Saya VS Ramadhan

Ada yang berbeda dengan puasa kali ini. Seperti halnya berbeda dengan puasa tiga tahun lalu dan dua belas tahun lalu. Ya, saya mengalami empat situasi puasa yang berbeda selama hidup:
1. Ketika saya kecil, saat mulai belajar berpuasa. Saya tinggal di perkampungan khas Jakarta yang penuh sesak. Tak ada privasi di kampung saya itu. Segala gosip beredar cepat. Ketika itu juga, saya ikut TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang diadakan oleh tetangga saya, namanya Pak Kholis. Saat itu, sekolah saya juga membagikan sebuah buku yang berisi laporan kegiatan selama bulan puasa. Setiap murid SD ketika itu agaknya punya buku macam ini. Saya harus mengisi apakah hari ini saya puasa penuh atau puasa beduk. Apakah saya hari ini mengaji dan tarawih atau tidak. Lebih dari itu, saja juga harus mengisi laporan kultum yang diberikan ketika tarawih usai. Saya begitu menyukai Ramadhan dan Lebaran (ya, saya lebih akrab dengan sebutan ‘lebaran’ ketimbang ‘idul fitri’). Mendekati Ramadhan usai, para orang tua dan guru ngaji senantiasa mengingatkan untuk mengencangkan ibadah karena siapa tahu kita bertemu malam lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Selain itu, kami juga bersiap-siap dengan baju baru yang hanya dibeli setahun sekali, tak lupa juga dompet! Karena para tetangga pasti akan membagikan uang ang-pao yang lumayan.
2. Kira-kira tiga belas/dua belas tahun lalu, mamah saya operasi jantung. Saya, papah, dan dua adik saya sempat sahur tanpa mamah. Kami cuma makan mie instan dan telur, menu yang sama juga kami makan ketika buka puasa, meski kadang ada sedikit variasi. Lalu, sekitar satu atau dua tahun berikutnya, sebuah insiden terjadi di keluarga saya. Orang tua saya terpaksa berpisah. Sejak itu, saya membenci Lebaran, meski masih tetap puasa. Lebih lagi, Eyang Puteri saya meninggal dunia. Dia adalah satu-satunya orang tua yang bisa membuat saya lega ketika melihatnya. Lebaran kami sangat sepi. Saya dan kedua adik saya seperti orang bodoh yang tidak tahu harus apa di hari Lebaran. Meski demi menjaga semangat Lebaran kami tetap beli baju baru, tetapi saya sadar, bahwa saya mulai membenci Lebaran. Saya tertampar, bahwa saya bukan anak SD lagi yang harus mengisi laporan bulan Ramadhan dari sekolah.
3. Kira-kira tiga tahun yang lalu, saya menikah. Ada seseuatu yang membuat saya girang: saya akan punya teman untuk sahur. Ya, diam-diam alasan saya menikah adalah mencoba memberi harapan pada diri sendiri bahwa Lebaran bisa menyenangkan. Betul, memang lebih menyenangkan dari pada sepuluh tahun sebelumnya. Saya punya bapak-ibu baru (mertua) yang bisa saya mintai maaf ketika Lebaran. Hal ini sangat berarti bagi saya. Tetapi saya tetap merasa kurang sesuatu, sebab saya tidak bisa minta maaf pada papah saya pada tepat hari Lebaran. Saya harus belajar maklum bahwa dia punya keluarga baru. 
4. Tahun ini, adalah ramadhan pertama saya nyekar ke kuburan papah saya sebelum puasa dimulai. Saya semakin merasa kesepian….
Ah sudahlah, cut the crap! Saya yakin setidaknya saya punya waktu 30-40 tahun lagi sebelum masuk ke liang kubur untuk memperbaiki situasi Lebaran saya yang amburadul sekarang. Jadi…, semangat! :D

11 thoughts on “Saya VS Ramadhan

  1. meski ada rasa sepi, namun paling tidak hingga detik ini masih ada yang menemani saat menjalani Ramadhan dan lebaran :)
    selamat puasa

  2. Ratih.. Semangat!!! wah sedih juga baca artikel ini..

    Turut berduka atas papamu..

    Semoga ramadhan ini menjadi titik balik bagi kamu.

    Oh iya, aku sekarang dijakarta dijakarta jadi kuli orang.. bentar lagi si junet juga ke jakarta jadi kuli juga..

    Selamat beramadhan.. dan menjadikan sesuatunya menjadi lebih indah.

    -s.a.l.a.m-

    rui

  3. you’re an amazing blog writer!
    saya tahu kamu seorang penulis!

    dan tidak sepatah perkataan pun saya potong ketika membaca post kamu!

    salam kenal!
    dari malaysia

    ——————–

    @nurul
    Halo Nurul :) terimakasih sudah mau baca blogku
    salam kenal! dari indonesia

  4. Temanku yg sok tahu pernah bilang, “Penulis. Dlm keadaan senang, duka, gembira, tertimpa musibah, selalu saja beruntung. Krn apapun yg terjadi pd dirinya akan menjadi bahan berkualitas utk membuat cerita.”

    Bener nggak temanku itu? :)

    Bagaimanapun, selamat merayakan kemenangan 1429 H. Mohon maaf lahir-batin ya, Mbak Ratih.

  5. foto itu mengingatkan bahwa sepertinya saya sekelurga sudah lama tidak berlebaran dengan ketupat. lontong (tentunya beli) sepertinya memang lebih praktis

  6. Ratihhhh…

    Sedih baca tulisan ini..terharu..Ada bagian yang aku bisa utk brusaha ngaca ke diri sendiri..

    semoga lebaran tahun ini jauh lebih indah dari sebelumnya.
    Semangat Yaah!!!

  7. Lebaran tanpa orang tua memang terasa sangat berbeda ya, Tih. Baru 2 tahun aku lebaran tanpa ayah, dan tahun ini akan tanpa ibu juga, rasanya sepi itu akan semakin menjadi. tapi betul kata kamu, kita tetap harus, SEMANGAT!! :)

    anyway, kamu tinggal di mana, tih? boleh kapan2 aku silaturahmi?

    ——————–

    @aDeLiNa:
    Aku tinggal di Jakarta, di daerah Benhil.

  8. Benhil? Jauh ga dr luar(sudirman)?hrs naek ojek y kalo mau k rmhmu? Aq taunya benhil, rm aceh, seulawah kalo ga slh namanya…pnah mkn di situ soalnya.

Comments are closed.