The Power of “Surat Pembaca”

 

Prolog

Dari sekian banyak artikel di blog ini, inilah artikel yang saya anggap paling penting yang pernah saya tulis.

 

Antara saya, mamah saya dan Asuransi Bumiputera

Setelah papah saya meninggal dunia, dan saya mudik ke Solo untuk pemakamannya, kami menghadapi satu masalah lain yang membuat mamah saya jadi lebih ikhlas, legowo, sekaligus semeleh. Lain mamah, lain pula saya yang masih saja meledak-ledak, sehingga saya memutuskan untuk menulis surat pembaca berikut:

 “Agen Bumi Putera Tidak Menagih, Klien yang Disalahkan”


Ibu saya peserta asuransi jiwa Bumi Putera (cabang Solo) dengan nomor polis 2000341973. Sebelumnya, ibu saya mengikuti asuransi pendidikan untuk anak-anaknya, dan tidak pernah ada masalah. 

Asuransi jiwa yang ibu saya ikuti sejak tahun 2000, seharusnya memberikan perlindungan ketika orangtua saya (baik ibu/bapak) meninggal. Polis asuransi tersebut dibayarkan setiap enam bulan sekali, yaitu bulan Oktober dan April, sebesar Rp. 438.744. Selama mengikuti asuransi, ibu saya tidak pernah menunggak. Agen asuransi, Ibu Yohana, selalu datang ke rumah untuk menagih polis asuransi.  

Entah kenapa, pada bulan April 2008, Ibu Yohana tidak datang. Juga tak ada agen lain yang datang menggantikannya, seandainya ada pergantian agen. 
Ketika ayah saya meninggal dunia pada bulan Agustus 2008, ibu saya hendak mengklaim asuransi jiwa ybs. Tetapi, karena dianggap ibu saya menunggak satu kali, maka tidak bisa mendapat klaim yang dijanjikan Rp.40.000.000,- Kami sudah menjelaskan bahwa masalahnya adalah, Ibu Yohana (agen) tidak juga datang menangih. Petugas Bumi Putera yang menerima kami, Bp Taufik Nur H. dan Ibu Yuni Sri Hastuti, malah mengatakan, Ibu Yohana kini berada di Manado. Mereka juga mengakui pada bulan April 2008 memang ada mutasi agen asuransi di Bumi Putera. Malah ada ucapan, agen tersebut memang bermasalah. Bagaimana kami tahu agen tersebut bermasalah? Sebagai klien yang berhubungan dengan agen tersebut, kami tak pernah diberitahu soal ini sebelumnya. 

Meskipun permasalahannya sudah jelas bahwa kesalahan bukan ada pada kami (klien), pihak Bumi Putera tetap tak mau memberikan total klaim kami. Karena lelah berdebat, kami akhirnya menerima keputusan untuk hanya memperoleh klaim sebesar nilai pokok yang sudah dibayarkan. Dalam hitungan kami, itu berarti 14 x Rp. 438.744 = Rp. 6.142.416,-

Uang sebesar itu pun tetap tak kami dapatkan. Kami hanya memperoleh Rp. 894.000, yang artinya tak lebih dari premi selama satu tahun saja! Benar-benar mengecewakan, di tengah suasana duka keluarga kami, itulah yang kami peroleh dari Asuransi Bumi Putera. 

Saya tak tahu kenapa kebijakan perusahaan untuk memindah atau menggantikan agen-agennya harus merugikan hak-hak klien. Saya kuatir keteledoran agen semacam ini akan menjadi modus baru perusahaan asuransi untuk mengakali kliennya. Bisa saja sesekali agen memang sengaja tidak datang menagih. Jika klien tidak meninggal, mereka akan menagih dobel di masa berikutnya; jika klien meninggal, mereka akan menganggap klien menunggak. Dengan cara ini hanya ada satu kesalahan: kesalahan klien. Semoga pengalaman kami bisa menjadi pelajaran bagi klien lain, sehingga tidak berlaku pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga pula.

RATIH KUMALA

 

Demikianlah, hari ini (28/8) surat itu dimuat di halaman Surat Pembaca harian KOMPAS. Pagi-pagi, mamah saya tiba-tiba telepon dan bilang bahwa pihak Asuransi Bumiputera datang ke rumah (di Solo) menanggapi surat itu. 

