May 22
rkKronik Betawi betawi, novel, ratih kumala

Kronik Betawi
“Untuk almarhum papahku, Haris Fadillah, dan Jakarta, kota kelahiranku. Dua nama yang telah membesarkanku.”
Kronik Betawi terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Fiksi ini saya tulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian saya kembangkan menjadi novel. Hari ini, tanggal 22 Mei 2009, saya menerima POD sebagai contoh fisik buku yang akan terbit dari Mbak Mirna, editor saya di GPU.
Bagi saya, novel ini menguak memori masa kecil. Saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya di Pondok Gede. Saya tinggal di lingkungan yang kental dengan budaya Betawi, di mana Bokir, Mandra (yang waktu itu masih miskin) sehari-hari bertemu dengan saya. Saya juga kerap menonton cucu-cucu Pak Haji Bokir berlatih di sanggar mereka saat malam minggu tiba.
Ketika novel ini terbit sebagai cerber di Republika pada tanggal 8 Agustus 2008, tengah malam hari tanggal 9 Agustus 2009, papah saya dipanggil Yang Kuasa. Ia belum sempat melihat karya saya yang teranyar. Untuk itulah novel ini saya persembahkan untuk Papah.
More
Jan 12
rkArsip Media bioskop indonesia, Jakarta Globe, Jalan Sesama, Kronik Betawi, ratih kumala, Sesame Street, TransTV

Photo by Dalih Sembiring
Ratih Kumala is a Jakartan, first by birth and then by marriage. Born in the city 28 years ago, the writer-cum-editor moved to Palembang, South Sumatra Province, when she was in the fifth grade. She lived there for three years before her family took her to Solo, Central Java Province, where she eventually married writer Eka Kurniawan in 2006. Just one week after the wedding, Ratih followed her husband to the Big Durian.
What was it like to return to your birthplace?
I was shocked to see how much Jakarta had changed, especially the traffic. Let’s just say I’m glad my job doesn’t start at 9 a.m.
More
Sep 26
rkReview, Short Stories cerpen, mirza rahadian, ratih kumala, resensi, rumah duka
by : Mirza Rahadian

Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.
More
Jul 29
rkGallery Eka Kurniawan, juno, ratih kumala

Ini gambar fotoku yang dibikin gaya gambar film “Juno”. Dibikin oleh Eka.
Jul 07
rkShort Stories cerita pendek, duka, kompas, ratih kumala, rumah
Kompas | Minggu, 6 Juli 2008

Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.
Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.
”Tolong…, hormati keluarga kami yang sedang berduka,” desisku. Ia menghentikan langkah, menatapku sebentar, lantas berbalik dan berlalu. Mungkin sambil menangis.
More
Older Entries