Sepotong Tangan

(dimuat di Republika, 5 Agustus 2007)
Pagi saat istrinya tak lagi bangun dari tidur, ia menunggu cukup lama di samping perempuan tua itu. Itu adalah pagi yang tak sama dengan 37 tahun pagi hari sebelumnya. Biasanya, istrinya selalu bangun lebih dahulu. Menyiapkan sarapan, sedikit berdandan, lalu jika perempuan tersebut sedang ingin memanjakan suaminya, ia akan membawa sarapan ke atas kasur. Membiarkan aroma harum kopi susu menguar ke hidung lelaki terkasihnya dan membuatnya terjaga. Sambil berterimakasih, laki-laki itu selalu mencium punggung tangan istrinya. Ia akan terus memegangi tangan istrinya sambil memakan sedikit-sedikit telur orak-arik sarapannya serta menyeruput kopi susunya sampai tertinggal ampas di dasar cangkir.

Baca selengkapnya di: Tanda Baca atau Republika

2 thoughts on “Sepotong Tangan

  1. Salam kenal.

    Seperti mana sukarnya mendapatkan buku-buku tulisan suamimu, Eka, juga betapa sukarnya untuk mendapatkan buku-buku tulisan saudari Ratih di Malaysia. Semoga suatu hari nanti, saya berkesempatan memiliki buku-buku tulisan saudari Ratih.

    Salam sastera dari Malaysia.

Comments are closed.