<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala &#187; cerpen</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/tag/cerpen/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Apr 2012 13:52:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nonik, sebuah cerpen</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 15:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esquire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Ratih Kumala Dimuat: Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011 Aida tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti adegan film Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung, bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi meja yang di atasnya ada sebuah tape. Kaset berpita itu terus berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku? Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Ratih Kumala<br />
Dimuat: Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011</p>
<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/esquiredesember.jpg" rel="lightbox[805]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/esquiredesember.jpg" alt="" title="esquiredesember" width="196" height="257" class="alignleft size-full wp-image-830" /></a></p>
<p>Aida tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti adegan film Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung, bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi meja yang di atasnya ada sebuah <em>tape</em>. Kaset berpita itu terus berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku? Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu apa-apa. Tapi toh, petugas polisi yang berpakaian preman itu tetap mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak berujung. Nonik. Nonik. Nonik. Nama itu terus disebut-sebut dalam dialog yang tak bisa dibilang beramah-tamah itu.</p>
<p>“Sejak kapan kamu kenal Nonik?”<br />
Ketika itu Aida sedang berdiri di halte bus, jam di tangannya menunjukan pukul 11:12. Aida memutuskan, seperempat jam lagi bus yang ditunggunya tak juga muncul, ia terpaksa menghentikan taksi agar tak terlambat ujian di kampus. Tapi tiba-tiba sebuah sedan berhenti di depannya, kacanya turun, dan wajah seorang gadis nongol di situ. Nonik Malika Marten. Ketika itu Aida belum tahu namanya.<br />
“Lo anak Unkris kan?”<br />
“Iya.”<br />
“Yuk bareng.” Aida tak lantas naik, ia ragu. “Mau ngampus kan?” Aida mengangguk. “Gue juga. Yuk!” Nadanya setengah memaksa. Aida masuk ke mobil yang kemudian melaju ke satu tujuan yang sama. Itulah perkenalan mereka. Nonik berkuliah di fakultas yang sama dengan Aida, Komunikasi. Tetapi jurusannya berbeda. Mereka tak pernah satu kelas. Tapi sejak itu keduanya jadi akrab. Nonik ternyata tinggal di kompleks perumahan orang-orang kaya yang letaknya di depan kampung tempat Aida tinggal. Dia sering melihat Aida yang pulang dengan bis dan berhenti di depan kompleks perumahannya. Diam-diam Nonik berjanji pada diri sendiri, jika ada kesempatan ia akan mengajak Aida berangkat bersama.<br />
<span id="more-805"></span><br />
Rumah Aida kecil, masuk gang. Rumahnya tentu saja sisa-sisa dari perkampungan khas Betawi yang sebenarnya luas, tetapi tandas dijual ke pengembang yang lantas membangun perumahan mewah. Sebuah pagar tinggi membatasi antara kampung dan perumahan. Di satu sudut yang tertutup pohon pisang di pinggiran tembok pembatas itu, ada bagian yang dijebol orang kampung. Gunanya, agar orang kampung punya jalan pintas jika ingin ke jalan raya. Jika tidak begitu, mereka harus berputar, dan itu berarti jauh.<br />
Rumah Nonik besar sekali. Bisa dibilang, rumahnya adalah salah satu yang paling mewah di antara rumah-rumah mewah di kompleks itu. Pagarnya putih, catnya putih, pintu masuknya besar dengan gagang keemasan berukir. Aida teringat dongeng tentang istana yang dihuni putri raja di dalamnya. Nonik adalah putri raja itu. Aida bertanya dalam hati, kapan ia bakal bisa membangun rumah sebesar itu?<br />
