The Grass is Singing: Skenario Terburuk Perempuan

Nobel Kesusatraan

“Sjambok itu tergantung di depan pintu rumahnya, seperti slogan yang terpampang di dinding: Jangan ragu untuk membunuh jika memang perlu.” Demikian tulis Doris Lessing dalam novel debutnya.

Sjambok (cambuk khas Afrika) merupakan perlambang kekuasaan kulit putih yang mendominasi di Afrika Selatan. Sjambok biasa digantungkan di dinding atau pintu depan rumah orang kulit putih untuk menakut-nakuti para pekerjanya, orang kulit hitam. Seperti inilah gambaran zaman perbudakan sebelum tahun 50-an, yang menjadi latar novel The Grass is Singing.

Bagi penulis generasi sekarang, terutama di Indonesia (tak terkecuali saya), baru mendengar nama Doris Lessing ketika ia disebut sebagai pemenang Nobel Kesusastraan 2007 pada Oktober lalu. Namanya tak muncul secuil pun dalam taruhan siapa pemenang Nobel Kesusastraan 2007 yang marak di internet. Bahkan bisa dibilang, ia mungkin telah dilupakan. Pada tanggal 10 Desember 2007, perempuan berusia 87 tahun ini menerima hadiah sebesar 1,5 juta dollar AS di Kantor Pusat Akademi Nobel, Stockholm. Saya memutuskan untuk “berkenalan” dengannya melalui The Grass is Singing.

Rasisme
Dalam novel ini Lessing mengkritik kesenjangan ras di Afrika Selatan. Lewat tokoh Mary Turner, Lessing mencoba menggabungkan permasalahan rasisme dan psikologi. Mary membenci segala hal tentang orang-orang kulit hitam: “Ia membenci tubuh mereka yang setengah telanjang, otot hitam dan tebal ketika membungkuk, saat bekerja tak pakai otak. Ia membenci mereka yang lelet dan pandangan mata yang menghindar ketika ia berbicara dengan mereka, sikap yang diam-diam tidak hormat; dan yang paling dibencinya, yang ia tunjukkan dengan sikap jijik, adalah aroma kental tubuh mereka, seperti aroma binatang, masam dan panas. ‘Mereka bau sekali,’ ujar Mary pada Dick,” demikian tulis Lessing. Ketika Mary harus menggantikan suaminya yang sakit mengawasi pekerja kulit hitam di sawah, ia memperlakukan mereka sangat keras.

Lessing yang memang menghabiskan masa kecil di Afrika, menggambarkan penduduk kulit putih pada masa itu menilai penduduk asli sebagai pencuri, pembunuh dan pemerkosa. Di lain pihak, diam-diam kulit putih pun sebenarnya menyimpan rasa takut terhadap penduduk asli. Ini pula yang menyebabkan tokoh Mary tak segan menggunakan sjambok kepada pekerjanya.

Istilah “poor whites” muncul di novel ini. Sebutan itu bukan ditujukan untuk orang kulit putih walau kata “white” (putih) tercantum di situ, melainkan untuk para orang Afrika (meskipun mereka berkulit hitam). Bayaran pekerja penduduk asli sangat murah, antara dua shilling hingga satu poundsterling. Di sana-sini pekerja kulit hitam dipanggil “boy”, panggilan khas yang merendahkan untuk orang kulit hitam.


Meski novel ini disebut-sebut sebagai kisah roman antar ras, tokoh Moses (pelayan kulit hitam yang kemudian kepadanyalah Mary jatuh cinta) baru benar-benar muncul pada Bab 8 dari 11 bab yang ada. Tak ada penjelasan lebih dalam mengenai siapa Moses dan bagaimana latar belakangnya. Seperti halnya orang kulit putih yang memandang orang kulit hitam tak penting pada masa itu, seperti itulah kesan saya membaca Moses dalam novel ini. Terpinggirkan, terlupakan, dan akhirnya tersingkirkan.

Belenggu rumah tangga
Doris Lessing kiranya memandang pesimis pada kehidupan perkawinan. Di dalam novel ini, kehidupan rumahtangga digambarkan sebagai belenggu. Tokoh Mary Turner, yang menjadi sentral novel ini merupakan gambaran melankolis seorang perempuan dalam interaksinya dengan keluarga, lingkungan dan kehidupan rumahtangganya sendiri.

