<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; ratih kumala</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/tag/ratih-kumala/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 13:24:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Gangguan Kejiawaan Tokoh Ibu dalam &#8220;Genesis&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 08:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Genesis]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Genesis adalah salah satu novel yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra. Novel karya Ratih Kumala ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh ibu (ibu dari Pawestri sebagai tokoh utamanya) yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Novel Genesis bercerita tentang seorang gadis bernama Pawestri, yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum menikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga, sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh <a href="http://irmadanifitri.wordpress.com/2010/10/10/gangguan-kejiwaan-tokoh-ibu-dalam-genesis/">Irma Dani Fitri</a></strong></p>
<p>Secara umum psikologi berarti ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia, sedangkan sastra adalah karya seni yang merupakan ekspresi kehidupan manusia. Menurut Atar Semi Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Semi juga berpendapat bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.</p>
<p>Genesis adalah salah satu novel yang dapat dianalisis melalui pendekatan psikologi sastra. Novel karya Ratih Kumala ini menampilkan salah satu tokoh yang mengalami gangguan kejiwaan, yaitu tokoh ibu (ibu dari Pawestri sebagai tokoh utamanya) yang diceritakan terganggu kesehatan jiwanya. Novel Genesis bercerita tentang seorang gadis bernama Pawestri, yang dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat dalam agama. Pada usia 19 tahun ia terpikat dan jatuh cinta dengan seorang pemuda yang kemudian menghamilinya sebelum menikah dan pergi meninggalkannya begitu saja. Kenyataan ini menjadi semacam petir yang menghantam keluarga, sebuah aib yang sungguh tak dapat diterima. Problem kehamilannya tanpa suami membuat Pawestri dikutuk oleh ayahnya. Ia tidak diakui lagi sebagai anak, diusir dari rumah, dan dianggap tidak pernah ada dalam keluarga. Sementara ibunya yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Namun kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan,yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Luka karena kehilangan dan tekanan-tekanan suami membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah Pawestri ada. Akhirnya ia dibawa ke Rumah Sakit jiwa.<br />
<span id="more-645"></span><br />
Gangguan kejiwaan yang di alami tokoh ibu adalah depresi dan skizofrenia, kemudian tokoh ibu mengalami halusinasi. Penyimpangan pada perilaku tokoh Ibu disebabkan oleh kehilangan seorang anak dan akibat tekanan batin yang di alaminya. Ia tak waras lagi dan setiap hari bertingkah laku aneh, berlaku seolah-olah anaknya Pawestri yang sudah lama meninggalkan rumah, ada didekatnya.<br />
Psikoanalisis Sigmund Freud sebagai suatu pendekatan dapat pula digunakan dalam kaitannya dengan sebuah karya sastra. Utamanya dalam usaha memasuki karakter tokoh-tokoh yang terdapat di dalam suatu karya sastra, psikoanalisis menyentuh unsur dasar dari alam pikir manusia. Pendekatan ini berusaha memahami karya sastra sebagai sebuah kreasi yang tidak dapat dilepaskan dari aspek psikologis. Sigmund Freud adalah tokoh pertama yang menyelidiki kehidupan jiwa manusia berdasarkan pada hakikat ketidaksadaran. Menurut Freud, peran yang sangat penting dipegang oleh ‘yang tak sadar’ tersebut karena semua proses psikis bersumber pada ‘yang tak sadar’.</p>
<p>Pemikiran Freud dalam teori psikologi kepribadiannya mencoba memotret manusia baik dari fisik maupun psikisnya. Dalam teori psikologi kepribadian, Freud membagi struktur kepribadian menjadi tiga unsur, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah dorongan-dorongan primitif yang harus dipuaskan. Dengan demikian id merupakan kenyataan subjektif primer, dunia batin sebelum individu memiliki pengalaman tentang dunia luar. Ego adalah kepribadian implementatif yang berupa kontak dengan dunia luar. Ego bertugas untuk mengontrol id. Sedangkan superego adalah sistem kepribadian yang berisi nilai-nilai aturan yang bersifat evaluatif (menyangkut baik/buruk). Superego berisi kata hati yang merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional, karena itu superego dapat dianggap sebagai aspek moral dari kepribadian manusia.</p>
<p>Apabila terdapat keseimbangan yang wajar dan stabil dari ketiga unsur (id, ego, dan superego), maka akan diperoleh struktur kepribadian yang wajar dan biasa. Namun, apabila terjadi ketidakseimbangan antara ketiga unsur tersebut, maka akan diperoleh kepribadian yang tidak wajar dan akan muncul neurosis yang menghendaki penyaluran.</p>
<p>Dalam novel Genesis menunjukkan bahwa tidak ada keseimbangan antara id, ego dan superego yang dialami tokoh Ibu. Pendorong id bertentangan dengan kekuatan pengekang superego. Penyimpangan kejiwaan yang di alami tokoh ibu adalah depresi dan skizofrenia, kemudian tokoh ibu mengalami halusinasi. Penyimpangan pada perilaku tokoh Ibu disebabkan oleh kehilangan seorang anak dan akibat tekanan batin yang di alaminya. Depresi biasanya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan biasanya seseorang mengalami depresi akibat suatu kejadian dramatis yang baru saja terjadi atau menimpanya, misalnya kematian atau kehilangan seseorang yang sangat dicintai.</p>
<p>Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada penderita dengan gangguan jiwa, Halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Kualitas dari persepsi itu dirasakan oleh penderita sangat jelas dan berasal dari luar ruang nyatanya. Contoh dari fenomena ini adalah di mana seseorang mengalami gangguan penglihatan, di mana dia merasa melihat suatu objek, namun indera penglihatan orang lain tidak dapat menangkap objek yang sama.</p>
<p>Dalam novel Genesis halusinasi yang dialami tokoh ibu tampak pada dialog berikut yang dikutip dari novel; Semua berjalan lancar-lancar saja seperti siang sebelumnya sehingga ibu tiba-tiba berkata kepada piring Westri yang masih utuh dengan makanan tak tersentuh; makanmu kok cuma segitu, nambah ya Wes? Dan ibu mengambilkan lagi secentong nasi serta lauk perkedelnya. Setelah itu ibu kembali sibuk dengan makanannya sendiri. (Kumala. 2005: 98). Dialognya yang lain; Kadang ibu berteriak marah pada dirimu. Memperingatimu agar jangan bermain gunting, jangan dekat-dekat kompor, jangan keluar terlalu sore sebab tak baik bagi anak perempuan. Seingatku, ibu bahkan tidak pernah menasehatimu sebegitu rupa saat kau masih benar-benar ada di rumah ini. (Kumala. 2005: 105).</p>
<p>Depresi yang berkepanjangan membuat seseorang rentan mengalami neurosis. Sigmund Freud berpendapat bahwa sumber dari neurosis adalah konflik batin. Neurosis dapat diartikan sebagai suatu gangguan kejiwaan yang mempunyai akar psikologis dengan tujuan menghindari atau mengurangi rasa cemas. Timbulnya neurosis pada kejiwaan manusia disebabkan oleh kesalahan penyesuaian secara emosional karena tidak dapat diselesaikannya konflik tak sadar. Penderita neurosis mengalami kecemasan karena adanya konflik yang tidak dapat diatasi secara benar dan akan muncul sesuai dengan tipe kepribadian seseorang. Tokoh ibu dalam novel ini diceritakan sebagai seorang yang tunduk pada otoritas suami hanya dapat diam menahan pedih, tak dapat berbuat apa-apa dengan sikap keras suaminya. Kenyataan bahwa anaknya hamil sebelum menikah menjadi aib yang tidak dapat diterima, membuat Pawestri diusir oleh ayahnya. Kepergian Pawestri perlahan membuat ibunya merasa kehilangan, yang semakin hari semakin menjadi-jadi sehingga membuat ibu Pawestri mulai terganggu kesehatan jiwanya.</p>
<p>Schizofhrenia merupakan penyakit otak yang sanggup merusak dan menghancurkan emosi. Selain karena faktor genetik, penyakit ini juga bisa muncul akibat tekanan tinggi di sekelilingnya. Ada dua gejala yang menyertai schizofrenia yakni gejala negatif dan gejala positif. Gejala negatif berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya, seperti mengurung diri di kamar, melamun, dan sebagainya. Sementara gejala positif adalah tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak.</p>
<p>Dilihat dari gejalanya tokoh ibu mengalami skizofrenia negatif, yaitu berupa tindakan yang tidak membawa dampak merugikan bagi lingkungannya, seperti mengurung diri di kamar, melamun, dan sebagainya. Seperti yang terlihat dalam kutipan novel tersebut; Kadang jika kucari di mana pun ibu tidak menyahut, itu berarti ibu sedang menangis di kamarnya. Kudekati dan kutanya kenapa. Tapi jawabannya selalu sama; menggeleng sambil menyebutkan nama Pawestri. (Kumala. 2005: 91). Selanjutnya; Akhir-akhir ini ibu jadi lebih sedih. Rindunya pada Pawestri mulai tidak dapat dibendung. Di antara ketakutannya pada bapak, ibu mulai menciptakan dramanya sendiri. (Kumala. 2005: 93)</p>