Nonik ibarat putri cantik nan baik hati yang tak membeda-bedakan rakyatnya yang jelata. Diajaknya Aida pergi jalan-jalan. Ke Puncak, ke Bandung, ke kelab-kelab malam. Nonik bahkan berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke Malaysia.<br />
“Ke kelab malam aja lo yang bayarin. Mana sanggup gue jalan ke Malaysia.”<br />
“Tenang…lo pokoknya bikin passport aja!” Ujar Nonik. </p>
<p>“Ke kelab malam? Kalian terlibat narkoba?”<br />
Keringat Aida serasa diperas, kakinya tiba-tiba kesemutan, tenggorokannya kering. Petugas polisi itu lalu menyodorkan segelas air. Aida meneguknya sekali. Kerongkongannya terasa menyempit ketika air itu melewatinya. Aida menggeleng, lalu mengangguk, dan menggeleng lagi. Petugas polisi itu menggebrak meja, lantas dengan kasar menyuruh Aida mengingat-ingat: yang benar pernah terlibat narkoba atau tidak?<br />
“Saya tahu Nonik pernah membeli pil di kelab malam. Tapi demi Tuhan, saya tidak pernah mencicipinya.” Meski dalam hati Aida menyesali karena pernah sekali mencoba mengisap ganja yang diselipkan dalam lintingan campuran tembakau. Itu juga setelah Nonik mengejeknya sebagai ‘anak baik-baik’.<br />
Nonik selalu menyebutnya Si Penjaga Moral, jika ia sedang tinggi dengan teman-temannya. Senyatanya, Aida memang pantas disebut demikian. Dialah yang menyingkirkan Nonik jauh-jauh dari teman-teman laki-lakinya jika mereka mulai grepek-grepek Nonik. Dia juga yang mengangkat Nonik jika terkapar tak sadarkan diri di toilet kelab malam setelah muntah-muntah. Aida pun yang memanggilkan taksi dan mengantar Nonik pulang, lalu dengan susah payah menariknya sampai ke tempat tidurnya. Aida menjaga Nonik sedemikian rupa, karena bagi Aida, Nonik adalah gadis kaya yang sedang bingung harus diapakan uangnya yang banyak itu.<br />
Nonik tinggal di rumahnya yang besar itu bersama mamahnya. Saking besarnya, Nonik tak pernah ketahuan pulang-pulang mabuk. Kamarnya berada di sayap kanan rumah, sementara mamahnya di sayap kiri.<br />
“Aida… Aida… lo baik banget sih. Gue udah abis jadi pelacur kali kalo lo enggak ada pas gue teler gini. Lo ngingetin gue ama diri gue yang dulu. Anak baik-baik.” Lalu Noni tepar setelah berceloteh demikian. Ia baru akan terbangun besok sore jika malamnya mabuk seperti itu. Aida sudah terbiasa dengan keadaan Nonik yang seperti itu.<br />
Mamah Nonik adalah perempuan pendiam dengan gaya aristokrat yang cuma mengangguk kecil dengan senyum tertahan jika bertemu Aida. Kata Nonik, mamanya senang ia berteman dengan Aida, sebab Aida perempuan. Ia tak suka melihat Nonik bergaul dengan laki-laki. Ibunya juga kerap mengingatkannya untuk mengunjungi Opa Pierre di rumah atau di rumah sakit, jika kebetulan sedang dirawat. Menurut mamahnya, Nonik harus membuat Opa Pierre senang sebab dia adalah trust fund baby, alias keturunan yang mendapat dana perwalian. Dari situlah kekayaan mereka berasal, meskipun Aida tak pernah tanya apa sebenarnya bisnis Opa Pierre.</p>
<p>“Kamu pernah ketemu dengan Opa Pierre?”<br />
Setelah beberapa kali mamahnya menegur Nonik di depan Aida agar mengunjungi Opa Pierre, akhirnya Nonik pun menurut. Sore itu Aida dan Nonik ke RSCM, di ruang VIP Opa Pierre dirawat. Laki-laki itu berkulit putih, dengan bercak-bercak yang jelas di wajahnya. Rambutnya tinggal beberapa lembar, itu pun cuma di bagian belakang. Sedang di kepala atas, gundul. Tubuh Opa Pierre kegemukan, kata dokter ia harus berdiet. Tapi Opa susah sekali disuruh diet. Dia suka makan makanan enak.<br />
