<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala &#187; cerita pendek</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/tag/cerita-pendek/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2012 13:52:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nonik, sebuah cerpen</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 15:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esquire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Ratih Kumala Dimuat: Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011 Aida tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti adegan film Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung, bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi meja yang di atasnya ada sebuah tape. Kaset berpita itu terus berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku? Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Ratih Kumala<br />
Dimuat: Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011</p>
<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/esquiredesember.jpg" rel="lightbox[805]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/esquiredesember.jpg" alt="" title="esquiredesember" width="196" height="257" class="alignleft size-full wp-image-830" /></a></p>
<p>Aida tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti adegan film Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung, bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi meja yang di atasnya ada sebuah <em>tape</em>. Kaset berpita itu terus berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku? Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu apa-apa. Tapi toh, petugas polisi yang berpakaian preman itu tetap mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak berujung. Nonik. Nonik. Nonik. Nama itu terus disebut-sebut dalam dialog yang tak bisa dibilang beramah-tamah itu.</p>
<p>“Sejak kapan kamu kenal Nonik?”<br />
Ketika itu Aida sedang berdiri di halte bus, jam di tangannya menunjukan pukul 11:12. Aida memutuskan, seperempat jam lagi bus yang ditunggunya tak juga muncul, ia terpaksa menghentikan taksi agar tak terlambat ujian di kampus. Tapi tiba-tiba sebuah sedan berhenti di depannya, kacanya turun, dan wajah seorang gadis nongol di situ. Nonik Malika Marten. Ketika itu Aida belum tahu namanya.<br />
“Lo anak Unkris kan?”<br />
“Iya.”<br />
“Yuk bareng.” Aida tak lantas naik, ia ragu. “Mau ngampus kan?” Aida mengangguk. “Gue juga. Yuk!” Nadanya setengah memaksa. Aida masuk ke mobil yang kemudian melaju ke satu tujuan yang sama. Itulah perkenalan mereka. Nonik berkuliah di fakultas yang sama dengan Aida, Komunikasi. Tetapi jurusannya berbeda. Mereka tak pernah satu kelas. Tapi sejak itu keduanya jadi akrab. Nonik ternyata tinggal di kompleks perumahan orang-orang kaya yang letaknya di depan kampung tempat Aida tinggal. Dia sering melihat Aida yang pulang dengan bis dan berhenti di depan kompleks perumahannya. Diam-diam Nonik berjanji pada diri sendiri, jika ada kesempatan ia akan mengajak Aida berangkat bersama.<br />
<span id="more-805"></span><br />
Rumah Aida kecil, masuk gang. Rumahnya tentu saja sisa-sisa dari perkampungan khas Betawi yang sebenarnya luas, tetapi tandas dijual ke pengembang yang lantas membangun perumahan mewah. Sebuah pagar tinggi membatasi antara kampung dan perumahan. Di satu sudut yang tertutup pohon pisang di pinggiran tembok pembatas itu, ada bagian yang dijebol orang kampung. Gunanya, agar orang kampung punya jalan pintas jika ingin ke jalan raya. Jika tidak begitu, mereka harus berputar, dan itu berarti jauh.<br />
Rumah Nonik besar sekali. Bisa dibilang, rumahnya adalah salah satu yang paling mewah di antara rumah-rumah mewah di kompleks itu. Pagarnya putih, catnya putih, pintu masuknya besar dengan gagang keemasan berukir. Aida teringat dongeng tentang istana yang dihuni putri raja di dalamnya. Nonik adalah putri raja itu. Aida bertanya dalam hati, kapan ia bakal bisa membangun rumah sebesar itu?<br />
Nonik ibarat putri cantik nan baik hati yang tak membeda-bedakan rakyatnya yang jelata. Diajaknya Aida pergi jalan-jalan. Ke Puncak, ke Bandung, ke kelab-kelab malam. Nonik bahkan berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke Malaysia.<br />
“Ke kelab malam aja lo yang bayarin. Mana sanggup gue jalan ke Malaysia.”<br />
“Tenang…lo pokoknya bikin passport aja!” Ujar Nonik. </p>
<p>“Ke kelab malam? Kalian terlibat narkoba?”<br />
Keringat Aida serasa diperas, kakinya tiba-tiba kesemutan, tenggorokannya kering. Petugas polisi itu lalu menyodorkan segelas air. Aida meneguknya sekali. Kerongkongannya terasa menyempit ketika air itu melewatinya. Aida menggeleng, lalu mengangguk, dan menggeleng lagi. Petugas polisi itu menggebrak meja, lantas dengan kasar menyuruh Aida mengingat-ingat: yang benar pernah terlibat narkoba atau tidak?<br />
“Saya tahu Nonik pernah membeli pil di kelab malam. Tapi demi Tuhan, saya tidak pernah mencicipinya.” Meski dalam hati Aida menyesali karena pernah sekali mencoba mengisap ganja yang diselipkan dalam lintingan campuran tembakau. Itu juga setelah Nonik mengejeknya sebagai ‘anak baik-baik’.<br />
Nonik selalu menyebutnya Si Penjaga Moral, jika ia sedang tinggi dengan teman-temannya. Senyatanya, Aida memang pantas disebut demikian. Dialah yang menyingkirkan Nonik jauh-jauh dari teman-teman laki-lakinya jika mereka mulai grepek-grepek Nonik. Dia juga yang mengangkat Nonik jika terkapar tak sadarkan diri di toilet kelab malam setelah muntah-muntah. Aida pun yang memanggilkan taksi dan mengantar Nonik pulang, lalu dengan susah payah menariknya sampai ke tempat tidurnya. Aida menjaga Nonik sedemikian rupa, karena bagi Aida, Nonik adalah gadis kaya yang sedang bingung harus diapakan uangnya yang banyak itu.<br />
Nonik tinggal di rumahnya yang besar itu bersama mamahnya. Saking besarnya, Nonik tak pernah ketahuan pulang-pulang mabuk. Kamarnya berada di sayap kanan rumah, sementara mamahnya di sayap kiri.<br />
“Aida… Aida… lo baik banget sih. Gue udah abis jadi pelacur kali kalo lo enggak ada pas gue teler gini. Lo ngingetin gue ama diri gue yang dulu. Anak baik-baik.” Lalu Noni tepar setelah berceloteh demikian. Ia baru akan terbangun besok sore jika malamnya mabuk seperti itu. Aida sudah terbiasa dengan keadaan Nonik yang seperti itu.<br />
Mamah Nonik adalah perempuan pendiam dengan gaya aristokrat yang cuma mengangguk kecil dengan senyum tertahan jika bertemu Aida. Kata Nonik, mamanya senang ia berteman dengan Aida, sebab Aida perempuan. Ia tak suka melihat Nonik bergaul dengan laki-laki. Ibunya juga kerap mengingatkannya untuk mengunjungi Opa Pierre di rumah atau di rumah sakit, jika kebetulan sedang dirawat. Menurut mamahnya, Nonik harus membuat Opa Pierre senang sebab dia adalah trust fund baby, alias keturunan yang mendapat dana perwalian. Dari situlah kekayaan mereka berasal, meskipun Aida tak pernah tanya apa sebenarnya bisnis Opa Pierre.</p>
<p>“Kamu pernah ketemu dengan Opa Pierre?”<br />
Setelah beberapa kali mamahnya menegur Nonik di depan Aida agar mengunjungi Opa Pierre, akhirnya Nonik pun menurut. Sore itu Aida dan Nonik ke RSCM, di ruang VIP Opa Pierre dirawat. Laki-laki itu berkulit putih, dengan bercak-bercak yang jelas di wajahnya. Rambutnya tinggal beberapa lembar, itu pun cuma di bagian belakang. Sedang di kepala atas, gundul. Tubuh Opa Pierre kegemukan, kata dokter ia harus berdiet. Tapi Opa susah sekali disuruh diet. Dia suka makan makanan enak.<br />
“Hidup kan harus dinikmati, Nik.” Opa Pierre terkekeh. Nonik duduk di sebelahnya sambil memegang tangan Opa Pierre, sementara Aida duduk di sofa, menunggui Nonik kangen-kangenan sama opanya. Aida agak heran, kenapa Nonik ogah-ogahan menjenguk opanya. Padahal kalau sudah bertemu seperti sekarang, keduanya terlihat akrab.<br />
Sekali, Nonik minta maaf karena tidak bisa pulang bareng Aida. Sebagai gantinya, Nonik memberikan uang untuk ongkos taksi yang kemudian ditolak Aida. Katanya, Opa Pierre akan menjemputnya, dan mereka akan makan malam bersama keluarga merayakan Opa Pierre yang dinyatakan sembuh oleh dokter. Laki-laki itu tiba di kampus dengan Mercy hitam mengkilat. Semua mata tertuju ke mobil itu. Kacanya dilapisi film gelap, sehingga tak ada yang tahu siapa di dalamnya jika Opa Pierre tidak keluar. Sopir membukakan pintu belakang, sebuah tongkat muncul duluan, disusul sepasang kaki tua yang gendut dan agak bergetar, kaki Opa Pierre. Nonik menyambut Opa Pierre dengan girang. Diciumnya tangan lelaki tua itu, lalu pipinya dan keningnya yang licin.<br />
“Opa masih ingat Aida kan? Yang waktu itu nemanin Nonik pas ngejenguk Opa.” Opa Pierre mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aida tak yakin laki-laki itu ingat pada dirinya. Pertama, waktu menjenguk Aida cuma kenalan dan tak berbincang apa-apa dengannya. Kedua, Opa Pierre pakai kacamata yang tebalnya satu meter, mana mungkin dia melihat wajah Aida dengan jelas.<br />
Petugas Polisi tiga kali menanyakan kapan lagi Aida bertemu Opa Pierre. Ia mengelilingi Aida. Aroma tubuhnya yang masam, membuat Aida pusing.<br />
“Cuma dua kali itu saya ketemu Opa Pierre, Pak. Sumpah.”</p>
<p>“Kamu dan Nonik jadi ke Malaysia?”<br />
Nonik sudah menyiapkan dua tiket, satu untuknya, satu lagi untuk Aida. Tiket itu dibelinya begitu Nonik selesai sidang gelar S1-nya. Aida sendiri sudah selesai duluan tiga bulan lalu. Ia sengaja menunda wisuda demi bisa wisuda bareng Nonik. Aida juga yang membantu Nonik menyelesaikan skripsinya. Sebenarnya, Aida tak diijinkan pergi oleh Aep, pacarnya. Tapi karena itu adalah bulan terakhir Aida melajang, Aep akhirnya mengijinkannya. Tiga minggu dari hari kepulangan mereka dari Malaysia, Aida dan Aep akan melangsungkan pernikahan.<br />
Aida melewati koridor-koridor bandara dengan mata berbinar sekaligus kikuk. Serasa ada kupu-kupu terbang di dalam perut menggelitiknya penuh keriangan. Itu adalah kali pertama ia naik pesawat. Aida tak pernah menyangka bisa pergi ke luar negeri. Gratis pula. Untuk liburan, bukan untuk bekerja. Ia beruntung sekali bisa berteman baik dengan Nonik. Sesampai di Kuala Lumpur, seorang laki-laki muda menjemput mereka. Tanpa malu-malu, Nonik langsung berhambur menciumi lelaki itu.<br />
“Ichsan.” Demikian lelaki itu memperkenalkan dirinya. Berkulit putih, tampan, dan kelihatan cerdas. Aida harus membuka telinga lebar-lebar jika berbicara dengan Ichsan, sebab meski Bahasa Indonesia masih nyambung dengan orang Malaysia yang berbahasa Melayu, tetapi logat dan beberapa kata berbeda dari Bahasa Indonesia.<br />
Nonik mengajak Aida bersenang-senang. “Anggap aja ini kado kawinan gue buat lo. Tapi bukan buat Aep.” Derai tawa Nonik mengikuti setelah ia mengatakan kalimat itu. Ya, Aep tak mungkin diharapkan untuk mampu membiayai bulan madu. Ia baru lulus kuliah, kerja pun masih dalam masa percobaan, belum diangkat jadi pegawai. Tapi laki-laki itu tulus dan serius menyintai Aida, meski ia kadang menunjukan ketidaksukaan kedekatan Aida dengan Nonik.<br />