<p>Selain itu, tokoh ibu dalam novel ini diceritakan tidak hanya mengalami gejala skizofrenia negatif, tetapi juga mengalami gejala skizofrenia positif yakni adanya tindakan yang mulai membawa dampak bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak. Bahkan tokoh ibu tidak mengenali lagi wajah anaknya (Pawestri) yang datang mengunjunginya di Rumah Sakit Jiwa. Hal ini terlihat dari kutipan novel berikut yang dipaparkan pada bagian awal cerita; “suster, aku telah menelantarkan anakku. Aku tak berani membantah suamiku yang menganggap anak perempuanku yang nomor satu tidak ada.” (Kumala. 2005: 5). Kemudian gejala skizofrenia positif tersebut jelas terlihat dari kutipan novel berikut; ”PERGI! PERGI! PERGI!” Ibu mulai histeris. Teriak-teriak. Dia mulai menggeleng-geleng kepala keras-keras lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri. Perawat dating, membawanya dengan paksa. “PERGI! SEKARANG ADALAH SAATNYA MAKAN SIANG BERSAMA DENGAN ANAKKU! PERGI! JANGAN GANGGU AKU LAGI! PERGI! PERGI!” (Kumala. 2005: 6)</p>
<p>Freud dalam psikoanalisanya menekankan bahwa asal mula timbulnya kekacauan-kekacauan watak, sumber sakit syaraf, terletak lebih-lebih dalam hubungan-hubungan ‘aku’ sebagai obyek dan subyek dengan orang lain. Pendekatan psikologi sastra bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas peristiwa kehidupan manusia. Manusia selalu memperlihatkan perilaku beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Psikoanalisis sebagai suatu pendekatan dapat pula digunakan dalam kaitannya dengan sebuah karya sastra. Utamanya dalam usaha memasuki karakter tokoh-tokoh yang terdapat di dalam suatu karya sastra, psikoanalisis menyentuh unsur dasar dari alam pikir manusia. Demikianlah analisis psikologi sastra dalam novel Genesis karya Ratih Kumala. Dari analisis diatas dapat disimpulkan bahwa psikologi sastra adalah suatu disiplin ilmu yang memandang karya sastra sebagai suatu karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner.</p>
<p><em>Penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia Unand.<br />
Sudah pernah dipublikasikan di Koran Singgalang, Minggu 13 Juni 2010.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gangguan-kejiawaan-tokoh-ibu-dalam-genesis-645.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kronik Betawi, sebuah novel</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/kronik-betawi-sebuah-novel-3-398.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/kronik-betawi-sebuah-novel-3-398.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 10:24:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[betawi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Untuk almarhum papahku, Haris Fadillah, dan Jakarta, kota kelahiranku. Dua nama yang telah membesarkanku.&#8221; Kronik Betawi terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Fiksi ini saya tulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian saya kembangkan menjadi novel. Hari ini, tanggal 22 Mei 2009, saya menerima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_399" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-399" title="kronik4" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/kronik4-300x225.jpg" alt="Kronik Betawi" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Kronik Betawi</p></div>
<blockquote><p><em><strong>&#8220;Untuk almarhum papahku, Haris Fadillah, dan Jakarta, kota kelahiranku. Dua nama yang telah membesarkanku.&#8221;</strong></em></p></blockquote>
<p><em><strong>Kronik Betawi</strong></em> terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Fiksi ini saya tulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian saya kembangkan menjadi novel. Hari ini, tanggal 22 Mei 2009, saya menerima POD sebagai contoh fisik buku yang akan terbit dari Mbak Mirna, editor saya di GPU.</p>
<p>Bagi saya, novel ini menguak memori masa kecil. Saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya di Pondok Gede. Saya tinggal di lingkungan yang kental dengan budaya Betawi, di mana Bokir, Mandra (yang waktu itu masih miskin) sehari-hari bertemu dengan saya. Saya juga kerap menonton cucu-cucu Pak Haji Bokir berlatih di sanggar mereka saat malam minggu tiba.</p>
<p>Ketika novel ini terbit sebagai cerber di Republika pada tanggal 8 Agustus 2008, tengah malam hari tanggal 9 Agustus 2009, papah saya dipanggil Yang Kuasa. Ia belum sempat melihat karya saya yang teranyar. Untuk itulah novel ini saya persembahkan untuk Papah.</p>
<p><span id="more-398"></span></p>
<p><strong>Sinopsis <em>Kronik Betawi</em></strong></p>
<p>&#8220;Coba dulu babeh gue ngajarin mantra Jiung yang dipake buat nyelametin orang-orang waktu tentara Jepang ngejarah, pasti tanah gue sekarang masih utuh&#8230; bisa selamet dari orang-orang yang pada ngegusur!&#8221; <em>-Ha</em><em>ji Jaelani, pengusaha sapi perah baru kena gusur-</em></p>
<p>&#8220;Kira-kira kapan ye, pertunjukan lenong dibayar seratus juga sekali manggung?&#8221; <em>-Haji Jarkasi, pernah berguru pada Haji Bokir-</em></p>
<p>&#8220;Emang orang Betawi itu tukang kawin ye? Aye kagak setuju kalo ini dibilang tradisi!&#8221; <em>-Juleha, belum hajjah-</em></p>
<p>Kebanyakan  orang Jakarta sekarang pada kurang paham, kalau Menteng itu nama buah, Bintao itu nama pohon dan Kebon Jeruk, memang dulu di sana ada hamparan tanaman yang benar-benar jeruk buahnya. Para pendatang agaknya hanya kenal nama-nama itu sebagai kawasan gedongan. Lalu, benarkah yang namanya peradaban itu berarti membangun banyak gedung? Dalam <em>Kronik Betawi</em>, Ratih Kumala bercerita tentang perjalanan Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi ibukota tercinta ini. Ternyata, yang hilang tidak cuma tanaman-tanaman itu -yang menyisakan nama- tetapi sejarahnya pun juga ikut terkubur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/kronik-betawi-sebuah-novel-3-398.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Jakarta (Interview@JakartaGlobe)</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/my-jakarta-interviewjakartaglobe-344.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/my-jakarta-interviewjakartaglobe-344.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 09:10:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[bioskop indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Globe]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Sesama]]></category>
		<category><![CDATA[Kronik Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Sesame Street]]></category>
		<category><![CDATA[TransTV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Ratih Kumala is a Jakartan, first by birth and then by marriage. Born in the city 28 years ago, the writer-cum-editor moved to Palembang, South Sumatra Province, when she was in the fifth grade. She lived there for three years before her family took her to Solo, Central Java Province, where she eventually married writer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_349" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ratih-jakartaglobe.jpg" alt="Photo by Dalih Sembiring" title="ratih-jakartaglobe" width="500" height="371" class="size-full wp-image-349" /><p class="wp-caption-text">Photo by Dalih Sembiring</p></div>
<p><em>Ratih Kumala is a Jakartan, first by birth and then by marriage. Born in the city 28 years ago, the writer-cum-editor moved to Palembang, South Sumatra Province, when she was in the fifth grade. She lived there for three years before her family took her to Solo, Central Java Province, where she eventually married writer Eka Kurniawan in 2006. Just one week after the wedding, Ratih followed her husband to the Big Durian.</em></p>
<p><strong>What was it like to return to your birthplace?</strong></p>
<p>I was shocked to see how much Jakarta had changed, especially the traffic. Let’s just say I’m glad my job doesn’t start at 9 a.m.<br />
<span id="more-344"></span><br />
<strong>What do you do?</strong></p>
<p>Right now I’m a script editor for Bioskop Indonesia, an Indonesian-films-made-for-TV program on Trans TV. I used to be a freelance scriptwriter for Jalan Sesama, the Indonesian adaptation of Sesame Street, and then someone told me that Trans TV was looking for a full-time script editor. I’ve been doing it for three months now.</p>
<p><strong>Has Jakarta changed your personality?</strong></p>
<p>Not that I know of, but when I meet my friends in Solo [Central Java], they say that since I’ve lived in Jakarta, I always seem to be in a rush, that I have become impatient. There, life goes by the saying: Alon-alon waton kelakon [slowly but surely]. Here, my life revolves around deadlines.</p>
<p><strong>How does Jakarta affect your writing?</strong></p>
<p>I think reading materials are the things that affect the way authors write. Wherever you live, your writing style will evolve over time because of what you read. However, Jakarta favors writers that are market-oriented. There is a bigger chance here than anywhere else in the country that you will be influenced to think about what readers want and what the publishing industry is looking for — what really sells.</p>
<p>Jakarta forces you to be realistic. That’s also what I feel as a script editor. My team and I have to weigh up the viewers’ expectations, the producers’ money and the quality of the film altogether.</p>
<p><strong>Were you thinking about the market when you wrote your last novel?</strong></p>
<p>No. “Kronik Betawi” [Batavia Chronicles, published in Republika newspaper as a series] was inspired by my father’s side of the family, which is Betawi [native of Jakarta]. Moving to other regions sort of deprived me of my Betawi roots, but I feel like a Betawi whenever I gather with them here. I put parts of my childhood, my admiration for Benyamin Sueb [a late Betawi artist] and bits and pieces of Betawi culture into the novel. “Kronik” shows how the Betawi people like to get married several times, how they feel strongly about their culture and Islam and how they gradually became marginalized.</p>
<p><strong>What is your Betawi family like?</strong></p>
<p>Just like any other family, except louder! Betawi families also are religious. I was raised in a devout Muslim family. My grandfather was a mosque preacher, and my family used to run a Koran reading group in the village.</p>
<p><strong>What is the greatest thing about Jakarta for you as a writer?</strong></p>
<p>The cafes! Many cafes here offer great atmosphere for writing. There didn’t used to be any cafes in Solo, but during my last visit I saw several.</p>
<p><strong>Where is the best cafe to write in Jakarta?</strong></p>
<p>Bakoel Coffee in Cikini. It’s quiet, especially on the second floor. It has wireless Internet connection and it’s close to the [arts and literary] scene of Taman Ismail Marzuki, which is basically my territory.</p>
<p><strong>Will you stay here for good?</strong></p>
<p>Someday, when my husband and I feel that we can no longer progress, that we have grown too comfortable with life in this city, we will move somewhere else.</p>
<p><em>Ratih Kumala was talking<br />
to Dalih Sembiring</em><br />
Source: <a href="http://thejakartaglobe.com/news/city/article/5745.html">Jakarta Globe</a>, 11 January 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/my-jakarta-interviewjakartaglobe-344.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Rumah Duka&#8221;: sebuah pembacaan (kurang) seksama</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 13:24:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[mirza rahadian]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah duka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[by : Mirza Rahadian Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu. Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by : <a href="http://k4cruterz.wordpress.com/2008/09/25/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama/">Mirza Rahadian</a></strong></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" rel="lightbox[296]"><img class="alignnone size-full wp-image-191" title="Rumah Duka" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" alt="" width="400" height="365" /></a></p>
<p>Bila cinta memiliki wajah, maka cerpen Ratih Kumala menunjukkan kecantikan cinta yang tidak umum. Sebentuk cantik yang wajar dan tidak berlebihan, yang hanya bisa dilihat cantik bila kita mampu melihat apa yang tersembunyi di balik wajah itu.<br />
<span id="more-296"></span><br />
Cerpen Ratih Kumala berjudul Rumah Duka (Kompas, edisi 7 Juni 2008) mengambil tema yang mungkin telah digunakan oleh ratusan, atau bahkan ribuan, cerpen lainnya yang pernah dibuat. Sebuah tema yang usang, namun masih menyimpan kekuatan yang cukup menghentak. Tema tentang cinta yang mendua, sebuah Perselingkuhan, yang sudah umum terjadi pada hubungan berpasangan. Kekuatan tema ini terletak pada tingkat realitas yang cukup tinggi dan kedekatannya dengan para pembaca, karena hampir setiap pembaca pernah berinteraksi secara langsung ataupun tidak dengan perselingkuhan, baik sebagai korban, pelaku ataupun saksi. Realitas dan kedekatan tadi membuat cerita ini seolah mampu membangkitkan sebuah kenangan dalam kehidupan para pembaca, atau hanya sekedar renungan yang diselingi penghayatan. Pemilihan tema seperti ini memang sangat mudah mengajak pembaca masuk ke dalam cerita, tapi bila penulis kurang waspada, tulisan seperti itu malah akan menjadi seperti sebuah catatan harian yang picis. Untungnya Ratih Kumala adalah seorang penulis yang cukup handal, sehingga tema itu dapat tergali dengan cukup baik dan ditampilkan dengan cara yang unik namun masih terasa wajar. Tidak terlihat usaha untuk membuat cerita ini menjadi sebuah prosa—liris yang mengumbar kata—kata puitis dan simbolisme yang njelimet, tapi cerita ini mampu menampilkan dramatisasi dan pembentukan konflik yang baik, dan emosi cerita ini tersalurkan dengan sangat baik kepada pembaca tanpa terlihat memaksa.</p>
<p>Selain tema dan pengembangan konflik yang digarap dengan baik, cerita ini juga dengan berani menggunakan dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama dimunculkan adalah sudut pandang dari tokoh Istri, dan yang selanjutnya adalah sudut pandang tokoh wanita yang menjadi selingkuhan. Kedua sudut pandang ini muncul bergantian dan perpindahan sudut pandangnya terjadi dengan halus sehingga pembaca tidak kaget melihat perubahan pola tutur/gaya ujar dari kedua tokoh. Sepanjang pengalaman saya (yang terbilang tidak cukup banyak), cerita semacam ini memiliki resiko untuk membingungkan pembaca, terutama bila perpindahan sudut pandang tadi tidak diperhatikan, seperti misalnya : kedua sudut pandang menggunakan pola tutur/gaya ujar yang sama atau mirip, niscaya para pembaca akan bingung “Siapa yang sedang bertutur? Apakah tokoh A atau tokoh B?”. Selain itu, penggunaan dua sudut pandang (atau lebih) rentan membuat sang penulis kebingungan sendiri. Terutama ketika sang penulis tidak memiliki kerangka acuan yang jelas serta pola penulisan yang baik. Ratih Kumala dengan cerita ini, sekali lagi menunjukkan bahwa beliau mampu mengatasi masalah—masalah tersebut dengan sangat baik. Selain pola tutur/gaya bahasa yang khas dari masing—masing tokoh yang digunakan sudut pandangnya, penggambaran setting dan emosi dari tokoh—tokoh tersebut mampu menjelaskan kepada para pembaca (mungkin sekaligus penulis) tentang perkembangan cerita dari sebuah tokoh secara khusus tanpa sedikit pun merasa bingung.</p>
<p>Demikian hasil pembacaan saya terhadap cerpen Rumah Duka karya Ratih Kumala. Secara keseluruhan, cerita ini bisa menjadi referensi yang cukup baik bagi pembaca yang mencari sebuah cerita realis dengan tema sederhana namun menampilkan sebuah pengembangan konflik dan dramatisasi yang baik. Serta bagi para pembaca yang ingin mempelajari penggunaan lebih dari satu sudut pandang namun masih tetap luwes dan tidak membingungkan, dapat mempertimbangkan untuk membaca secara seksama cerpen ini.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Catatan: Terimakasih Mirza, sudah mengapresiasi cerpen ini :) /-rk-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-sebuah-pembacaan-kurang-seksama-296.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambarku a-la &#8220;Juno&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gambarku-a-la-juno-201.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gambarku-a-la-juno-201.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 19:56:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[juno]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Ini gambar fotoku yang dibikin gaya gambar film &#8220;Juno&#8221;. Dibikin oleh Eka.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ratih_juno.jpg" rel="lightbox[201]"><img class="aligncenter size-full wp-image-202" title="ratih_juno" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ratih_juno.jpg" alt="" width="400" height="400"/></a></p>
<p>Ini gambar fotoku yang dibikin gaya gambar film &#8220;Juno&#8221;. Dibikin oleh <a href="http://ekakurniawan.com">Eka</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gambarku-a-la-juno-201.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Rumah Duka&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 13:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[duka]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Kompas &#124; Minggu, 6 Juli 2008 Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/06/01400565/rumah.duka">Kompas | Minggu, 6 Juli 2008</a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" rel="lightbox[190]"><img class="alignnone size-full wp-image-191" title="Rumah Duka" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rumahduka.jpg" alt="" width="400" height="365" /></a></p>
<p>Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.</p>
<p>Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.</p>
<p>”Tolong…, hormati keluarga kami yang sedang berduka,” desisku. Ia menghentikan langkah, menatapku sebentar, lantas berbalik dan berlalu. Mungkin sambil menangis.<br />
<span id="more-190"></span><br />
Kami segera mengurus segala hal untuk kremasi. Rumah duka kami booking. Rangkaian bunga duka cita dari kolega-kolega suamiku mulai berdatangan. Hari ini, mayatnya dirias, sebelum diistirahatkan. Tujuh belas tahun! Tujuh belas tahun! Perempuan itu mencuri tujuh belas tahun dari tiga puluh empat tahun pernikahan kami. Aku mengumpat sambil memilih jas terbaik untuk suamiku. Aku selalu tahu, suamiku suka mencicipi banyak perempuan. Seperti kesukaannya mencicip makanan di banyak restauran (kami tak punya restauran favorit keluarga, acara makan malam di luar rumah selalu berpindah lokasi). Aku tahu, dan diam-diam aku tak keberatan, dengan syarat; perempuan-perempuan itu tetap sebagai ’makanan’ dan bukan sebagai ’anjing’. Ya, sebab jika sudah menjadi ’anjing’, berarti dia dipelihara. Kadang jika ketahuan baru ’jajan’, aku akan marah-marah. Tapi toh, diam-diam aku tak keberatan, selama jajanan tak dibawa ke rumah. Aku punya alasan sendiri untuk ini. Ia biasa beralasan tugas di luar kota, atau pulang pagi karena lembur, dan sampai di kamar ini, tanpa melepaskan kemejanya ia langsung tidur mendekap guling mirip udang. Tapi ia tetap milikku, pulang ke padaku. Hingga si jalang itu datang ke kehidupan kami. Penyanyi kafe jazz bersuara berat, berusia pertengahan dua puluh, berkulit agak gelap, dan (tentu saja) lebih langsing dariku. Aku mengobrak-abrik lemari, mencari sebuah dasi sebagai pelengkap pakaian suamiku. Ada banyak dasi, tapi yang kumaksud belum juga ketemu. Dasi yang kubelikan di Singapura.</p>
<p>Suamiku sejak kecil berlatih saksofon. Ada masa ia ingin menjadi seorang musisi, tetapi orangtuanya tak setuju. Ia mengubur impiannya. Menahan saksofon untuk sekadar hobi. Kupandangi kotak saksofon yang ditinggal empunyanya. Kubuka, warnanya masih mengkilat. Beberapa hari sebelum masuk rumah sakit, suamiku sempat membersihkan saksofon ini. Kini ia teronggok bisu di dalam kotak. Jazz adalah musik sejati suamiku. Aku pun penyuka musik, tapi sungguh… sampai ajal suamiku, aku tetap tak bisa menikmati jazz. Aku lebih suka pop dengan nada-nada slow. Musik-musik orang kebanyakan. Musik yang bisa dinikmati semua orang. Musik yang tidak eksklusif. Perhatianku teralih ke lemari lagi, masih mencari dasi yang kumaksud. Mungkin, awalnya perempuan itu hanya ’makanan’, tapi ia makanan yang diramu oleh chef yang andal, jadilah suamiku ketagihan. Lama kelamaan, ’makanan’ itu menjelma jadi ’anjing’ peliharaan. Entah kenapa, aku jadi malah membongkar seisi lemari, bahkan lemari bagian pakaianku pun isinya sudah bertebaran di lantai kamar kami.</p>
<p>Ranjang di kamarku serasa hangat, seperti tuntas ditiduri sosok manusia malam itu. Malam ketika Bim meninggal dunia. Dari pukul sembilan aku berusaha memejamkan mata, tapi tak bisa. Sudah satu minggu Bim masuk rumah sakit, dan aku (tentu saja) tak bisa menengoknya. Siapalah aku, orang luar perusuh rumah tangga orang. Meski aku cinta setinggi langit sedalam lautan, itu tak mengubah apa pun. Apalagi statusku.</p>
<p>Tujuh belas tahun lalu, Bim muncul dalam hidupku. Saat malam-malam aku masih menyanyi di sebuah kafe jazz. Dia datang bersama sekelompok teman. Salah satu dari mereka diperkenalkan sebagai istrinya, yang naga-naganya tak terlalu menikmati musik jazz. Tapi Bim kulihat sangat menghayati lagu-lagu yang kami suguhkan. Lalu, ketika ben kami istirahat sejenak, dan panggung kosong, Bim tiba-tiba maju. Dengan percaya diri ia mengeluarkan saksofon milik pribadi dan meminta ijin untuk memainkannya. Smoke Gets in Your Eyes mengalun. Aku yang tadinya hendak mengistirahatkan suara, jadi tertarik untuk bernyanyi dengan iringan tiupan saksofon Bim. Aku langsung menyambar mikrofon. Pengunjung kafe bersorak dengan penampilan kami.</p>
<p>Bim mulai jadi pengunjung setia kafe jazz. Awalnya, masih bergerombol dengan teman-temannya (kadang pula dengan istri). Lama kelamaan, teman yang ikut makin sedikit, dan akhirnya, ia lebih sering datang sendiri. Setelah ketujuh kalinya datang solo, ia menunggu hingga kafe tutup jam dua pagi. Lantas menawariku untuk diantar pulang. Ketika itu, aku sudah sangat tahu bahwa ia kerap datang hanya untuk melihatku. Kami tak langsung pulang, ia menawariku makan tengah malam. Satu-satunya tempat makan yang masih buka jam segitu, yang nyaman untuk ngobrol, adalah restauran di hotel berbintang. Kami berbincang tentang musik. Dari situ aku tahu, ia adalah pengagum Louis Armstrong. Betapa selera kami sama, dan itu adalah pemantik. Sebab hari itu berakhir dengan check-in.</p>
<p>”Istrimu…, apa dia tidak mencarimu?”</p>
<p>”Dia tahu, aku sering kerja sampai pagi.”</p>
<p>Jam lima pagi, kami check-out. Ia mengantarku pulang ke kos. Aku melanjutkan tidur dalam damai. Seks yang hebat, pikirku, habis ini ia tak akan pernah muncul lagi karena yang diinginkan sudah ia dapat. Tak pernah terpikir, bahwa malam itu hanya awal dari tujuh belas tahun hubungan kami berikutnya. Hingga ia diambil Tuhan.</p>
<p>Aku terbiasa tidur dengan ranjang yang dingin. Ia pulang ke tempat istrinya, dan hanya datang kalau sedang alasan tugas ke luar kota. Atau mampir ketika waktu makan siang. Tak sekadar untuk sex after lunch, lebih dari itu… ia bahkan datang hanya untuk makan masakanku. Ya, kami kucing-kucingan macam ini. Tapi malam itu, malam ketika ia diambil Tuhan, ranjangku hangat. Aku bisa mencium odornya di bantal, di selimut, di guling. Ia selalu tidur mirip keluwing, dengan guling didekap erat. Bahkan aku bisa merasakan aroma sisa percintaan kami. Kupandangi parfumnya di meja riasku, dan selembar celana pendeknya yang tergantung di pintu. Sedikit barang yang sengaja ditinggalkannya di sini. Aku tahu ia di rumah sakit mana, meski aku tak pernah mengunjunginya. Aku harus menemuinya! Harus!</p>
<p>Aku tak pernah menyangka bahwa suamiku akan mati terlebih dahulu. Gagal ginjal sudah lama mengancamku di sudut jalan dengan belatinya. Aku selalu bersiap ia menggorok leherku, dan mencongkel nyawaku. Bertahun-tahun aku harus menjalani cuci darah. Bertahun-tahun pula aku mencari donor ginjal. Meski kedua anakku menawarkan satu ginjal mereka untukku, aku tak mau menerimanya. Lebih baik aku cuci darah seumur hidup, ketimbang menerima ginjal itu. Sebab itu berarti aku merampas masa depan mereka. Tak sia-sia, aku menemukan ginjal di India. Malah suamiku yang tiba-tiba anfal. Maut memang suka bergurau dengan hidup. Inilah kenapa, aku diam-diam tak keberatan suamiku ’jajan’.</p>
<p>Rumah duka mulai penuh. Aku tak berhasil menemukan dasi yang kumaksud. Ia terlihat tampan dengan setelan jas Armani miliknya. Ah, harusnya kuminta ia dipakaikan kaos panjang model turtle neck saja. Dipadu dengan jas ini, tentu keren dan lebih terlihat muda. Kenapa pula aku harus memilih kemeja, kalau dasi yang kumaksud tak ketemu.</p>
<p>Perempuan itu, si jalang itu… aku tahu, ketika lama aku dirawat di rumah sakit, atau berobat ke luar negeri, pasti suamiku pergi ke rumahnya. Pembantuku yang lapor. Katanya, ”selama Nyonya pergi, Tuan juga tidak pulang.” Anak-anak lebih menjaga perasaanku, tak mau mengadukan perihal macam ini. Hal yang menyebabkan aku sedih</p>
<p>Aku tahu, suamiku masih sayang padaku. Cinta mungkin sudah tidak. Tapi sayang, masih. Dia terlihat sedih ketika lama aku sakit. Kadang membawakan makanan yang kusuka. Aku tak memakannya, karena dokter melarangku. Toh, aku cukup senang dengan perhatiannya. Maka ketika pembantuku lapor demikian, meski marah (dan sejatinya aku tak punya kekuatan untuk marah), diam-diam aku bersyukur; ada orang lain yang mengurus suamiku, melayaninya dengan baik. Bahkan bisa diajaknya perempuan itu bertukar pikiran tentang jazz yang tak pernah kupahami. Kupikir, masakkah perempuan itu cuma mau mengeruk harta suamiku? Sebab jika ya, tak mungkin usia hubungan mereka sampai belasan tahun.</p>
<p>Sehari setelah suamiku meninggal, aku baru bisa memahami air mataku. Bahwa ia mengalir untuk ’bapak dari anak-anakku’ yang kini jadi yatim (meski semua telah dewasa dan mandiri), dan bukan mengalir untuk ’suamiku’. Senyatanya aku tak merasa sekehilangan itu. Sebab meski aku memilikinya, aku tak pernah benar-benar bisa menggenggamnya. Lihat saja daftar perempuannya. Mungkin juga aku bukan istri yang baik, jika ya, tentu ia tak akan ’jajan’ di luar. Bahkan diam-diam memelihara ’anjing’.</p>
<p>Aku pernah menemui perempuan itu. Meminta dia untuk tak mengganggu rumah tangga kami. Untuk sejenak, memang suamiku kelihatan lebih banyak di rumah. Sehabis ngantor, langsung pulang. Tapi itu tak bertahan lama. Meski aku tak melihat dengan mata kepala sendiri, tapi aku tahu makin dekat. Malah kemudian, aku juga tahu suamiku diam-diam membelikannya rumah dan mobil. Ketika aku mencoba mencarinya di kafe jazz, hendak melabrak dengan murka, mereka bilang dia sudah tak bekerja di situ lagi.</p>
<p>Aku tak berhasil menemui kekasihku malam itu, malam ketika Bim dipanggil Tuhan. Aku pulang dengan hati kosong, menangis di ranjang kosong yang sudah berubah dingin. Kupeluk guling Bim, mencari sisa aroma tubuhnya di situ. Ah…, Bim… apa kau tak tahu, aku lebih kehilangan dirimu ketimbang istrimu itu? Kau milikku yang tak pernah benar-benar kugenggam. Sial kau! Gara-gara kau, aku melewati usia pernikahanku! Gara-gara kau juga, aku menahan diri untuk tidak hamil. Aku tak mau memberimu masalah, sebab kau bilang, jika aku hamil berarti itu masalah. Gara-gara kau, aku sekarang kesepian. Sial kau, Bim! Terkutuklah kau di neraka jahanam sana!</p>
<p>Aku pernah menuntut Bim untuk memilih, antara aku dan istrinya. Ia selalu bilang, tak akan menceraikan istrinya, sebab agamanya melarang. Mengajarinya untuk menikah satu kali, dan hanya sekali. Tak boleh bercerai. Aku pun tak mau dijadikan istri kedua, meski agamaku memperbolehkan poligami.</p>
<p>”Kan bisa pembatalan pernikahan!” protesku.</p>
<p>”Prosesnya tak gampang. Tahunan.” Alasannya. Biarpun tahunan, akan kutunggu kau! Toh Bim tak pernah mengajukan pembatalan pernikahan. Menurutku, bukan agama yang menjadi alasannya. Ia masih cinta. Ya, ia masih cinta perempuan itu. Ini terlihat jelas ketika istrinya sakit keras. Kata Bim, seminggu dua kali istrinya musti cuci darah. Aku sempat mengangankan, sebentar lagi kami akan jadi suami-istri. Sebentar lagi perempuan itu game over. Tapi aku keliru.</p>
<p>Meski ketika perempuan itu berobat ke luar negeri Bim tinggal di tempatku, toh ia tak berhenti membicarakan istrinya. Kenangan mereka, awal-awal pernikahan mereka dan bagaimana mereka berjuang bersama dari nol (yang tak pernah kualami), serta ketakutan karena istrinya sekarat. Aku cemburu. Sangat cemburu. Terlebih ketika tema musik jazz tak lagi menarik baginya. Lalu suatu hari, ketika telah dua minggu Bim tinggal di rumahku selama istrinya berobat, dan aku mulai merasa ia milikku sepenuhnya, tanpa harus pulang ke rumah sana, Bim menerima telepon. Ia girang bukan kepalang, dengan semangat ia bilang padaku, ”ginjalnya dapat! Ginjalnya dapat!” lalu diciumnya pipiku, saking gembiranya. Diam-diam aku menyumpah, aku marah pada Tuhan. Kenapa Ia mempermainkan perasaanku. Impian-impianku, rasa nyaman adanya Bim di rumahku, tercerabut kasar. Aku sadar lagi; Bim belum jadi milikku, dan memang tak pernah jadi milikku.</p>
<p>Obituari Bim muncul di koran pagi ini, memberitahuku ia disemayamkan di rumah duka mana. Dia masih kekasihku, meski sudah tak bernyawa. Dan aku merasa, meski tak satu hal mampu mengubah keadaan apa pun—apalagi statusku—aku tetap mencintai Bim. Setinggi langit sedalam lautan. Aku akan menyetir pelan-pelan, sambil mengisi penuh tangki keberanianku. Aku harus menemui Bim, memberinya penghormatan terakhir sebelum dia dibakar jadi abu.</p>
<p>Ia datang lagi, perempuan jalang itu. Pasti ia baca obituari di koran. Ini resikonya. Ia jadi tahu. Beberapa orang memandangi kedatangannya, beberapa berbisik-bisik. Tentu mereka tahu siapa perempuan itu dan bagaimana statusnya. Ia mendekatiku. Apa ia tak sadar, aku bisa jadi harimau yang tiba-tiba menerkam anjing buduk.</p>
<p>”Maaf, ini dasi kesayangan Bim. Mungkin dia mau memakainya.”</p>
<p>”….” Kupandangi dasi yang dilipat rapi itu. Dasi yang dua hari terakhir ini kucari-cari. Tak terpikir bahwa suamiku akan menyimpan di rumahnya. Tentu ada barang lainnya di sana. Barang-barang pribadi suamiku yang tiba-tiba hilang. Aku mengerti sekarang, rumah perempuan itu, bagi suamiku adalah rumahnya juga. Atau mungkin aku sudah tahu, tapi coba mengelak. Kuterima dasi itu.</p>
<p>”Bolehkan saya…,”</p>
<p>”Silakan.” Potongku.</p>
<p>”Terima kasih.”</p>
<p>Entah kenapa, aku seraya lega. Meski kulihat perempuan itu mencium suamiku. Suamiku yang semakin tampan dengan dasi ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/rumah-duka-190.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Young writers test the limits of teenlit</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/young-writers-test-the-limits-of-teenlit-172.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/young-writers-test-the-limits-of-teenlit-172.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 12:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[chiklit]]></category>
		<category><![CDATA[daniel rose]]></category>
		<category><![CDATA[dealova]]></category>
		<category><![CDATA[dyan nuranindya]]></category>
		<category><![CDATA[fadil timorindo]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta post]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[martin aleida]]></category>
		<category><![CDATA[novel pop]]></category>
		<category><![CDATA[penulis muda]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[Tabula Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[teen]]></category>
		<category><![CDATA[teenlit]]></category>
		<category><![CDATA[the jakarta post]]></category>
		<category><![CDATA[writers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Daniel Rose, Contributor, Jakarta &#124; The Jakarta Post, 05/11/2008 A man who works in marketing and rarely reads fiction said that whenever he heard the word &#8220;writer&#8221;, the first thing that crossed his mind was eccentricity. His definition of &#8220;eccentricity&#8221; is introverted and quiet on one hand; extroverted and rebellious on the other. In short, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><a href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/05/11/young-writers-test-limits-teenlit.html">Daniel Rose, Contributor, Jakarta |  The Jakarta Post, 05/11/2008</a></h3>
<div id="attachment_173" class="wp-caption alignleft" style="width: 409px"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/sp08-ee-1img_assist_custom.jpg" rel="lightbox[172]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/sp08-ee-1img_assist_custom.jpg" alt="DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)" title="DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)" width="399" height="267" class="size-full wp-image-173" /></a><p class="wp-caption-text">DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)</p></div>
<p>A man who works in marketing and rarely reads fiction said that whenever he heard the word &#8220;writer&#8221;, the first thing that crossed his mind was eccentricity.</p>
<p>His definition of &#8220;eccentricity&#8221; is introverted and quiet on one hand; extroverted and rebellious on the other. In short, he thinks writers are a strange breed. Where did he get this idea? &#8220;The Hours and Finding Forrester,&#8221; he answered.</p>
<p>Three young writers sat in the waiting room of Gramedia Pustaka Utama (GPU) publishing company one afternoon &#8211; two girls and a guy. The girls, Ratih Kumala and Dyan Nuranindya, were wearing T-shirts, and the guy, Fadil Timorindo, wore a washed-out jacket and skinny jeans. There was nothing eccentric about their appearance.<br />
<span id="more-172"></span><br />
&#8220;Maybe age has something to do with it. Younger writers like me or Ucu Agustin tend to be more relaxed, even though we write serious stuff,&#8221; Ratih Kumala, 27, said. &#8220;I grew up in Solo, and older writers there believe in finding inspiration from within, but I prefer to hang out with all sorts of people,&#8221; she added. Ratih&#8217;s novel, Tabula Rasa (Grasindo, 2004), won third place in Dewan Kesenian Jakarta&#8217;s Novel Competition 2003.</p>
<p>But the-man-who-works-in-marketing-and-rarely-reads-fiction is not alone. Fadil Timorindo, whose hairdo resurrects Hilman Hariwijaya&#8217;s famous fiction character Lupus, sees literary fiction writers as a group of brainy yet mysterious people.</p>
<div id="attachment_174" class="wp-caption alignright" style="width: 410px"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/sp08-dd-1.jpg" rel="lightbox[172]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/sp08-dd-1.jpg" alt="RATIH KUMALA: (JP/R. Berto Wedhatama)" title="RATIH KUMALA: (JP/R. Berto Wedhatama)" width="400" height="400" class="size-full wp-image-174" /></a><p class="wp-caption-text">RATIH KUMALA: (JP/R. Berto Wedhatama)</p></div>
<p>&#8220;High literature works are beautiful, so I guess the writers need to dig deep into themselves to find ways to express that beauty.&#8221;</p>
<p>Fadil, 18, the author of the recently published teenlit Let&#8217;s Party (GPU), is one of the few males who write in this genre.</p>
<p>Let&#8217;s depart Jakarta for a moment and go to Surabaya to meet another young writer. Stefani Hid, 22, has three published novels under her belt. Dealing with heavy subjects like existentialism, depression, obsession with death, and absurdity, Stefani is a pretty laid back person in real life. &#8220;I write to get my problems out of my head. I mold anything that is clamoring inside it into sentences. It&#8217;s a good form of therapy,&#8221; she said.</p>
<p>Subjects like existentialism and depression sound cool, indeed, but our young writers, especially those of pop novel fame, are aware that young readers are especially fond of love stories. Stephanie Zen, 20, another Surabaya-based writer, has written four novels that deal with this theme. &#8220;Believe it or not, three of my novels tell love stories in a musical setting: band groups. The other one is about a girl who falls in love with a badminton player.&#8221;</p>
<p>Dyan Nuranindya&#8217;s best-selling novel Dealova (GPU, 2004) is also about love between young people.</p>
<div id="attachment_175" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/sp08-aa-1img_assist_custom.jpg" rel="lightbox[172]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/sp08-aa-1img_assist_custom.jpg" alt="The teenlit section of Gramedia bookstore contains novels by young emerging writers. (JP/R. Berto Wedhatama)" title="The teenlit section of Gramedia bookstore" width="300" height="200" class="size-full wp-image-175" /></a><p class="wp-caption-text">The teenlit section of Gramedia bookstore contains novels by young emerging writers. (JP/R. Berto Wedhatama)</p></div>
<p>&#8220;Tabula Rasa in many places deals with romance in general: relationships between males and females, between a young person and an older person, and between lesbians,&#8221; Ratih, who has been married to prolific writer Eka Kurniawan for two years, said.</p>
<p>Do these young writers dare to go further and speak of the unspeakable theme in their works, considering how some, if not most, Indonesians react to the word &#8220;sex&#8221;?</p>
<p>&#8220;Yeah, my novels have some sexual content. In a talk show in Depok, one man who claimed to be a teacher said my works were a threat to the morality of the nation&#8217;s youth. So I told him that was not the message,&#8221; Stefani, who started writing at the age of 16, said. &#8220;Besides, people should no longer turn away from this kind of topic, especially not young people.&#8221;</p>
<div id="attachment_176" class="wp-caption alignright" style="width: 254px"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fadil.jpg" rel="lightbox[172]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/fadil.jpg" alt="FADIL TIMORINDO: (JP/R. Berto Wedhatama)" title="FADIL TIMORINDO: (JP/R. Berto Wedhatama)" width="244" height="362" class="size-full wp-image-176" /></a><p class="wp-caption-text">FADIL TIMORINDO: (JP/R. Berto Wedhatama)</p></div>
<p>All of these authors either have their latest drafts ready for publication or ideas waiting to be developed into writing. For now, they are content to walk into a store and see their books displayed on its shelves, although they do have bigger goals.</p>
<p>Dyan, who has seen her work turned into a movie, dreams of having her own production house or recording company.</p>
<p>&#8220;I have many dreams, but I would like to help people with idealism but are afraid that they cannot sell. I have a musician friend who used to convey political messages in his lyrics, until one day he decided to give up and started writing mellow songs. It&#8217;s sad, really,&#8221; said Dyan, who would also like to write fairy tales.</p>
<p>Fadil, who studies advertising, thinks that he cannot make a living out of writing alone. &#8220;So, I&#8217;m hoping to work in an advertising agency one day.&#8221;</p>
<p>&#8220;Seeing your books brought to life on the big screen does sound exciting, but what would really be an achievement is to have them translated and distributed overseas,&#8221; Ratih, who has also been developing scripts for Jalan Sesama, the Indonesian version of Sesame Street, said. &#8220;But, actually, I just want to write, and write and write.&#8221;</p>
<p><small><strong>Foto-foto:</strong><br />
1. DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)<br />
2. RATIH KUMALA: (JP/R. Berto Wedhatama)<br />
3. The teenlit section of Gramedia bookstore contains novels by young emerging writers. (JP/R. Berto Wedhatama)<br />
4. FADIL TIMORINDO: (JP/R. Berto Wedhatama)</small></p>
<p><small> </small></p>
<p><small> </small></p>
<p> </p>
<p><small>Related News:</small></p>
<h2><strong>When pop culture meets literary fiction</strong></h2>
<p><strong><a href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/05/11/when-pop-culture-meets-literary-fiction.html">Daniel Rose</a></strong><a href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/05/11/when-pop-culture-meets-literary-fiction.html">, 	 Contributor,  The Jakarta Post  |  Sun, 05/11/2008</a></p>
<p>Meet Dyan Nuranindya, the 22-year-old writer who started Dealova fever when she wrote about a beautiful young girl who likes to play basketball and has to choose between loves.</p>
<p>Sounds like typical teen-themed writing, you might say, but Dyan’s first published work turned out to be a tremendous success.</p>
<p>“The first draft was written when I was in junior high, but none of my friends wanted to read it. I finally found someone who said she would take a look, but days later I found the draft lying on a cafeteria table, smeared with ketchup and soup,” Dyan said with a big laugh.</p>
<div id="attachment_177" class="wp-caption alignleft" style="width: 410px"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/sp08-bb-1.jpg" rel="lightbox[172]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/sp08-bb-1.jpg" alt="Teenlit books are reflections of the worlds of young people today. (JP/J. Adiguna)" title="sp08-bb-1" width="400" height="267" class="size-full wp-image-177" /></a><p class="wp-caption-text">Teenlit books are reflections of the worlds of young people today. (JP/J. Adiguna)</p></div>
<p>After rewriting the draft and sending it off to a publisher,Dealova landed on bookstore shelves in 2004. The book was adapted into a motion picture in 2005 and has been reprinted 14 times, setting a new trend in Indonesia’s publishing industry: teenlit.</p>
<p>“Teen literature is very easy to sell,” Hetih, an editor at Gramedia Pustaka Utama, said. “We print 7,000 copies per title, distribute them, and 3,000 copies ought to sell in a few months.</p>
<p>A teenlit work may have a very simple storyline, but if teenagers like it, they won’t stop talking about it. When the demand continues to rise, the book can be reprinted any number of times.”</p>
<p>The profit element has undoubtedly attracted more and more writers into the pop publishing business — teenlit, chicklit, metropop etc.</p>
<p>So what is it like for young adults who channel their idealism and energy into writing literary fiction?</p>
<p>“On one hand, it saddens me that these commercial novels get a larger appreciation than works of literature do,” Ratih Kumala, 27, the author of two novels and one short story anthology, said.</p>
<p>“On the other hand, I am also happy that so many young writers today are not afraid to express their ideas.”</p>
<p>Ratih, who describes herself as a full-time writer, does not deny the possibility of writing a commercial work one day.</p>
<p>“It is more about proving that I can write in that genre. But if that book is going to get me a lot of money anyway, I’d have to say, ‘Hey, why not!’”</p>
<p>Like Ratih, Calvin Michel Sidjaja, 22, also thinks there’s nothing wrong with writing pop fiction. “If I were to write popular fiction, however, I would make sure it wasn’t full of clich*s. Some Indonesian pop novels are blander than others,” he said via online chat. Calvin’s novel, Juktaposisi, won third place in the Jakarta Arts Council’s Novel Competition 2006, and was published last year.</p>
<p>Ratih, Calvin, and other young literary fiction writers agree that it takes special skills to write a good pop novel. Dina Oktaviani, a 22-year-old poet-slash-writer, said that any story had the potential to be an inspirational piece of work, even a pop story, but not all writers had the ability to explore that potential.</p>
<p>“Literary writers think that writing pop fiction means selling out, because many pop novelists here do just that, producing trashy books,” she added.</p>
<p>One young writer is not reluctant, however, to incorporate pop references into her serious novel.</p>
<p>“My book is about teen life, I’m a teenager, and most of the people who read my book are teenagers, so what I wrote must be a teenlit,” Farida Susanty, 17, said.</p>
<p>“But unlike most teenlit works, I chose to reveal the dark side of teenage life. I want people to understand that teenagers have that side too, and to be able to care rather than blaming them for everything they do wrong.” For her unusual depiction of teenage life in Dan Hujan Pun Berhenti (And the Rain Too Stops), Farida was awarded the 2007 Khatulistiwa Literary Award for the Talented Young Writer category.</p>
<p>For Farida, the most important thing is whether readers feel close to a work, “to delve into it, know what it is trying to say and absorb it. You may read some high literature and have no idea what it says — it’s pointless. You can also come across novels that are so commercial it serves no purpose but to be just that”.</p>
<p>Let us recap. Demand is the first thing that underlines the differences between pop and literary works of fiction.</p>
<p>As Indonesian readers favor pop lit, some publishers seize the opportunity, taking on more pop writers.</p>
<p>The second factor is talent. Our young literary fiction writers seem confident that they are able to write pop novels, while most of the young pop novelists put emphasis on the word “high” in high literature, saying it would take them a long time to get up there.</p>
<p>Well, if they can turn The Taming of the Shrew into Ten Things I Hate About You, or Emma into Clueless, maybe one day Dyan can rewrite Dealova, making it into a work of literary fiction, and setting yet another new trend.</p>
<p><small><strong>Foto: <span style="font-weight: normal;">Teenlit books are reflections of the worlds of young people today. (JP/J. Adiguna)</span></strong></small></p>
<p><small> <br />
Related News:</small></p>
<h2><strong>Moment in sun for young writers</strong></h2>
<p><strong><a href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/05/11/moment-sun-young-writers.html">Emmy Fitri &amp; Daniel Rose</a></strong><a href="http://www.thejakartapost.com/news/2008/05/11/moment-sun-young-writers.html">, 	 The Jakarta Post | Sun, 05/11/2008</a></p>
<div id="attachment_178" class="wp-caption aligncenter" style="width: 409px"><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/teenspirit.jpg" rel="lightbox[172]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/teenspirit.jpg" alt="TEEN SPIRIT: Teenagers browse at Gramedia bookstore in South Jakarta on Saturday. " title="teenspirit" width="399" height="267" class="size-full wp-image-178" /></a><p class="wp-caption-text">TEEN SPIRIT: Teenagers browse at Gramedia bookstore in South Jakarta on Saturday. </p></div>
<p>A band of young authors, with brave new ideas and works, are leading the country&#8217;s literary scene out of a period of stagnation.</p>
<p>An entire genre is dedicated to them: teen-lit or teen literature, the sister genre of chick-lit, in which the story is told Sophie Kinsela-style.</p>
<p>But there is no sense questioning the merit of the work of these young writers and entering a state of being stalemated.</p>
<p>As author Martin Aleida puts it: &#8220;Literary taste is very subjective and attempts to rate popular fiction tend to create endless discussion.&#8221;</p>
<p>Martin is of the belief that teenage writers have taken the right path to express themselves: through their work.</p>
<p>&#8220;Some consider that these works by teenagers are responsible for the bastardization of the Indonesian language, with which I have to agree. But I am also convinced that it&#8217;s part of the growing-up process for young writers.</p>
<p>&#8220;Only time will tell. As they grow older, their command of the language will mature.&#8221;</p>
<p>Martin said that in a country in which reading was not a popular pastime, the efforts of young writers were deserving of appreciation.</p>
<p>Whether they write literary or popular fiction, young writers have seized the opportunity to meet the market demand from young adults and teenagers.</p>
<p>&#8220;Young readers definitely prefer to read the work of people of a similar age,&#8221; said Martin whose short story anthology ^YLeontin Dewangga^Y won a literary award in 2004.</p>
<p>&#8220;It&#8217;s good that young people have begun writing as a means of expression, because one of the weaknesses of our culture is that people tend not to be able to articulate their opinions. Writing is a great way of exercising (that ability),&#8221; he said.</p>
<p>Young writers have been important throughout the course of the country&#8217;s literary history, like Chairil Anwar, which today is a household name.</p>
<p>Starting out his career as a poet and fiction writer at the age of 19, Chairil, along with Asrul Sani and Rivai Apin, was one of the pioneers of the 1945 literary movement that resulted in the birth of modern Indonesian poetry. Perhaps, history repeats itself.</p>
<p>But Martin, who also began sending his prose to literary magazines in his youth, disagrees. &#8220;Young writers today don&#8217;t have vision (like Chairil did). They do not think politically and socially for a greater cause. They only write about their teenage world.&#8221;</p>
<p>However, not all young writers can be so easily categorized.</p>
<p>Surabaya-based Stefani Hid, 22, has three novels in print. Though seemingly carefree, she is not afraid to deal with heavy issues like depression and death.</p>
<p>&#8220;I write to get my problems out of my head. I mold anything that is clamoring inside it into sentences. It&#8217;s a good form of therapy,&#8221; she said.</p>
<p>Ratih Kumala, 27, also said she wrote about serious issues.</p>
<p>&#8220;I grew up in Solo, and older writers there believe in finding inspiration from within, but I prefer to go out, hang out with all sorts of people,&#8221; said Ratih whose novel ^YTabula Rasa^Y won third place in the Dewan Kesenian Jakarta&#8217;s Novel Competition 2003.</p>
<p>Perhaps, the time has come for the older generation to share the spotlight on the literary stage. Younger writers have an avalanche of ideas to offer, and could do with the support of more experienced writers.</p>
<p>&#8220;Don&#8217;t get me wrong, I enjoy some teen-lit novels too. I believe it&#8217;s their time,&#8221; Martin said.</p>
<p><small><strong>Foto: TEEN SPIRIT: </strong>Teenagers browse at Gramedia bookstore in South Jakarta on Saturday. (JP/R. Berto Wedhatama)</small></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/young-writers-test-the-limits-of-teenlit-172.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Foto Ibu&#8221;</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 03:51:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Short Stories]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php</guid>
		<description><![CDATA[Ilustrasi oleh Wiediantoro Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center><img id="image148" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/foto_ibu.jpg" alt="foto_ibu.jpg" /><br />
<small>Ilustrasi oleh Wiediantoro</small></center><br />
Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan mengamuk jika tahu aku membuat tato, meskipun itu tato wajahnya. Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang ada gambar di kulit, shalatnya tidak akan diterima, lalu akan masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, seperti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau mengecewakannya. Cita-cita ibuku adalah: kami sekeluarga—Ibu, aku, kedua adikku, dan bapakku— masuk surga bersama-sama. Sedang cita-citaku adalah: di kehidupan yang akan datang, aku ingin dilahirkan sebagai ibu dari ibuku agar aku bisa membalas kasih sayangnya di kehidupan yang sekarang.<br />
<span id="more-147"></span><br />
Ibu pernah muda. Itulah kesimpulan yang kutarik ketika kami membuka-buka kembali album foto lama keluarga. Ia pernah menjadi gadis yang baru berkembang. Meski sekarang Ibu melarangku memakai celana pendek (terutama jika bepergian), toh kutemukan selembar foto Ibu sedang bergaya mengenakan celana pendek yang sekarang populer dengan sebuatan ”hot pants”. Ketika itu, usianya sekitar 13 tahun. Tipikal foto zaman itu, bagian tepinya dipotong dengan cara yang khas, seperti diukir. Kenapa foto-foto sekarang tidak dipotong demikian, ya? Aku tak pernah mendengar cerita Ibu punya pacar ketika berusia ABG (anak baru gede). Aku ingat ketika duduk di bangku SMP, Ibu marah-marah padaku saat seorang teman laki-lakiku mulai rutin menelepon ke rumah. Tentu saja, temanku itu naksir aku. Meski tidak naksir dia, aku tetap menerima teleponnya baik-baik. Ibu mulai rajin angkat telepon. Jika itu ditujukan untukku, Ibu kerap berkata bahwa aku sedang tidur atau sedang belajar. Jika pun disampaikan padaku, Ibu akan menginterogasinya terlebih dahulu. Ibu mulai menghapal suara teman-temanku.</p>
<p>”Ini foto waktu aku sudah lulus kuliah dan mau cari kerja,” komentar Ibu pada selembar foto hitam putih. Di foto itu, rambut Ibu kelihatan tinggi oleh sebab mengenakan wig. Menurut Ibu, pas foto zaman sekarang terlalu kaku. Semua melihat ke arah kamera. Jika kau terlalu menunduk, jidatmu yang lebar akan terlihat semakin jembar. Sedang jika terlalu mendongak, maka bibirmu kelihatan tambah maju. Belum lagi baju yang harus berkerah, semakin menambah kesan kaku. Ibu berfoto demikian baru ketika akan menikah. KUA mengharuskan foto model kaku begitu. Lalu setelah menikah, disusul pas foto kaku lainnya yang sengaja diambil secara massal berbarengan dengan ibu-ibu Dharma Wanita kelompoknya. Tentu saja latar yang dipergunakan berwarna merah, dengan seragam Dharma Wanita berkelir pink keungu-unguan.</p>
<p>”Zaman dulu, semua pas foto lamaran kerja berupa ’profil’ yang kupingnya harus kelihatan dan difoto menyamping,” jelas Ibu. Memang kelihatan lebih anggun.</p>
<p>”Zaman sekarang, kalau aku melamar kerja dengan foto model begitu, pasti tidak diterima. Bisa-bisa disangka genit pula kirim foto model gitu,” ujarku.</p>
<p>Ibu ingin aku menjadi pegawai negeri, ”Lebih bagus lagi kalau bisa kerja di bank!” ujar Ibu ketika aku baru lulus kuliah. Sejujurnya, aku tak tertarik bekerja di bank meski ada uang pensiun. Bapakku bekerja di bank. Dulu, ibuku sering bilang, ”Siapa tahu nanti bapakmu bisa memasukkanmu ke bank ini atau ke bank itu.”</p>
<p>Suatu hari aku mengantarkan Ibu pergi ke bank untuk mengambil uang (ketika itu ATM belum trend), teller-nya cantik-cantik dengan make-up tebal, seragam necis, ruang kerja ber-AC. Nasabah bergantian dilayani. Tiba-tiba aku melihat mereka mirip robot yang sudah diprogram; caranya memberi salam, melayani, tersenyum, sampai mengucapkan terima kasih. Aku keluar bank dan mendapati diriku muntah-muntah demi melihat itu semua. Sejak itulah aku bersumpah tak mau kerja di bank. Tapi Ibu punya cerita lain lagi soal bank:</p>
<p>”Waktu aku kecil,” Ibu memulai ceritanya, ”Kakekmu itu kerjanya pedagang. Kalau lagi ramai, kami sekeluarga jadi kaya. Tapi kalau lagi sepi, kami bisa kelaparan. Suatu hari, ketika kami sedang kelaparan, aku melihat ada pegawai bank yang makan bakso yang mangkal di depan kantornya. Mereka bisa mengambil sendiri bakso yang mau dibeli. Sejak itu, cita-citaku ingin kerja di bank atau punya suami pegawai bank.” Dan, ternyata Tuhan mengabulkan doa-doa ibuku (ngomong-ngomong cerita ini kerap diulang-ulang dituturkan padaku).</p>
<p>Kami membuka-buka kembali album foto yang berserakan. Aneh, begitu banyak gambar Ibu, tetapi kesemua seolah hanya bercerita tentang satu cerita. Jika dipikir-pikir, ibuku itu sebetulnya hobi difoto. Ada banyak gambar dengan kostum yang berbeda-beda. Entah itu sedang duduk di depan kaca, sambil memegang bunga, mengenakan pashmina, duduk di bangku taman, berdiri di dekat sebuah mobil (yang zaman itu) mewah, dan lain-lain. Aku jadi geli sendiri. Bahkan aku pun tidak se-banci-kamera itu. Terakhir aku niat difoto dengan mimik cantik dan pakaian anggun adalah setelah Ibu berhasil memasukkanku untuk kursus pengembangan kepribadian. Menurut Ibu, anak gadis satu-satunya ini terlalu tomboy, kursus itu dianggapnya mampu menyelamatkan masa depanku.</p>
<p>Foto pernikahan Ibu yang dicetak besar hanya ada satu, yaitu ketika difoto bersama orangtua dan mertuanya (kakek dan nenekku). Ibu dan bapakku berpakaian adat Jawa, lengkap dengan paes dan blangkonnya. Mereka menikah dengan pakaian adat Yogyakarta. Konde Ibu kempis. Mungkin zaman itu belum musim pengantin dihairspray. Di foto ini, Ibu dan bapakku kelihatan serius dan agak tegang.</p>
<p>”Dulu sebelum bapakmu, pacar Ibu pilot.” Kuingat Ibu pernah bercerita demikian. Dulu…, dulu sekali, waktu aku masih SD. Lalu aku membayangkan punya bapak yang bisa menerbangkan pesawat. Pasti keren.</p>
<p>”Kok tidak menikah sama yang itu saja, Bu?” tanyaku waktu itu.</p>
<p>”Dia meninggal, pesawatnya kecelakaan,” ujar Ibu. Seraya gambar pesawat di kepalaku terlihat njebluk ke tanah. ”Lagi pula, kalau Ibu menikah sama dia, kamu tidak bakalan lahir,” sambung Ibu.</p>
<p>Aku tak pernah menanyakan lagi pada Ibu tentang pacarnya yang dulu. Yang kutahu kemudian, Ibu cukup bahagia hidup dengan bapakku. Ada aku dan adik-adikku yang meramaikan hidup mereka. Aku tak pernah membaca kesusahan di wajah Ibu, tak pula membaca kegirangan yang teramat sangat. Hidup ibuku berjalan seperti seharusnya kehidupan seorang perempuan; sekolah, menikah satu kali, membesarkan anak, mengurus rumah, menjahit, menanam bunga, sementara suaminya bekerja.</p>
<p>Gagal menikah dengan pilot, cintanya tertambat pada seorang pegawai bank. Baginya, kerja di bank berarti kemapanan; ada gaji tetap, ada tunjangan untuk keluarga, ada uang pensiun. Singkatnya, kehidupan terjamin.</p>