“Hidup kan harus dinikmati, Nik.” Opa Pierre terkekeh. Nonik duduk di sebelahnya sambil memegang tangan Opa Pierre, sementara Aida duduk di sofa, menunggui Nonik kangen-kangenan sama opanya. Aida agak heran, kenapa Nonik ogah-ogahan menjenguk opanya. Padahal kalau sudah bertemu seperti sekarang, keduanya terlihat akrab.<br />
Sekali, Nonik minta maaf karena tidak bisa pulang bareng Aida. Sebagai gantinya, Nonik memberikan uang untuk ongkos taksi yang kemudian ditolak Aida. Katanya, Opa Pierre akan menjemputnya, dan mereka akan makan malam bersama keluarga merayakan Opa Pierre yang dinyatakan sembuh oleh dokter. Laki-laki itu tiba di kampus dengan Mercy hitam mengkilat. Semua mata tertuju ke mobil itu. Kacanya dilapisi film gelap, sehingga tak ada yang tahu siapa di dalamnya jika Opa Pierre tidak keluar. Sopir membukakan pintu belakang, sebuah tongkat muncul duluan, disusul sepasang kaki tua yang gendut dan agak bergetar, kaki Opa Pierre. Nonik menyambut Opa Pierre dengan girang. Diciumnya tangan lelaki tua itu, lalu pipinya dan keningnya yang licin.<br />
“Opa masih ingat Aida kan? Yang waktu itu nemanin Nonik pas ngejenguk Opa.” Opa Pierre mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aida tak yakin laki-laki itu ingat pada dirinya. Pertama, waktu menjenguk Aida cuma kenalan dan tak berbincang apa-apa dengannya. Kedua, Opa Pierre pakai kacamata yang tebalnya satu meter, mana mungkin dia melihat wajah Aida dengan jelas.<br />
Petugas Polisi tiga kali menanyakan kapan lagi Aida bertemu Opa Pierre. Ia mengelilingi Aida. Aroma tubuhnya yang masam, membuat Aida pusing.<br />
“Cuma dua kali itu saya ketemu Opa Pierre, Pak. Sumpah.”</p>
<p>“Kamu dan Nonik jadi ke Malaysia?”<br />
Nonik sudah menyiapkan dua tiket, satu untuknya, satu lagi untuk Aida. Tiket itu dibelinya begitu Nonik selesai sidang gelar S1-nya. Aida sendiri sudah selesai duluan tiga bulan lalu. Ia sengaja menunda wisuda demi bisa wisuda bareng Nonik. Aida juga yang membantu Nonik menyelesaikan skripsinya. Sebenarnya, Aida tak diijinkan pergi oleh Aep, pacarnya. Tapi karena itu adalah bulan terakhir Aida melajang, Aep akhirnya mengijinkannya. Tiga minggu dari hari kepulangan mereka dari Malaysia, Aida dan Aep akan melangsungkan pernikahan.<br />
Aida melewati koridor-koridor bandara dengan mata berbinar sekaligus kikuk. Serasa ada kupu-kupu terbang di dalam perut menggelitiknya penuh keriangan. Itu adalah kali pertama ia naik pesawat. Aida tak pernah menyangka bisa pergi ke luar negeri. Gratis pula. Untuk liburan, bukan untuk bekerja. Ia beruntung sekali bisa berteman baik dengan Nonik. Sesampai di Kuala Lumpur, seorang laki-laki muda menjemput mereka. Tanpa malu-malu, Nonik langsung berhambur menciumi lelaki itu.<br />
“Ichsan.” Demikian lelaki itu memperkenalkan dirinya. Berkulit putih, tampan, dan kelihatan cerdas. Aida harus membuka telinga lebar-lebar jika berbicara dengan Ichsan, sebab meski Bahasa Indonesia masih nyambung dengan orang Malaysia yang berbahasa Melayu, tetapi logat dan beberapa kata berbeda dari Bahasa Indonesia.<br />
Nonik mengajak Aida bersenang-senang. “Anggap aja ini kado kawinan gue buat lo. Tapi bukan buat Aep.” Derai tawa Nonik mengikuti setelah ia mengatakan kalimat itu. Ya, Aep tak mungkin diharapkan untuk mampu membiayai bulan madu. Ia baru lulus kuliah, kerja pun masih dalam masa percobaan, belum diangkat jadi pegawai. Tapi laki-laki itu tulus dan serius menyintai Aida, meski ia kadang menunjukan ketidaksukaan kedekatan Aida dengan Nonik.<br />
Nonik dan Aida berdiam selama enam malam tujuh hari di Kuala Lumpur. Sesiangan mereka jalan-jalan pelesir kota. Malamnya berisitirahat di hotel. Dari total enam malam itu, Nonik cuma tinggal satu malam di kamar hotel mereka. Sisanya, Nonik lebih memilih bobok bareng Ichsan.<br />
“Lo enggak takut hamil?”<br />
“Kalo hamil ya udah…kebetulan. Gue juga pengin punya anak dari Ichsan.” Nonik menjawab ringan.<br />
“Cinta emang buta ya.”<br />