Nonik dan Aida berdiam selama enam malam tujuh hari di Kuala Lumpur. Sesiangan mereka jalan-jalan pelesir kota. Malamnya berisitirahat di hotel. Dari total enam malam itu, Nonik cuma tinggal satu malam di kamar hotel mereka. Sisanya, Nonik lebih memilih bobok bareng Ichsan.<br />
“Lo enggak takut hamil?”<br />
“Kalo hamil ya udah…kebetulan. Gue juga pengin punya anak dari Ichsan.” Nonik menjawab ringan.<br />
“Cinta emang buta ya.”<br />
“Cinta enggak buta, Da. Yang buta itu uang!” Derai tawa Nonik terdengar renyah. Aida juga tertawa, meski sebenarnya ia masih mencoba mencerna kalimat Nonik.<br />
Nonik nangis-nangis ketika berpisah di bandara, tak yakin kapan akan bisa bertemu lagi dengan Ichsan. Di pesawat pun, Aida masih berusaha menenangkan Nonik yang belum usai menangisi perpisahannya. Kelihatannya Nonik cinta mati pada Ichsan.</p>
<p>“Kapan terakhir kali kamu ketemu Nonik?”<br />
Hari H pernikahan Aida dan Aep dilangsungkan sederhana. Nonik berdandan dengan kebaya, sebagai sahabat dekat mempelai. Dengan senang Nonik membantu Aida menyediakan apa yang dia butuhkan selama hari pernikahannya. Mulai dari mengambilkan makan dan minum, mencarikan peniti ketika mengenakan baju pengantin, sampai akhirnya ikut beres-beres mengangkut kado dan menyimpankan uang saweran dari tetamu.<br />
Aida baru selesai difoto di kamar penganten bersama Aep ketika Nonik pamit pulang.<br />
“Gue minggu depan mau ke Malaysia, Da. Keliatannya enggak bakal balik lagi ke Jakarta.”<br />
“Hah?! Serius?”<br />
“Gue iri lihat lo sama Aep, berani memulai keluarga baru, meskipun kalian enggak punya apa-apa. Gue juga mau kayak lo.”<br />
“Lo mau kawin? Eh…, nikah sama Ichsan?”<br />
Aida mengangguk mantap, “Nanti gue kirimin lo tiket PP ke Kuala Lumpur kalau tanggal nikah gue udah fix. Tapi jangan bilang-bilang orang ya kalo gue ke Malaysia.” Nonik memeluk Aida dan pergi masih dengan kebaya.<br />
Seperti kebanyakan pengantin baru yang betah berlama-lama di dalam kamar. Aida dan Aep tak segera keluar kamar meski hari telah benderang. Ia baru keluar pukul satu siang, disambut suara-suara kerabat saudaranya yang bersiul-siul menggoda pasca malam pertama. Aida menyiapkan air teh untuk suaminya ketika tanpa sengaja ia mendengar berita di televisi. Kematian tragis seorang gadis dan ibunya di rumahnya, ada 12 tusukan di tubuh Nonik, dan delapan tusukan di tubuh ibunya. Aida seperti kehilangan kekuatan, air teh yang dipegangnya terjatuh. Cangkir itu menjadi keping. Disebutkan rumah Nonik penuh dengan ceceran darah, sebab ia tak langsung mati ketika baru beberapa tusukan, ia sempat menyeret tubuhnya demi melawan mata pisau. Seisi rumah melotot nganga  tak percaya melihat foto Nonik di televisi. Menjelang Maghrib, tiga petugas polisi berpakaian preman mendatangi Aida. Mereka tak memberi kesempatan pada Aida untuk menuntaskan salat Maghrib, dan memaksannya langsung ikut ke kantor untuk diinterogasi.</p>
<p>Aida dilepas keesokan paginya, menjelang Subuh. Aep menunggu semalaman di kantor polisi. Beberapa hari kemudian, mata Aida masih saja lekat ke televisi setiap berita kriminal dimulai. Mereka telah menemukan tersangka utamanya, seorang pejabat komisaris sebuah bank yang diduga adalah suami Nonik dengan inisial PM. Nonik adalah istri keenam dari lelaki itu.<br />
“PM?” Aida tertegun. Sebuah nama muncul begitu saja di kepalanya.  “Pierre Marten? Opa Pierre!”<br />
