nigella.jpg

If you can organize your kitchen, you can organize your life
(Louis Parrish)

Ini dia perempuan yang sekitar satu tahun ini membuat saya takjub, Nigella Lawson. Sejujurnya, saya baru mengenalnya satu tahun terakhir gara-gara nonton acara dia Nigella’s Feast, Nigella’s Bites, Forever Summer with Nigella dan yang terakhir Nigella Express di kanal Discovery Travel and Living.

Tidak seperti pembawa acara masak-memasak di Indonesia yang lazim kita kenal di tv, sangat kaku, bertujuan memberi tutorial masak memasak untuk pemirsa, dan berusaha berramah-tamah (meskipun hanya satu arah). Sebaliknya, Nigella lebih personal. Konon, syutingnya pun dilakukan di rumah sendiri. Dan satu resep, disyut hingga empat kali untuk kesempurnaan hasil akhir! Lebih dari itu, kelihatan sekali Nigella berusaha menggunakan latar yang minimalis tetapi tetap berkesan hangat. Kok bisa ya? Padahal selama ini, penataan ruang yang minimalis berkesan sangat “dingin”. Tapi tidak di acara Nigella. Kesan minimalis saya tangkap dari pilihan warna barang-barang yang ada di situ, bahkan warna pakaiannya pun terlihat jelas dipilih khusus. Kesan hangat yang “tersembunyi” itu, saya dapatkan dari sosok Nigellanya sediri (yang tak bosan-bosannya tersenyum dan bercerita tentang persona dirinya sendiri), juga dari masakan-masakan yang dibuatnya.

Nigella adalah orangtua tunggal dengan dua anak. Dilihat dari wajahnya saja, ketahuan kalau ada darah Timur Tengah, meski sekarang tinggal di Inggris. Dari sebuah acara yang saya tonton (ya… saya suka nonton tv! hihihi), Nigella ditinggal mati suaminya. Selama merawat suaminya yang sakit keras, dia menemukan ketenangan di dapur. Dari semua resep, comfort food menurut saya adalah resep-resep kesukaannya. Dia sering membuat makanan yang tinggi karbohidrat, tinggi protein, tinggi lemak! Ini semua adalah musuh perempuan… (hayo, ngaku aja!) Tapi Nigella, memakannya dengan tidak sabaran, seperti yang sering ia tuturkan di banyak kesempatan, “patience is never been my nature“. Dia kerap tergesa memotong (kadang kalau sudah tidak sabaran, dia pilih memotong daging atau sayur-sayuran dengan gunting), mencomot jenis minyak apapun yang ada di dekatnya untuk menumis, hingga tak mau menunggu makanan dingin sejenak sebelum masuk ke mulut. Jika pun itu semua cuma aktinya di depan kamera, bagi saya sangat jelas terlihat , bahwa perempuan ini, Nigella Lawson, mencintai makanan. Dia tak peduli tubuhnya gembur (lihat saja fotonya!) yang penting, inner-nya merasa nyaman.

Ketika Nigella memasuki dapur, terlihat jelas, siapa ratu di situ (meskipun semua koki mengaku ratu dapur). Dan caranya memperlakukan hal-hal kecil ketika memasak, di sela-sela asap yang mengepul dari wajan ketika menumis bacon, dia bisa bilang, “listen to it…, there’s something about it that’s so therapheutic,” atau suara ketika keping cokelat saat dituang dalam adonan, seperti hujan. Selain suara-suara, dia juga kerap mengagumi warna-warna makanan. Suatu kali dia memasak dessert, whip cream berwarna putih bergabung dengan strawbery gemuk berwarna jambon, ujarnya, “look at it! How can you don’t love it?!” Ya… saya yang menonton di rumah (bahkan sebelum dia bilang begitu) sudah komentar sendiri, “ih… warnanya cantik banget.” Nigella membawa makanan ke tingkat yang lebih tinggi, mungkin ke tingkat Zen atau Feng Shui.

Di acara masak-memasaknya, Nigella selalu makan di akhir acara. Entah itu makan bersama anak-anaknya, bersama teman-temannya dengan membuat pesta kecil, ataupun makan sebelum tidur (ini yang paling sering dilakukannya). In fact, she can’t sleep without eating! Saya sendiri, kalau susah bobo, suka minum susu dingin (meski mungkin keesokan harinya menyesal kenapa memasukkan makanan ke tubuh sebelum tidur! :P ).

nigella2.jpg

© Photo by JP Masclet

Masakan kesukaan saya (yang saya masak lalu saya makan sendiri, dan saya mengagumi diri sendiri karena memasak makanan ini) adalah sup krim jagung. Ini juga termasuk comfort food mewah bagi saya, apalagi kalau makannya dengan roti panggang kruton. Lihat saja warnanya, teksturnya; putih dengan kuning jagung yang bersembunyi di sana-sini, creamy, dan kerasnya kruton. Makanan comfort food lainnya yang jadi favorit saya adalah sambal tempe/tempe penyet yang dimakan dengan nasi pulen baru diangkat dari dandang, kepul-kepul. Oi, ni’matnyooooo….!

Satu hal yang saya benci dari proses memasak adalah ngulek! Saya bukan tukang ngulek yang baik. Meski sekarang hasil ulekan saya sudah lebih baik dari tiga tahun yang lalu, tetap saja, kalau saya harus ngulek, rasanya ada beban. Dulu, tante saya pernah bilang, bahwa di daerah asalnya, perempuan dinilai berkualitas atau tidak itu dilihat dari caranya ngulek dan hasil akhirnya. Padahal, kalau boleh memilih, sekarang kan ada crusher (bentuknya mirip blender tapi lebih kecil) yang fungsinya seperti ulekan! Konon, ngulek juga tidak boleh dipegang dua orang. Jadi, kalau satu orang sudah pegang ulekan, maka dia harus menyelesaikannya hingga sambal halus. Orang bilang, kalau dipegang dua orang, hasil akhir sambal/bumbu halus jadi aneh (masa sih?! …dasar orang-orang tua, bisa aja!). Ada satu “tradisi” di keluarga yang baru saya ketahui setelah menikah: mama saya memberikan ulekan sebagai hadiah! (ya ampun…, metafora ‘perempuan tempatnya di dapur’ bangeeet…). Katanya, dulu waktu dia baru menikah, ibunya (eyang putri saya) juga memberinya sebuah ulekan (yang sekarang masih awet ada di rumah Solo). Dan ulekan yang diberikannya untuk saya, adalah ulekan batu dengan ukuran sedang yang sudah dibersihkan dengan garam. Jadi, kalau saya ngulek, tidak ada lagi sisa-sisa serpihan batu yang bikin hasil ulekan jadi kehitaman. What zup with ulekan, yo?!

Mungkin bagi laki-laki, apa yang saya utarakan di sini, tentang memasak dicampur suara, warna, zen, feng shui, dan segala tetek bengeknya, rada aneh. (Terutama kalo anda -laki-laki- bisanya makan doang!). Tapi saya yakin banyak perempuan yang mengerti maksud saya. Saya sendiri, kadang berpikir sambil memasak. Ketika sedang khusyu’ motong-motong cabe, saya bisa mereview apa-apa saja yang sudah terjadi, dan apa yang harus saya lakukan selanjutnya, termasuk berpikir soal konsep tulisan.