“Cinta enggak buta, Da. Yang buta itu uang!” Derai tawa Nonik terdengar renyah. Aida juga tertawa, meski sebenarnya ia masih mencoba mencerna kalimat Nonik.<br />
Nonik nangis-nangis ketika berpisah di bandara, tak yakin kapan akan bisa bertemu lagi dengan Ichsan. Di pesawat pun, Aida masih berusaha menenangkan Nonik yang belum usai menangisi perpisahannya. Kelihatannya Nonik cinta mati pada Ichsan.</p>
<p>“Kapan terakhir kali kamu ketemu Nonik?”<br />
Hari H pernikahan Aida dan Aep dilangsungkan sederhana. Nonik berdandan dengan kebaya, sebagai sahabat dekat mempelai. Dengan senang Nonik membantu Aida menyediakan apa yang dia butuhkan selama hari pernikahannya. Mulai dari mengambilkan makan dan minum, mencarikan peniti ketika mengenakan baju pengantin, sampai akhirnya ikut beres-beres mengangkut kado dan menyimpankan uang saweran dari tetamu.<br />
Aida baru selesai difoto di kamar penganten bersama Aep ketika Nonik pamit pulang.<br />
“Gue minggu depan mau ke Malaysia, Da. Keliatannya enggak bakal balik lagi ke Jakarta.”<br />
“Hah?! Serius?”<br />
“Gue iri lihat lo sama Aep, berani memulai keluarga baru, meskipun kalian enggak punya apa-apa. Gue juga mau kayak lo.”<br />
“Lo mau kawin? Eh…, nikah sama Ichsan?”<br />
Aida mengangguk mantap, “Nanti gue kirimin lo tiket PP ke Kuala Lumpur kalau tanggal nikah gue udah fix. Tapi jangan bilang-bilang orang ya kalo gue ke Malaysia.” Nonik memeluk Aida dan pergi masih dengan kebaya.<br />
Seperti kebanyakan pengantin baru yang betah berlama-lama di dalam kamar. Aida dan Aep tak segera keluar kamar meski hari telah benderang. Ia baru keluar pukul satu siang, disambut suara-suara kerabat saudaranya yang bersiul-siul menggoda pasca malam pertama. Aida menyiapkan air teh untuk suaminya ketika tanpa sengaja ia mendengar berita di televisi. Kematian tragis seorang gadis dan ibunya di rumahnya, ada 12 tusukan di tubuh Nonik, dan delapan tusukan di tubuh ibunya. Aida seperti kehilangan kekuatan, air teh yang dipegangnya terjatuh. Cangkir itu menjadi keping. Disebutkan rumah Nonik penuh dengan ceceran darah, sebab ia tak langsung mati ketika baru beberapa tusukan, ia sempat menyeret tubuhnya demi melawan mata pisau. Seisi rumah melotot nganga  tak percaya melihat foto Nonik di televisi. Menjelang Maghrib, tiga petugas polisi berpakaian preman mendatangi Aida. Mereka tak memberi kesempatan pada Aida untuk menuntaskan salat Maghrib, dan memaksannya langsung ikut ke kantor untuk diinterogasi.</p>
<p>Aida dilepas keesokan paginya, menjelang Subuh. Aep menunggu semalaman di kantor polisi. Beberapa hari kemudian, mata Aida masih saja lekat ke televisi setiap berita kriminal dimulai. Mereka telah menemukan tersangka utamanya, seorang pejabat komisaris sebuah bank yang diduga adalah suami Nonik dengan inisial PM. Nonik adalah istri keenam dari lelaki itu.<br />
“PM?” Aida tertegun. Sebuah nama muncul begitu saja di kepalanya.  “Pierre Marten? Opa Pierre!”<br />
Aida memang tak pernah mendengar kabar apa-apa lagi dari polisi. Ibarat arsip yang terus tertumpuk, berdebu, lalu terlupakan. Berita kematian Nonik tertelan oleh berita-berita kriminal lain. Aida menata sendiri puzzle kematian sahabatnya. Ada banyak ‘mungkin’ yang muncul di kepala Aida.  Mungkin, ia cuma gadis yang dijual mamahnya ke Opa Pierre sebagai istri ke sekian agar kehidupan mereka bisa sejahtera, lalu mengaku-aku sebagai trust fund baby agar tak dicurigai orang. Nonik tak pernah menyintai Opa Pierre. Mungkin, cinta sejatinya adalah Ichsan, dan dengannya ia ingin menghabiskan sisa hidupnya. Mungkin, Opa Pierre telah mencium rencana Nonik untuk minggat ke Malaysia. Dan mungkin, Opa Pierre benar menyintainya hingga ia terbutakan oleh rasa cemburu. Tapi toh Nonik tak pernah percaya bahwa cinta itu buta.<br />
<em>Cuma uang yang bisa bikin buta.</em></p>