Aida memang tak pernah mendengar kabar apa-apa lagi dari polisi. Ibarat arsip yang terus tertumpuk, berdebu, lalu terlupakan. Berita kematian Nonik tertelan oleh berita-berita kriminal lain. Aida menata sendiri puzzle kematian sahabatnya. Ada banyak ‘mungkin’ yang muncul di kepala Aida.  Mungkin, ia cuma gadis yang dijual mamahnya ke Opa Pierre sebagai istri ke sekian agar kehidupan mereka bisa sejahtera, lalu mengaku-aku sebagai trust fund baby agar tak dicurigai orang. Nonik tak pernah menyintai Opa Pierre. Mungkin, cinta sejatinya adalah Ichsan, dan dengannya ia ingin menghabiskan sisa hidupnya. Mungkin, Opa Pierre telah mencium rencana Nonik untuk minggat ke Malaysia. Dan mungkin, Opa Pierre benar menyintainya hingga ia terbutakan oleh rasa cemburu. Tapi toh Nonik tak pernah percaya bahwa cinta itu buta.<br />
<em>Cuma uang yang bisa bikin buta.</em></p>
<p>-rk-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Rumah Duka&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 13:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[duka]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Kompas &#124; Minggu, 6 Juli 2008 Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/06/01400565/rumah.duka">Kompas | Minggu, 6 Juli 2008</a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" rel="lightbox[190]"><img class="alignnone size-full wp-image-191" title="Rumah Duka" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" alt="" width="400" height="365" /></a></p>
<p>Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.</p>
<p>Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.</p>
<p>”Tolong…, hormati keluarga kami yang sedang berduka,” desisku. Ia menghentikan langkah, menatapku sebentar, lantas berbalik dan berlalu. Mungkin sambil menangis.<br />
<span id="more-190"></span><br />
Kami segera mengurus segala hal untuk kremasi. Rumah duka kami booking. Rangkaian bunga duka cita dari kolega-kolega suamiku mulai berdatangan. Hari ini, mayatnya dirias, sebelum diistirahatkan. Tujuh belas tahun! Tujuh belas tahun! Perempuan itu mencuri tujuh belas tahun dari tiga puluh empat tahun pernikahan kami. Aku mengumpat sambil memilih jas terbaik untuk suamiku. Aku selalu tahu, suamiku suka mencicipi banyak perempuan. Seperti kesukaannya mencicip makanan di banyak restauran (kami tak punya restauran favorit keluarga, acara makan malam di luar rumah selalu berpindah lokasi). Aku tahu, dan diam-diam aku tak keberatan, dengan syarat; perempuan-perempuan itu tetap sebagai ’makanan’ dan bukan sebagai ’anjing’. Ya, sebab jika sudah menjadi ’anjing’, berarti dia dipelihara. Kadang jika ketahuan baru ’jajan’, aku akan marah-marah. Tapi toh, diam-diam aku tak keberatan, selama jajanan tak dibawa ke rumah. Aku punya alasan sendiri untuk ini. Ia biasa beralasan tugas di luar kota, atau pulang pagi karena lembur, dan sampai di kamar ini, tanpa melepaskan kemejanya ia langsung tidur mendekap guling mirip udang. Tapi ia tetap milikku, pulang ke padaku. Hingga si jalang itu datang ke kehidupan kami. Penyanyi kafe jazz bersuara berat, berusia pertengahan dua puluh, berkulit agak gelap, dan (tentu saja) lebih langsing dariku. Aku mengobrak-abrik lemari, mencari sebuah dasi sebagai pelengkap pakaian suamiku. Ada banyak dasi, tapi yang kumaksud belum juga ketemu. Dasi yang kubelikan di Singapura.</p>
