1

Pengetahuan Dasar Kepenulisan

Saya adalah orang yang lumayan sering bikin typo. Itu saya mengaku sejujur-jujurnya. Di beberapa buku, typo saya pun ada yang masih miss, alias terlanjur kena cetak. Di buku yang terbaru, Bastian dan Jamur Ajaib, meskipun saya sudah memproofreadnya, sekarang saya tetap berdoa semoga minim typo. Ya, typo itu kesalahan karena mungkin jari mengetik lebih cepat daripada bayangan sendiri. Selain karena saya juga ada sedikit disleksia. Buat saya, itu belum haram hukumnya, tapi makruh. Tapi, untuk penggunaan tanda baca, saya merasa ini hukumnya haram kalau bikin kesalahan.

Hari ini, di ruang Scipt Editor (SE) kantor saya, teman-teman SE membahas tanda baca. Pasalnya, kami menerima satu skenario dengan tanda baca amburadul. Karakter yang seharusnya kalem, dialognya semua diakhir dengan tanda seru (!). Tak tanggung-tanggung, tanda seru itu bukan cuma satu, melaikan tiga bahkan ada yang empat di satu kalimat. Salah satu SE pun bilang, “gue males pake penulis ini lagi!”

Continue reading