Bumiputera menawarkan Rp. 4 juta untuk mengganti premi yang dibayarkan, yang sebenarnya sudah mencapai Rp. 6 juta lebih. Sejujurnya, saya kecewa. Bagi saya, uang itu hanya sebagai uang ‘minta maaf’. Tapi, mamah saya yang menganut ilmu ikhlas, ujarnya “sudah untung bisa dapat, ketimbang cuma 800ribu itu.” 

Baiklah, urusan Asuransi Bumiputera yang membuat saya naik pitam itu, mau tak mau, demi membuat lega hati mamah saya, harus saya terima dengan ikhlas. Saya memang harus banyak melatih diri, saya sadar benar itu. Dan ini adalah salah satu latihan saya. Meskipun hingga sekarang saya sebenarnya masih bergemuruh dan masih terngiang-ngiang kalimat Malcolm X, “…, tetapi jika kaki saya diinjak, saya akan melawan.”

 

Tulislah! Dan kirim ke “Surat Pembaca”

Meski harus ikhlas menarima uang minta maaf yang jumlahnya hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga satu bulan itu, saya tetap mengajak pembaca/blogger untuk tidak segan-segan membuat surat pembaca jika merasa pernah dirugikan oleh pihak yang lebih besar (perusahaan, dll). Bagaimana caranya?

1. Kita harus tahu bahwa permasalah yang ada bisa juga menimpa orang lain, dengan kata lain, ini adalah masalah menyangkut publik.

Setelah saya cek di internet, ternyata keluhan jasa asuransi (tidak hanya Bumiputera) ada di mana-mana. Berarti ada yang salah dengan sistem asuransi lokal kita, sebab banyak konsumen yang merasa dirugikan.

2. Tulis dengan jelas, inti dari permasalahan, dengan kalimat yang santun dan tidak berbelit-belit. Ingat, ruang di koran itu sangat sempit, dan banyak orang ingin mengeluh. Lagipula, menulis dengan panjang pun akan bisa diedit/dipotong oleh pihak media.

3. Jangan lupa sertakan detail. 

Dalam kasus saya, misalnya, saya menyertakan nomor polis asuransi. Selain itu, sangat membantu jika kita mengingat-ingat customer service/siapa pun nama orang yang menghadapi kita saat terjadi ketidaknyaman yang dikeluhkan.

4. Harus ada KTP

Ini penting: kita harus menyertakan KTP atau kartu identitas lainnya. Jika tak ada ini, sepelik apa pun masalahnya, tidak bisa membuktikan kebenarannya. Surat Pembaca melibatkan pihak lain yang dikeluhkan, jika identitas tidak jelas, sama saja tidak ada pertanggungjawaban. Di kebanyakan Surat Pembaca, alamat lengkap juga harus dicantumkan.

5. Kirim ke koran segala keluhan dan berkas yang ada, lalu duduk tenang dan menunggu  keluhan kita dimuat di surat pembaca. 

Ingat, yang kita lakukan ini jauh lebih efektif dan efisien ketimbang buang energi marah-marah, main pengacara, maupun mengancam sambil bawa polisi. Satu hal lagi, dengan cara ini, kita melakukan perlawanan dengan cara yang sangat elegan dan enggak norak. Seperti yang selalu suami saya bilang, “kita harus belajar untuk jadi lebih cool”.

 

Jika surat Anda sudah dimuat, akan ada tanggapan langsung dari pihak yang dikeluhkan (ini kalau perusahaan tersebut masih waras dan masih sayang konsumen). Seperti mamah saya itu tadi, pagi-pagi, belum sempat nyapu-ngepel, orang Bumiputera tiba-tiba muncul dengan gaya yang sopan dan menawarkan ‘uang minta maaf’. Nah, kalau sudah begini, biasanya di koran akan ada jawaban/konfirmasi dari pihak yang bersangkutan ke surat pembaca yang sama dengan nada kira-kira begini: “permasalahan sudah diselesaikan dengan cara mufakat”. (Ngomong-ngomong ini adalah kalimat standard yang kelihatannya dihapal public relations setiap perusahaan meski sebetulnya belum benar-benar terjadi kemufakatan –percaya deh, saya pernah jadi PR Officer, ya gitu deh!).

Satu hal yang saya pelajari dari teman saya Nurredan adalah “get a big thing or nothing”. Jika kata ‘mufakat’ itu hanya dari sebelah pihak, maka kita harus punya daya tahan banting yang cukup besar (atau minimal dibutuhkan bebal kepala dengan kapasitas cukup), sehingga kita bisa membalas ke koran yang sama bahwa: “kemufakatan belum sepenuhnya terjadi”. Ingat, sekali lagi gunakan kalimat yang santun, juga sebutkan tanggal serta judul surat pembaca yang ditanggapi sebelumnya.

