“Rumah Duka”: sebuah pembacaan (kurang) seksama
by : Mirza Rahadian
Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.
Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang mungkin telah digunakan oleh ratusan, atau bahkan ribuan, cerpen lainnya yang pernah dibuat. Sebuah tema yang usang, namun masih menyimpan kekuatan yang cukup menghentak. Tema tentang cinta yang mendua, sebuah Perselingkuhan, yang sudah umum terjadi pada hubungan berpasangan. Kekuatan tema ini terletak pada tingkat realitas yang cukup tinggi dan kedekatannya dengan para pembaca, karena hampir setiap pembaca pernah berinteraksi secara langsung ataupun tidak dengan perselingkuhan, baik sebagai korban, pelaku ataupun saksi. Realitas dan kedekatan tadi membuat cerita ini seolah mampu membangkitkan sebuah kenangan dalam kehidupan para pembaca, atau hanya sekedar renungan yang diselingi penghayatan. Pemilihan tema seperti ini memang sangat mudah mengajak pembaca masuk ke dalam cerita, tapi bila penulis kurang waspada, tulisan seperti itu malah akan menjadi seperti sebuah catatan harian yang picis. Untungnya Ratih Kumala adalah seorang penulis yang cukup handal, sehingga tema itu dapat tergali dengan cukup baik dan ditampilkan dengan cara yang unik namun masih terasa wajar. Tidak terlihat usaha untuk membuat cerita ini menjadi sebuah prosa—liris yang mengumbar kata—kata puitis dan simbolisme yang njelimet, tapi cerita ini mampu menampilkan dramatisasi dan pembentukan konflik yang baik, dan emosi cerita ini tersalurkan dengan sangat baik kepada pembaca tanpa terlihat memaksa.
Selain tema dan pengembangan konflik yang digarap dengan baik, cerita ini juga dengan berani menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama dimunculkan adalah sudut pandang dari tokoh Istri, dan yang selanjutnya adalah sudut pandang tokoh wanita yang menjadi selingkuhan. Kedua sudut pandang ini muncul bergantian dan perpindahan sudut pandangnya terjadi dengan halus sehingga pembaca tidak kaget melihat perubahan pola tutur/gaya ujar dari kedua tokoh. Sepanjang pengalaman saya (yang terbilang tidak cukup banyak), cerita semacam ini memiliki resiko untuk membingungkan pembaca, terutama bila perpindahan sudut pandang tadi tidak diperhatikan, seperti misalnya : kedua sudut pandang menggunakan pola tutur/gaya ujar yang sama atau mirip, niscaya para pembaca akan bingung “Siapa yang sedang bertutur? Apakah tokoh A atau tokoh B?”. Selain itu, penggunaan dua sudut pandang (atau lebih) rentan membuat sang penulis kebingungan sendiri. Terutama ketika sang penulis tidak memiliki kerangka acuan yang jelas serta pola penulisan yang baik. Ratih Kumala dengan cerita ini, sekali lagi menunjukkan bahwa beliau mampu mengatasi masalah—masalah tersebut dengan sangat baik. Selain pola tutur/gaya bahasa yang khas dari masing—masing tokoh yang digunakan sudut pandangnya, penggambaran setting dan emosi dari tokoh—tokoh tersebut mampu menjelaskan kepada para pembaca (mungkin sekaligus penulis) tentang perkembangan cerita dari sebuah tokoh secara khusus tanpa sedikit pun merasa bingung.
Demikian hasil pembacaan saya terhadap cerpen Rumah Duka karya Ratih Kumala. Secara keseluruhan, cerita ini bisa menjadi referensi yang cukup baik bagi pembaca yang mencari sebuah cerita realis dengan tema sederhana namun menampilkan sebuah pengembangan konflik dan dramatisasi yang baik. Serta bagi para pembaca yang ingin mempelajari penggunaan lebih dari satu sudut pandang namun masih tetap luwes dan tidak membingungkan, dapat mempertimbangkan untuk membaca secara seksama cerpen ini.
——————–
Catatan: Terimakasih Mirza, sudah mengapresiasi cerpen ini :) /-rk-
Tags: cerpen, mirza rahadian, ratih kumala, resensi, rumah duka
-
Berlangganan
Blog kecil
- in memoriam: MICHAEL JOSEPH JACKSON (1958-2009)
28/06/2009
Goodbye, Moonwalker...
I'll see you in the moon.
You will always be in my heart.
Forever.
(to MJ, 08/29/1958-06/25/2009) - "D" Day
04/06/2009
Happy birthday to my best friend: ME
Here I give you the best gift ever: YOUR 4th BOOK
May you never forget who you are, and where you belong
And always believe, even when destiny calls you not to have a long-life,
you have done your best for yourself and people around you.... - Count down terbit novel Kronik Betawi
03/06/2009
COUNT DOWN
2 hari menuju terbit novel Kronik Betawi(terbit 4 Juni 2009)
- Count down terbit novel Kronik Betawi
02/06/2009
COUNT DOWN
3 hari menuju terbit novel Kronik Betawi(terbit 4 Juni 2009)
Categories
Recent Posts
- Abdullah Harahap, Master of Horror Fiction
- Doel Hamid Asal Betawi
- This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)
- Managing Writers
- Tiga Bayangan, novel grafis
- TEROKA: Optimisme dalam Prosa Betawi
- Betawi versus Modernisasi
- Novel KRONIK BETAWI Bisa Pesan di Sini :)
- Betawi Jaman Doeloe
- Kronik Betawi, sebuah novel
Recent Comments
- Udo on Doel Hamid Asal Betawi
- icha on Shakespeare dalam Manga
- ari wibowo on Tempat bermain dan “bekerja”
- Anak. Agung. Krisna on MySelf
- Wulan on MySelf
- Liberty on This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)
- angga rakacitra on The Grass is Singing: Skenario Terburuk Perempuan
- chucky on This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)
- si Rusa Bawean on MySelf
- asfan on Tiga Bayangan, novel grafis
Ads
Meta
- in memoriam: MICHAEL JOSEPH JACKSON (1958-2009)

iiiihhh jd malu trnyata resensi asal2anku dimasukin ke dalam blognya mbak Ratih heheheheh
maaf kalo ada kata aku yang salah yaah mbak … aku masih perlu banyak belajar
salam,
=Mirza=
———————-
@Mirza:
Udah untung ada yang mau apresiasi karya :) sekali lagi makasih, Mirza
Sugeng Riyadi Mbakyu..
Ngaturaken Taqoballahu minna wa minkum..
mohon maaf laer dan batin ya..
Neh udah mulai beraktivitas dijakarta, Djoen kyknya juga dah mulai menghirup polusi jakarta mulai hari ini.
-salam-
Membuka blok ini membuat saya menjadi ingin tahu n baca hasil karya mbak…..
r, senang bila ada waktu mampir ke blog-q. sebiannento.wordpress.com