Image
0

WESEL POS, novelet

Cuma orang sakti yang bisa bertahan hidup di Jakarta.

Sinopsis:

Ada dua jenis orang yang hidup di Jakarta. Pertama adalah orang sakti, mereka adalah orang yang akan bertahan hidup sebab ‘ilmu’ mereka sudah tinggi. Kedua adalah orang sakit, yang akan mati ditelan kekalahan di kota ini. Elisa datang ke Jakarta membawaku, sebab di atas tubuhku tertulis alamat kakaknya yang selama ini mengiriminya uang melalui aku, si Wesel Pos. Apakah dia akan menjadi orang sakti atau orang sakit? Sungguh tipis perbedaan menjadi sakti dan sakit.

Wesel Pos adalah karya ke-7 saya, dan ini adalah kali pertama saya menulis novelet, yang secara jumlah kata tentu jauh di bawah novel. Wesel Pos ini saya tulis di sela menulis novel yang sedang saya kerjakan, yang hingga sekarang pun belum rampung. Berbeda dari buku-buku saya sebelumnya, konsep buku ini ramah pembaca. Dari bentuk fisiknya, buku ini mungil dan relatif tipis dibanding novel pada umumnya. Setiap bab saya tulis dengan pendek, dan memang bertujuan untuk mereka, para pembaca generasi millenials, yang selalu bergerak dan tak punya banyak waktu. Satu bab bisa diselesaikan sekali duduk, untuk kemudian dilanjutkan lagi nanti.

Wesel Pos terbit di bulan Juni 2018, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

 

Para pembaca pertama:

“Pelan-pelan Ratih mengingatkan kita terhadap hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Jelas sekali Ratih suka memperhatikan manusia, dan itu modal terbesar keberhasilan novel ini.”
(Ifa Isfansyah, sutradara.)

“Pilihan benda pos sebagai penutur, penggambaran yang detail dan terasa dekat serta penceritaan yang lancar adalah keistimewaan novel ini.”
(Lily Yulianti Farid, penulis.)

“Terima kasih, wesel pos. Engkau telah menyajikan sebuah kisah yang menyentuh. Engkau telah memberikan peringatan kepada orangorang yang bersikeras mau mencari peruntungan hidup di Jakarta.”
(Joko Pinurbo, penyair.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *