kidzania1.jpg
Untuk kedua kalinya, saya ikut menemani Yiyi (anaknya Mommy Nai) main ke Kidzania. Sejujurnya, sejak beberapa bulan lalu Yiyi cerita banyak soal Kidzania (dengan sangat bersemangat), saya sudah penasaran. Suatu hari, kesempatan itu datang, waktu Yiyi ultah, si Mommy mengajak saya untuk ikut serta ke Kidzania. Saya rada menyesal tidak bawa kamera waktu itu. Nah… kali kedua ini saya bawa! he he he….

Ada apa sebenarnya di Kidzania, yang bikin Yiyi dan anak-anak Jakarta sekarang “demam Kidzania”?
Ternyata, saya seperti masuk ke dunia baru, mengingatkan saya pada negeri antah-berantah di cerita Peter Pan. Hanya saja, dunia Kidzania mirip dengan dunia kita. Kalau di Dunia Fantasi (mirip-mirip Disney Land), penuh dengan wahana permainan-permainan, maka di Kidzania penuh dengan wahana pekerjaan. Ya, pekerjaan! Sayang, saya sudah uzur, jadi tidak bisa ikut main di wahana. Semua cuma buat anak-anak.

Begitu masuk ke pintu Kidzania, anak-anak disuguhkan sebuah kota (penghuni Kidzania sejenak lupa kalau di luar ada kota Jakarta). Lengkap dengan alun-alun, langit-langit, dan segala fasilitasnya; mulai dari angkutan umum, pemadam kebakaran, pusat kesehatan, kantor polisi, sampai teater (yang ini bentuk fisiknya sangat mirip Teater Jakarta).

kidzania3.jpg
Setelah mendapat tiket masuk, anak-anak (yang di dunia Kidzania dipanggil dengan sebuta “bapak” dan “ibu”), harus bekerja. Misalnya, mereka masuk ke wahana kantor polisi, maka mereka menggunakan kostum polisi. Tidak hanya mengejar-ngejar penjahat, lebih dari itu mereka juga diajarkan cara menghubungi nomor 911, prosedur jika penjahat tertangkap, juga prosedur pengadilan (ada hakimnya segala!). Gambar di sebelah adalah kakak pembimbing Kidzania yang pura-pura jadi pejahat. Wahana pemadam kebakaran merupakan salah satu yang paling laku. Kelihatannya semua anak manganggap menjadi petugas pemadam kebakaran itu gagah-berani. Mereka diajarkan bagaimana menjadi petugas pemadam kebakaran, lalu… lengkap dengan pakaian anti api, mereka akan menuju ke “gedung yang terbakar” dengan mobil pemadam kebakaran pula. Di sana, mereka menyemprot gedung itu sampai apinya mati. Wahana lainnya adalah dokter gigi, dokter bedah (dua wahana ini menggunakan boneka untuk diutak-atik), pabrik cokelat, pabrik mie instan, gas negara, pembalap, penyiar tv-radio, dll. Uniknya, setelah bekerja, mereka akan mendapatkan gaji dengan mata uang Kidzania. Uang inilah yang kemudian bisa dibelanjakan di kota Kidzania untuk makan atau senang-senang di wahana disko.

kidzania2.jpg Satu wahana memang perlu waktu untuk bermain (atau dalam hal ini “bekerja”). Tidak seperti Dunia Fantasi, yang sekali masuk bisa bersenang-senang di satu wahana. Di Kidzania, semua pekerjaan yang tersedia selalu ada bimbingan dahulu dari kakak-kakaknya. Rata-rata satu wahana memakan waktu 15-20 menit, belum lagi kalau antri. Beberapa ibu-ibu yang sedang menemani anaknya saya dengar marah-marah, kebanyakan karena merasa terlalu buang-buang waktu (terutama dengan pengarahan dari kakak-kakak itu tadi). Maklum, masuk ke Kidzania waktunya dibatasi shift pagi-shift sore (sekitar 5 jam/tidak bisa seharian).

Misalnya pergi ke Timezone, main game sekitar dua jam saja bisa habis sekitar dua ratus ribuan (ini dengan catatan kalau main game-nya tidak berhenti-berhenti). Dengan biaya masuk Rp.90.000-Rp.150.000,- (tergantung usia anak) sebetunya 5 jam di Kidzania (setidaknya menurut saya) tidak terlalu mahal. Toh di sana, kalau orangtua di luar, anak-anak tidak akan kelaparan. Mereka bisa makan makanan yang dibeli dari uang Kidzania. Kok saya tiba-tiba jadi kayak juru bicara Kidzania sih? Udah ah! He he he….