Dikisahkan, seumur hidupnya, Mary terperangkap oleh masa kecilnya yang suram. Keluarganya miskin harta maupun kasih sayang, mereka tinggal di desa dengan keadaan yang mengenaskan. Bagi Mary, orangtua (terutama ayahnya yang pemabuk dan melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya), merupakan ancaman tersendiri. Mary menemukan kebebasannya ketika ia dikirim untuk bersekolah di asrama. Ia tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri.

Namun kebebasan ini tidak selamanya bisa ia pegang, mengingat norma-norma kulit putih pada masa itu yang menggunjingkan perempuan berusia tiga puluh tahun namun masih lajang sebagai aib. Demi meredam gosip, Mary menerima pinangan Dick Turner. Lelaki itu memboyongnya ke desa, ke kehidupannya sebagai petani, kehidupan yang pada dasarnya paling dibenci Mary.

Lessing lebih menegaskan lagi betapa kehidupan perkawinan justru mampu menjerumuskan seorang perempuan pada kenyataan hidup yang pahit. Lewat Mary, Lessing menggambarkan kehidupan pernikahan yang tidak bahagia dan penuh pesimistis. Inilah titik awal Mary merasa semakin tertekan. Sebagai seorang istri, Mary tak bisa masak, tak suka bersih-bersih, tak suka disetubuhi, tak suka segala hal tentang desa dan pertanian, dan yang paling penting, jauh di dalam hatinya ia tak suka menjadi seorang istri. Meski begitu, Mary tetap mencoba menjalani perannya. Ini termasuk kesadaran akan pemanuhan kebutuhan dasar pasutri; seks.

Mengenai hubungan intim, Lessing menggambarkan adegan-adegan seks di novel ini dengan halus. Mungkin karena pada masa itu seks tabu dibicarakan. Sikap Lessing yang sengaja membentengi diri terhadap seks terlihat pada tokoh Mary bersikap terhadap laki-laki yang dekat dengan dirinya. Misalnya hubungan Mary dengan Dick, Lessing menulis: “Tak ada bulan madu. [….] Mary sangat lega bisa melewatkan bulan madu.” Hubungan Dick dan Mary bukanlah asmara yang berbunga-bunga. Keduanya menikah didasari oleh tuntutan keadaan. Digambarkan betapa dingin keduanya ketika harus bersetubuh pertama kali. Sementara Mary berpikir hubungan pasutri itu sebagai “tidak terlalu buruk sebab ia tak merasakan apa pun”, Dick merasa dirinya tak layak untuk menyetubuhi Mary, bahkan merasa bersalah.

Perasaan jatuh cinta baru dirasakan Mary kepada pelayannya, Moses. Hubungan cinta mereka aneh, terbentuk dalam atmosfir rasisme yang kental, rasa saling benci yang tak terjembatani. Kedua tokoh ini tetap memainkan peran sebagai pelayan dan tuan tanpa melanggar peran itu secara fisik. Tak ada adegan percintaan intim antara mereka, namun dari bahasa tubuh keduanya, terlihat jelas betapa mereka saling mencintai. Kisah mereka berakhir tragis; pelayan kulit hitam itu membunuh nyonyanya karena dendam.

Lessing bersikap sangat apatis sekaligus berusaha bertahan dengan gender yang diembannya. Ia sepertinya menyimpan banyak kekecewaan yang klimaksnya tergambar pada kematian Mary. Sebuah kematian yang tidak sekedar menggamarkan karakter yang bernasib tragis. Lebih dari itu, The Grass is Singing adalah rambu sekaligus skenario terburuk mejadi seorang perempuan.