Pingpong semacam ini kelihatannya sepele, namun sebenarnya Surat Pembaca adalah satu-satunya harapan bagi konsumen/publik yang dirugilan. Jika  Lembaga Perlindungan Konsumen (YLKI) tidak bisa melaksanakan fungsinya, maka masih ada harapap di luar sana lewat media massa. Saya sangat berterimakasih pada koran harian yang membuka halaman Surat Pembaca, you have no idea how helpful it is! :)

 

Kirim ke mana?

Jika Anda tinggal di daerah, koran daerah berperan sangat penting. Jika Anda bisa masukkan ke koran nasional, lebih bagus lagi. Sebab surat Anda akan terbaca lebih luas. Ini daftar email koran yang bisa kita kirimi keluhan publik:

1. Kompas = kompas@kompas.com

2. Suara Merdeka = redaksi@suaramerdeka.com

3. Koran Sindo = redaksi@seputarindonesia.com

4. Republika = redaksionline@republika.co.id

5. Suara Pembaruan = koransp@suarapembaruan.com

 

Epilog

Saya sendiri mengirimkan ke hampir semua koran di atas, plus satu koran daerah yaitu Solopos. Jika kemufakatan hanya terjadi pada satu pihak, dan kita masih merasa dirugikan, setidaknya kita bisa membuat sedikit kerepotan perusahaan karena harus membersihkan namanya di banyak media massa.

22 thoughts on “The Power of “Surat Pembaca”

  1. Surat Pembaca memang luar biasa dayanya.

    Untuk itu mari kita bergiat menulis surat pembaca ;)

    Jadi ingat Pak Bambang dengan perkumpulan epistoholic-nya.

    Ratih tidak berminat bergabung?

  2. Ratih,
    Ini Pak Djat. I don’t how to begin this. But I need you to motivate mahasiswa baru di fakultas kita karena now you are somebody with every work you have produced. Kita ada kuliah umum yang diharapkan bisa diisi oleh alumny yang sudah jadi orang, tanggal 11 September hari kamis, dari jam 9-11. If it is possible for you to come to Solo for this program, that’ll be great for our students and for us. Btw my condolences for your bereavement (semoga bapak diampuni dosa dan diterima amalnya). please, if you are pleased give me a word soon.

  3. Pingback: Living Karma » Blog Archive » Ngga Jadi Deh

  4. Hai, mbak Ratih. Saat kubaca tulisan di Surat Pembaca KOMPAS dan ada nama Ratih Kumala di sana, aku menebak pasti ini Ratih Kumala, Si Penulis Cerita yang beberapa bukunya sudah ngendhon di perpusatakaan rumah. Okelah mbak, sepakat bahwa Surat Pembaca punya power. Lah, itu emang fungsinya Surat Pembaca. Ha ha…

    ——————–

    @MUsafir Muda:
    Iya tuh… waktu surat pembacaku dimuat, beberapa orang juga tanya: apa ini Ratih Kumala yang nulis itu? Hehehehe… enggak cuma nulis fiksi, tapi nulis surat pembaca juga! Btw, udah ada balasannya lho dari Bumiputera di Kompas 8 September 2008. Mau kuposting di sini juga sebagai update (meski aku tidak puas dengan jawabannya –yang standard itu–), tapi belum sempat.

  5. Sekali lagi sabar.. hehehe..

    asuransi emang ASU, soalnya kalo bukan ASU namanya menjadi RANSI doank!

    padahal aku saiki dadi underwriting nang asuransi.. kiye kiye kiye…

  6. ini beneran pasti berhasil yah???

    ——————–

    @Nyurian:
    Pokoknya, dicoba dulu saya. Asal permasalahannya menyangkut umum/kemungkinan orang awam bisa dirugikan, dan ditulis dengan cara yang santun, tentu media akan membantu lewat surat pembaca.

  7. hallo Mbak…

    okeh juga buat info ke suara pembaca, beberapa hari yang lalu keluarga mendapatkan musibah karena kelalaian salah satu perusahaan.. dan rencananya saya akan coba muat di suara pembaca..

    thanks buat info nya..