<p>-rk-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Rumah Duka&#8221;: sebuah pembacaan (kurang) seksama</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 13:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[mirza rahadian]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah duka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[by : Mirza Rahadian Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu. Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by : <a href="http://k4cruterz.wordpress.com/2008/09/25/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama/">Mirza Rahadian</a></strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" rel="lightbox[296]"><img class="alignnone size-full wp-image-191" title="Rumah Duka" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" alt="" width="400" height="365" /></a></p>
<p>Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.<br />
<span id="more-296"></span><br />
Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang mungkin telah digunakan oleh ratusan, atau bahkan ribuan, cerpen lainnya yang pernah dibuat. Sebuah tema yang usang, namun masih menyimpan kekuatan yang cukup menghentak. Tema tentang cinta yang mendua, sebuah Perselingkuhan, yang sudah umum terjadi pada hubungan berpasangan. Kekuatan tema ini terletak pada tingkat realitas yang cukup tinggi dan kedekatannya dengan para pembaca, karena hampir setiap pembaca pernah berinteraksi secara langsung ataupun tidak dengan perselingkuhan, baik sebagai korban, pelaku ataupun saksi. Realitas dan kedekatan tadi membuat cerita ini seolah mampu membangkitkan sebuah kenangan dalam kehidupan para pembaca, atau hanya sekedar renungan yang diselingi penghayatan. Pemilihan tema seperti ini memang sangat mudah mengajak pembaca masuk ke dalam cerita, tapi bila penulis kurang waspada, tulisan seperti itu malah akan menjadi seperti sebuah catatan harian yang picis. Untungnya Ratih Kumala adalah seorang penulis yang cukup handal, sehingga tema itu dapat tergali dengan cukup baik dan ditampilkan dengan cara yang unik namun masih terasa wajar. Tidak terlihat usaha untuk membuat cerita ini menjadi sebuah prosa—liris yang mengumbar kata—kata puitis dan simbolisme yang njelimet, tapi cerita ini mampu menampilkan dramatisasi dan pembentukan konflik yang baik, dan emosi cerita ini tersalurkan dengan sangat baik kepada pembaca tanpa terlihat memaksa.</p>
<p>Selain tema dan pengembangan konflik yang digarap dengan baik, cerita ini juga dengan berani menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama dimunculkan adalah sudut pandang dari tokoh Istri, dan yang selanjutnya adalah sudut pandang tokoh wanita yang menjadi selingkuhan. Kedua sudut pandang ini muncul bergantian dan perpindahan sudut pandangnya terjadi dengan halus sehingga pembaca tidak kaget melihat perubahan pola tutur/gaya ujar dari kedua tokoh. Sepanjang pengalaman saya (yang terbilang tidak cukup banyak), cerita semacam ini memiliki resiko untuk membingungkan pembaca, terutama bila perpindahan sudut pandang tadi tidak diperhatikan, seperti misalnya : kedua sudut pandang menggunakan pola tutur/gaya ujar yang sama atau mirip, niscaya para pembaca akan bingung “Siapa yang sedang bertutur? Apakah tokoh A atau tokoh B?”. Selain itu, penggunaan dua sudut pandang (atau lebih) rentan membuat sang penulis kebingungan sendiri. Terutama ketika sang penulis tidak memiliki kerangka acuan yang jelas serta pola penulisan yang baik. Ratih Kumala dengan cerita ini, sekali lagi menunjukkan bahwa beliau mampu mengatasi masalah—masalah tersebut dengan sangat baik. Selain pola tutur/gaya bahasa yang khas dari masing—masing tokoh yang digunakan sudut pandangnya, penggambaran setting dan emosi dari tokoh—tokoh tersebut mampu menjelaskan kepada para pembaca (mungkin sekaligus penulis) tentang perkembangan cerita dari sebuah tokoh secara khusus tanpa sedikit pun merasa bingung.</p>
