<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala &#187; serem</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/tag/serem/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 14:21:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Para Peburu Hantu -Lokal dan Internasional-</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/para-peburu-hantu-lokal-dan-internasional-167.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/para-peburu-hantu-lokal-dan-internasional-167.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2008 10:02:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[dunia lain]]></category>
		<category><![CDATA[hantu]]></category>
		<category><![CDATA[serem]]></category>
		<category><![CDATA[TAPS]]></category>
		<category><![CDATA[uji nyali]]></category>
		<category><![CDATA[uka-uka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar empat atau lima tahun lalu, daripada pacaran, saya termasuk salah satu orang yang lebih memilih nonton acara Dunia Lain di Trans TV. Sambil takut-takut sekaligus penasaran, saya mengumpulkan keberanian untuk menonton Dunia Lain. Segmen &#8220;Uji Nyali&#8221; di acara ini adalah bagian kesukaan saya. Saya ternganga ketika seorang ibu yang sedang uji nyali di sebuah ruangan &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/para-peburu-hantu-lokal-dan-internasional-167.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ghostbuster_logo.jpg" rel="lightbox[167]"><img class="alignleft size-medium wp-image-168" title="ghostbuster_logo" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ghostbuster_logo-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" align="left" /></a></p>
<p>Sekitar empat atau lima tahun lalu, daripada pacaran, saya termasuk salah satu orang yang lebih memilih nonton acara <em>Dunia Lain</em> di Trans TV. Sambil takut-takut sekaligus penasaran, saya mengumpulkan keberanian untuk menonton <em>Dunia Lain</em>. Segmen &#8220;Uji Nyali&#8221; di acara ini adalah bagian kesukaan saya. Saya ternganga ketika seorang ibu yang sedang uji nyali di sebuah ruangan yang ada gong besar, tiba-tiba gong tersebut bergerak-gerak. Dan tentu saja, yang paling bikin adrenalin saya berderis hebat adalah ketika mereka syuting di Lawang Sewu, Semarang &#8211;tempat paling angker sedunia! Kamera menangakap sosok setan perempuan, dan spontan peserta uji nyali teriak-teriak minta keluar. Konon, gosip yang beredar, seminggu kemudian peserta uji nyali meninggal dunia &#8211;katanya diikuti hantunya. <small>Hiiiiiiiyyyy&#8230;.</small><br />
<span id="more-167"></span><br />
Sebetulnya saya ini orang yang lumayan penakut, apalagi kalau menyangkut yang gaib-gaib. Maunya enggak percaya, tapi hati kecil saya bilang kalau saya percaya. Ah, cape deh&#8230;. Akhir-akhir ini, acara seram-seram macam <em>Dunia Lain, Uka-Uka, Percaya Enggak Percaya</em>, sudah tidak ngetrend lagi di Indonesia. Atau setidaknya itulah anggapan saya, sebab saya sudah tidak tertarik dengan acara-acara model begitu. Sekarang, untuk acara reality show, saya lebih tertarik dengan <em>American Idol, Amazing Race, Keeping Up with the Kardashians </em>dan <em>Kimora: Life in A Fab Lane.</em></p>
<p>Entah kenapa, hantu semacam Vampir dan Were Wolf (Manusia Serigala) tidak membuat saya takut. Beberapa teman yang saya sempat tanyakan juga bilang, mereka lebih takut pada Pocong, Kuntilanak, Tuyul dan teman-temannya, dengan kata lain; hantu-hantu lokal. Buat saya, alasannya karena (isunya) hantu-hantu pun tidak punya kekuatan lewat laut (kecuali hantu laut atau hantu yang tinggal di kapal laut, tentu saja). Kesimpulannya: Vampir, Drakula dan Manusia Serigala tidak bisa sampai ke Indonesia! Hehehehe.</p>
<p>Sejak saya masih kecil, saya sudah akrab dengan film <em>Ghostbuster</em>. Buat saya, film ini tidak seram sama sekali. Hantunya saja warna hijau dan lucu, bagaimana bisa seram? Sama imutnya dengan Casper, si hantu yang ramah. <em>Ghostbuster</em> adalah nama kelompok pemburu hantu yang kerjanya menangkap hantu-hantu nakal yang beredar di kota New York. Mereka punya semacam alat (yang kelihatannya sangat canggih), juga seragam <em>overall</em> yang sangat tidak trendi. Dengan alat yang buat saya sangat mirip dengan penyedot debu, tim Ghostbuster memerangkap hantu nakal masuk ke dalamnya. Lalu mereka memenjarakannya ke dalam semacam termos.</p>
