This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)
11

This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)

this_is_it_movie_poster_michael_jackson

Aneh sekali, ketika saya melihat berita Michael Jackson meninggal dunia, yang saya ingat justru lagu “American Pie”-nya Don MacLean. Itu lho, yang dinyanyikan ulang oleh Madonna (durasi +/- 4 menit). Hanya saja biduanita itu tidak menyanyikan versi panjang. Sejujurnya, saya lebih suka versi klasik Don MacLean (durasi +/- 8 menit). Satu kalimat yang terus terngiang di benak saya adalah“the day the music died” (hari ketika musik mati). Ya, bagi saya, Michael Jackson adalah musik, dan musik adalah Michael Jackson. Seperti halnya lirik dalam “American Pie”: Long, long time ago, I can still remember, how that music used to make me smile (bertahun-tahun yang lalu, aku masih ingat, bagaimana musik itu membuatku tersenyum). Dan dua baris lirik yang berbunyi pertanyaan berikut: Do you believe in rock ‘n roll? /And can music save your mortal soul? (Apakah kau meyakini rock and roll?/Dan bahwa musik bisa menyelamatkan jiwamu?) Maka jawaban saya adalah, “yes I do believe it” (ya, aku percaya).

Bagi saya, berbicara tentang Michael Jackson berarti berbicara tentang masa ABG saya. Ketika baru saja menjadi siswi SMP pindahan, saya tertabrak bahasa daerah yang tak saya kuasai, kehidupan saya menjadi terisolasi dari teman-teman sekelas yang kesemuanya berbahasa Jawa. Saya menghabiskan masa ABG dengan membaca majalah Kawanku yang ketika itu formatnya masih berupa majalah musik (ya, saya tidak suka membaca majalah Gadis seperti cewek ABG kebanyakan). Majalah itu sempat menyajikan artikel bersambung biografi para pemusik dunia. Saya ingat, biografi New Kids on The Block pernah menjadi salah satunya. Tapi, saya sejak dahulu memang bukan penggemar boyband. Ketika Kawanku memuat artikel bersambung biografi Michael Jackson, saya mulai mengklipingnya. Beberapa edisi terlewat dikliping sebab majalah itu dipinjam seorang teman sekolah yang tak pernah mengembalikannya (dan saya sangat menyesal, sebab lupa siapa yang meminjam majalah itu).

Ketika saya masuk SMA (1995) dan mulai lancar berbahasa Jawa, saya terang-terangan bilang ke teman-teman bahwa saya menyukai musik-musik Michael Jackson. Sayangnya, teman-teman saya tidak terlalu menyukai dia. Mereka lebih menganggap MJ seorang freak karena operasi plastiknya yang berlebihan (juga karena tuduhan pelecehan seksualnya). Apa mau dikata, masa ABG saya memang tidak sejalan dengan masa puncak keemasan MJ. MJ praktis hampir seusia almarhum papah saya, jadi sebenarnya dia memang angkatan klasik (saya lebih suka menyebutnya demikian daripada kata ‘tua’). MJ sendiri menjadi benar-benar berada di puncak kariernya sebagai seorang extravaganstar pada periode 1978-1989. Sedang, pemusik yang sedang digandrungi ketika saya ABG adalah Bon Jovi, dan beberapa boyband semacam Backstreet Boys, Take That dan Caught In The Act (yang terakhir ini sudah benar-benar ditelan bumi). Saya ingat, beberapa teman bahkan mengejek karena saya beda sendiri: suka Michael Jackson (ah, saya bahkan masih ingat siapa-siapa saja yang mengejek saya waktu itu, hehehe). Tapi, bodo amat. Saya memang menyukai karya-karya MJ, so what? Saya bahkan banyak belajar Bahasa Inggris dari menerjemahkan lirik lagu-lagu MJ, sebab saya penasaran, dia itu sebenarnya nyanyi tentang apa sih? Jadi bisa dibilang, saya jatuh cinta pada musiknya dahulu, lalu liriknya, lalu kepribadian MJ yang dikabarkan sangat penyayang.