<p>Demikian hasil pembacaan saya terhadap cerpen Rumah Duka karya Ratih Kumala. Secara keseluruhan, cerita ini bisa menjadi referensi yang cukup baik bagi pembaca yang mencari sebuah cerita realis dengan tema sederhana namun menampilkan sebuah pengembangan konflik dan dramatisasi yang baik. Serta bagi para pembaca yang ingin mempelajari penggunaan lebih dari satu sudut pandang namun masih tetap luwes dan tidak membingungkan, dapat mempertimbangkan untuk membaca secara seksama cerpen ini.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Catatan: Terimakasih Mirza, sudah mengapresiasi cerpen ini :) /-rk-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Foto Ibu&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 03:51:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php</guid>
		<description><![CDATA[Ilustrasi oleh Wiediantoro Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img id="image148" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/foto_ibu.jpg" alt="foto_ibu.jpg" /><br />
<small>Ilustrasi oleh Wiediantoro</small></center><br />
Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.<br />
<span id="more-147"></span><br />
Ibu pernah muda. Itulah kesimpulan yang kutarik ketika kami membuka-buka kembali album foto lama keluarga. Ia pernah menjadi gadis yang baru berkembang. Meski sekarang Ibu melarangku memakai celana pendek (terutama jika bepergian), toh kutemukan selembar foto Ibu sedang bergaya mengenakan celana pendek yang sekarang populer dengan sebuatan ”hot pants”. Ketika itu, usianya sekitar 13 tahun. Tipikal foto zaman itu, bagian tepinya dipotong dengan cara yang khas, seperti diukir. Kenapa foto-foto sekarang tidak dipotong demikian, ya? Aku tak pernah mendengar cerita Ibu punya pacar ketika berusia ABG (anak baru gede). Aku ingat ketika duduk di bangku SMP, Ibu marah-marah padaku saat seorang teman laki-lakiku mulai rutin menelepon ke rumah. Tentu saja, temanku itu naksir aku. Meski tidak naksir dia, aku tetap menerima teleponnya baik-baik. Ibu mulai rajin angkat telepon. Jika itu ditujukan untukku, Ibu kerap berkata bahwa aku sedang tidur atau sedang belajar. Jika pun disampaikan padaku, Ibu akan menginterogasinya terlebih dahulu. Ibu mulai menghapal suara teman-temanku.</p>
<p>”Ini foto waktu aku sudah lulus kuliah dan mau cari kerja,” komentar Ibu pada selembar foto hitam putih. Di foto itu, rambut Ibu kelihatan tinggi oleh sebab mengenakan wig. Menurut Ibu, pas foto zaman sekarang terlalu kaku. Semua melihat ke arah kamera. Jika kau terlalu menunduk, jidatmu yang lebar akan terlihat semakin jembar. Sedang jika terlalu mendongak, maka bibirmu kelihatan tambah maju. Belum lagi baju yang harus berkerah, semakin menambah kesan kaku. Ibu berfoto demikian baru ketika akan menikah. KUA mengharuskan foto model kaku begitu. Lalu setelah menikah, disusul pas foto kaku lainnya yang sengaja diambil secara massal berbarengan dengan ibu-ibu Dharma Wanita kelompoknya. Tentu saja latar yang dipergunakan berwarna merah, dengan seragam Dharma Wanita berkelir pink keungu-unguan.</p>
<p>”Zaman dulu, semua pas foto lamaran kerja berupa ’profil’ yang kupingnya harus kelihatan dan difoto menyamping,” jelas Ibu. Memang kelihatan lebih anggun.</p>
<p>”Zaman sekarang, kalau aku melamar kerja dengan foto model begitu, pasti tidak diterima. Bisa-bisa disangka genit pula kirim foto model gitu,” ujarku.</p>
<p>Ibu ingin aku menjadi pegawai negeri, ”Lebih bagus lagi kalau bisa kerja di bank!” ujar Ibu ketika aku baru lulus kuliah. Sejujurnya, aku tak tertarik bekerja di bank meski ada uang pensiun. Bapakku bekerja di bank. Dulu, ibuku sering bilang, ”Siapa tahu nanti bapakmu bisa memasukkanmu ke bank ini atau ke bank itu.”</p>