    ———————

    @sinaimoet:
    Ya, sama-sama. Gutlak ya :)

  8. Mbak, my greatest condolences to you.. kok ada-ada saja yah, bener2 pas itu peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga”

    Menurut saya soal pengganti (yang hanya) 4 juta yang (pada akhirnya) ditawarkan tersebut juga ada main orang dalam. karena biasanya kalau sudah masuk surat pembaca, acc dari dalam untuk meng-clear masalah tersebut biasanya segera turun agar mereka dapat segera mengklarifikasi surat Mbak itu dengan balasan diplomatis dari mereka. Sungguh seringkali mengecewakan memang, perusahaan-perusahaan asuransi dimanapun di seluruh dunia.

    Tapi yang penting tabah saja yah Mbak, kenangan indah atas Bapak tidak perlu dirusak dengan kerikil sekecil itu, saya setuju dengan komentar Lex dePraxis diatas..

    NB: Terima kasih sudah di-share pengalamannya..

  9. mba Ratih,
    makasih ya atas tips & trik nya, karena saya dah lama mo kirim surat pembaca, namun perlu hati2 juga, maka saya googling dulu. eh ketemu mb Ratih.

    ya, banyak Company sekarang yg mendewa2kan profesionisme spertinya lupa dengan Pepatah bangsa sendiri “Pembeli adalah Raja”

    Ok, salam kenal.
    wassalam

  10. wah, bener2 ya. ga di sini ga di sana namanya perusahaan asuransi ternyata sama liciknya. kemarin baru liat ‘sicko’ pilem doumentar si michael moore itu dan match banget dg apa yg ditulis di sini. hehe.

    salam

  11. Isi masalah : Tadi malam tanggal 26 januari 2009 sekitar jam 21.23 saya
    mengambil uang di ATM Mandiri yang berlokasi di wisma asri bekasi utara
    sebesar Rp 600.000 (enam ratus ribu rupiah). Namun, uang tersebut keluar
    hanya bagian ujungnya saja,itu pun hanya 1 lembar yang lain sepertinya
    tertahan. Belum sempat saya ambil uang tersebut masuk kembali dan tidak
    keluar sama sekali ( sempat hang sekitar 3-7 menit ) tetapi saldo saya
    berkurang. Setelah itu saya kembali mencoba untuk melakukan
    penarikan,dengan harapan uang yang tidak keluar sebelumnya dapat terbawa
    serta, namun ternyata tidak. Malam itu juga saya langsung konfirmasi ke
    Mandiri Call Center 021.52997777 namun dari call center dinyatakan bahwa
    transaksaksi tersebut SAH,artinya tidak terjadi kesalahan dari mesin ATM.
    Merasa tidak puas saya sempat menanyakan apakah ada cctv di atm tempat
    saya mengambil uang,maksudnya dengan cctv akan lebih jelas apakah saya
    menerima atau tidak uang tersebut,namun kembali saya mendapatkan jawaban
    yang kurang memuaskan. “maaf cctv hanya terdapat di gerai-gerai khusus
    saja, ditempat bapak mengambil uang tidak ada cctv-nya”. Pagi harinya saya
    segera melaporkan hal tersebut ke Bank Mandiri cabang wisma asri diterima
    oleh sdri.Ira Dian selaku CSR kemudian Saya diminta mengisi form yang
    telah disediakan dan diminta untuk menunggu selama 14 hari kerja tanpa
    adanya kepastian apapun.
    Jika saya saya sangkutkan dengan aturan hukum yang berlaku di Negara kita,
    Bank Mandiri dalam hal ini ini telah melakukan suatu perbuatan melawan
    hukum sesuai dengan apa yang tercantum didalam pasal 1365 KUHPerdata,
    sebagai berikut :
    “Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian pada orang lain,
    mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti
    kerugian tersebut”.

    Bank Mandiri dalam hal ini melalui ATM-nya yang tidak berfungsi secara
    baik dengan tidak mengeluarkan uang secara tepat seperti yang diminta atau
    bahkan tidak mengeluarkan sama sekali namun tetap melakukan pendebetan
    terhadap rekening saya, langsung ataupun tidak langsung telah menimbulkan
    kerugian kepada saya selaku pemilik rekening. Sehingga sudah seharusnya
    Bank Mandiri mengganti semua kerugian yang ditimbulkan oleh karena
    perbuatannya terhitung sejak dimulainya kerugian tersebut hingga diterima
    kembali uang yang menjadi hak dari saya.

    Dalam hal ini saya bukanlah orang yang seharusnya bertanggung jawab
    karena saya hanya melakukan procedural yang disediakan oleh pihak Bank
    Mandiri.