Kematian MJ yang mengejutkan, dan segala dugaan-dugaan tentang bagaimana dia meninggal memang menyisakan tanda tanya besar. Kini, dokter pribadi MJ resmi menjadi tersangka utama kematian MJ. Banyak orang yang tidak percaya MJ baik-baik saja beberapa hari sebelum kematiannya. Terutama karena ia lebih sering tampil di media sebab kasus-kasus yang membuat namanya negatif. Publik menduga kalau MJ sakit-sakitan dan menderita. Padahal, MJ sedang menyiapkan konser paling spektakuler untuk bulan Juli 2009, di London. This is it, demikian dia menamai konser ini. Kelihatannya, dia yakin sekali bahwa this is it -inilah saatnya-, waktu yang tepat ia akan kembali meraih sinar bintang yang kemarin meredup.

LittleMJ

Kenny Ortega, sutradara panggung yang merekam segala kegiatan MJ ketika latihan konser This Is It, akhirnya menjawab pertanyaan publik seputar keadaan MJ sebelum meninggal. Film This Is It dilepas ke bioskop seluruh dunia tanggal 28 Oktober 2009 dan dikabarkan hanya akan berlangsung selama dua minggu. Film ini tadinya digarap hanya sebagai koleksi pribadi MJ. Tetapi akhirnya ditayangkan juga untuk publik demi menjawab segala dugaan-dugaan para penggemarnya. Lebih dari itu, keluarga Jackson, Kenny Ortega dan orang-orang yang bekerja bersama MJ di seputar persiapan konser This Is it, kelihatannya ingin memberitahu dunia bahwa MJ baik-baik saja, dan malah dalam kondisi yang fit.

Sebagai seorang berusia kepala lima, dan tuntutan kerja yang mengharuskannya terus aktif baik tubuh maupun otak, MJ memiliki kondisi yang cukup prima. Bagi kebanyakan penari, mereka umumnya menderita sakit tulang panggul sebab gerakan tarian yang dilakukan (misalnya, Paula Abdul). Tapi saya tidak pernah sekalipun mendengar berita MJ operasi tulang panggul. Rasa sakit yang diderita MJ adalah ketergantungannya pada obat pain killer (penghilang rasa sakit) yang disebabkan kecelakaan pada tahun 1984: ketika sedang syuting untuk iklan Pepsi, sebuah lampu di atas MJ yang sedang menari terbakar. Apinya jatuh tepat di kepala MJ, ia menderita luka bakar tingkat dua dan tiga. Sejak itu MJ tergantung pada pain killer. Kelihatannya, sejak itu pula, ‘hobi’-nya operasi plastik makin menjadi-jadi.

Konon, operasi plastik berfungsi layaknya candu, membuat seseorang akan ketagihan. Ya, menjadi cantik dan sempurna ternyata adalah candu. Betapa ‘sempurnanya’ pemampilan MJ ketika tampil dalam video klip “Black or White”, dari album Dangerous (1991). Michael yang beberapa waktu lalu masih terlihat selayaknya orang kulit hitam, kini sudah benar-benar berkulit putih. Banyak orang memandang perubahan penampilannya itu sebagai bentuk kegilaan, atau keanehan yang makin menjadi. Beberapa kritikus selebriti di channel E! Entertainment berpendapat, seharusnya MJ berhenti operasi plastik ketika penampilannya masih seperti di album Thriller (1982). Tapi, bagi saya (dan mungkin para penggemarnya –di manapun Anda berada), itu adalah bentuk totalitas kerja seni. Begitu totalnya, hingga cenderung menghancurkan diri sendiri. Ini mungkin sulit dipahami oleh orang lain (apalagi mereka yang bukan seorang pekerja seni). Tapi, bukankah jika kita (seorang seniman, aktivis atau apapun) menggembar-gemborkan idealisme ini, idealisme itu, idealisme bla-bla-bla, maka seharusnya kita total, tak peduli jika itu harus menghancurkan diri sendiri. Nah, seperti itulah saya memandang MJ.

