Valentine Bersama Puisi

SIA-SIA
Puisi: Chairil Anwar

Penghabisan kali itu kau datang
membawa karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci.
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

Ada yang spesial hari ini, 14 Februari 2008. Bukan karena ini hari Valentine, bukan…. Melainkan karena dua orang yang saya kagumi karya-karyanya membaca puisi di depan saya. Sejujurnya, memulai hari ini bagi saya cukup menjengkelkan. Hujan sejak pagi, padahal saya harus keluar rumah untuk beberapa urusan. Hujan hari ini seperti stop kontak yang error. Nyetrum-enggak-nyetrum-enggak.

Saya dan beberapa teman mengunjungi Dolorosa Sinaga di studionya. Tubuh-tubuh patung yang kurus dan muka-mukanya tak berwajah, di benak saya patung-patung Bu Dolo seperti gelas martini yang disusun menyerupai piramida dengan ujung yang mengerucut. Lalu anggur dituang dari gelas paling atas, terus hingga anggurnya tumpah membludak mengisi gelas yang dibawah. Terus seperti itu. Sungguh mengherankan, ia bisa bercerita banyak bagi siapa pun yang melihatnya (terutama bagi saya adalah sebuah patung yang bernama My Blue Lady).

Bu Dolo menunjukkan pada kami sebuah patungnya; dua figur (satu laki-laki dan satu lagi perempuan) sedang duduk di sebuah bangku panjang. Figur laki-laki duduk di ujung kiri sambil menunduk, sedang figur perempuan duduk di ujung lainnya, berkebaya dan membawa seikat bunga. Wajahnya seperti tak hendak melihat figur laki-laki yang duduk di ujungya. Lalu Bu Dolo bilang, “ini saya buat berdasarkan puisi Chairil Anwar, coba tebak apa judulnya?” Kami tertegun, berpikir sebentar, mencoba mengingat-ingat puisi-puisi Chairil yang akrab. Jelas bukan puisi “Aku”, pikir saya, apa ini dari puisi “Taman”? Saya menimbang-nimbang. Sebab si perempuan membawa bunga? Dan kedua figur itu sepertinya sepasang kekasih. Sambung Bu Dolo, “saya hapal beberapa bagian, coba kamu tebak ya….” Ia mulai membaca beberapa baris, hingga di akhir kalimat; wah…, begitu cantiknya puisi itu, dan terlewat dari saya. Tak ada dari kami yang bisa menebaknya, Bu Dolo akhirnya berkata, “judulnya Sia-Sia.”


Sepulang dari studio Bu Dolo, kami berhujan-hujanan (lagi). Hujan masih saja seperti stop kontak yang error. Nyetrum-enggak-nyetrum-enggak. Tak cukup deras untuk membuat kuyub, tapi tak cukup rintik pula untuk tak membuat kami tidak sakit kepala. Hari masih terang, tapi kami memutuskan untuk langsung ke Taman Ismail Marzuki. Kami berencana menonton acara Puisi-Puisi Cinta Sapardi Djoko Damono malamnya. Kursi gedung Graha Bhakti Budaya yang memenuhi hingga dua lantai tidak penuh terisi. Agaknya hujan membuat orang malas datang. Duduk di belakang saya, beberapa orang yang datang berpasang-pasangan, mungkin mereka sedang kencan.

Saya tak terlalu ingin membahas pembaca-pembaca dan musikus-musikus puisi yang tampil di acara ini, kecuali Ari malibu dan Reda Gaudiamo. MC memperkenalkan mereka sebagai ‘duet maut’, dan ini membuat penonton tertawa. Bagi saya, sebutan itu mengingatkan saya pada penyanyi dangdut seangkatan Inul yang doyan goyang pinggul dan bokong. Ah…, Ari dan Reda, dua orang itu mengingatkan saya pada soundrack film-film lawas tahun ’80-an. Semacam film Yang Muda Yang Bercinta dan Cintaku di Kampus Biru. Tentu saja semua menantikan mereka menyanyikan “Aku Ingin” (Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/awan kepada hujan yang menjadikannya tiada//). Bagi saya pun, yang lumayan akrab dengan karya-karya Pak Sapardi, hanya puisi itulah yang gubahannya nyangkut di otak saya (meski menurut saya sulit dinyanyikan). Tadinya saya pikir, di antara puisi-puisi beliau itulah yang paling romantis, tapi ternyata saya salah. Puisi itu, bagi saya kini, adalah romantis kedua setelah satu puisi yang juga dinyanyikan Ari dan Reda yang ini:

SAJAK-SAJAK KECIL TENTANG CINTA
Puisi: Sapardi Djoko Damono

/1/
mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat
/2/
mencintai cakrawala
harus menebas jarak
/3/
mencintai-Mu
harus menjelma aku

Sesudah kurang-lebih dua jam pertunjukan, saya menarik kesimpulan:
1)Pak Sapardi jatuh cinta pada hujan. Baru saya sadari begitu banyaknya puisi-puisinya yang mengambil tema hujan, atau sekedar menyinggungnya dalam syair.
2)Acara ini adalah cara yang tepat kalau ingin merayakan Valentine yang romantis. Bagaimana tidak, ketika di puncak acara Ari-Reda dan kelompok vokal grup anak-anak SMA menyanyikan lagu “Aku Ingin”, sekaligus penontonnya juga, saya melirik ke bangku belakang, semua pasangan kekasih saling menggenggam tangan kekasihnya. Saya yakin lagu itu kemudian menjadi lagu tema mereka, dan puisinya mungkin akan dipajang di undangan pernikahan jika mereka kelak sampai di pelaminan.
3)Puisi-puisi Pak Sapardi, bagi saya puisi yang selesai. Tak bisa didebat, terutama dengan metafora yang sangat kuat. Mengingatkan saya pada Hallmark, kartu ucapan dengan gambar romantis kalau tidak menggemaskan disertai dengan teks puisi (yang tak dipungkiri penyairnya anonymous) atau setidaknya beberapa baris kalimat romantis.

Lalu kami pulang, mampir sejenak ke Burger King yang buka 24 jam. Hujan masih seperti stop kontak yang error. Nyetrum-enggak-nyetrum-enggak. Tapi lantas kami merasa, bahwa hujan itu tak lagi mengganggu karena membuat basah atau sakit kepala. Rasa-rasanya kok… hujan seperti ini jadi romantis ya? (cieee…)

Malam ketika sampai di rumah, saya sempatkan membuka-buka buku Aku ini Binatang Jalang, di halaman tujuh saya berkenalan dengan ia, “Sia-Sia”, namanya. Dan saya begitu ingin mengutip selengkapnya sebagai pembuka artikel ini.

5 thoughts on “Valentine Bersama Puisi

  1. aq..suka banget tuh ngarang puisi… menurut aq curhatan hati qta bleh di tulis lwt puisi deh!!! biar lega n ada seninya get0’x….

Comments are closed.