Romantisme Islami “Ayat-Ayat Cinta”

Jika banyak orang bilang bahwa tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta sangat sempurna, maka saya berkata bahwa novel ini berusaha berkisah sebuah kehidupan Islami yang sempurna dari seseorang muslim (bukan ‘muslimah’, melainkan ‘muslim’). Menonton film Ayat-Ayat Cinta seraya mengingatkan saya pada Aa’ Gym. Ingat sebelum Aa’ Gym menikah untuk yang kedua kalinya? Semua ibu-ibu serasa memuja dia sebagai ‘laki-laki yang sempurna’. Setelah ia berpoligami, tiba-tiba pamornya turun drastis. Sekeras apa pun Aa’ Gym mencoba memperbaiki ‘kesalahannya’ ini, cacat tetaplah cacat. Di mata ummatnya ia bukan lagi sempurna, meskipun di program tv Kick Andy dibela-belain pake acara nangis segala.

Saya tidak tahu, apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran muslim (sekali lagi, ‘muslim’… bukan ‘muslimah’) kita. Selama ini kita terlalu sibuk berkoar-koar mencari tahu: apakah surat An-Nisa itu sebetulnya memperbolehkan poligami atau tidak. Tapi, bagaimana dengan apa yang ada di isi kepala kaum muslim itu sendiri? Apakah mereka ingin poligami? Atau tidak ingin, meski istrinya (seperti halnya Aisya dalam novel AAC) sudah menyuruhnya menikah lagi.

Di dalam filmnya, Maria, Fahri dan Aisya dikisahkan sempat hidup bersama sebagai keluarga poligami. Diceritakan, Fahri sempat bingung bagaimana menyatukan kedua istrinya ini. Sedang di dalam novel, ceritanya beda lagi: Maria dinikahi Fahri ketika sakit parah, ia lalu bersaksi bahwa Fahri tidak pernah memerkosa Noura, setelah itu di ruang sidang Maria pingsan, dilarikan ke Rumah Sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Bagi saya, sebagai cerita justru lebih logis versi film ketimbang novelnya. Dengan ending hidup Maria seperti di novel, sepertinya jika difilmkan akan jadi ‘sangat sinetron’.

Saya melihat, AAC sepertinya obsesi (kebanyakan) muslim (atau setidaknya obsesi Habibburahman sendiri). Sebagai perempuan, bilanglah saya sinis. Bagaimana tidak: Fahri adalah muslim yang sangat baik, sekolah agama di Kairo, aktifis, bisa sembilan bahasa berbeda, pintar, sabar, baik hati, berperasaan halus, disukai banyak perempuan, dan ketika sudah menikah, dapat istri kaya raya (jadi tidak usah susah-susah kerja -meskipun diceritakan bahwa Fahri tidak ikhlas istrinya lebih kaya-), cantiknya mirip bidadari, mau mencari bukti bahwa suaminya tidak bersalah, dan… (yang paling penting) istri yang cantik bak bidadari inilah yang memaksa Fahri untuk menikahi perempuan yang sebenarnya dicintai Fahri, yaitu Maria. Belum berhenti sampai di situ, diceritakan pula, Fahri akhrinya bisa menarik Maria masuk ke agama Islam. Bukankah ini semua yang diinginkan muslim (sekali lagi, bukan ‘muslimah’ yang saya bicarakan). Kisah poligami Fahri juga sepertinya mau cari ‘aman’ (atau lebih tepatnya dibuat ‘aman’ oleh penulisnya. Di film, Hanung justru berusaha membuatnya untuk tidak terlalu ‘aman’ dari konsekweksi poligami): diceritakan Fahri sebetulnya tidak mau menikah lagi, yang memaksa adalah istrinya. Lalu, setelah dinikahi, tak lama kemudian Maria meninggal dunia. Duh… berutung sekali ya jadi Fahri! Inilah sebabnya, bagi saya AAC adalah gambaran sempurna hidup seorang muslim (bukan muslimah).

Di infotainment, Habiburrahman El Shirazy (novelis AAC), berkomentar akan film ini; bahwa Hanung tidak sepenuhnya mengerti isi novelnya, terutama karena perubahan-perubahan yang ada di dalam film. Dakwah dan keindahan diksi yang ada di novel juga jadi tidak terlalu jelas di film. Saya kira, Hanung (sutradara AAC) punya banyak alasan kenapa ia menerjemahkan novel ke dalam film sedemikian rupa. Hanung lebih mengerti bahasa gambar ketimbang Habiburrahman, itu sudah pasti. Dan semua orang juga tahu, bahwa kata-kata tidak bisa seluruhnya diterjemahkan ke dalam gambar, begitu pula sebaliknya. Habiburrahman mungkin ingin idealis sebagai novelis yang bukunya diterjemahkan ke dalam gambar. Berulang kali para sineas ingin membeli novel karya Pramoedya Ananta Toer untuk dijadikan film, dan itu bukan hanya sineas Indonesia. Berulang kali pula Pram menolak dengan alasan yang sangat ‘idealis’. Saya pikir, jika seorang penulis begitu yakin tulisannya sangat bagus, dan akan diubah-ubah sedemikian rupa oleh sineas, ia berhak untuk menolak perubahan itu, atau bisa lebih ekstrem; menolak sekalian. Belum lama saya menonton film Love in the Time of Cholera yang dibuat berdasarkan novel karya Gabriel Garcia Marquez. Di film itu, kolera sepertinya hanya menjadi tempelan dan yang utama adalah kisah cinta tokoh-tokoh yang ada. Ini tentu sangat berbeda dengan novel aselinya. Saya, sebagai penonton, juga kecewa (mungkin seperti kecewanya para penggemar novel AAC). Tapi toh Marquez tidak pernah berkoar-koar betapa kecewanya ia pada hasil akhir filmnya. Ia menghormati keputusan sineas pembuat filmnya dan (yang paling penting) menghormati kontrak, mengingat Marquez toh dibayar pula agar novelnya dibuat film.

Tokoh yang saya sukai (dan menurut saya sekali lagi Hanung membuat keputusan yang cerdas) yaitu tokoh teman penjara Fahri. Di antara semua karakter yang ada di dalam filmya, dialah kasting favorit saya. Di dalam novel, ada empat orang rekan sepenjara Fahri yang memainkan peranan berbeda-beda. Ia sepertinya bermain-main dengan metafora iblis, malaikat, keduaniawian, keakhiratan yang diwakili oleh empat tokoh yang berbeda. Sedang di dalam film semua hanya diwakili oleh satu tokoh; rekan sepenjara yang bisa berlaku gila, layaknya iblis hingga menjadi malaikat yang mengingatkan Fahri akan keikhlasan. Kasting rekan sepenjara Fahri berakting bagus, bagi saya, malah mungkin yang paling bagus di antara kasting lainnya yang kelihatannya cenderung sinetron. Untungnya pengambilan gambar dan grading film ini bagus, jadi kasting yang cukupan bisa ditutupi.

P.S.
Kembali ke soal Aa’ Gym…. Sayang, romantismenya dengan kedua istrinya tidak seindah kisah Fahri, meskipun sudah cukup Islami.

=====

Update:
Blaik…! Ternyata musik latar di film AAC jiplakan! Baca selengkapnya di sini.

16 thoughts on “Romantisme Islami “Ayat-Ayat Cinta”

  1. mmm….novel ya novel…film ya film…
    terus terang, sejak kecewa ama “jomblo” dan “da vinci code”, aku jadi trauma kalo mo liat novel based movies..
    hehehehe…mudah2an itu ngga berlebihan…
    ampe sekarang, blum sempet liat AAC. mudah2an ntar long weekend bisa liat…amin…

  2. mmmmmm…..
    Saya baru nonton film itu sekali, pengen nonton lagi……:)
    Kalo menurut saya tokoh utama di film itu adalah “Maria” atau Carissa, si gadis Koptik….film bertema poligami dan feminis ini menurut saya mengeksplorasi konflik batin seorang perempuan dalam berbagi cinta dengan perempuan lain terhadap satu lelaki…..
    Agama bilang seorang laki harus adil kepada 2 istrinya….tapi bagaimana bisa adil? yang pertama pasti jengkel karena kebersamaannya yang panjang dengan lelaki itu dicuri begitu saja oleh perempuan yang hanya mengenal silelaki sekejap…..:)
    Solusinya di filem itu adalah salah satu harus berkorban….dalam film si Maria kafir yang berkorban tuk mati dan tak bisa memiliki lelakinya….:)
    Adegan terakhir itu yang sangat mengharukan saya…huuu
    Kata si Maria,” akhirnya baru sekarang aku bisa membedakan antara cinta dan memiliki ” setelah itu dia meninggal……

  3. kenapa memperdebatkan poligami?

    kalo kita membahas poligami dengan “kepala atas” kayaknya cuma pro dan kotra aja deh..

    Tapi kalo kita ngebahas poligami dengan “kepala bawah” pasti akan segera ketemu jawabannya….

