Telat Balikin Buku = Kriminal

Saya menemukan berita yang menarik perhatian saya:

“Heidi Dalibor (20 thn), warga Wisconsin, AS, cuek saja ketika suatu hari disurati dan ditelepon untuk membayar denda peminjaman buku dari perpustakaan. Tak dinyana, ancaman “kalau tidak mengindahakan akan dibawa ke pengadilan” benar-benar terjadi. Dua polisi mendatanginya dan membawa surat perintah hakim, lalu memborgolnya. Heidi dibawa ke kantor polisi, lalu difoto layaknya kriminal, tuduhannya: melecehkan perpustakaan.” (Sumber: Jawa Pos Minggu, 24 Agustus 2008)

Wah!

Seandainya saja pemerintah kita memperhatikan perpustakaan seserius itu. Tentu dokumentasi naskah sangat terjamin. Tahukan Anda, bahwa buku serial komik Petruk bisa komplit ditemui di perpustakaan Belanda? Dan novel bergenre seram milik Abdullah Harahap ada di perpustakaan di Amerika (saya tahu ini dari Intan Paramadita) lebih dari seratus judul. Bisa ditebak, naskah-naskah mereka tidak diperhitungkan di negara kita sebagai “sastra” dengan tanda kutip. Jadi naskah-naskah macam itu terlupakan.
 Pernahkah Anda berurusan dengan Perpustakaan Nasional di Jakarta? Pernah, karena kepentingan urusan pengumpulan naskah, saya dan teman jadi harus berhungan dengan Perpusnas. Sejujurnya, ini bukan pekerjaan yang menyenangkan. Selain karena pelayanannya buruk, jasa kliping yang seharusnya menjadi bagian dari pelayanan publik pun dipegang satu orang yang uangnya kelihatannya masuk kantong pribadi, dan hasilnya acakadul. Satu kesimpulan pasti: hanya karena seseorang bekerja sebagai salah satu karyawan perpustakaan, bukan berarti dia membaca dan peduli buku.

Beberapa tahun lalu saya banyak menghabiskan waktu ke Perpustakaan Hatta di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Bagi saya, berjalan dari Stasiun Tugu setelah turun dari kereta Prameks jurusan Solo-Yogja adalah kegiatan yang romantis. Saya juga suka bau kertas lama yang lembab, seperti halnya harus kertas baru buku-buku import. Ada satu bagian di Perpustakaan Hatta itu, sebuah pojok, yang naskah-naskahnya “dikurung” di satu ruangan berteralis. Konon, itu adalah naskah-naskah kuno. Sayangnya, keadaan ruang berteralis itu sudah sangat menyedihkan. Naskah-naskah itu banyak yang dimakan rayap. Di sana-sini kita juga bisa menduga bahwa naskah itu dengan sengaja ditarik orang, sehingga sobek-sobek. Selain itu, teralis yang seharusnya digembok pun, gemboknya kelihatan dirusak. Plus, debu setebal 3 cm melengkapi kehancuran naskah itu. Lengkap sudah…, tinggal menyulutkan api, jadi deh heater berbahan dasar naskah kuno!

Saya kagum dengan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, yang telah dengan susah payah mengumpulkan naskah-naskah sastra. Meski (kalau tidak salah) pernah terbakar dan melalap banyak naskah lama, tapi PDS HB Jassin mulai mengumpulkan naskah lagi dan memperlakukan setiap naskah yang ada dengan spesial: satu penulis=satu arsip. Tidak mungkin kita diperbolehkan masuk dan mengambil naskah manapun yang kira-kira menarik untuk iseng dibaca (seperti di kebanyakan perpustakaan). Dari awal, kita harus tahu dulu nama penulis yang naskahnya hendak kita baca, petugas akan mengambilkan arsipnya, dan hanya boleh dibaca di tempat.

Ah, saya pribadi sih sebenarnya sudah capek kalau mau menuntut pemerintah untuk lebih peduli pada ini-itu. Terlebih soal perpustakaan, tentu ini bukan dianggap hal yang krusial. Yang penting, sekarang kalau saya bisa menyelamatkan satu buku (dalam arti merawatnya dengan baik) -baik itu naskah kuno atau modern-, maka akan saya lakukan.

3 thoughts on “Telat Balikin Buku = Kriminal

  1. Telat balikin buku = kriminal
    wahh…..huebat tenan negerinya Paman Sam itu
    Tapi di negeri ini, kepedulian pd pendidikan
    masih sebatas jargon dan bumbu kampanye
    perpustakaan jg jarang dikunjungi
    di daerah saya, jabatan Kepala Perpustakaan Provinsi
    dianggap sbg jabatan ‘buangan’

  2. Wih, sepotong cerita unik. Aku jadi inget dalam sebuah focus group discussion yang diselenggarakan sebuah penerbit. Di sana, para partisipan diskusi yang kebanyakan masih muda, mengaku pernah berurusan dengan perpusatakaan. Lebih parah lagi, semua mengaku pernah mencuri buku perpustakaan. Pinjem tapi tanpa dikembalikan. Sampai buku itu pun jatuh ke tangan orang lain atau hilang. Inget ini, jadi ingin nulis fenomena menarik. Kalau Susan Orlean menulis “Pencuri Anggrek”, ingin rasanya menulis “Pencuri Buku.” Ha ha ha, jadi kutu buku itu baik. Tapi, ya, kira-kira dan jangan melupakan batas-batas moral. Mungkin itu pesan moralnya.

  3. wah, bagus banget
    kalo di sini kan ada orang-orang yang suka ngaret mengembalikan buku perpustakaan.
    balikin buku perpustakaan aja berani ngaret, sampe berbulan-bulan, apalagi kalo bukunya minjem sama temen. Jangan ditanya, deh.

Comments are closed.