1

Pengetahuan Dasar Kepenulisan

Saya adalah orang yang lumayan sering bikin typo. Itu saya mengaku sejujur-jujurnya. Di beberapa buku, typo saya pun ada yang masih miss, alias terlanjur kena cetak. Di buku yang terbaru, Bastian dan Jamur Ajaib, meskipun saya sudah memproofreadnya, sekarang saya tetap berdoa semoga minim typo. Ya, typo itu kesalahan karena mungkin jari mengetik lebih cepat daripada bayangan sendiri. Selain karena saya juga ada sedikit disleksia. Buat saya, itu belum haram hukumnya, tapi makruh. Tapi, untuk penggunaan tanda baca, saya merasa ini hukumnya haram kalau bikin kesalahan.

Hari ini, di ruang Scipt Editor (SE) kantor saya, teman-teman SE membahas tanda baca. Pasalnya, kami menerima satu skenario dengan tanda baca amburadul. Karakter yang seharusnya kalem, dialognya semua diakhir dengan tanda seru (!). Tak tanggung-tanggung, tanda seru itu bukan cuma satu, melaikan tiga bahkan ada yang empat di satu kalimat. Salah satu SE pun bilang, “gue males pake penulis ini lagi!”

Continue reading

Undangan Launching Gadis Kretek

Gadis Kretek | sebuah novel Ratih Kumala | Gramedia Pustaka Utama | 2012

Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang Ayah. Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.

Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?
Continue reading

3

Gadis Kretek, Sebuah Novel yang Mulai Mewujud

Bulan Februari 2012 ini saya begitu bersemangat, sebab saya “naik kelas” lagi. Memang sudah sejak Oktober 2011 novel ini selesai, setelah lebih dari tiga tahun saya berjuang di tengah kesibukan untuk melahirkannya. Ini novel terlama yang pernah saya tulis, dan saya sangat menikmati menuliskannya. Saya mengambil waktu sebanyak apapun yang saya butuhkan, baik untuk riset, menata plot, menata ulang lagi, menuliskannya, menjalih, riset lagi, menuliskannya lagi, dan menjalinnya lagi, begitu terus. Editor saya, mbak Mirna (Gramedia Pustaka Utama) memilih pak Iksaka Banu untuk mendesain kover dan ilustrasi bagian dalam.
Continue reading

17

Kronik Betawi, sebuah novel

Kronik Betawi

Kronik Betawi

“Untuk almarhum papahku, Haris Fadillah, dan Jakarta, kota kelahiranku. Dua nama yang telah membesarkanku.”

Kronik Betawi terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Fiksi ini saya tulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian saya kembangkan menjadi novel. Hari ini, tanggal 22 Mei 2009, saya menerima POD sebagai contoh fisik buku yang akan terbit dari Mbak Mirna, editor saya di GPU.

Bagi saya, novel ini menguak memori masa kecil. Saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya di Pondok Gede. Saya tinggal di lingkungan yang kental dengan budaya Betawi, di mana Bokir, Mandra (yang waktu itu masih miskin) sehari-hari bertemu dengan saya. Saya juga kerap menonton cucu-cucu Pak Haji Bokir berlatih di sanggar mereka saat malam minggu tiba.

Ketika novel ini terbit sebagai cerber di Republika pada tanggal 8 Agustus 2008, tengah malam hari tanggal 9 Agustus 2009, papah saya dipanggil Yang Kuasa. Ia belum sempat melihat karya saya yang teranyar. Untuk itulah novel ini saya persembahkan untuk Papah.

Continue reading