<p>Suamiku sejak kecil berlatih saksofon. Ada masa ia ingin menjadi seorang musisi, tetapi orangtuanya tak setuju. Ia mengubur impiannya. Menahan saksofon untuk sekadar hobi. Kupandangi kotak saksofon yang ditinggal empunyanya. Kubuka, warnanya masih mengkilat. Beberapa hari sebelum masuk rumah sakit, suamiku sempat membersihkan saksofon ini. Kini ia teronggok bisu di dalam kotak. Jazz adalah musik sejati suamiku. Aku pun penyuka musik, tapi sungguh… sampai ajal suamiku, aku tetap tak bisa menikmati jazz. Aku lebih suka pop dengan nada-nada slow. Musik-musik orang kebanyakan. Musik yang bisa dinikmati semua orang. Musik yang tidak eksklusif. Perhatianku teralih ke lemari lagi, masih mencari dasi yang kumaksud. Mungkin, awalnya perempuan itu hanya ’makanan’, tapi ia makanan yang diramu oleh chef yang andal, jadilah suamiku ketagihan. Lama kelamaan, ’makanan’ itu menjelma jadi ’anjing’ peliharaan. Entah kenapa, aku jadi malah membongkar seisi lemari, bahkan lemari bagian pakaianku pun isinya sudah bertebaran di lantai kamar kami.</p>
<p>Ranjang di kamarku serasa hangat, seperti tuntas ditiduri sosok manusia malam itu. Malam ketika Bim meninggal dunia. Dari pukul sembilan aku berusaha memejamkan mata, tapi tak bisa. Sudah satu minggu Bim masuk rumah sakit, dan aku (tentu saja) tak bisa menengoknya. Siapalah aku, orang luar perusuh rumah tangga orang. Meski aku cinta setinggi langit sedalam lautan, itu tak mengubah apa pun. Apalagi statusku.</p>
<p>Tujuh belas tahun lalu, Bim muncul dalam hidupku. Saat malam-malam aku masih menyanyi di sebuah kafe jazz. Dia datang bersama sekelompok teman. Salah satu dari mereka diperkenalkan sebagai istrinya, yang naga-naganya tak terlalu menikmati musik jazz. Tapi Bim kulihat sangat menghayati lagu-lagu yang kami suguhkan. Lalu, ketika ben kami istirahat sejenak, dan panggung kosong, Bim tiba-tiba maju. Dengan percaya diri ia mengeluarkan saksofon milik pribadi dan meminta ijin untuk memainkannya. Smoke Gets in Your Eyes mengalun. Aku yang tadinya hendak mengistirahatkan suara, jadi tertarik untuk bernyanyi dengan iringan tiupan saksofon Bim. Aku langsung menyambar mikrofon. Pengunjung kafe bersorak dengan penampilan kami.</p>
<p>Bim mulai jadi pengunjung setia kafe jazz. Awalnya, masih bergerombol dengan teman-temannya (kadang pula dengan istri). Lama kelamaan, teman yang ikut makin sedikit, dan akhirnya, ia lebih sering datang sendiri. Setelah ketujuh kalinya datang solo, ia menunggu hingga kafe tutup jam dua pagi. Lantas menawariku untuk diantar pulang. Ketika itu, aku sudah sangat tahu bahwa ia kerap datang hanya untuk melihatku. Kami tak langsung pulang, ia menawariku makan tengah malam. Satu-satunya tempat makan yang masih buka jam segitu, yang nyaman untuk ngobrol, adalah restauran di hotel berbintang. Kami berbincang tentang musik. Dari situ aku tahu, ia adalah pengagum Louis Armstrong. Betapa selera kami sama, dan itu adalah pemantik. Sebab hari itu berakhir dengan check-in.</p>
<p>”Istrimu…, apa dia tidak mencarimu?”</p>
<p>”Dia tahu, aku sering kerja sampai pagi.”</p>
<p>Jam lima pagi, kami check-out. Ia mengantarku pulang ke kos. Aku melanjutkan tidur dalam damai. Seks yang hebat, pikirku, habis ini ia tak akan pernah muncul lagi karena yang diinginkan sudah ia dapat. Tak pernah terpikir, bahwa malam itu hanya awal dari tujuh belas tahun hubungan kami berikutnya. Hingga ia diambil Tuhan.</p>
<p>Aku terbiasa tidur dengan ranjang yang dingin. Ia pulang ke tempat istrinya, dan hanya datang kalau sedang alasan tugas ke luar kota. Atau mampir ketika waktu makan siang. Tak sekadar untuk sex after lunch, lebih dari itu… ia bahkan datang hanya untuk makan masakanku. Ya, kami kucing-kucingan macam ini. Tapi malam itu, malam ketika ia diambil Tuhan, ranjangku hangat. Aku bisa mencium odornya di bantal, di selimut, di guling. Ia selalu tidur mirip keluwing, dengan guling didekap erat. Bahkan aku bisa merasakan aroma sisa percintaan kami. Kupandangi parfumnya di meja riasku, dan selembar celana pendeknya yang tergantung di pintu. Sedikit barang yang sengaja ditinggalkannya di sini. Aku tahu ia di rumah sakit mana, meski aku tak pernah mengunjunginya. Aku harus menemuinya! Harus!</p>
