Image
0

WESEL POS, novelet

Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.

Sinopsis:

Ada dua jenis orang yang hidup di Jakarta. Pertama adalah orang sakti, mereka adalah orang yang akan bertahan hidup sebab ‘ilmu’ mereka sudah tinggi. Kedua adalah orang sakit, yang akan mati ditelan kekalahan di kota ini. Elisa datang ke Jakarta membawaku, sebab di atas tubuhku tertulis alamat kakaknya yang selama ini mengiriminya uang melalui aku, si Wesel Pos. Apakah dia akan menjadi orang sakti atau orang sakit? Sungguh tipis perbedaan menjadi sakti dan sakit.

Continue reading

Image
0

BUMI MANUSIA DAN PEMBACA YANG BORO-BORO NONTON, SUDAH BURU-BURU KECEWA

Terbit pertama kali di Mojok.co, 29 Mei 2018

MOJOK.CO – Kecewa ketika menonton film yang diangkat dari buku adalah hal biasa. Tapi, kecewa bahkan sebelum filmnya dibuat? Seposesif itukah para pembaca Bumi Manusia?

Sudah lama sekali saya mendengar berita bahwa Bumi Manusia akan difilmkan. Sepertinya sudah lebih dari 10 tahun lalu. Proyek ini juga sudah pindah tangan dari sineas satu ke sineas lainnya. Seperti tebak-tebak buah manggis, siapa yang bisa bikin film ini paling manis? Beberapa nama seperti Riri Riza dan Anggi Umbara kabarnya pernah mencoba memegang proyek ini, tetapi belum berjodoh. Lebih baik menunggu orang yang tepat untuk bisa merealisasikan karya sastra ini ke layar lebar ketimbang jadi proyek abrakadabra yang digarap tergesa-gesa.

Continue reading

Image
2

Dilan: The Power of Gombal

FotoFilmDilan

Hari ketika saya menulis artikel ini, Iqbaal Ramadhan –si pemeran Dilan- sedang belajar di luar negeri tetapi rekaman dirinya muncul di layar lebar minta maaf ke penonton sebab tak bisa hadir di tengah-tengah mereka. Di bioskop yang sama, seseorang mamah muda beranak satu sedang date night dengan suaminya menonton Dilan 1990. Di tempat lain, seorang pekerja sedang lembur sambil membuka liputan6.com dan membaca berita kalau jumlah penonton Dilan 1990 sudah mencapai 5 juta. Sedangkan seorang kid jaman now sedang posting di Instagram, menambah panjang daftar meme tentang Dilan yang kali ini isinya gambar Dilan dan Milea dilengkapi teks, “Bilang ke Dilan, yang berat itu nurunin berat badan, bukan rindu.” Tentu, semua yang baca pasti sudah tahu kalau meme soal berat dan rindu itu berasal dari dialog berikut:

Dilan: “Sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu.”
Milea: “Kenapa?”
Dilan: “Berat. Kau gak akan kuat. Biar aku saja.”

Dilan 1990 diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Pidi Baiq, terbit tahun 2014. Dilan bukanlah film remaja pertama yang diangkat dari karya fiksi. Ada banyak, tetapi yang menghadirkan tokoh yang namanya terus diingat, kalimat-kalimatnya dikutip, dan pembaca/penonton berharap bisa jadi dia, terbatas. Coba kita lihat daftarnya; ada Ali Topan Anak Jalanan (1977), Lupus (1986), Catatan Si Boy (1987), Rangga di Ada Apa dengan Cinta (2002) -yang ini sebenarnya bukan dari fiksi, tapi akan saya jelaskan nanti kenapa saya masukan di sini-, dan yang terbaru, tentu saja, Dilan 1990 (2014). Dari masa ke masa, selalu ada satu tokoh remaja cowok yang ikonik. Yang cewek mau jadi pacar dia, dan yang cowok ingin jadi dia. Satu lagi kesamaan mereka, dengan caranya sendiri, mereka pintar ngegombal dan bikin cewek kelepek-kelepek. Yuk dibahas.

Continue reading

Image
2

Ratih Kumala: An instinctive, detailed storyteller

Out and about: Author Ratih Kumala poses for a photograph in front of the ancient Sanchi Buddhist complex in Madhya Pradesh, India, on the sidelines of the first India-ASEAN Youth Summit in mid-August. She joined the summit as an Indonesian delegate. (JP/Sebastian Partogi)

Out and about: Author Ratih Kumala poses for a photograph in front of the ancient Sanchi Buddhist complex in Madhya Pradesh, India, on the sidelines of the first India-ASEAN Youth Summit in mid-August. She joined the summit as an Indonesian delegate. (JP/Sebastian Partogi)

Source: The Jakarta Post, 16 October 2017

Pursuing a career as a writer requires a lot of energy and persistence, according to novelist-scriptwriter Ratih Kumala.

Suppose you are walking to an Indonesian restaurant with a friend. You both sit at a table before taking a glimpse at bottles of sarsaparilla and kerupuk(deep fried crackers) sitting atop it. You might not think too deeply about them.

That is not the case for novelist, short story writer and scriptwriter Ratih Kumala, who said that she had a penchant for developing stories from small, often trivialized things, such as the objects that were sitting on our table during an interview in mid-September.

Continue reading

Image

India-ASEAN Youth Summit 2017: Merayakan Kemerdekaan di Negeri Orang

Delegasi Indonesia, India-ASEAN Youth Summit 2017

Delegasi Indonesia, India-ASEAN Youth Summit 2017

Jakarta – Pada 14-19 Agustus 2017 lalu, saya dan sembilan orang lainnya mendapat kehormatan menjadi delegasi Indonesia untuk India-ASEAN Youth Summit 2017 di Bhopal, Madhya Pradesh, India. Dihadiri oleh 170 delegasi dari 11 negara ASEAN dan India, acara ini diorganisasi oleh Pemerintah India yang bekerja sama dengan Indian Foundation.

Ada yang spesial dari pilihan tanggal di atas, sebab 15 Agustus adalah Hari Kemerdekaan India. Kami diajak mengikuti upacara Kemerdekaan India yang ke-70 di Museum Indira Gandhi Manav Sanrahalaya, Bhopal. Pengibaran bendera yang diiringi lagu kebangsaan India, Jana-Gana-Mana pun dilakukan.
Continue reading

Image

Asian Review of Books: “Cigarette Girl” by Ratih Kumala

Cigarette Girl, Ratih Kumala, Annie Tucker (trans.) (Monsoon Books, September 2016)

Cigarette Girl, Ratih Kumala, Annie Tucker (trans.) (Monsoon Books, September 2016)

Asian Review of Books, 14 March 2017

Redolent of the ubiquitous Indonesian kreteksCigarette Girlfollows three generations of two Javanese families from the time of the Dutch surrender to the Japanese in 1942, via the crackdown on the communists and the massacres of 1965, to the present.

Written by Ratih Kumala (whose author husband Eka Kurniawan has already made a splash in English-language translation), Cigarette Girl has been fluently translated by Annie Tucker, who made the sensible decision to leave many terms in either Bahasa Indonesia, or in Javanese, most, although not all, with explanations in the text, adding a layer of linguistic richness and interest to an already interesting and absorbing novel.

Continue reading