Reader’s Block

Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang writer’s block? Tahu kan, itu lho…tiba-tiba lagi asik menulis, “terserang” masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi writer’s block. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer’s block itu sejenak menyerang saya, dan tak memaksakan otak saya untuk menulis. Jika merasa sudah tiba saatnya, saya akan mencoba memancing mood menulis dengan menulis hal-hal sederhana (misalnya menulis blog), atau membaca buku-buku yang menyenangkan, hingga nonton film yang bisa memancing ide-ide baru. Saya yakin, tiap penulis jika ditanya cara mengatasi writer’s block punya jawaban sendiri-sendiri.

Writer’s block itu ibaratnya “habluminallah” (tentu saja dengan tanda kutip, yang secara harafiah ‘hubungan manusia dengan Tuhan’). ‘tuhan’ (dengan ‘t’ kecil) di situ -versi saya- saya ibaratkan diri sendiri, penulis sebagai tuhan kecil untuk tulisannya sendiri. Bagaimana ia bertanggung jawab atas dirinya sebagai penulis dengan tulisan yang seharusnya ia hasilkan. Saya katakan ‘seharusnya’, karena memang banyak penulis yang mandeg begitu saja di tengah proses menulisnya (ya terserang writer’s block itu tadi) dan tak melanjutkan lagi. Tapi, ada lho, “habluminannas” dalam berkarya sastra (yang secara harafiah berarti ‘hubungan manusia dengan sesama’), yang berarti -versi saya- dalam hal sastra adalah hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis yang bersangkutan dengan pembacanya.

Pernahkah Anda merasa sebal karena tahu bahwa tulisan Anda tak ada yang membacanya? Bagaimana cara tahunya? Yang sederhana dan paling mudah dilacak adalah ketika Anda melihat laporan dari penerbit, bahwa penjual buku Anda cuma beberapa gelintir saja alias tak laku. Kedua, cari saja orang yang mengapresiasi buku Anda dengan mereviewnya di media/internet, jangan-jangan isinya mencaci maki buku Anda. Atau lebih parah, tak ada yang mereviewnya sama sekali. Sakit hati, bukan? “Sialan, susah-susah aku nulis!” Umpat Anda dalam hati. Yah, tapi itulah resiko jadi penulis.


Jangan menyalahkan pembaca, jika mereka tak tertarik dengan bukumu. Mungkin, buku yang Anda tulis dengan susah payah dan berdarah-darah itu Anda anggap sebagai¬†masterpiece, atau lebih parah, Anda anggap sebagai “anak”. Tapi tahukah Anda, pada akhirnya sebuah buku hanya akan menjadi benda berdebu, teronggok di pojok rak dan bertahun-tahun tak tersentuh jika buku itu memang tak menarik untuk dibaca. Inilah yang saya sebut dengan reader’s block, dan inilah yang saya sebut sebagai “habluminannas” itu tadi: hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis bersangkutan dengan pembacanya.

Saya harus mengakui, ada beberapa buku yang membuat saya terserang reader’s block (demi kedamaian dunia, saya takkan menyebutkan judulnya, cukuplah untuk diri saya sendiri). Sebenarnya, apa yang membuat reader’s block tiba-tiba terjadi? Sebagai pembaca, saya mencoba untuk menjabarkannya:

Pertama, buku yang terlampau tebal. Yak, bukan penulis saja yang dituntut punya napas panjang untuk menuliskan buku yang tebalnya bisa untuk mengganjal pintu. Pembacapun perlu napas panjang untuk membaca buku itu. Kebanyakan pembaca Indonesia tidak punya napas yang cukup panjang. Jangankan napas panjang, baru lihat bentuk fisik bukunya saja sudah jiper, yakin benar dari awal tidak akan selesai baca buku itu.

Kedua, buku itu sudah diangkat ke layar lebar. Ini pengalaman saya sewaktu kuliah di Fakultas Sastra: beberapa mahasiswa malas untuk membaca buku yang harus mereka review atas tugas dosen, dan mereka sengaja memilih buku-buku yang sudah diangkat jadi film. Tentu saja, mereka lebih memilih menonton filmnya ketimbang membacanya. Kelemahannya, tentu saja, tidak semua jalan cerita yang tertulis di buku bisa diangkat ke layar. Terlebih lagi, jika buku tersebut dapat banyak pujian justru karena gaya bertuturnya yang lebih oke, dan ceritanya sih sebetulnya biasa-biasa saja. Tentu pembaca, eh…maksud saya, penonton film based on book tersebut akan ketinggalan banyak hal.

Ketiga, the book simply a bad book! Nah, kalau ini sih parah banget. Memang bukunya jelek sih, mau bilang apa dong? Dibuka di dua-tiga halaman pertama, belum ada percik api yang mendorong pembaca untuk meneruskannya. Maka ia pun membuka ke halaman akhir, lalu berpikir, “kok keliatannya endingnya gitu aja?” atau “alah, gampang banget ditebak.” Lalu ia masih berusaha untuk membuka-buka di halaman tengah, tetap saja merasa tidak tertarik. Buku ini resmi jadi buku yang bisa membuat pembaca terserang reader’s block yang akut.

Ya, ya…saya tahu…sebagai penulis ada semacam ego yang mendorong kita untuk menulis tulisan yang “gue banget”. Dan yang “gue banget” itu biasanya sangat idealis, harus begini-harus begitu, tak bisa ditawar. Parahnya, dari lubuh hati yang paling dalam, sebetulnya sang penulis memaksakan egonya pada pembaca dan harus suka. Kalau tidak suka, mendingan diam, deh! Dengan kata lain, penulis tidak memikirkan pembaca. Apa yang pembaca ingin baca, apa yang pembaca harapkan dari sebuah buku yang telah ia beli.

Saya tidak bilang bahwa penulis harus menulis sesuatu yang pasti disukai pembaca. Toh, soal suka atau tidak adalah masalah selera. Dan tiap orang punya selera yang berbeda-beda. Tapi, pada akhirnya, kesenangan dari memilih perofesi menjadi penulis adalah jika ia telah memiliki banyak pembaca, dan mereka mengapresiasinya dengan baik.

Akhirul kalam, saya berdoa semoga pembaca buku saya tidak terserang reader’s block. Peace! Hehe.

 

3 thoughts on “Reader’s Block

  1. wah bagus sekali mbak tulisannya.. sampai senyum-senyum sendiri membacanya. Enak dibaca dan tidak membosankan…
    Walau panjang penjelasannya tapi ok-ok saja tuh aku mbacanya…
    mungkin mud nya yg lagi bagus + tulisannya yang gak mbosenin…
    makasih mbak atas informasi dan ilmu nya :)

Comments are closed.