Ada semacam kelegaan ketika saya menonton film This Is It, rasanya seperti kelegaan seorang anak yang mengetahui bahwa ayahnya yang baru saja meninggal ternyata mengucap “Allah” sebagai kata terakhinya. Keadan MJ yang baik-baik sajalah yang membuat saya lega. Meskipun popularitas MJ menurun tajam, tapi dia masih seorang seniman musik yang sama, yang berulang kali saya imajinasikan di dalam pikiran saya, bahkan lebih. Caranya memberi pengarahan kepada orang-orang yang bekerja untuknya, dan bagaimana dia kerap berkata, “it’s all for love. L-O-V-E” (semua demi cinta, c-i-n-t-a) dan “God bless you” (Tuhan memberkatimu). Mengutip ucapan Kenny Ortega yang menanggapi Michael, “church and rock ‘n roll” (gabungan antara gereja dan musik rock ‘n roll). Adegan favorit saya di film ini adalah ketika gitaris perempuannya harus maju bersama Michael memainkan solo gitar. Sang gitaris (saya tak mencatat namanya) menghentikan permainannya sebab memang not berakhir di situ, tetapi MJ justru menyuruhnya terus main hingga nada tertinggi. Ujarnya, “this is your moment to shine, reach your highest note! We’ll be there with you.” (Ini adalah saat bagimu bersinar, mainkan hingga nada tertinggi. Kami akan terus mendampingimu). Hanya seorang pemusik berjiwa besar yang mau membagi panggungnya bagi seorang gitaris yang tak populer, dan terang-terangan bilang bahwa itu adalah kesempatan baginya untuk bersinar.

MJ tahu seperti apa musik, lagu, dan bagaimana dia ingin menyajikannya untuk penonton. Bahkan ketika dia mencontohkan tarian, dengan otomatis mulutnya akan bernyanyi. Juga sebaliknya, ketika ia mulai mencocokan satu nada lagu, tubuhya mulai menari. Musik dan tari sepertinya sudah melebur dalam diri seorang Michael Jackson, dan muncul berupa suara indah serta gerakan tubuh. Saya merasa, menjadi seorang MJ berarti telingamu dipenuhi musik yang hanya bisa didengar olehmu sendiri. Mungkin, dalam kehidupannya sehari-haripun, dia selalu punya backsound atau theme song. Yah, mirip-mirip film lah.

Andaikata konser This Is It jadi digelar, maka kita masih akan menemukan satu ciri khas dari semua konsernya: bahwa tiap lagu akan disajikan dengan konsep yang berbeda, yaitu seperti video klip yang kita lihat di televisi. Siapa pemusik yang menggarap konsernya seperti ini? Saya belum pernah tahu lainnya. Hanya MJ. Selebihnya, di dalam This Is It, semua konsep digarap baru, lebih fresh, diberi detail yang akan menggetarkan penonton konser. Yang membuat saya tercengang adalah, MJ tahu, kapan sebuah nada harus ditahan, dan kapan dia harus memberi ‘cue’ kepada pemusik/penarinya untuk kembali bermain sehingga penonton akan merasa deg-degan. Bagi saya, ini mirip dengan serial televisi Korea yang kerap menyajikan adegan sepasang kekasih yang berkelahi, mereka berada dalam satu frame, tetapi keduanya tidak saling tahu sebab sibuk saling memikirkan satu sama lain (mungkin yang satu sedang duduk di balik tanaman rambat di sebuah taman, sementara di jalan setapak taman yang sama kekasihnya lewat membelakanginya). Juga adegan ketika Superman membawa kekasihnya terbang melewati permukaan laut sebelum mengajaknya terbang melihat bumi dari kejauhan langit. Ini adalah adegan-adegan yang membuat penonton deg-degan sekaligus gemas. Nah, seperti itulah MJ, dia mengetahui bagaimana cara membuat penonton konsernya deg-degan dan gemas hanya dengan menahan satu ketuk nada, atau memainkan refrain dengan jumlah yang lebih banyak.