<p>Suatu hari aku mengantarkan Ibu pergi ke bank untuk mengambil uang (ketika itu ATM belum trend), teller-nya cantik-cantik dengan make-up tebal, seragam necis, ruang kerja ber-AC. Nasabah bergantian dilayani. Tiba-tiba aku melihat mereka mirip robot yang sudah diprogram; caranya memberi salam, melayani, tersenyum, sampai mengucapkan terima kasih. Aku keluar bank dan mendapati diriku muntah-muntah demi melihat itu semua. Sejak itulah aku bersumpah tak mau kerja di bank. Tapi Ibu punya cerita lain lagi soal bank:</p>
<p>”Waktu aku kecil,” Ibu memulai ceritanya, ”Kakekmu itu kerjanya pedagang. Kalau lagi ramai, kami sekeluarga jadi kaya. Tapi kalau lagi sepi, kami bisa kelaparan. Suatu hari, ketika kami sedang kelaparan, aku melihat ada pegawai bank yang makan bakso yang mangkal di depan kantornya. Mereka bisa mengambil sendiri bakso yang mau dibeli. Sejak itu, cita-citaku ingin kerja di bank atau punya suami pegawai bank.” Dan, ternyata Tuhan mengabulkan doa-doa ibuku (ngomong-ngomong cerita ini kerap diulang-ulang dituturkan padaku).</p>
<p>Kami membuka-buka kembali album foto yang berserakan. Aneh, begitu banyak gambar Ibu, tetapi kesemua seolah hanya bercerita tentang satu cerita. Jika dipikir-pikir, ibuku itu sebetulnya hobi difoto. Ada banyak gambar dengan kostum yang berbeda-beda. Entah itu sedang duduk di depan kaca, sambil memegang bunga, mengenakan pashmina, duduk di bangku taman, berdiri di dekat sebuah mobil (yang zaman itu) mewah, dan lain-lain. Aku jadi geli sendiri. Bahkan aku pun tidak se-banci-kamera itu. Terakhir aku niat difoto dengan mimik cantik dan pakaian anggun adalah setelah Ibu berhasil memasukkanku untuk kursus pengembangan kepribadian. Menurut Ibu, anak gadis satu-satunya ini terlalu tomboy, kursus itu dianggapnya mampu menyelamatkan masa depanku.</p>
<p>Foto pernikahan Ibu yang dicetak besar hanya ada satu, yaitu ketika difoto bersama orangtua dan mertuanya (kakek dan nenekku). Ibu dan bapakku berpakaian adat Jawa, lengkap dengan paes dan blangkonnya. Mereka menikah dengan pakaian adat Yogyakarta. Konde Ibu kempis. Mungkin zaman itu belum musim pengantin dihairspray. Di foto ini, Ibu dan bapakku kelihatan serius dan agak tegang.</p>
<p>”Dulu sebelum bapakmu, pacar Ibu pilot.” Kuingat Ibu pernah bercerita demikian. Dulu…, dulu sekali, waktu aku masih SD. Lalu aku membayangkan punya bapak yang bisa menerbangkan pesawat. Pasti keren.</p>
<p>”Kok tidak menikah sama yang itu saja, Bu?” tanyaku waktu itu.</p>
<p>”Dia meninggal, pesawatnya kecelakaan,” ujar Ibu. Seraya gambar pesawat di kepalaku terlihat njebluk ke tanah. ”Lagi pula, kalau Ibu menikah sama dia, kamu tidak bakalan lahir,” sambung Ibu.</p>
<p>Aku tak pernah menanyakan lagi pada Ibu tentang pacarnya yang dulu. Yang kutahu kemudian, Ibu cukup bahagia hidup dengan bapakku. Ada aku dan adik-adikku yang meramaikan hidup mereka. Aku tak pernah membaca kesusahan di wajah Ibu, tak pula membaca kegirangan yang teramat sangat. Hidup ibuku berjalan seperti seharusnya kehidupan seorang perempuan; sekolah, menikah satu kali, membesarkan anak, mengurus rumah, menjahit, menanam bunga, sementara suaminya bekerja.</p>
<p>Gagal menikah dengan pilot, cintanya tertambat pada seorang pegawai bank. Baginya, kerja di bank berarti kemapanan; ada gaji tetap, ada tunjangan untuk keluarga, ada uang pensiun. Singkatnya, kehidupan terjamin.</p>
