3

Reader’s Block

Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang writer’s block? Tahu kan, itu lho…tiba-tiba lagi asik menulis, “terserang” masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi writer’s block. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer’s block itu sejenak menyerang saya, dan tak memaksakan otak saya untuk menulis. Jika merasa sudah tiba saatnya, saya akan mencoba memancing mood menulis dengan menulis hal-hal sederhana (misalnya menulis blog), atau membaca buku-buku yang menyenangkan, hingga nonton film yang bisa memancing ide-ide baru. Saya yakin, tiap penulis jika ditanya cara mengatasi writer’s block punya jawaban sendiri-sendiri.

Writer’s block itu ibaratnya “habluminallah” (tentu saja dengan tanda kutip, yang secara harafiah ‘hubungan manusia dengan Tuhan’). ‘tuhan’ (dengan ‘t’ kecil) di situ -versi saya- saya ibaratkan diri sendiri, penulis sebagai tuhan kecil untuk tulisannya sendiri. Bagaimana ia bertanggung jawab atas dirinya sebagai penulis dengan tulisan yang seharusnya ia hasilkan. Saya katakan ‘seharusnya’, karena memang banyak penulis yang mandeg begitu saja di tengah proses menulisnya (ya terserang writer’s block itu tadi) dan tak melanjutkan lagi. Tapi, ada lho, “habluminannas” dalam berkarya sastra (yang secara harafiah berarti ‘hubungan manusia dengan sesama’), yang berarti -versi saya- dalam hal sastra adalah hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis yang bersangkutan dengan pembacanya.

Pernahkah Anda merasa sebal karena tahu bahwa tulisan Anda tak ada yang membacanya? Bagaimana cara tahunya? Yang sederhana dan paling mudah dilacak adalah ketika Anda melihat laporan dari penerbit, bahwa penjual buku Anda cuma beberapa gelintir saja alias tak laku. Kedua, cari saja orang yang mengapresiasi buku Anda dengan mereviewnya di media/internet, jangan-jangan isinya mencaci maki buku Anda. Atau lebih parah, tak ada yang mereviewnya sama sekali. Sakit hati, bukan? “Sialan, susah-susah aku nulis!” Umpat Anda dalam hati. Yah, tapi itulah resiko jadi penulis.
Continue reading