The Forbidden Kingdom
3

The Forbidden Kingdom

forbiddenkingdom.jpg

Hari ini, saya girang sekali (sampai-sampai memutuskan untuk menulis di blog). Pasalnya, (akhirnya) saya nonton juga The Forbidden Kingdom. Malam minggu lalu, bersama dua orang teman dekat, saya dan suami pindah bioskom tiga kali hanya karena ingin nonton ini. Semua bioskop yang kami datangi full! Kami akhirnya pulang membawa penasaran. Hari Minggu, teman kami (yang malam sebelumnya keliling bersama ke tiga bioskop), SMS dan manas-manasin betapa kerennya The Forbidden Kingdom. Jadilah…. Maksa, hari ini bangun tidur kuterus mandi, tak lupa menggosok gigi, tak membersihkan tempat tidur, tapi langsung ke bioskop Jakarta Teater, antre beli tiket nonton The Forbidden Kingdom. Dua orang aktor yang saya kagumi sejak dulu main di film ini; Jackie Chan dan Jet Li. Satu hal yang lebih membuat saya lebih semangat lagi adalah, tema besar film ini adalah (eng ing eng…) Sun Go Kong, si Raja Kera! Hore!!!

Kangen
Waktu itu saya masih SMP-SMA, di televisi diputar serial Kera Sakti. Saya termasuk penonton setianya, bahkan theme song lagu ini (yang ngerap itu) pun hapal! Bagi saya, serial ini berisi sarat wejangan yang dikemas secara populer. Ketika Kera Sakti dan gurunya sampai di Kerajaan Budha untuk mengantarkan kitab suci yang akan menyelamatkan umat manusia (dan diangkat jadi Budha –musuh-musuhnya pun jadi tobat), saya jadi rada sedih, sebab tentu saja serial ini jadi berakhir. Beberapa kali saya nonton film produksi Cina/Hong Kong bertema Raja Kera, tapi saya kecewa dengan hasil akhirnya. Baru ketika The Forbidden Kingdom ini muncul, saya optimis lagi.

Dari beberapa kisah dongeng (baik dongeng lokal maupun dongeng luar negeri), Kera Sakti adalah satu yang paling saya kagumi. Saya menyukai kisah Keong Mas, The Beauty and The Beast, dan dulu sekali saya pernah juga sempat menggilai Peter Pan. Rasa kangen saya terhadap kisah Raja Kera sempat terobati ketika saya membaca buku American Born Chinese karya Gene Luen Yang, yang juga mengaitkan dunia nyata dengan kisah Raja Kera.

Misi penyelamatan Raja Kera
Alkisah, ada seorang anak asal Boston yang menggilai cerita-cerita asal China. Dia hobi berkunjung ke daerah pecinan dan berburu film bajakan cerita China. Toko ini dikelola oleh seorang yang sangat tua. Suatu hari, anak ini melihat ada sebatang tongkat di toko tersebut. Ia mengenal tongkat itu sebagai tongkan Raja Kera. Pak tua pemilik toko menjelaskan, tongkat itu menunggu untuk ditemukan oleh seseorang yang akan mengembalikannya kepada Raja Kera. Kakek pak tua itu, dulu menunggu orang tersebut, tapi tak datang juga. Kini, giliran dia yang menunggu. Sekelompok anak berandalan hendak merampok toko Pak Tua itu, ketika Pak Tua tertembak, ia berpesan kepada anak Amerika untuk mengembalikan tongkat itu kepada pemiliknya. Anak ini lari, kabur membawa tongkat, hingga ke atas gedung, dikepung oleh kawanan berandalan yang hendak membungkamnya. Di sinilah kemudian dia merasa, tongkat itu menariknya. Tahu-tahu ketika sadar, ia telah berpakaian pengembara ala China dan telah terlempar ke tahun lampau. Dimulailah pengembaraannya mengembalikan tongkat ke Raja Kera yang sedang dikutuk jadi batu oleh Panglima Giok di Kerajaan Terlarang. Yang asik, anak amerika ini bertemu tokoh legenda cerita China lainnya, seperti Drunken Master (Pendekar Mabuk, yang kemudian jadi gurunya -diperankan oleh Jackie Chan), Sparrow (Pendekar Burung Walet), juga Crow (Siluman Gagak, musuh Kera Sakti).

Di sana-sini diwarnai silat ala China yang segar, meski akrab bagi saya yang kerap nonton film-film silat China (lebih segar dari silat di film Crouching Tiger Hidden Dragon). Jaminan nama Jackie Chan dan Jet Li, ditambah penulis naskah kenamaan John Fusco membuat film ini patut diacungi empat jempol (dua jempol tangan dan dua jempol kaki!). Rasa kangen saya terobati, tidak hanya kangen kepada Raja Kera, tetapi juga pada kisah-kisah antah-berantah, penghidupan dunia khayal yang jadi nyata.

Kisah anak yang “terlempar” ke dunia antah-berantah, tentu bukan tema baru. Ada The Never Ending Story (film lama, kalau tidak salah diproduksi tahun 1979), lalu ada film animasi Alice in Wonderland (ini juga film lama). Film-film baru dengan tema sama; Narnia: The Witch, The Lion and The Wardrobe. Kisah Peter Pan yang dibintangi oleh Robin Williams, diangkat dengan judul The Hook, juga dibuka dengan tokoh yang tiba-tiba masuk ke dunia kanak abadi di balik awan.

Saya tidak mau berbicara soal tehnik kamera, pencahayaan, adegan mubadzir, and all that crap, karena saya sedang girang. Lagipula, memang tidak ada yang perlu dipersoalkan. Bahkan ending cerita yang sudah bisa ditebak, yaitu ketika tokoh Sparrow dihidupkan kebali di dunia nyata sebagai gadis China yang bekerja di toko seberang toko milik Pak Tua, pun mampu menghibur saya. Semua rasanya pas, mood saya sedang pas.

3 thoughts on “The Forbidden Kingdom

  1. kayaknya aku udah nonton deh film ini tapi versinya beda .. kalau gak salah yang main bule juga tapi gak ada jackie Chan nya … ada cewek cina nya juga …halah … ngomong opo toh iki ..hi hi.. . tapi aku yakin banget udah nonton ..versi lain cerita Kera Sakti ini .. ( Mikir Mode On ) :)

  2. iya, aku juga udah nonton flm ini, tp menurutku “cukup hollywood” ya. mgkn kerna sutradaranya robert minkoff yg non-chinese…tp aku suka pada beberapa dialog di dlm film ini yg menurutku cukup filosofis :) one of-nya pas di adegan si anak boston diajari silat si drunken master itu…
    Ratih udah liat three kingdomnya andy lau? film ini lebih kelihatan “kho ping hoo”nya, n lebih kerasa nuansa china klasiknya…bagus juga loh…

    ====================

    Takhsin:
    Aku belum nonton Three Kingdom :( gara-gara aku pergi ke luar kota, eh… Eka nonton sendiri! Tapi Eka bilang sih, dia gak terlalu suka film ini. Iya, The Forbidden Kingdom emang Hollywood abis! Tapi asik, hehehe

Comments are closed.