  4. Wah..ikutan kasih komen yah….
    Aku suka banget film ini, meskipun aku bukan muslim, tapi menurutku film ini banyak ngajarin tentang nilai kehidupan seperti keikhlasan, ketaatan, dan pengorbanan cinta.
    Aku setuju, abis nonton film ini pun aku inget sama Aa Gym. Mungkin kehidupan poligami itu gak seburuk yang kita sangka. Mungkin ada banyak alasan dibelakangnya yang kita gak tahu. toh pelaku poligami juga ( based on film) belum tentu juga bahagia.
    Hehehe..itu menurutku loh….

  5. ayat ayat cinta (refleksi jutaan ayat ayat kasih sayang dari Allah SWT)

    adakalanya kita perlu memahami secara seksama dan arif, kebanyakan umat Islam memang tidak mampu untuk mengerti secara kaafah apa itu pesan moral yang diinginkan oleh qur’an terhadap umatnya(bukan bermaksud mengatakan bahwa sayalah yang paling benar berislam).

    salah satu maha karya pada saat ini adalah aya-ayat cinta, baik novel maupun filmnya adalah sebuah penggambaran yang indah bagaimana Islam membahasakan cinta yang dilandasi oleh syari’ah dan penuh barakah. tidak hanya kaum religius saja yang menikmati karya ini, tetapi jutaan orang dari berbagai elemen di Indonesia tehanyut olehnya. dari sini saja ini merupakan suatu bukti yang realistis bahwa kenapa orang harus takut bermuamalah dengan cara dan konsep Islam, betapa indahnya bukan hidup seperti itu.

    adapun pesan yang lain yang disampaikan adalah hal yang menurut syar’i diperbolehkan tetapi menuntut adanya suatu alasan yang logis, ya benar poligami adalah sesuatu yang dihalalkan oleh Islam namun menunaikannya harus dengan sebuah alasan yang logis karena mengharap maslahah dan bukan mafsadah. coba kita baca baik-baik ayat dalam surat an nisa tersdebut, secara psikologis ayat tersebut adalah sebuah pintu darurat yang diberikan Allah ubntuk hambanya agar keluar dari permasalahan. dalam melakukan poligami, seorang suami dituntut untuk mengutarakan alasan yang jelas dan manfaat mengapa ia berpoligami dan hal itu pula yang akhirnya timbul beberapa syarat yang sulit dalam beberapa pengadilan di beberapa negara untuk dipenuhi bagi seseorang yang ingin berpoligami.

    dalam ayatayat cinta kita patut berfikir bijak bahwa perilaku dan keputusan fahri untuk berpoligami dalam situasi seperti itu adalah dirasa cukup mumpuni, bahkan sebelumnya pun dia dipaksa oleh Aisyah. memang benar bahwa dalam kelanjutan ayatnya an nisa ayat 129 dikatakan bahwa kalian lelaki tidak akan pernah bisa adil dengan isteri-isterimu meskipun kau berusaha. tentu ini bukan larangan tetapi sebuah himbauan yang dikemukakan, karena sekali lagi kita berfikir bijak bahwa poligami bukanlah sesuatu yang keji atau harus dijauhi, tetapi kita harus bersikap arif. toh itu adalah hukum Allah, dan barang siapa yang mengingkarinya maka mereka termasuk orang-orang yang dzolim (Al-Qur’an)

    oleh karena itu adalah sebuah hal yang indah apabila kita menyimak segala sesuatau dengan bijak dan melihat tidak dengan satu aspek saja. apapun itu Islam adalah ajaran yang indah dan abadi, dan ayatayat cinta (film maupun novel) menggambarkan itu kepada kita semua. (Wallahu a’lam bi sowwab).

    E.Zaenal Muttaqin

  6. heboh bener ya film ini? saya malah jadi nggak tertarik untuk nonton … hehehehehe … paling entar kalo dah keluar vcd-nya. itupun hanya sekadar ingin tahu, dah gak penasaran lagi …

  7. salam,
    saya jadi ingin sedikit berkomentar.
    secara keseluruhan setelah menyaksikan film ayat-ayat cinta
    saya merasa cukup tersentuh. namun ada satu ganjalan yang menurut saya
    membuat film ini jadi kurang menarik. yaitu bahasa yang dipakai.
    penggunaan bahasa arab terasa sangat tempelan dan memaksakan. mungkin hanung ingin semua penonton mengerti, maka dia memilih
    bahasa indonesia dalam setiap percakapan baik itu orang mesir dengan fahri, fahri dengan teman indonesia, dll.
    menurut saya, film ini seharusnya jadi multi bahasa yang menggambarkan multi kultur.
    walaupun pemainnya kebanyakan orang-orang indonesia juga, kenyataan itu bisa ditutupi justru dengan keragaman
    bahasa yang dipakai.

  8. Aku pinjam novel AAC dari teman. Yang baca istriku. Dia bilang nggak seru. Si Fahri, dibuat manusia sempurna kayak nabi. Jadi, males baca.

    Di kantor orang-orang pada nonton film AAC (video bajakan kali). Tapi, aku tak terpengaruh ikut nonton. Cuma ngelirik aja dikit tapi terus browsing.

    Jadi, AAC yah biasa aja.

  9. aduh…hari gini? masih ada orang bikin karakter sesempurna fahri? saya tetep heran dengan begityu banyak manusia jadi bermimpi untuk pengen punya suami kayak fahrilah, pengen jadi seperti fahrilah, pengen seperti aisha, dll. tidak ada yang salah dengan mimpi bila tahu bagaimana meraihnya. tapi kalau cuma mimpi doang tanpa berbuat apa2, suatu karya jadi percuma. buat saya ayat2 cinta (buku) adalah drama cinta yang sangat biasa, cerita poligami yang sangat “aman” dan penuh ketidak logisan. dan sepertinya orang kita suka yang beginian. jadi euphoria. untung masih ada orang2 yang kritis.
    dear ratih, komenmu di blogku dijawab sama paguru…hehehe…

  10. Allow mb..
    Aq udah nonton filmnya..ya lumayan lah daripada nonton film-film horor ga mutu (sorrry bgt…..buat pembuat n’ penggemar film horor..he).
    Klo liat dari reaksi temen2qu ada 3 kubu nih.. (ceile..kaya mo perang az..)
    kubu pertama (ni anak-anak tipe orang baik2, rajin solat, itu lho mba…klo di buku 100 orang tokoh jakarta tipe jilbab no 1..hehe), mereka rata2 suka bgt bukunya..sampe nangis2 segala lah bacanya..pokonya rata2 mereka pnggemar fanatik bukunya mas Habibu..(lupa)..tp pas lliat filmnya mereka kecewa berat…katanya cih qo ga seperti yg diharepin (horizon harapannya ga jadi kenyataan..halah so nyastra)..yg paling mereka kritik justru peran aisyah yg diperanin rianti, ktnya cih (meskipun mata rianti cantik bgt) tp karakternya ga mewakili aisyah buku sabar…………………………bgt, jd aisyah di film tu masih keliatan egonya..(inget pas fahri bilang mo kerja?..terus rianti bilang ga usah..trs akhirnya bilang terserah kamu) kt mereka sih aisyah di buku ga seperti itu….

    kubu yg kedua…(anak2 di kubu ni suka bgt nonton film tp males baca buku..) mereka masih nyempetin nonton filmnya soalnya mereka penasaran qo kayanya “booming bgt”..stlh mereka nonton, ada yg bilang bagus, ada yg bilayang lumayan, ada jg yag bilang “ah biasa az..qo sampe booming segala sih?”..mereka ga ngebandingin ma bukunya..(ya jelas lah..orang mereka belum baca..)

    kubu yg terakhir…(tipe apa ya mereka?//..)
    ga nonton n ga baca bukunya…………mereka cm bilang “ga tertarik”

    aq blm baca bukunya mba…udah ada niat, tp baru beberapa halaman udah mlz bgt..(apa karena aq nonton filmnya dulu ya?)..
    Oh ya mba, tlg comment di blogq diulang ya..td ilang..(hehe ga tau aq pencet apa tp ilang..seingetqu sih ga pencet delete)

  11. Terima kasih untuk pandangan ini. Saya respek akan kemampuan nalar iman yang berdasarkan hati (heart) dan pikiran (mind) Anda, sister. Rock on!

  12. Assalamualaikum,
    maaf ngikut gabung, sedikit comentZ yach…
    Npa che musti ngebahas poligami, toh poligami yang penting istri ikhlas.,jadi g jadi masalah.
    lo masalah fahri yang terlalu sempurna, karena sebenarnya manusia bisa sesempurna itu jika mereka mau mengendalikan segala sesuatu dalam hidup.,
    novel sama bukunya yang buat aja beda,.dalam satu keluarga yang satu darah aja bisa beda pemikiran. Jadi ngapain dipusing-pusingkan.,
    aku yakin antara penulis buku dan sutradara film mereka ingin menunjukan sesuatu yang berbeda dalam kehidupan ini yang telah hilang dan selalu jadi masalah,.Orang yang bijak hanya akan melihat sesuatu dari segi positif bukan dari segi negatif.,karena setiap kita mengungkapkan sesuatu atau melakukan sesuatu itulah yang kita anggap baik dan terbaik dari diri kita…

    maaf lo ikut campur to sok tau..,mending bahas to coment masalah agama yang lebih bermutu.,jadi ada manfaatnya..saran doanK…

    okeY,.maf dach ngikut sinGgah.,
    Wassalam

Comments are closed.