<p>Aku tak pernah menyangka bahwa suamiku akan mati terlebih dahulu. Gagal ginjal sudah lama mengancamku di sudut jalan dengan belatinya. Aku selalu bersiap ia menggorok leherku, dan mencongkel nyawaku. Bertahun-tahun aku harus menjalani cuci darah. Bertahun-tahun pula aku mencari donor ginjal. Meski kedua anakku menawarkan satu ginjal mereka untukku, aku tak mau menerimanya. Lebih baik aku cuci darah seumur hidup, ketimbang menerima ginjal itu. Sebab itu berarti aku merampas masa depan mereka. Tak sia-sia, aku menemukan ginjal di India. Malah suamiku yang tiba-tiba anfal. Maut memang suka bergurau dengan hidup. Inilah kenapa, aku diam-diam tak keberatan suamiku ’jajan’.</p>
<p>Rumah duka mulai penuh. Aku tak berhasil menemukan dasi yang kumaksud. Ia terlihat tampan dengan setelan jas Armani miliknya. Ah, harusnya kuminta ia dipakaikan kaos panjang model turtle neck saja. Dipadu dengan jas ini, tentu keren dan lebih terlihat muda. Kenapa pula aku harus memilih kemeja, kalau dasi yang kumaksud tak ketemu.</p>
<p>Perempuan itu, si jalang itu… aku tahu, ketika lama aku dirawat di rumah sakit, atau berobat ke luar negeri, pasti suamiku pergi ke rumahnya. Pembantuku yang lapor. Katanya, ”selama Nyonya pergi, Tuan juga tidak pulang.” Anak-anak lebih menjaga perasaanku, tak mau mengadukan perihal macam ini. Hal yang menyebabkan aku sedih</p>
<p>Aku tahu, suamiku masih sayang padaku. Cinta mungkin sudah tidak. Tapi sayang, masih. Dia terlihat sedih ketika lama aku sakit. Kadang membawakan makanan yang kusuka. Aku tak memakannya, karena dokter melarangku. Toh, aku cukup senang dengan perhatiannya. Maka ketika pembantuku lapor demikian, meski marah (dan sejatinya aku tak punya kekuatan untuk marah), diam-diam aku bersyukur; ada orang lain yang mengurus suamiku, melayaninya dengan baik. Bahkan bisa diajaknya perempuan itu bertukar pikiran tentang jazz yang tak pernah kupahami. Kupikir, masakkah perempuan itu cuma mau mengeruk harta suamiku? Sebab jika ya, tak mungkin usia hubungan mereka sampai belasan tahun.</p>
<p>Sehari setelah suamiku meninggal, aku baru bisa memahami air mataku. Bahwa ia mengalir untuk ’bapak dari anak-anakku’ yang kini jadi yatim (meski semua telah dewasa dan mandiri), dan bukan mengalir untuk ’suamiku’. Senyatanya aku tak merasa sekehilangan itu. Sebab meski aku memilikinya, aku tak pernah benar-benar bisa menggenggamnya. Lihat saja daftar perempuannya. Mungkin juga aku bukan istri yang baik, jika ya, tentu ia tak akan ’jajan’ di luar. Bahkan diam-diam memelihara ’anjing’.</p>
<p>Aku pernah menemui perempuan itu. Meminta dia untuk tak mengganggu rumah tangga kami. Untuk sejenak, memang suamiku kelihatan lebih banyak di rumah. Sehabis ngantor, langsung pulang. Tapi itu tak bertahan lama. Meski aku tak melihat dengan mata kepala sendiri, tapi aku tahu makin dekat. Malah kemudian, aku juga tahu suamiku diam-diam membelikannya rumah dan mobil. Ketika aku mencoba mencarinya di kafe jazz, hendak melabrak dengan murka, mereka bilang dia sudah tak bekerja di situ lagi.</p>
