagian daun yang kemerahan. Jika siapapun kejatuhan ranting pohon ini, maka akan membawa berkah dan rizki.

Di lantai ke 7, kami diminta untuk berwudhu dengan Ir yang katanya bisa membukakan aura. Kami memasuki makam Sunan Gunung Jati di lantai 9. Pasir dari Arab mengelilingi sekitar makam. Segera aroma bunga dan dupa menusuk hidungku. Kami mengelilingi makam Sunan Gunung Jati, yang terbuat dari kayu dan di atasnya penuh dengnan bunga-bunga. Tiga buah dupa yang habis terbakar masih terlihat tersisi di depanku. Pak Otong menanyakan nama kami masing-masing. Lalu dia mulai merapalkan doa-doa. Kepalaku sedikit berputar ketika mataku kututup, dan aroma kembang makin menusuk, juga bau mulut dari para perapal doa. Pak Otong segera larut dalam doa-doanya yang suaranya memenuhi ruang remang-remang tersebut. Semua nama 9 Wali dan Syekh Siti Jenar disebutkannya dalam doanya yang panjang, juga nama keluargabesar Sunan Gunung Jati.

Perjalanan kami ke makam Sunan Gunung Jati berakhir dengan keliling melihat-lihat suasana sekitar. Orang-orang di sekitar situ praktis hidup dari pemakaman tersebut. Jika tidak berjualan suvenir, mulai dari kaos, buku sejarah Sunan Gunung Jati, aksespris dari kayu yag digunankan sebagai tongkat nabi, minyak jafaron, serta segala kembang tujuh rupa untuk ditaburkan di makam; maka mereka menjadi peminta-minta yang membawa wadah plastik kecil dan berbaris di sepanjang jalan menujun ke makam. Kami berpikir, bagaimana perasaan Sunan Gunung Jati saat ini jika masih hidup, dan melihat orang-orang di sekitarnya menjadi pemalas.

Kami menyudahi perjalanan kami dan menuju ke Stasiun Cirebon untuk selanjutnya ke Semarang, untuk mengunjungi makam Wali Songo yang lain.

 

 

4 thoughts on “Perjalanan Spiritual: Sunan Gunung Jati

  1. mau tanya gan, cara daftar masuk ziarah langsung di kuburan sunan gunung jati berapa?????
    maaf ya

    —–

    @Anto: Kalo masuk ke dalam sampe betul-betul bisa pegang makamnya, waktu itu bayar 1,5 juta untuk lima orang. Tapi kalo enggak sampe pegang makam sih, gak bayar. Cuma sampai lantai 3, seingatku.

  2. Satu hal yang ingin aku tanyakan : Apa hubungan Sunan Gunung Jati dengan Kerajaan Majapahit, karena periode kehidupan di antara keduanya sangat jauh berbeda ………. ? Satu catatan penting adalah, Kerajaan Majapahit telah mengalami kemunduran pada sekitar tahun 1500 M. Sedangkan Sunan Gunung Jati baru muncul beberapa ratus tahun setelah Majapahit runtuh.

Comments are closed.