Tiga Bayangan, novel grafis
2

Tiga Bayangan, novel grafis

three-shadows_2 Alkisah sebuah keluarga kecil nan sederhana di sebuah desa: Louis sang ayah, Lise sang ibu dan Joachim putera mereka. Kehidupan mereka yang damai tiba-tiba diusik oleh tiga bayangan yang mengikuti Joachim. Sejak itu, apapaun dilakukan kedua orangtuanya ini untuk melindungi anak mereka. Lise mula-mula pergi ke Mistress Pike, seorang paranormal yang mampu ‘membaca’ siapa ketiga bayangan itu. Mistress Pike hanya bisa bilang, “Jangan coba melawan ‘bayangan’ ini… tidak ada gunanya. Nikamti saja setiap saat bersama Joachim, selama ia masih bersamamu.” Demikianlah, akhirnya Louis memutuskan untuk membawa Joachim jauh-jauh, pergi dari desa itu, terus berlari menghindar dari ketiga bayangan itu. Petualangan Louis dan Joachim pun dimulai, mereka ditipu, naik kapal, kena badai,¬† terdampar, lalu diselamatkan lelaki tua aneh yang berjanji bisa melindungi Joachim apabila Louis menyerahkan hidupnya sebagai imbalan. Lelaki tua itu lalu mengubah Joachim jadi begitu kecil (atau Louis yang jadi begitu besar?!) sehingga bocah itu masuk ke dalam telapak tangan Louis dan terlindungi selamanya dari tiga bayangan yang mengicar.

Harus saya katakan, Tiga Bayangan (Gramedia Pustaka Utama) tidak menyuguhkan happy ending (ups… sory buat yang belum baca). Cerita ini diakhiri dengan kesimpulan: hidup terus berjalan, sesakit apapun masa lalumu. Louis dan Lise punya anak lagi, yang mengggantikan Joachim, meski mereka tak pernah bisa melupakan putranya itu.

harvest

Cyril Perdrosa adalah komikus asal Perancis yang pernah terlibat dalam produksi film Disney, yaitu¬† The Hunchback of Notredame dan Hercules. Saya tidak terlalu mengenal budaya tradisional Perancis, jika memang kehidupan desa di sana seperti yang digambarkan dalam novel grafis Tiga Bayangan. Perancis yang selama ini saya tahu (dari televisi dan majalah) adalah negara yang penuh gaya, orang-orang bersliweran di jalan dengan fesyen bermerk Internasional. Membaca Tiga Bayangan, saya merasa sangat jauh dari kesan Perancis selama ini yang saya kenal, sehingga saya sangat akrab dengan cerita-cerita macam ini: kehidupan desa yang sederhana, kepercayaan orang-orang terhadap hal-hal gaib, juga kebiasaan menipu orang-orang yang sedang terdesak/susah (hihihihi… akuilah!). Hal-hal macam ini biasa kita temui di Indonesia.

Meskipun saya bukanlah seorang komikus, tetapi saya sangat menyukai gambar-gambar komik. Meskipun (juga) saya bukan ahli menggambar, saya suka memperhatikan gambar-gambar orang lain dan mereka-reka seperti apa prosesnya. Berbeda dengan komik Jepang yang identik dengan manga, setiap komikus asal Perancis memiliki ciri khas sendiri. Perhatikan Marjane Satrapi, komikus novel grafis Persepolis, meskipun ia asal Iran, tetapi ia mengenyam pendidikan di Perancis yang kemudian membesarkannya sebagai komikus. Ia menggunakan tinta cina (sebuatan di Indonesia), berbeda pula dengan David B., komikus novel grafis Epileptik yang konstan menggunakan mata pena. Cyril Pedrosa menggunakan media campuran, meski lebih banyak menggunakan pensil sebagai sketsa gambar, ia juga menggunakan tinta yang kelihatannya dibusel (maaf lahir batin kalo salah isitilahnya… namanya juga cuma penikmat, bukan ahlinya, hehehehe).

2 thoughts on “Tiga Bayangan, novel grafis

  1. mampir dulu ah…..hmmm saya termasuk penggemar novel grafis .. karena bahasa gambar menurtu saya punya daya pikat tersendiri….

Comments are closed.