<p>Aku tak berhasil menemui kekasihku malam itu, malam ketika Bim dipanggil Tuhan. Aku pulang dengan hati kosong, menangis di ranjang kosong yang sudah berubah dingin. Kupeluk guling Bim, mencari sisa aroma tubuhnya di situ. Ah…, Bim… apa kau tak tahu, aku lebih kehilangan dirimu ketimbang istrimu itu? Kau milikku yang tak pernah benar-benar kugenggam. Sial kau! Gara-gara kau, aku melewati usia pernikahanku! Gara-gara kau juga, aku menahan diri untuk tidak hamil. Aku tak mau memberimu masalah, sebab kau bilang, jika aku hamil berarti itu masalah. Gara-gara kau, aku sekarang kesepian. Sial kau, Bim! Terkutuklah kau di neraka jahanam sana!</p>
<p>Aku pernah menuntut Bim untuk memilih, antara aku dan istrinya. Ia selalu bilang, tak akan menceraikan istrinya, sebab agamanya melarang. Mengajarinya untuk menikah satu kali, dan hanya sekali. Tak boleh bercerai. Aku pun tak mau dijadikan istri kedua, meski agamaku memperbolehkan poligami.</p>
<p>”Kan bisa pembatalan pernikahan!” protesku.</p>
<p>”Prosesnya tak gampang. Tahunan.” Alasannya. Biarpun tahunan, akan kutunggu kau! Toh Bim tak pernah mengajukan pembatalan pernikahan. Menurutku, bukan agama yang menjadi alasannya. Ia masih cinta. Ya, ia masih cinta perempuan itu. Ini terlihat jelas ketika istrinya sakit keras. Kata Bim, seminggu dua kali istrinya musti cuci darah. Aku sempat mengangankan, sebentar lagi kami akan jadi suami-istri. Sebentar lagi perempuan itu game over. Tapi aku keliru.</p>
<p>Meski ketika perempuan itu berobat ke luar negeri Bim tinggal di tempatku, toh ia tak berhenti membicarakan istrinya. Kenangan mereka, awal-awal pernikahan mereka dan bagaimana mereka berjuang bersama dari nol (yang tak pernah kualami), serta ketakutan karena istrinya sekarat. Aku cemburu. Sangat cemburu. Terlebih ketika tema musik jazz tak lagi menarik baginya. Lalu suatu hari, ketika telah dua minggu Bim tinggal di rumahku selama istrinya berobat, dan aku mulai merasa ia milikku sepenuhnya, tanpa harus pulang ke rumah sana, Bim menerima telepon. Ia girang bukan kepalang, dengan semangat ia bilang padaku, ”ginjalnya dapat! Ginjalnya dapat!” lalu diciumnya pipiku, saking gembiranya. Diam-diam aku menyumpah, aku marah pada Tuhan. Kenapa Ia mempermainkan perasaanku. Impian-impianku, rasa nyaman adanya Bim di rumahku, tercerabut kasar. Aku sadar lagi; Bim belum jadi milikku, dan memang tak pernah jadi milikku.</p>
<p>Obituari Bim muncul di koran pagi ini, memberitahuku ia disemayamkan di rumah duka mana. Dia masih kekasihku, meski sudah tak bernyawa. Dan aku merasa, meski tak satu hal mampu mengubah keadaan apa pun—apalagi statusku—aku tetap mencintai Bim. Setinggi langit sedalam lautan. Aku akan menyetir pelan-pelan, sambil mengisi penuh tangki keberanianku. Aku harus menemui Bim, memberinya penghormatan terakhir sebelum dia dibakar jadi abu.</p>
<p>Ia datang lagi, perempuan jalang itu. Pasti ia baca obituari di koran. Ini resikonya. Ia jadi tahu. Beberapa orang memandangi kedatangannya, beberapa berbisik-bisik. Tentu mereka tahu siapa perempuan itu dan bagaimana statusnya. Ia mendekatiku. Apa ia tak sadar, aku bisa jadi harimau yang tiba-tiba menerkam anjing buduk.</p>
<p>”Maaf, ini dasi kesayangan Bim. Mungkin dia mau memakainya.”</p>
<p>”….” Kupandangi dasi yang dilipat rapi itu. Dasi yang dua hari terakhir ini kucari-cari. Tak terpikir bahwa suamiku akan menyimpan di rumahnya. Tentu ada barang lainnya di sana. Barang-barang pribadi suamiku yang tiba-tiba hilang. Aku mengerti sekarang, rumah perempuan itu, bagi suamiku adalah rumahnya juga. Atau mungkin aku sudah tahu, tapi coba mengelak. Kuterima dasi itu.</p>
<p>”Bolehkan saya…,”</p>
<p>”Silakan.” Potongku.</p>
<p>”Terima kasih.”</p>
<p>Entah kenapa, aku seraya lega. Meski kulihat perempuan itu mencium suamiku. Suamiku yang semakin tampan dengan dasi ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