<p>Ibuku selalu bilang bahwa seorang istri membawa rezeki sendiri-sendiri bagi suaminya. Setelah menikah dengan Ibu, karier bapakku terbukti menanjak. Mereka memulai hidup dari nol. Hingga kemudian bisa beli tanah, beli mobil, bikin rumah yang bagus. Konon, sampai-sampai kakekku ketika berkunjung ke rumah baru mereka bergumam begini, ”Masya’allah…, anakku bisa bikin rumah sebesar ini!” Tapi aku lalu menemukan kenyataan lain; teman sekolahku, bapaknya kerja jadi tukang becak. Jelas-jelas itu bukan karier yang menanjak. Aku bertanya-tanya, apa dulunya sebelum orangtua temanku menikah, bapaknya itu pengangguran? Sehingga jadi tukang becak saja berarti sudah merupakan kenaikan pangkat. Hingga suatu hari aku membuka-buka sebuah majalah tua, sebuah artikel menarik perhatianku; ’Letak Tahi Lalat dan Artinya’. Aku menemukan satu rahasia! Ibuku punya semacam tahi lalat di ujung jemarinya, tepatnya di salah satu jari manis tangannya. Konon, perempuan dengan tahi lalat di posisi ini, membawa rezeki untuk suaminya! Tiba-tiba aku jatuh kasihan, ibunya temanku pasti tidak punya tahi lalat di ujung jarinya….</p>
<p>Kubandingkan foto-fotoku dengan foto-foto ibuku. Ada gambar aku cemberut, tertawa keras-keras, bergaya ala rapper, sampai foto aku menangis gara-gara rebutan bantal kesayangan dengan adikku. Foto-foto Ibu, tak ada satu pun yang berekspresi berlebihan. Wajahnya selalu dengan senyum tertahan yang tak genap menjadi sunggingan. Ibu bahkan sangat jarang memperlihatkan geliginya di foto. Mimiknya selalu tenang. Ia tahu sudut mana dari wajahnya yang paling apik ketika difoto. Rambutnya pun tak pernah tak rapi. Berbeda denganku, yang bersisir pun malas. Bahkan ada fotoku yang baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan. (Taruhan, ibuku pasti tak akan mau difoto ketika bangun tidur). Ibu selalu menganggapku terlalu emosional, mungkin Ibu benar. Buktinya, lihat saja foto-fotoku. Mulai dari menutup pintu yang menurutnya terlalu keras (aku selalu menganggap ini bukan salahku, melainkan salah pintunya yang susah dibuka-tutup), berjalan dengan langkah yang terlalu tergesa, hingga memencet mesin ketik dengan keras sehingga menimbulkan bunyi berisik (dan menurutku ini pun salah mesin ketiknya yang terlalu keras untuk dipencet). Ketika aku marah akan suatu hal yang mengesalkan, ibuku mengingatkan bahwa berdoa lebih baik ketika sedang merasa teraniaya. Sebab Tuhan akan menjamin doamu terkabul. Tentu ini lebih baik ketimbang marah-marah tak jelas juntrungannya. Ketika aku sedang senang dan tertawa cekikian dengan teman-teman pun, Ibu tak alpa mengingatkan, ”Jangan terlalu girang!” Sebab bisa saja setan lewat dan mengubah segala kesenangan jadi musibah.</p>
<p>Aku tak pernah mengingat Ibu menangis, tidak sebelum kejadian itu; ketika foto seorang anak ditemukan di dalam dompet Bapak. Ketika itu, aku sudah tahu…, dan Ibu pun sebetulnya tahu…, tapi tak ada dari kami yang berani mengutarakannya. Toh Ibu masih berusaha berpikiran baik perihal kemungkinan-kemungkinan foto seorang anak yang ketinggalan dan dipungut bapakku di pinggir jalan. Ia tak menanyakan langsung pada Bapak. Hingga detik ia tak mampu lagi menahannya; aku bersembunyi di ruang sebelah sambil memasang kuping lebar-lebar. Ibu menangis sambil membanting pot kembang plastik yang tak pecah. Bapak mengaku; foto itu adalah anak Bapak dari perempuan lain. Sementara setelah kejadian itu aku mengeluarkan segala sumpah serapah kebun binatangku pada Bapak, sedang ibuku cuma bilang, ”Bapakmu…, aroma surga pun tak akan pernah diciumnya!” Itu kalimat paling kasar yang pernah diucapkannya. Ibuku terdiam lagi ketika pembantu kami mengelap air dan menyelamatkan nyawa tanaman hias yang tumpah dari pot kembang.</p>
<p>Ibuku, seperti foto-fotonya, tahu sisi mana yang paling apik yang harus diperlihatkan kepada orang lain. Kepadaku. Meski itu berarti ia harus menahan diri. Aku tahu Bu, sesekali kau ingin girang menari. Maka, izinkanlah jarum bertinta itu bermain di kulitku, kau boleh berdansa di punggunggku.***</p>
<p>Dimuat di <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/01/01224884/foto.ibu"><em>KOMPAS</em> | Minggu, 1 Juni 2008</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/foto-ibu-147.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Dunia Maya Tercermin di Novel</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/generasi-dunia-maya-tercermin-di-novel-4.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/generasi-dunia-maya-tercermin-di-novel-4.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2004 13:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arsip Media]]></category>
		<category><![CDATA[Tabula Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[Abidah El Khaileqi]]></category>
		<category><![CDATA[Apsanti Djokosujatno]]></category>
		<category><![CDATA[Ayu Utami]]></category>
		<category><![CDATA[Dadaisme]]></category>
		<category><![CDATA[Dewan Kesenian Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Dewi Lestari]]></category>
		<category><![CDATA[kompas]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/blog/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Karya-karya novel para pengarang muda sekarang cenderung menyajikan loncatan-loncatan ruang dan waktu yang liar. Novel Tabula Rasa karya pengarang muda Ratih Kumala misalnya, tak segan-segan menyuguhkan perasaan asing kepada pembaca dalam kerangka kosmolitisme, seperti yang lumrah ditemukan dalam novel Ayu Utami dan Dewi Lestari.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/21/humaniora/1097203.htm" target="_blank"><strong>Kompas</strong></a>, <em>21 Juni 2004</em></p>
<p align="center"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/tabularasafrontback.jpg" /></p>
<p>Jakarta, <em>Kompas</em> &#8211; Karya-karya novel para pengarang muda sekarang cenderung menyajikan loncatan-loncatan ruang dan waktu yang liar. Novel Tabula Rasa karya pengarang muda Ratih Kumala misalnya, tak segan-segan menyuguhkan perasaan asing kepada pembaca dalam kerangka kosmolitisme, seperti yang lumrah ditemukan dalam novel Ayu Utami dan Dewi Lestari.<span id="more-4"></span></p>
<p>&#8220;Semua itu menciptakan gambar dunia yang tak nyata, bergerak cepat dalam berbagai ruang dan waktu. Itu diperkuat oleh tema-tema yang akrab dengan dunia generasi muda, yakni televisi. Tak heran, jika estetika terabaikan, seperti halnya tayangan-tayangan televisi yang tidak membangun keutuhan estetika,&#8221; kata Prof Apsanti Djokosujatno, guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam Diskusi dan Peluncuran Novel <em>Tabula Rasa</em> di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (19/6).</p>
<p>Novel yang didiskusikan tersebut merupakan pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta.</p>
<p>Sebelumnya, telah didiskusikan novel juara pertama berjudul <em>Dadaisme</em> karya Dewi Sartika dan novel juara kedua berjudul <em>Geni Jora</em> karya Abidah El Khaileqi.</p>
<p>Kritikus Sastra Maman S Mahayana yang memandu acara mengakui munculnya tiga pengarang perempuan sebagai pemenang I-III sempat mengundang kontraversi, namun hal itu di luar rekayasa panitia dan juri.</p>
<p>Dalam hal loncatan waktu dan peristiwa misalnya, Tabula Rasa sudah sarat ketidakruntutan dari halaman-halaman pertama. Kisah dimulai dengan cerita di Yogyakarta Agustus 2001. Pada halaman berikutnya, cerita meloncat mundur ke tahun 1990 di Moskwa. Halaman 23 kembali pada 2001 di Yogyakarta, dan halaman 30 mundur lagi ke 1991 di Moskwa.</p>
<p>&#8220;Kesan yang muncul adalah loncatan-loncatan tak terkendali dalam semua unsur novel. Tokoh-tokoh muncul secara tiba-tiba, berbagai peristiwa muncul nyaris brutal meski terbungkus dalam penggunaan metafor yang puitis,&#8221; kata Apsanti seraya menambahkan bahwa dalam tataran narasi pun, loncatan-loncatan itu juga tampak berupa penggunaan vokalisasi/sudut pandang yang berubah-ubah.</p>
<p>Lebih lanjut tentang kosmolitisme, Apsanti menilai setting novel Tabula Rasa berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, seperti pemandangan musim dingin, musim gugur, perbedaan antara dunia tropis dan subtropis, dan lain-lain. Tokoh-tokoh yang ditampilkan pun berasal dari berbagai negara (Indonesia, Rusia, dan Kanada).</p>
<p>&#8220;Setting ruang diiringi waktu yang meloncat-loncat dari tahun yang berjarak relatif renggang bisa jadi karena merujuk pada periode-periode politik sosial berbeda,&#8221; paparnya.</p>
<p>Ia menilai, kosmologi yang disajikan dalam <em>Tabula Rasa</em> adalah kosmologi maya yang campur aduk. Itu semua mewakili cara pandang dunia sang pengarang, selaku generasi yang yang lahir dan dibesarkan di depan televisi serta tumbuh dalam bimbingan dan pendidikan televisi pula.</p>
<p>&#8220;Ini bukan hanya soal kegagalan sekolah-sekolah kita dalam membentuk kepribadian anak-anak kita, tetapi seluruh sistem yang tidak dikendalikan dengan disiplin dan membumi. Mereka hidup dalam perubahan–perubahan setiap detik, tetapi perubahan itu maya, tak dialami sendiri,&#8221; urainya.</p>
<p>Terlepas dari segala kelemahannya, Apsanti tetap menilai <em>Tabula Rasa</em> sebagai karya novel yang kreatif dalam menggambarkan manusia pada zamannya. Bahwa terjadi kesalahan dalam penerjemahan kalimat-kalimat asing, lagi-lagi Apsanti melihatnya sebagai cermin ketidaktelitian generasi muda saat ini. (NAR)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/generasi-dunia-maya-tercermin-di-novel-4.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

