Tahi Lalat Ipong

Ipong punya banyak tahi lalat: ini kesimpulan saya setelah melihat pameran lukisannya di Vivi Yip Art Room (Sabtu, 2 Agustus 2008). Di banyak lukisan, bagian leher ke atas, saya menemukan satu titik cat. Awalnya, saya pikir itu karena dia doyan mencorat-coret hasil lukisannya dengan cat yang kelihatannya sengaja dicairkan dan diacak -rada mirip abstrak gitu deh, tapi bukan- (kalo baca katalognya, katanya ini ‘teknik dripping’ …gile, udah bisa nyontek teori seni nih tiba2 hahahahaha). Tapi setelah diamat-amati lagi, kelihatannya dia sengaja menjatuhkan satu titik tinta ke bagian tertentu, dan… eng-ing-eng… jadi deh tahi lalat! Saya membayangkan, ruang lukis dia pasti berantakan, cat di mana-mana. Mungkin juga, dia punya satu kaos khusus yang dia pakai berulang-ulang hanya untuk melukis, baju yang khusus dikorbankan kena cat acrylic. Ya, mirip-mirip ama tukang cat gitu deh… he he he.

Saya bukan si tukang kritik, saya cuma penikmat seni. Dengan kata lain, saya hanya menikmati lukisan yang saya anggap sesuai selera. Dan Ipong adalah salah satu perupa yang karyanya akrab di mata saya. Saya tahu dia membuat vignet, kover buku, atau sekedar ilustrasi di koran. Mungkin untuk beberapa orang, lukisan Ipong “menyeramkan”. Dengan wajah-wajah yang demikian, ada terror tergambar di situ. Ipong tidak menggambar di dalam garis. Sepertinya, ia tak punya beban dengan lukisan. Bagaimana mau merasa terbebani? Wong dia lahir tahun1955, tapi baru kali ini menggelar pameran sendiri. Buat seniman sekelas dia yang jam terbangnya tinggi, ini sangat telat. Tapi Ipong sih cuek aja keliatannya. Satu lagi… dia itu keliatannya bodo amat sama yang namanya anatomi. Tapi saya yakin, bukan berarti dia tidak bisa membuat lukisan dengan anatomi tubuh manusia sesuai teori. Bukankan, ini ciri2 pelukis bagus? Menhancurkan, mencari kembali apa yang sudah dihancurkan. (Cie…, hebat banget gue!)

Satu lukisan Ipong yang jadi favorit saya adalah “Octopussy”, tuh… gambarnya di atas. Tahi lalat mbak-mbak itu segede jempol. Keren….

One thought on “Tahi Lalat Ipong

Comments are closed.