“Tulah”


foto oleh place light -on a project-, some rights reserved

Darah Domba di Pintu Budak.
Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan malaikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah embannya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling tidak menyenangkan di dunia: mencabut nyawa. Ah, tentu dia akan berpikir sama dengan kita, bahwa dunia ini tak adil dan keadilan harus diperjuangkan. Seperti kita. Dan seperti aku, mungkin dia akan jadi pemberontak. Setidaknya mempertanyakan ulang cara kerja segala sistem aturan. Seperti kita.

Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk ini, sekaligus malam pembebasan bagi kita sebab anak laki-laki sulung mereka akan mati. Mulai dari anak sulung domba, sapi milik mereka, para pengikut hingga anak sulung Firaun. Lalu mereka akan melihat kebenaran yang sudah lama kugembar-gemborkan namun tak hendak didengarkan.

Aku, Laut Belah.
Namanya Miryam. Aku mengenalnya saat ia mengambil rebana dan semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. Mereka bernyanyi, sebuah lagu panjang yang syairnya tak putus seperti lingkar. Ombakku bernyanyi di kunci F, saat Miryam dan para perempuan itu bernyanyi di kunci G. Aku ikut girang hingga tubuhku penuh gelombang. Orang-orang menyebutku Teberau. Tapi aku memanggil diriku sendiri Si Laut Belah. Kuceritakan padamu, kenapa aku memberi julukan itu pada diriku sendiri. Masih segar dalam ingatanku, hari itulah aku mengenal Miryam, perempuan yang mendekap buntalan berisi roti tak berragi dan selingkar rebana.

Ketika itu hari tenang. Tak ada Badai, temanku yang kadang berkunjung. Langitpun cerah, yang ada hanya langit terang kehijauan, saat sekelompak orang berbondong-bondong eksodus. Wajah mereka kebingungan dan salah satu dari mereka berteriak dengan marah, “Apakah kamu akan menjadikan lelaut ini sebagai kubur kami, Musa?”

Republika, 11 November 2007

Baca selengkapnya di Republika

2 thoughts on ““Tulah”

  1. Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk ini….

    wah…!

  2. she is one of the best friend i ever know, i never see her stop working on something, keep writing even i don’t like reading but i always support you

Comments are closed.