Satu hal lagi yang membuat saya lega, film ini tidak diakhiri dengan berita kematian MJ yang sudah terlalu sering kita lihat di televisi/baca di media. Padahal sejak awal saya sudah mempersiapkan mental akan melihat ending film yang menyedihkan. Ya, saya memang lebih suka melihat film-film berakhir bahagia, seperti kebanyakan film bergenre chick-flick dan kartun, sesederhana itu saja. Sepertinya, film This Is It merupakan bentuk perayaan hidup seorang King of Pop. Sangat wajar bagi saya, ketika seorang seniman seperti MJ mengetahui bahwa this is it –inilah saatnya- ketika ia berada di puncak kejayaan dan ingin mati ketika itu terjadi. Saya pikir, sebab itulah MJ mengadakan konser This Is It. Dia mungkin tahu waktunya tak banyak, dia juga tahu bahwa akan kembali menjadi superstar, dan sekaligus ingin kehidupanya berakhir di saat puncak. Sebuah akhir drama kehidupan yang ironis, bukan? Sejujurnya, saya iri.

11 thoughts on “This is it. The day the music died: Michael Jackson (1958-2009)

  1. MJ memang benar2 seorang raja tak tergantikan. kematiannya yg mencurigakan memang menyedihkan, tapi justru makin membuat ia dikenang sepanjang masa. saya sempat kaget waktu mbak ratih membandingkan MJ dg bapak mbak. kelihatannya MJ sangat dekat denganmu.

  2. Hingga sekarang saya belum nonton This Is It. Yah … karena banyak alasan yang membuat saya belum bisa ke bioskop. :D Walau begitu, saya kepingin banget … karena membaca ulasan This Is It saja di KOMPAS sudah membuat saya “merinding”.

    Dengan masa remaja yang habis di studio musik dan panggung, saya bisa membayangkan betapa spektakulernya konser itu. Dengan membaca ulasan film itu saja, saya sudah bisa membayangkan.

    Yup … MJ adalah seorang Raja Musik!

  3. Salah satu kelebihan MJ yg membuatnya menyabet segala gelar “paling “dlm dunia music adalah dia tak pernah berhenti belajar sampai akhir hdpnya ! Mj selalu mempelajari kelebihan org lain & dgn kejeniusannya tdk sukar baginya u mengembangkan kelebihan2 itu menjd 1 gaya tersendiri yg kemudian menjd ciri khasnya & membuatnya jd legenda tak tergantikan mungkin selamanya !! Salam kenal dr sy yg sangat …. sangat merasa kehilangan seorg entertainer sejati tanpa tanding ! I love u michael tidurlah di dalam damai

  4. MJ adalah tokoh yang melegenda menurut saya, fans2 MJ banyak bgt hampir di setiap negara ada, tapi sangat disyankan MJ meninggal dengan cara yang begitu. Mesteri kematian MJ juga masih bergulir, Walaupun MJ sudah meninggal tapi karya2 MJ akan tetap hidup di hati penggemarnya..
    thankyu dan sukses slalu iah mbak :)

  5. Menurut sy Michael dlm This is it tampak begt kurus & rapuh rasanya berlebihan kalo org bilang MJ msh lincah & energik ! Kalo dibandingkan dgn konser2nya dl dlm This MJ lbh banyak menari dgn tangan atau hanya berjln ! Bagi sy MJ tampak begt menyedihkan dia begt kurus & sy sungguh marah padanya mengapa dia tak dpt menjaga kesehatannya sendiri ! Setuju dgn mbak Ratih sy jg iri pd MJ tp rasa iri sy adlh MJ selalu lbh dpn bahkan kini dia telah lbh dl tau ” rahasia “di balik kematian !

  6. kemaren saya ke tempat penyewaan film. tapi THIS IS IT sedang berjalan-jalan. mudah2an malam ini dia kembali ke tempat itu. jadi tambah penasaran untuk menontonnya.

  7. sorry, i’m a girl, i read kawanku when i was younger, and i’m a fans of jarvis cocker, freddie mercury, and david bowie maybe everybody should start listen to the no plastic surgery musicians, or musicians with lower financial liability.hehehe.

    But MJ is one of the greatest performer, even sometimes it’s kinda ‘too much’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>