<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala's Little Blog &#187; slumdog millionaire</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/blog/tag/slumdog-millionaire/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jun 2010 09:47:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Slumdog Millionaire: Merayakan Kemenangan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/slumdog-millionairemerayakan-kemenangan-353.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/slumdog-millionairemerayakan-kemenangan-353.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 14:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[india]]></category>
		<category><![CDATA[Q and A]]></category>
		<category><![CDATA[slumdog millionaire]]></category>
		<category><![CDATA[Vikas Swarup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini saya menonton film Slumdog Millionaire, film bersetting Mumbay, India, yang diangkat dari novel Q and A karya Vikas Swarup. Ada sesuatu yang segar dari film ini, yang berbeda dari film-film Bollywood lainnya. Saya termasuk orang yang akrab dengan film selain Hollywood. Saya menyukai film-film Korea, Jepang, juga India. Meskipun menari dan menyanyi sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_355" class="wp-caption alignleft" style="width: 206px"><img class="size-medium wp-image-355" title="qa" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/qa-196x300.jpg" alt="Novel &lt;em&gt;Q and A&lt;/em&gt;, karya Vikas Swarup" width="196" height="300" /><p class="wp-caption-text">Novel Q and A, karya Vikas Swarup</p></div>
<p>Baru-baru ini saya menonton film <em>Slumdog Millionaire</em>, film bersetting Mumbay, India,  yang diangkat dari novel <em>Q and A </em>karya Vikas Swarup. Ada sesuatu yang segar dari film ini, yang berbeda dari film-film Bollywood lainnya. Saya termasuk<em> </em>orang yang akrab dengan film selain Hollywood. Saya menyukai film-film Korea, Jepang, juga India. Meskipun menari dan menyanyi sudah merupakan bagian penting dari film-film India, tapi sejujurnya, saya masih tidak terlalu akrab dan nyaman dengan tari-nyanyi dalam film Bollywood.</p>
<p>Slumdog Millionaire bercerita tentang Jamal, seorang anak jalanan yang menang dalam acara kuis &#8216;Who Wants To Be A Millionaire&#8217; versi India. Uniknya, Jamal menang bukan karena dia terpelajar, tetapi karena setiap pertanyaan yang diajukan selalu mengingatkannya pada sejadian di masa lalu. Jadilah film ini kerap flashback mulai dari Jamal masih kecil, ABG, sampai dewasa. Uniknya lagi, Jamal ikut kuis ini bukan karena ingin jadi milyuner, tetapi karena ia ingin mencari kekasihnya Latika. Setiap flashback yang ada, selalu merujuk pada kejadian ketika dia mencari Latika. Dia berharap, dengan mengikuti kuis ini, Latika akan melihatnya dan akan tahu di mana dirinya. Ending cerita memuaskan penonton (dan pembaca), <em>happy ending</em>, tentu saja. Jamal bertemu dengan Latika, juga memenangkan kuis hadiah utama. Seorang anak jalanan yang tiba-tiba kaya raya gara-gara ikut kuis.</p>
<p><span id="more-353"></span></p>
<p>Film/buku ini mungkin bisa disebut sebagai <em>road-story</em>, bagaimana Jamal mencari orang yang dicintainya dengan berragam cara. Begitu hampir ketemu, pasti ada hal yang memisahkan mereka lagi. Ya, kalo versi kecilnya mungkin kira-kira seperti <em>reality show</em> &#8216;Termehek-Mehek&#8217;. Sejak awal, penonton diajak bersimpati dengan tokoh Jamal. Cerita tentang orang kecil yang meraih kebahagiaan (terutama kekayaan) memang drama yang tak pernah mati untuk urusan menguras emosi.</p>
<div id="attachment_356" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-356" title="slumdogmillionaire" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/slumdogmillionaire-300x160.jpg" alt="Salah satu adegan Slumdog Millionaire, ketika Jamal masih kecil." width="300" height="160" /><p class="wp-caption-text">Salah satu adegan Slumdog Millionaire, ketika Jamal masih kecil.</p></div>
<div class="mceTemp" style="text-align: left;">Bagi saya, yang membahagiakan adalah bahwa <em>Slumdog Millionaire</em> merupakan film India pertama yang saya tonton betul-betul saya nikmati hingga harus menahan pipis. Pasalnya, film India ini tak ada jeda tari-nyanyi yang memang saya kurang bisa nikmati. Ya, sejujurnya, meskipun (seperti yang diceritakan teman saya) bahwa di India sana konon para penonton bioskop film Bollywood bisa nyanyi bareng-bareng satu gedung jika adegan tari-nyanyi mulai tayang, tapi bagi saya itu adalah saat yang tepat untuk pipis.</div>
<p>Saya begitu menikmatinya hingga saya tak sadar harus menahan pipis. Saya juga tak sadar ini bukan seperti film India umumnya. Ketika cerita sudah berakhir, baru ada adegan tari-nyanyi semua talent, bersamaan dengan credit tittle. Mungkin itu untuk mensyahkan harus ada tari-nyanyi di film Bollywood, heheheh&#8230;. Atau mungkin tari-nyanyi itu sebagai metafora perayaan akhir cerita bahagia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/slumdog-millionairemerayakan-kemenangan-353.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
