1

Thank you, Mas Tama.

Remember, remember… 13 of April. Saya akan selalu mengingat tanggal ini, hari ketika CEO yang telah 11 tahun memimpin Trans TV, Wishutama, memutuskan untuk resign.

Saya bukanlah pegawai yang dekat dengannya. Saya amat jarang berbicara dengan beliau, paling-paling bertegur sapa ketika bertemu di lift, atau lobby, atau di lantai 8, atau jika kebetulan Mas Tama mampir ke lantai 7. Mas Tama dikenal sebagai boss yang cukup keras dan tegas, tapi di balik itu, setiap pegawainya tahu kalau dia memimpin dengan hati.
Continue reading

19

Naik Kelas

Tanggal 20 November ini saya merayakan satu bulan saya bekerja di sebuah televisi swasta.  Tiba-tiba saya kagum pada diri saya sendiri… “kok bisa ya, bertahan?” Saya merasa keluar dari cangkang kenyamanan yang selama ini saya erami.

Pertama, saya membenci rutinitas.
Kedua, saya tidak terlalu cakap bergaul dengan orang lain.
Ketiga, saya merasa sulit bekerja dengan orang lain -terutama untuk hal-hal yang kreatif.

Jadi…, hebat! Saya bisa bertahan. Untuk kali ini, saya memberi salut untuk diri sendiri (suatu hal yang jarang saya lakukan, ngomong-ngomong hehehehe).

Sudah terlalu lama saya bekerja sendiri. Dulu sempat sih, kerja kantoran. Waktu itu saya masih meraba-raba apa yang saya inginkan. Jadi, saya cenderung mencoba segala hal. Ketika saya memutuskan untuk fokus menulis, saya menjadi lebih intim dengan diri saya sendiri ketimbang dengan orang lain (istilah kerennya “autis” ya?). Hal kreatif menurut saya patutnya dilakukan sendiri saja, sebab jika dilakukan dengan orang lain, saya tidak akan mendapatkan apa yang ingin saya capai.

Continue reading