Perubahan Identitas Buku Terjemahan


Jika perbedaan banyak bahasa ibarat hulu dan hilir yang terpisah oleh sebuah sungai, maka penerjemah adalah jembatan di atas sungai itu; inilah yang saya pelajari ketika saya kuliah dulu. Penerjemahan merupakan mata kuliah favorit saya, bahkan saya memutuskan untuk mengambil penerjemahan untuk skripsi saya. Bagi saya menerjemahkan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Saya berpikir berpuluh-puluh kali jika harus menerjemahkan satu karya, apalagi kalau itu bukan karya saya sendiri.

Akhir-akhir ini, ada hal yang menyentil ketika saya berkunjung ke toko buku. Buku pertama yang saya lihat adalah The Inheritance of Loss karya Kiran Desai diterjemahkan menjadi Senja di Himalaya (penerbit Hikmah). Awalnya, saya merasa ‘lucu’ dengan judul terjemahan ini. Tetapi kemudian saya menemukan beberapa buku terjemahan lain dengan judul berubah total. Di antaranya yang saya catat adalah Kafka on the Shore karya Haruki Murakami menjadi Labirin Asmara Ibu dan Anak (penerbit Alvabet), The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom menjadi Meniti Bianglala (GPU), dan Great Expectations karya Charles Dickens menjadi Teman Istimewa (penerbit Narasi).

Ya, memang, proses menerjemahkan bisa dilakukan dalam beberapa cara. Kata demi kata, per kalimat, atau dilakukan dengan cara penerjemahan bebas. Pun, inti dari menerjemahkan adalah memindahkan makna Bahasa Sumber ke dalam Bahasa Sasaran. Membaca judul-judul terjemahan di atas, bisa saya simpulkan bawa peneremah yang bersangkutan menggunakan metode penerjemahan bebas. Artinya, ia tidak menerjemahkan per kalimat. Ia hanya berusaha menangkap isi dan mengalihbahasakannya dengan pilihan diksinya sendiri. Tetapi, coba lihat kembali judul-judul terjemahan tersebut. Sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan judul aseli.

Buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari diterjemahkan menjadi The Dancer (penerbit Lontar). Saya masih bisa memahami kalau terjemahannya tidak lantas menjadi Ronggeng of Paruk Village, sebab belum tentu penutur Bahasa Inggris mengerti arti kata ‘ronggeng’ yang berarti penari sensual/erotis. Tapi sebaliknya, jika buku ini diterjemahkan menjadi The Striptiese, malah nanti dikira buku porno. Maka, keputusan penerjemah untuk memberi judul The Dancer sangat bisa saya terima, meski ia kehilangan sebagian makna.


Apa salahnya The Inheritance of Loss diterjemahkan menjadi Warisan Kehampaan, toh judul itu juga bagus. Lagipula, apa penerbit sudah mendapat ijin dari penulis untuk mengubah judul aseli? Terlebih lagi, untuk buku Kafka on the Shore yang tiba-tiba menjadi Labirin Asmara Ibu dan Anak. Saya tidak yakin penerjemah telah dengan seksama membaca dan mengerti isinya. Sebab dalam novel tersebut tak pernah gamblang dibilang bahwa itu adalah kisah cinta ibu dan anak.

Inilah yang tidak diajarkan dosen-dosen saya ketika kuliah; pertimbangan penulis. Agaknya ini pula penyakit yang diderita kebanyakan penerjemah kita. Menerjemahkan adalah proses intim antara penerjemah dengan karya terjemahannya. Dunia yang telah dibangun penulis seolah-olah direbut penerjemah tanpa sadar, terutama menerjemahkan karya sastra. Padahal, isi dari sebuah karya sastra tidak sekedar cerita. Lebih dari itu, penulis menciptakan gaya penulisan yang terasah tahunan, pertimbangan pilihan kata tertentu yang mungkin bagi penerjemah artinya sama, tetapi sebenarnya maknanya lebih dalam.

Jika novel Don Quixote yang mencapai lebih dari 900 halaman karya Miguel de Cervantes Saavedra tiba-tiba diterbitkan dalam bahasa Indonesia menjadi kurang dari 100 halaman dan menjadi buku saku, bagi saya itu bukanlah penerjemahan, melainkan saduran. Percayalah, konyolnya, buku (yang mengaku) terjemahan ini terbit dan dijual bebas di toko-toko buku kita.

Industri agaknya telah menghancurkan identitas aseli. Tak terkecuali sastra dan seni, semuanya digodok atas nama industri. Apabila pertimbangan penerbit adalah marketing (mungkin dirasa dengan judul Senja di Himalaya berkesan lebih populer dan akan lebih laku), bagaimana pula dengan pertimbangan jerih payah penulis yang mencari judul pantas bagi karyanya. Bagaimanapun, otak dari sebuah buku adalah penulisnya, bukan? Tak akan ada industri itu jika tak ada yang menulis. Jika memang marketing alasannya, saya sebagai pembaca, justru jadi tidak tertarik untuk membeli buku tersebut. Alasannya sederhana; menerjemahkan judul saja sudah ngaco, apalagi isinya.

3 thoughts on “Perubahan Identitas Buku Terjemahan

  1. itulah alasan saya hampir tidak pernah beli buku terjemahan. (baca: bukan berarti saya tidak pernah baca buku hasil terjemahan). saya juga pernah closely mempelajari penerjemahan, jadi sekilas baca karya terjemahan saya tahu ini bagus atau tidak. enak di baca atau tidak. akurat atau tidak, bisa diterima atau tidak, natural atau tidak. coba bandingkan (contoh ini pernah saya temui dalam salah satu karya terjemahan):
    teks asli: i will have been in the house at 7pm tomorrow evening.
    teks terjemahan: aku akan sudah ada di rumah pada jam 7 besok sore.

    aduh penerjemahnya literal banget deh, bandingkan dengan terjemahan yang ini:
    “aku sudah berada di rumah jam 7 malam besok.”

    lebih enak kan? kalimat aslinya kalau diterjemahkan secara literal akan sangat kontradiktif sekali bila secara literal diterjmahkan dengan kata “akan sudah”
    kalau saya pembacanya, saya akan berhenti di garis itu supaya tidak tersesat lebih dalam lagi. see? ini hanya pembahasan pada kaliamt yang simpel tanpa ada muatan istilah agama, budaya apalagi politik di dalam kalimat itu. bagaimana kalau kesalahan terjadi pada kalimat yang mengandung muatan tersebut dan penerjemah tidak dilengkapi dengan pengetahuan yang memadahi tentang itu. we will lost in translation! in other words, penerjemah itu bisa menjadi biang pembiasan yang bisa mengarah ke kesalahpahaman, peperangan, dll atau penerjemah yang justru bisa mentransfer informasi secara apa adanya, natural dan bahkan bisa menjadi juru damai bagi sesama yang berbeda bahasa. aduh idealis yak. buat saya simpel, penerjemahan bisa jadi sumber mata uang.heheehe…

  2. Huah, sama, aku juga terganggu dengan judul ‘Senja di Himalaya’-nya The Inheritance of Loss. Rasanya nggak nyambung sama atmosfir ceritanya, deh!

  3. Mbak Metta, dibenerin dulu bahasa inggris-nya itu. Gemes rasanya baca kalimat bahasa inggris yg salah grammar: We will lost in translation.

Comments are closed.