Slumdog Millionaire: Merayakan Kemenangan

Novel <em>Q and A</em>, karya Vikas Swarup

Novel Q and A, karya Vikas Swarup

Baru-baru ini saya menonton film Slumdog Millionaire, film bersetting Mumbay, India, yang diangkat dari novel Q and A karya Vikas Swarup. Ada sesuatu yang segar dari film ini, yang berbeda dari film-film Bollywood lainnya. Saya termasuk orang yang akrab dengan film selain Hollywood. Saya menyukai film-film Korea, Jepang, juga India. Meskipun menari dan menyanyi sudah merupakan bagian penting dari film-film India, tapi sejujurnya, saya masih tidak terlalu akrab dan nyaman dengan tari-nyanyi dalam film Bollywood.

Slumdog Millionaire bercerita tentang Jamal, seorang anak jalanan yang menang dalam acara kuis ‘Who Wants To Be A Millionaire’ versi India. Uniknya, Jamal menang bukan karena dia terpelajar, tetapi karena setiap pertanyaan yang diajukan selalu mengingatkannya pada sejadian di masa lalu. Jadilah film ini kerap flashback mulai dari Jamal masih kecil, ABG, sampai dewasa. Uniknya lagi, Jamal ikut kuis ini bukan karena ingin jadi milyuner, tetapi karena ia ingin mencari kekasihnya Latika. Setiap flashback yang ada, selalu merujuk pada kejadian ketika dia mencari Latika. Dia berharap, dengan mengikuti kuis ini, Latika akan melihatnya dan akan tahu di mana dirinya. Ending cerita memuaskan penonton (dan pembaca), happy ending, tentu saja. Jamal bertemu dengan Latika, juga memenangkan kuis hadiah utama. Seorang anak jalanan yang tiba-tiba kaya raya gara-gara ikut kuis.

Film/buku ini mungkin bisa disebut sebagai road-story, bagaimana Jamal mencari orang yang dicintainya dengan berragam cara. Begitu hampir ketemu, pasti ada hal yang memisahkan mereka lagi. Ya, kalo versi kecilnya mungkin kira-kira seperti reality show ‘Termehek-Mehek’. Sejak awal, penonton diajak bersimpati dengan tokoh Jamal. Cerita tentang orang kecil yang meraih kebahagiaan (terutama kekayaan) memang drama yang tak pernah mati untuk urusan menguras emosi.

Salah satu adegan Slumdog Millionaire, ketika Jamal masih kecil.

Salah satu adegan Slumdog Millionaire, ketika Jamal masih kecil.

Bagi saya, yang membahagiakan adalah bahwa Slumdog Millionaire merupakan film India pertama yang saya tonton betul-betul saya nikmati hingga harus menahan pipis. Pasalnya, film India ini tak ada jeda tari-nyanyi yang memang saya kurang bisa nikmati. Ya, sejujurnya, meskipun (seperti yang diceritakan teman saya) bahwa di India sana konon para penonton bioskop film Bollywood bisa nyanyi bareng-bareng satu gedung jika adegan tari-nyanyi mulai tayang, tapi bagi saya itu adalah saat yang tepat untuk pipis.

Saya begitu menikmatinya hingga saya tak sadar harus menahan pipis. Saya juga tak sadar ini bukan seperti film India umumnya. Ketika cerita sudah berakhir, baru ada adegan tari-nyanyi semua talent, bersamaan dengan credit tittle. Mungkin itu untuk mensyahkan harus ada tari-nyanyi di film Bollywood, heheheh…. Atau mungkin tari-nyanyi itu sebagai metafora perayaan akhir cerita bahagia.

10 thoughts on “Slumdog Millionaire: Merayakan Kemenangan

  1. Film India tanpa lagu dan nyanyian? Itu kayaknya gara-gara “Slumdog Millionaire” digarap oleh sutradara, produser, dan penulis naskah asal Inggris (dan karena itu filmnya dikategorikan ke dalam boks film-film Inggris) … seperti film Gandhi yang cast-nya 90% orang India, tapi karena digarap oleh Richard Attenborough + John Briley (dan Gandhi diperankan oleh the multi-talented Ben Kingsley) jadi berstatus film Inggris. Oh India …

  2. O iya, plus film2 terbarunya Mira Nair … berstatus film AS … Oh, India … (teteppppp) hahahahhaa … padahal gw doyan sama lagu2nya (kadang-kadang sih) … udah ntn Dev Das?

  3. mb uDh nNtn nTu film yak…???

    ugh…pdhL nOn udh pengen bgT nNtn…tP ada ajAh haLanganny.
    nyewa d renTal kosonG muLu…eh…giLiran ada tmNny wa2 yg minjemin, DVD’ny erroR .
    br td mLm tuh kejadianny .
    hr ini mw nyaRi kamaR mb kOst yg bs bwt nNtn.
    hehe…

  4. Boss, plotnya ada kesamaan sedikit sama sinopsis Pesantren Boxer ya?
    Tapi sumpah Mbak Ratih, sampai hari ini aku belum nonton or baca ulasannya.

    ———————

    @Budi Jay:
    Beda dong, Mas. Enggak sama. Idemu itu mirip2 ama Shaolin Socker. Makanya, nonton dulu aja. Slumdog Millionaire ini udah dapet penghargaan dari Toronto Film Festival, dan yang terakhir dapet Golden Globe lho. Nonton dulu deh, siapa tau dapet inspirasi dari nonton film ini. Ulasannya juga udah di mana-mana, di Kompas juga pernah ada. Gak hobi baca ya? hehehe…

  5. Ternyata… untuk jd jutawan gag hrs jenius y…..
    yg penting pengalaman n bs bljr dr pngalaman. palagi pengalamannya si jamal yg mo minta tnda tngn Amitab bachan, kocaaak bngt,, bkin geliiii…

  6. hai mb ratiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhh

    tau gag..???

    namaku jga ratih kumala lho….

    dah gitu hobi n cita2ku jga sama kya km…..

    PENULIS.

    hahahah

    m09a ak bis ajadi p[enulis hebat kaya km jga yaw..????

    ——————-

    @reth:
    Apa mungkin ya, yang namanya “ratih” emang semua bercita2 jadi penulis? hehehehe. Soalnya saya juga kenal beberapa “ratih” lain yang juga suka menulis.

  7. paling seneng adegan tari n nyanyian di akhir ceritanya.
    Bisa jg tuh jamal nari…luwes bgt.
    Bukan Film India klo ga ada tariannya..
    i luv this movie 2.

  8. aku suka filmnya meskipun aku orangnya anti dengan film-film india ( kalau kamu mau hukum aku, tempatkan aku di depan tv yang sedang menayangkan film india )

Comments are closed.