<p>Ibuku selalu bilang bahwa seorang istri membawa rezeki sendiri-sendiri bagi suaminya. Setelah menikah dengan Ibu, karier bapakku terbukti menanjak. Mereka memulai hidup dari nol. Hingga kemudian bisa beli tanah, beli mobil, bikin rumah yang bagus. Konon, sampai-sampai kakekku ketika berkunjung ke rumah baru mereka bergumam begini, ”Masya’allah…, anakku bisa bikin rumah sebesar ini!” Tapi aku lalu menemukan kenyataan lain; teman sekolahku, bapaknya kerja jadi tukang becak. Jelas-jelas itu bukan karier yang menanjak. Aku bertanya-tanya, apa dulunya sebelum orangtua temanku menikah, bapaknya itu pengangguran? Sehingga jadi tukang becak saja berarti sudah merupakan kenaikan pangkat. Hingga suatu hari aku membuka-buka sebuah majalah tua, sebuah artikel menarik perhatianku; ’Letak Tahi Lalat dan Artinya’. Aku menemukan satu rahasia! Ibuku punya semacam tahi lalat di ujung jemarinya, tepatnya di salah satu jari manis tangannya. Konon, perempuan dengan tahi lalat di posisi ini, membawa rezeki untuk suaminya! Tiba-tiba aku jatuh kasihan, ibunya temanku pasti tidak punya tahi lalat di ujung jarinya….</p>
<p>Kubandingkan foto-fotoku dengan foto-foto ibuku. Ada gambar aku cemberut, tertawa keras-keras, bergaya ala rapper, sampai foto aku menangis gara-gara rebutan bantal kesayangan dengan adikku. Foto-foto Ibu, tak ada satu pun yang berekspresi berlebihan. Wajahnya selalu dengan senyum tertahan yang tak genap menjadi sunggingan. Ibu bahkan sangat jarang memperlihatkan geliginya di foto. Mimiknya selalu tenang. Ia tahu sudut mana dari wajahnya yang paling apik ketika difoto. Rambutnya pun tak pernah tak rapi. Berbeda denganku, yang bersisir pun malas. Bahkan ada fotoku yang baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan. (Taruhan, ibuku pasti tak akan mau difoto ketika bangun tidur). Ibu selalu menganggapku terlalu emosional, mungkin Ibu benar. Buktinya, lihat saja foto-fotoku. Mulai dari menutup pintu yang menurutnya terlalu keras (aku selalu menganggap ini bukan salahku, melainkan salah pintunya yang susah dibuka-tutup), berjalan dengan langkah yang terlalu tergesa, hingga memencet mesin ketik dengan keras sehingga menimbulkan bunyi berisik (dan menurutku ini pun salah mesin ketiknya yang terlalu keras untuk dipencet). Ketika aku marah akan suatu hal yang mengesalkan, ibuku mengingatkan bahwa berdoa lebih baik ketika sedang merasa teraniaya. Sebab Tuhan akan menjamin doamu terkabul. Tentu ini lebih baik ketimbang marah-marah tak jelas juntrungannya. Ketika aku sedang senang dan tertawa cekikian dengan teman-teman pun, Ibu tak alpa mengingatkan, ”Jangan terlalu girang!” Sebab bisa saja setan lewat dan mengubah segala kesenangan jadi musibah.</p>
<p>Aku tak pernah mengingat Ibu menangis, tidak sebelum kejadian itu; ketika foto seorang anak ditemukan di dalam dompet Bapak. Ketika itu, aku sudah tahu…, dan Ibu pun sebetulnya tahu…, tapi tak ada dari kami yang berani mengutarakannya. Toh Ibu masih berusaha berpikiran baik perihal kemungkinan-kemungkinan foto seorang anak yang ketinggalan dan dipungut bapakku di pinggir jalan. Ia tak menanyakan langsung pada Bapak. Hingga detik ia tak mampu lagi menahannya; aku bersembunyi di ruang sebelah sambil memasang kuping lebar-lebar. Ibu menangis sambil membanting pot kembang plastik yang tak pecah. Bapak mengaku; foto itu adalah anak Bapak dari perempuan lain. Sementara setelah kejadian itu aku mengeluarkan segala sumpah serapah kebun binatangku pada Bapak, sedang ibuku cuma bilang, ”Bapakmu…, aroma surga pun tak akan pernah diciumnya!” Itu kalimat paling kasar yang pernah diucapkannya. Ibuku terdiam lagi ketika pembantu kami mengelap air dan menyelamatkan nyawa tanaman hias yang tumpah dari pot kembang.</p>
<p>Ibuku, seperti foto-fotonya, tahu sisi mana yang paling apik yang harus diperlihatkan kepada orang lain. Kepadaku. Meski itu berarti ia harus menahan diri. Aku tahu Bu, sesekali kau ingin girang menari. Maka, izinkanlah jarum bertinta itu bermain di kulitku, kau boleh berdansa di punggunggku.***</p>
<p>Dimuat di <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/01/01224884/foto.ibu"><em>KOMPAS</em> | Minggu, 1 Juni 2008</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