    Erick Pangalila M, SH
    No.Rek Mandiri 156.000058XXXX
    erickpangalila@gmail.com
    0815.849.50003

  12. PENGALAMAN BURUK ASURANSI KENDARAAN DI PT. ASURANSI WAHANA TATA

    Semoga Anda tidak pernah mengalami pengalaman yang pernah menimpa saya ini.

    Singkatnya, kendaraan yang saya asuransi secara TLO di perusahaan Asuransi

    Wahana Tata, hilang dicuri. Dan setelah menjalani proses yang super

    berbelit, akhirnya PT. Asuransi Wahana Tata mencairkan klaim. Anehnya,

    pencairan dilakukan 2 (dua) tahap, tanpa melakukan negosiasi apapun dengan

    Pemilik kendaraan yang hilang. Tahap pertama (jumlahnya tidak jelas),

    dicairkan kepada Perusahaan Finance tempat saya melakukan kredit. Tahap

    kedua, dicairkan Rp. 5,4 jt kepada Finance, guna memfasilitasi gratifikasi

    pengurusan surat-surat keterangan polisi. Akhirnya dari seluruh jumlah

    klaim, saya hanya mendapat pengembalian lk. Rp. 3,5 jt ; yang artinya tidak

    lebih besar dari premi asuransi yang telah saya bayarkan; dan juga tidak

    lebih besar dari sebulan angsuran kredit yang telah 14 kali dibayar, dengan

    DP sekitar 25% harga ‘on the road’. Inilah pengalaman saya menjadi nasabah

    PT. Asuransi Wahana Tata. Semoga bermanfaat.

    David, HP. (0274) 9345675
    Pemegang Polis No.03-24-18000197

  13. MENGGUGAT PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen Indonesia ini tentu berdasarkan asumsi bahwa masyarakat akan “trimo” terhadap putusan tersebut.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan mestinya mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Siapa yang akan mulai??

    David
    HP. (0274)9345675

  14. ini membuktikan tidak profesionalnya perusahaan Bumiputera, bagaimana mau bersaing dengan perusahaan asing?. hanya mau cari untung dari kerugian nasabah!, berusahalah secara profesional, carilah untung dari pertumbuhan perusahaan, jangan memanfaatkan keluguan nasabah. maka saya tidak heran kalau masyarakat indonesia alergi terhadap yang namanya asuransi!

  15. Pada bln Juni 2008 Saya mengajukan kredit motor YAMAHA VIXION HITAM B.6494 UJP di PARA MUTlIFINANCE cab.Rawa sari (alamat kantor baru) Jl. Jendral Suorapto No. 8B Jakarta