<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ghost-hunters.jpg" rel="lightbox[167]"><img class="alignleft size-full wp-image-169" title="ghost-hunters" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/ghost-hunters.jpg" alt="" width="381" height="243" align="left" /></a>Akhir-akhir ini saya kerap tak sengaja memencet kanal tv Star World yang menayangkan <em>Ghost Hunters</em>. Ini reality show asal Amerika. Diperankan oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya TAPS, mereka pergi ke tempat-tempat yang kabarnya angker. Di tempat itu, mereka berdiam selama satu malam, mencari bukti-bukti bahwa ada kehidupan selain manusia. Biasanya, mereka membawa alat yang bagi saya mirip dengan PDA (saya lupa nama alatnya), alat ini mencatat suhu yang ada di suatu tempat. Ada beberapa alat canggih lainnya yang saya tidak tahu, di antaranya; mikrofon dan kamera, tentu saja. Tetapi, tidak ada alat mirip penyedot debu untuk menjebak hantu. Di hari berikut, setelah tim TAPS selesai mendiami TKP selama satu malam, mereka mengobservasi ulang hasil tangkapan kamera, lalu membawanya ke empunya rumah/gedung, untuk memperlihatkan hasil observasi mereka. Kadang, mereka bisa menangkap sebentuk hantu dengan kamera. Lebih sering, mereka merekam suara penghuni non-manusia yang ada di sana. Ketika observasi dilakukan, kerap mereka sengaja mencoba berkomunikasi dengan para hantu dengan cara berkata, &#8220;apa ada orang di sini?&#8221;; &#8220;siapa namamu?&#8221;; &#8220;kalau ada orang di sini, ketuk dinding dua kali,&#8221; dsb, dsb. Tak ada ritual-ritual khusus untuk berkomunikasi dengan makhluk halus.</p>
<p>Beda bule, beda pula kita. Pernah nonton <em>Percaya Enggak Percaya </em>kan? Biasanya, mereka mengajak Pak Leo, sebagai paranormal yang bila melihat makhluk halus. Pak Leo &#8216;membuka mata batin&#8217; pembawa acara, agar ia juga bisa melihat makhluk halus sekitar. Dengan cara inilah, pemirsa di rumah diberi tahu, bahwa di tempat-tempat tertentu ada hantu yang berbentuk tertentu. Di acara serupa; <em>Dunia Lain</em> dan <em>Uka-Uka</em>, juga biasanya ada satu orang paranormal yang menyertai mereka. Biasanya mereka hobi pakai baju hitam, berrambut gondrong, lengkap dengan cincin-cincin batu yang menghiasi setiap jari mereka &#8211;lebih dari itu, kelihatannya mereka jarang mandi. Di akhir acara berburu hantu versi Indonesia, kadang diselipkan satu orang kyai yang memberi wejangan-wejangan tentang dunia fana dan dunia nyata, dan bagaimana manusia &#8216;seharusnya&#8217; menghadapinya.</p>
<p>Gara-gara keseringan nonton acara berburu hantu, saya jadi hobi menyimpul-nyimpulkan sendiri. Dan kesimpulan saya adalah: orang bule memang suka yang logis-logis, sedangkan orang kita memang lebih suka dengan yang tidak logis. Pasalnya, biarpun tim TAPS di acra Ghost Hunters sudah menangkap sosok/mendengar suara hantu, di akhir acara mereka lebih sering masih sanksi dengan hasil observasinya. Kalau pemilik gedung/rumah bilang, misalnya, bahwa di tempat tertentu sepertinya suka sesak napas atau merasa terdesak, maka tim TAPS tidak dengan serta-merta menyimpulkan bahwa di daerah itu hantu berdiam. Dengan alat yang mirip PDA itu tadi, mereka mengukur suhu tempat tersebut, dan memeriksa dengan seksama bahkan sampai di dalam dinding atau di di bawah tanah. Tim TAPS bilang, jika di suatu tempat ada banyak kabel atau alat-alat (mesin/elektronik), memang bisa menimbulkan &#8220;efek poltergeist&#8221; untuk orang yang ada di situ. Mereka jadi sulit bernapas, merasa terdesak, dll. Itu karena suhu yang ditimbulkan sangat tinggi. Juga ketika pemilik rumah mengaku, bahwa pernah ada penampakan yang berupa sosok hitam besar, atau sinar yang melayang-layang. Tim TAPS tak akan segan-segan menguji kebenaran penampakan itu dengan cara menyorotkan senter dari luar rumah, apakah senter/bayangan akan muncul di dalam rumah, ataukah tidak. Meski tim <em>Percaya Enggak Percaya</em>, <em>Dunia Lain</em>, ataupun <em>Uka-Uka</em> juga menggunakan kamera, tetapi mereka cenderung tidak memaksimalkan teknologi ini. Seolah-olah, dengan segala peralatan yang mereka bawa; kalau ada hantu yang tertangkap kamera ya syukur, kalau tidak ya tak apa-apa. Toh, pemirsa sudah &#8216;dipaksa&#8217; percaya dengan adanya paranormal yang mendampingi selama acara itu. Oya, satu lagi&#8230; tim TAPS tak pernah sekalipun mengajak paranormal/<em>ghost wishpere</em><em>r</em> ke acara <em>Ghost Hunters</em>.</p>
<p>Akhir kata, kalau memang ada <em>such thing as ghost</em> di luar sana, dan acara berburu hantu sebagus apapun yang bikin saya penasaran untuk nonton, saya tetap tidak mau ketemu makluk halus&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/para-peburu-hantu-lokal-dan-internasional-167.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