10 thoughts on “The Grass is Singing: Skenario Terburuk Perempuan

  1. ratih yang terhormat,
    salam kenal, saya faiz di Padang.
    kamu membahas tokoh, dan karyanya menarik sekali. dan…oya, bagaimana cara mendapatkan cerpen atau karya dari penulis-penulis dunia seperti Orhan Pamuk, Lessing..atau lainnya.
    saya tinggal di kota yang teraman di Indonesia (padang) sekaligus terkutuk; dimana buku susah untuk didapatkan (kecuali buku sains dan Goris Keraf–mm…tapi buku kamu genesis dan tabularasa bisa aku dapatkan).
    Jika berkenan (hehe..basa-basi) saudari bisa kasih solusi untuk masalah ini. saya harap demikian. terimakasih.
    salam
    faiz ketjil

  2. oya..(lagi).. kamu beli bukunya dimana? jogja? huh…butuh beberapa hari ke sana…

    =======

    Faiz ketjil:
    Saya biasanya dapet buku-buku berbahasa Inggris juga titip teman kalau ada yang ke luar negeri. Soalnya di Jakarta juga enggak gampang, terutama setelah toko buku QB tutup :( Oya, kalo mau baca cerpen-cerpen dunia yang bagus, coba baca di newyorker.com itu situs majalah The New Yorker yang terkenal itu.

  3. ratih , saya angga rakacitra ,. saat ini saya kuliah jurusan sastra inggris di slah satu universitas negeri d bandung.
    setelah saya membaca blog ini saya sangat tertarik untuk menganalisis isu dalam novel ini sebagai bahan skripsi saya.. cerita nya sangat menarik.
    menurut ratih apa yang bagus saya bahas iia? untuk bahan skripsi saya?
    saya tertarik tentang isu rasisme nya..
    ditunggu blsanya thnkx before..

    ———————

    @Angga:
    Dear Angga,
    Kalo memang tertarik dengan isu rasisme, di novel ini juga kuat kok membicarakannya.
    Kamu bisa ambil dari sisi sosial pada jaman setting novel ini. Terus bisa kamu sambungin dengan isu perbudakan dan rasisme di Barat. Kan banyak tuh buku-buku pendukungnya.
    Selain itu, mungkin kamu bisa angkat dari sisi feminisme dan psikologi.

  4. di mana saya bisa mendapatkan bukunya iia? d gramedia ada ga iia??

    ———————

    @Angga:
    Coba cari di Kinokuniya.

  5. To:Ratih, Thanks for info nya..
    Saya sudah cari di berbagai toko buku di bandung tp gak ketemu, saya perlu buku ini untuk menganalisis isu rasisme nya, rencana saya mau membandingkan dengan buku karya Charles Darwin”The Descent Of Man dan The Origin of Species karena di buku itu jg berhubungan dgn rasisme(Orang2 kulit hitam n Aborigin australia sm dgn Gorila)
    Bisa gak saya pinjam atau saya beli buku dr anda. Klo boleh saya pinjam pasti saya kembalikan klo tdk boleh gak saya beli? di tunggu jawabannya , saya butuh bgt. thanks

  6. to: Mba Ratih

    Mba, ini sasa lg angga..
    mba saya sudah mencari di semua toko buku d jakarta tetapi belum jg mendapatkan buku ini..
    saya sudah mencari di senayan dan di toko buku sekitarnya.
    tetapi tidak ada.
    saya mau minta tolong bila di izinkan saya ingi meminjam dari mba ratih,.
    atau kalo bisa saya mau meninta untuk di fotokopy saja..
    saya sangat butuh buku ini.
    skripsi saya sudah d approve oleh dosen saya, hanya saya sulit untuk mendapatkan nya.
    saya pun sudah coba untuk beli secara online hanya masih ragu.
    saya mohon mba bisa bantu saya,.
    terima kasih sebelum nya.

  7. wah, beruntung gw kalo gtu tih, karena waktu kuliah udah sempet baca buku Doris Lessing, walopun, hehehe..cuma yang satu ini.
    Sekarang malah sudah banyak lupa apa isi ceritanya, jadi kepingin cari lagi bukunya. Dulu bacanya kan foto kopian gitu, ga saik:) dan sekarang udah ga tau ke mana itu fotokopian;p maklum, ga bagus filingnya nih.

    oya, untuk angga, kalau emang bukunya ga bisa didapetin di toko buku lokal, ya mau ga mau mesti pesen online. beli buku online asik2 aja, tapi emang ongkos kirimnya yang mahal. saya pernah beli buku di amazon, alhamdulillaah lancar saja. jadi kalo mau buku online, ya…ga usah ragu, cuma pikir2 dulu soal ongkos kirimnya n cek n ricek tagihan kartu kreditnya biar klop gtuh.

Comments are closed.