    Pusat.Dengan dealer Motor Pondok Bambu.Pada saat pengajuan kredit saya tidak diminta tanda tangan kontrak i pemohon kredit,saya juga harus membayar 150rb untuk Plat Nomor & STNK.Tgl 30 Juni.Surat jalan tertanggal 30 Juni’08,dengan saya sbg penerima. Pada Angs.1 di kwitansi tertulis jatuh tempo tanggal 13 tiap bulan,seharusnya jth tempo sesuai dengan motor diterima.Saya sdh mengujakan komplein pd kolektor Para MultiFinance.Sudah puluhan kali kami tetapi tidak ada tanggapan sama sekali dari pihak Leasing,Tanda tangan yang tertera di kontrak juga bukan tanda tangan asli kami.tanda tangan kami di palsukan oleh Surveyor Para MultiFinance (Ganang-985343xx/989513xx) & Marketing General Motor (Yusuf CMG/Dollar 021-919945xx).
    Ada angsuran yang kami bayar 1 bln sebelum jatuh tempo tiba,tetapi uang tersebut masuk di Para MultiFinance 2 minggu lewat dari tanggal jatuh tempo.Saya sdh komfirm ke pihak leasing sejak 20 Des’08 ke cbg. Rawasari,tapi tidak ada tanggapan dari pihak Para MultiFinance.Stlh bbrp bln saya komplein lagi.Berkat bantuan General Motor saya akhirnya bertemu dengan Kepala Cabang Para MultiFinance (Bpk.Uung & Bpk.Yakub),pada saat kami bertemu ditunjukan pada kami surat2 yang ada pada mereka (kontrak,Surat Jalan) dan semua tanda tangan di surat2 tersebut dipalsukan.Surat Jalan (Tanda Terima motor) dari GENERAL MOTOR yang ada di saya & yang ada di Para MultiFinance berbeda tanggal & penerima motor (ada 2 surat jalan dengan tanggal dan tanda tangan yang berbeda),hal ini di ketahui oleh kepala cabang Rawa sari
    Pada pertemuan itu Para MultiFinance meminta kami untuk melakukan pembayaran saat itu juga,namun kami merasa masalah kami belum di selesaikan maka kami bilang kami akan bayar setelah masalah kami ada solusi nya.
    Namun Para MultiFinance tidak menyanggupi hal tersebut,mereka memberikan jalan keluar yang menurut kami tidak bisa di pertanggung jawabkan.Juga kolektor Para MultiFinance menjelekan nama baik saya sekitar rmh saya.Pada tgl 19/20 Maret’09 kolektor Endar 021-980897xx datang ke rumah tarik paksa motor saya.
    Pada saat itu juga saya hubungi Bpk. Uung dan mengkonfirmasikan perbuatan anak buahnya,beliau menyuruh saya datang ke kantor untuk mencari jalan keluar.Karena saya punya itikad baik utk menyelesaikan masalah ini saya ikut mereka ke kantor Para MultiFinance.Ternyata sampai di sana kami di benta-bentak bahkan sampai mau di pukul,karena saya memprotes dan membela dirii merasa posisi saya betul,kami di paksa mengembalikan motor dengan mereka tidak mau tahu masalah kontrak oleh Bpk. Agustinus 021-933704xx.Beliau pula yang menemui saya ketika datang komplein ke Para MultiFinance pertama kali,pihak Para Multifinance melarang saya untuk mengajukan komplein melalui Media cetak alasan NANTI HANYA KARENA ULAH BEBERAPA ORANG SAJA,SATU KANTOTR IKUT KENA IMBAS NYA Sekarang motor saya di tarik tanpa penyelesaian apa2,kami hanya di suruh untuk mengambil motor di leasing lain dan pihak para akan membantu mencarikan dealer nya,itu bukan penyelesaian masalah kami,karena kami selalu bayar tepat waktu.Karyawan PARA MULTIFINANCE yang memalsukan tanda tangan,menggelapkan uang angsuran & mencemarkan nama baik kami.Sangat jelas masalah ini bukan konsumen yang salah.bagaimana dengan konsumen yang rugi akibat Para MultiFinance?Melalui Surat Pembaca saya mau menghimbau kepada Jajaran Pejabat (Direksi,Kepala kantor Pusat,Manajer) di Para MultiFinance,untuk menindak lanjuti masalah ini.Ada konsumen komplein tidak di gubris,sudah jelas masalah ini bukan masalah kecil.Saya juga membaca di beberapa Suara Pembaca di internet maupun media cetak tentang konsumen yang mengeluh karena sikap intimidatif oknum Collector PT Para MultiFinance,perbedaan jumlah angsuran di kontrak.
    Terima kasih kepada Redaksi yang telah memuat surat kami.

  16. Bagaimana cara menuntut kerugian atas kehilangan barang yg disebabkan kacaunya pelayanan suatu maskapai penerbangan (lion)? (barang tdk dilabel, boarding pass dibuat manual, tiket tdk dikembalikan ke pelanggan)

  17. Salam kenal,
    Ibu ratih saya mau bertanya….
    Melihat kasus Prita Mulyasari yang terjadi beberapa waktu yang lalu, ada kesan bahwa untuk menulis sebuah keluhan melalui media publik (apapun itu), salah satunya lewat surat pembaca bisa berdampak pada tuntutan hukum…

    Nah yang akan saya tanyakan adalah apakah dengan melontarkan keluhan leat surat pembaca itu memang beresiko untuk berhadapan dengan tuntutan hukum? atau surat pembaca disediakan memang untuk menampung keluhan masyarakat terhadap pelayanan publik apapun?

    terima kasih.

    ——————–

    @Elfina:
    Itulah anehnya Bu… padahal sebagai masyarakat dan konsumen kan kita boleh mengeluh kalau memang pelayanan yang kita dapat jelek. Eh, malah dituduh pencemaran nama baik. Lebih aneh lagi, karena yang kita keluhkan adalah pihak yang besar, yang punya uang, jadi kita kalah deh. Aneh sekali ya! Percayalah, saya juga bingung. Tapi satu prinsip saya, jangan takut kalo memang enggak salah. Pada akhirnya orang juga akan bisa melihat kebenaran, termasuk kebenaran untuk Ibu Prita.

Comments are closed.