Gallery

“‘Wesel Pos’ dan keberpihakan Ratih Kumala” oleh Joss Wibisono

 

Dibatjaken di Leiden pada sabtu sore 29 september 2018 wektu pengluntjuran Wesel Pos karja Ratih Kumala

Terus terang jach, saja merasa gamang ketika mulai membatja Wesel Pos, novel pendek Ratih Kumala ini. Bukan karena pendeknja, tapi karena tjeritanja. Seorang gadis dari Purwodadi, kota ketjil di wilajah timur Djawa Tengah, datang ke Djakarta untuk pertama kalinja dalam rangka mendjenguk kakaknja, padahal sudah lama sekali dia tidak berhubungan dengan si kakak. Pasti ini sebuah perdjalanan untuk menemui nasib malang, gadis ini pasti akan ditimpa malapetaka. Demikian praduga jang segera meliputi saja.

Saja bukan seorang pembatja jang menganut aliran sado masochisme, alias senang bahkan sampai dengan lidah ter-djulur2 dan gelora napsu ber-gulung2 membatja seorang protagonis (pelaku utama sebuah karja fiksi) jang disiksa hingga sangat menderita. Apalagi kalau sang protagonis itu adalah seorang gadis polos seperti Elisa, tokoh Ratih dalam novel terbarunja ini.

Haruskah membatja Elisa tertimpa malapetaka, begitu saja ber-kali2 bertanja pada diri sendiri. Selesai delapan halaman pertama saja sudah berpikir mau meletakkan sadja buku ini, tidak begitu berminat untuk berlandjut membatjanja. Tapi segera muntjul keraguan, diteruskan atau tidak ja? Halaman delapan diachiri dengan adegan Elisa sudah tertimpa bentjana padahal dia baru sadja mengindjakkan kaki di ibukota. Bentjana apa lagi jang akan menimpanja dalam upaja menemui Ikbal, kakak Elisa? Perkosaan? Pembunuhan? Penulisnja, Ratih Kumala, adalah seorang perempuan, tegakah dia menulis tentang sesama perempuan jang akan mendjadi korban? Keraguan ini mendorong saja untuk membatja lebih landjut, dan achirnja, tidak sampai dua djam kemudian novel pendek ini selesai terbatja.

Ternjata saja salah duga, Elisa tidak mendjadi korban kedjahatan jang lebih kedjam lagi. Dia tidak diperkosa atau dibunuh. Praduga jang dulu disebut sjak wasangka memang sering meleset. Sampai di situ saja lega. Tjuman saja belum begitu jakin apakah tidak datangnja nasib buruk ini karena Elisa telah beladjar dari pengalaman buruk pertamanja sehingga dia bisa menghindari bentjana; atau karena dia memang benar2mudjur, dalam arti Ratih memang tidak tega mentjelakai protagonisnja. Sebagai penulis perempuan, saja haqul jakin Ratih pasti berpihak kepada kaumnja!

Jang membuat saja rada tergelitik adalah bahwa ternjata djustru tokoh2 pria jang menemui nasib malang. Pertama Ikbal, kakak Elisa dan kedua Fahri, patjar Elisa. Fahri boleh dikata merupakan antagonis, pendamping Elisa, protagonis novel pendek ini. Mengapa djustru tokoh2 pria jang tertimpa malapetaka? Mungkinkah karena penulisnja seorang perempuan?

Ratih tidak hanja memperkenalkan pembatjanja pada tokoh pria jang benar2 djantan, tetapi djuga pada mas Memet jang pada malam hari bermetamorfosa mendjadi mBak Memet, dengan “wadjah menor, bibir merah, dan rambut mendjuntai”. Ini semua perlu supaja si mbak Memet bisa mentjari nafkah dengan ngamen keliling menggunakan tamborin kretjek2. Keragaman pelbagai matjam pria ini perlu digarisbawahi, terutama pada zaman ketika masih ada sadja kalangan jang menolak kemadjemukan sexualitas, bahkan menganggap keragaman itu tidak normal. Di balik penampilan sebagai perempuan pada malam hari, Ratih menghadirkan Memet sebagai tokoh simpatik jang tidak segan2 mengulurkan bantuan, tentu termasuk membantu Elisa, si tokoh utama. Ratih dengan kata lain tidak tampil sebagai polisi moral jang mengetjam atau mengutuk orang2 seperti Memet. Bagi saja ini djuga merupakan keberpihakan Ratih. Lebih dari itu sebagai penulis ia djuga telah menundjukkan sikap jang sesuai dengan perkembangan zaman pada abad 21 ini.

Sikap tidak menghakimi djuga terlihat pada bagaimana Ratih menggambarkan hubungan Elisa dengan Fahri, protagonis dan antagonis novel pendek ini. Setibanja di ibukota Fahrilah jang menampung Elisa, dan tak lama kemudian mereka berpasangan. Dengan simpatik Ratih menggambarkan kenjataan bahwa mereka sudah hidup serumah walau belum menikah. Para pengetjam dilukiskan sebagai godaan tidak serius.

Sebagai butir terachir perlu pula disinggung djudul novel pendek ini, Wesel Pos. Siapa masih mengetahui wesel pos jang djuga disebut pos wesel dan diserap dari bahasa Belanda postwissel? Mungkin tidak banjak lagi. Saja termasuk kalangan jang was2 dengan semakin tipisnja serapan kata bahasa Belanda, orang sekarang lebih suka berudjar DP ketimbang persekot (jang berasal dari voorschot, bahasa Belanda), lebih suka menggunakan driver ketimbang sopir jang berasal dari kata Prantjis chauffeur, lebih suka menggunakan diskon (dari discount; bahasa Inggris) ketimbang korting dari bahasa Belanda. Pendek kata zaman sekarang orang lebih keminggris ketimbang kemlondo, sehingga bisa2 kita lupa pernah didjadjah Belanda. Sebelum rekening bank dimiliki siapa sadja, orang sudah mengirim uang menggunakan pos wesel. Siapa jang masih menggunakannja sekarang? Sebagai mahasiswa di Salatiga pada awal 1980an dulu saja menerima wesel pos dari orang tua di Malang. Di Belanda wesel pos bisa djuga digunakan untuk mengirim uang ke Indonesia, itupun pernah saja lakukan pada achir 1980an ketika mengirim postwisselkepada orang tua. Tapi pada 2002 PTTPost Belanda mengachiri lajanan djasa postwissel. Dengan mengangkatnja dalam novel pendek ini, Ratih bukan hanja mengingatkan orang pada tjara lama mengirim uang, tapi lebih dari itu dia djuga menundjuk bahwa masih ada hlo jach kalangan jang menggunakan djasa ini. Biasanja mereka hidup di kota ketjil dan tidak memiliki rekening bank.

 

SUMBER:

https://gatholotjo.com/2018/09/29/wesel-pos-dan-keberpihakan-ratih-kumala-oleh-joss-wibisono/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *