<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ratih Kumala</title>
	<atom:link href="http://ratihkumala.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratihkumala.com</link>
	<description>The Only Constant is Change</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 12:55:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Undangan Launching Gadis Kretek</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/undangan-launching-gadis-kretek-840.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/undangan-launching-gadis-kretek-840.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 12:46:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gadis Kretek]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[ratih kumala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[Gadis Kretek &#124; sebuah novel Ratih Kumala &#124; Gramedia Pustaka Utama &#124; 2012 Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/undangan-launching-gadis-kretek-840.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/undanganLaunching_koverbenar.jpg" rel="lightbox[840]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/undanganLaunching_koverbenar.jpg" alt="" title="undanganLaunching_koverbenar" width="567" height="418" class="alignleft size-full wp-image-844" /></a></p>
<p>Gadis Kretek | sebuah novel Ratih Kumala | Gramedia Pustaka Utama | 2012</p>
<p>Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal  menjemput sang Ayah.  Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul  Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.</p>
<p>Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?<br />
<span id="more-840"></span><br />
Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat  dengan aroma cinta.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Mengejutkan, penuh dengan detail yang kaya sampai kalimat terakhir. Tanpa terasa kita diajak oleh tiga generasi Indonesia mutakhir yang berusaha meluruskan penyelewengan sejarah oleh generasi yang bercerai berai akibat ganasnya revolusi, politik dan kondisi sosial paling kontroversial di negeri ini lewat kretek, cinta, dan kasih tak sampai melalui ludah yang terasa manis. Semanis ludah Roro Mendut. Karya yang indah dan sayang untuk dilewatkan! ( John-De Rantau, sutradara )</p>
<p>Gadis Kretek merupakan sebuah masterpiece &#8212; novel dengan jiwa besar dari seorang penulis muda yg selalu menghadirkan karya2 &#8216;menggigit&#8217;. Gadis Kretek merupakan sbh kajian budaya yg dibuat hidup oleh karakter2 yg &#8216;berani&#8217; serta nuansa kekeluargaan yg meski tak sempurna, namun tetap penuh kehangatan. Bravo, Ratih! (Maggie Tiojakin, penulis)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Pre-order novel Gadis Kretek dibuka dari tanggal 16 Februari-1 Maret 2012. 20 pembeli pertama akan mendapatkan bonus kumcer Larutan Senja. Untuk keterangan yang lebih detail, sila klik <a href=" http://t.co/bvgPJgnP">http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792281415/Gadis-Kretek</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/undangan-launching-gadis-kretek-840.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis Kretek, Sebuah Novel yang Mulai Mewujud</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/gadis-kretek-sebuah-novel-832.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/gadis-kretek-sebuah-novel-832.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 04:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gadis Kretek]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Gramedia]]></category>
		<category><![CDATA[Iksaka Banu]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Februari 2012 ini saya begitu bersemangat, sebab saya &#8220;naik kelas&#8221; lagi. Memang sudah sejak Oktober 2011 novel ini selesai, setelah lebih dari tiga tahun saya berjuang di tengah kesibukan untuk melahirkannya. Ini novel terlama yang pernah saya tulis, dan saya sangat menikmati menuliskannya. Saya mengambil waktu sebanyak apapun yang saya butuhkan, baik untuk riset, &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/gadis-kretek-sebuah-novel-832.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_small.jpg" rel="lightbox[832]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/GadisKretek_small.jpg" alt="" title="GadisKretek_small" width="198" height="295" class="alignleft size-full wp-image-833" /></a></p>
<p>Bulan Februari 2012 ini saya begitu bersemangat, sebab saya &#8220;naik kelas&#8221; lagi. Memang sudah sejak Oktober 2011 novel ini selesai, setelah lebih dari tiga tahun saya berjuang di tengah kesibukan untuk melahirkannya. Ini novel terlama yang pernah saya tulis, dan saya sangat menikmati menuliskannya. Saya mengambil waktu sebanyak apapun yang saya butuhkan, baik untuk riset, menata plot, menata ulang lagi, menuliskannya, menjalih, riset lagi, menuliskannya lagi, dan menjalinnya lagi, begitu terus. Editor saya, mbak Mirna (Gramedia Pustaka Utama) memilih pak Iksaka Banu untuk mendesain kover dan ilustrasi bagian dalam.<br />
<span id="more-832"></span><br />
Pilihan mbak Mirna tidak salah, kami bisa melihat passion dalam hasil desainnya. Pak Iksaka Banu memberi beberapa opsi pilihan kover, dan dengan sabar mendengarkan keseluruhan konsep yang telah lama saya bentuk di kepala saya. Novel saya <strong><em>Gadis Kretek</em></strong> akhirnya mulai mewujud. Berikut adalah percobaan nomor 3 kover <strong><em>Gadis Kretek</em></strong> yang <em>almost finsih</em> dan sudah dipublish baik di socmed. Pak Iksaka Banu sedang memberikan <em>final touch</em> untuk kover di atas.</p>
<p>Saya mengujibacakan novel ini ke beberapa proofreader yang juga teman-teman sendiri sebelum akhirnya saya dan mbak Mirna mengedit <strong><em>Gadis Kretek</em></strong>. Terimakasih untuk Annisa Pandan Sari, Maggie Tiojakin, Hetih Rusli, Andreas Teguh Trijaya, dan John D&#8217;Rantau yang telah bersedia menjadi pembaca pertama dan menjadi pengkritik yang demikian membangun.</p>
<p><strong><em>Gadis Kretek</em></strong> akan terbit pada 28 Februari 2012, dan <em>launching</em> pada Maret 2012. Selamat membaca, teman-teman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/gadis-kretek-sebuah-novel-832.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nonik, sebuah cerpen</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 15:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Esquire]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Ratih Kumala Dimuat: Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011 Aida tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti adegan film Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung, bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi meja yang di atasnya ada sebuah tape. Kaset berpita itu terus berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku? Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Ratih Kumala<br />
Dimuat: Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011</p>
<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/esquiredesember.jpg" rel="lightbox[805]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/esquiredesember.jpg" alt="" title="esquiredesember" width="196" height="257" class="alignleft size-full wp-image-830" /></a></p>
<p>Aida tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti adegan film Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung, bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi meja yang di atasnya ada sebuah <em>tape</em>. Kaset berpita itu terus berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku? Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu apa-apa. Tapi toh, petugas polisi yang berpakaian preman itu tetap mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak berujung. Nonik. Nonik. Nonik. Nama itu terus disebut-sebut dalam dialog yang tak bisa dibilang beramah-tamah itu.</p>
<p>“Sejak kapan kamu kenal Nonik?”<br />
Ketika itu Aida sedang berdiri di halte bus, jam di tangannya menunjukan pukul 11:12. Aida memutuskan, seperempat jam lagi bus yang ditunggunya tak juga muncul, ia terpaksa menghentikan taksi agar tak terlambat ujian di kampus. Tapi tiba-tiba sebuah sedan berhenti di depannya, kacanya turun, dan wajah seorang gadis nongol di situ. Nonik Malika Marten. Ketika itu Aida belum tahu namanya.<br />
“Lo anak Unkris kan?”<br />
“Iya.”<br />
“Yuk bareng.” Aida tak lantas naik, ia ragu. “Mau ngampus kan?” Aida mengangguk. “Gue juga. Yuk!” Nadanya setengah memaksa. Aida masuk ke mobil yang kemudian melaju ke satu tujuan yang sama. Itulah perkenalan mereka. Nonik berkuliah di fakultas yang sama dengan Aida, Komunikasi. Tetapi jurusannya berbeda. Mereka tak pernah satu kelas. Tapi sejak itu keduanya jadi akrab. Nonik ternyata tinggal di kompleks perumahan orang-orang kaya yang letaknya di depan kampung tempat Aida tinggal. Dia sering melihat Aida yang pulang dengan bis dan berhenti di depan kompleks perumahannya. Diam-diam Nonik berjanji pada diri sendiri, jika ada kesempatan ia akan mengajak Aida berangkat bersama.<br />
<span id="more-805"></span><br />
Rumah Aida kecil, masuk gang. Rumahnya tentu saja sisa-sisa dari perkampungan khas Betawi yang sebenarnya luas, tetapi tandas dijual ke pengembang yang lantas membangun perumahan mewah. Sebuah pagar tinggi membatasi antara kampung dan perumahan. Di satu sudut yang tertutup pohon pisang di pinggiran tembok pembatas itu, ada bagian yang dijebol orang kampung. Gunanya, agar orang kampung punya jalan pintas jika ingin ke jalan raya. Jika tidak begitu, mereka harus berputar, dan itu berarti jauh.<br />
Rumah Nonik besar sekali. Bisa dibilang, rumahnya adalah salah satu yang paling mewah di antara rumah-rumah mewah di kompleks itu. Pagarnya putih, catnya putih, pintu masuknya besar dengan gagang keemasan berukir. Aida teringat dongeng tentang istana yang dihuni putri raja di dalamnya. Nonik adalah putri raja itu. Aida bertanya dalam hati, kapan ia bakal bisa membangun rumah sebesar itu?<br />
Nonik ibarat putri cantik nan baik hati yang tak membeda-bedakan rakyatnya yang jelata. Diajaknya Aida pergi jalan-jalan. Ke Puncak, ke Bandung, ke kelab-kelab malam. Nonik bahkan berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke Malaysia.<br />
“Ke kelab malam aja lo yang bayarin. Mana sanggup gue jalan ke Malaysia.”<br />
“Tenang…lo pokoknya bikin passport aja!” Ujar Nonik. </p>
<p>“Ke kelab malam? Kalian terlibat narkoba?”<br />
Keringat Aida serasa diperas, kakinya tiba-tiba kesemutan, tenggorokannya kering. Petugas polisi itu lalu menyodorkan segelas air. Aida meneguknya sekali. Kerongkongannya terasa menyempit ketika air itu melewatinya. Aida menggeleng, lalu mengangguk, dan menggeleng lagi. Petugas polisi itu menggebrak meja, lantas dengan kasar menyuruh Aida mengingat-ingat: yang benar pernah terlibat narkoba atau tidak?<br />
“Saya tahu Nonik pernah membeli pil di kelab malam. Tapi demi Tuhan, saya tidak pernah mencicipinya.” Meski dalam hati Aida menyesali karena pernah sekali mencoba mengisap ganja yang diselipkan dalam lintingan campuran tembakau. Itu juga setelah Nonik mengejeknya sebagai ‘anak baik-baik’.<br />
Nonik selalu menyebutnya Si Penjaga Moral, jika ia sedang tinggi dengan teman-temannya. Senyatanya, Aida memang pantas disebut demikian. Dialah yang menyingkirkan Nonik jauh-jauh dari teman-teman laki-lakinya jika mereka mulai grepek-grepek Nonik. Dia juga yang mengangkat Nonik jika terkapar tak sadarkan diri di toilet kelab malam setelah muntah-muntah. Aida pun yang memanggilkan taksi dan mengantar Nonik pulang, lalu dengan susah payah menariknya sampai ke tempat tidurnya. Aida menjaga Nonik sedemikian rupa, karena bagi Aida, Nonik adalah gadis kaya yang sedang bingung harus diapakan uangnya yang banyak itu.<br />
Nonik tinggal di rumahnya yang besar itu bersama mamahnya. Saking besarnya, Nonik tak pernah ketahuan pulang-pulang mabuk. Kamarnya berada di sayap kanan rumah, sementara mamahnya di sayap kiri.<br />
“Aida… Aida… lo baik banget sih. Gue udah abis jadi pelacur kali kalo lo enggak ada pas gue teler gini. Lo ngingetin gue ama diri gue yang dulu. Anak baik-baik.” Lalu Noni tepar setelah berceloteh demikian. Ia baru akan terbangun besok sore jika malamnya mabuk seperti itu. Aida sudah terbiasa dengan keadaan Nonik yang seperti itu.<br />
Mamah Nonik adalah perempuan pendiam dengan gaya aristokrat yang cuma mengangguk kecil dengan senyum tertahan jika bertemu Aida. Kata Nonik, mamanya senang ia berteman dengan Aida, sebab Aida perempuan. Ia tak suka melihat Nonik bergaul dengan laki-laki. Ibunya juga kerap mengingatkannya untuk mengunjungi Opa Pierre di rumah atau di rumah sakit, jika kebetulan sedang dirawat. Menurut mamahnya, Nonik harus membuat Opa Pierre senang sebab dia adalah trust fund baby, alias keturunan yang mendapat dana perwalian. Dari situlah kekayaan mereka berasal, meskipun Aida tak pernah tanya apa sebenarnya bisnis Opa Pierre.</p>
<p>“Kamu pernah ketemu dengan Opa Pierre?”<br />
Setelah beberapa kali mamahnya menegur Nonik di depan Aida agar mengunjungi Opa Pierre, akhirnya Nonik pun menurut. Sore itu Aida dan Nonik ke RSCM, di ruang VIP Opa Pierre dirawat. Laki-laki itu berkulit putih, dengan bercak-bercak yang jelas di wajahnya. Rambutnya tinggal beberapa lembar, itu pun cuma di bagian belakang. Sedang di kepala atas, gundul. Tubuh Opa Pierre kegemukan, kata dokter ia harus berdiet. Tapi Opa susah sekali disuruh diet. Dia suka makan makanan enak.<br />
“Hidup kan harus dinikmati, Nik.” Opa Pierre terkekeh. Nonik duduk di sebelahnya sambil memegang tangan Opa Pierre, sementara Aida duduk di sofa, menunggui Nonik kangen-kangenan sama opanya. Aida agak heran, kenapa Nonik ogah-ogahan menjenguk opanya. Padahal kalau sudah bertemu seperti sekarang, keduanya terlihat akrab.<br />
Sekali, Nonik minta maaf karena tidak bisa pulang bareng Aida. Sebagai gantinya, Nonik memberikan uang untuk ongkos taksi yang kemudian ditolak Aida. Katanya, Opa Pierre akan menjemputnya, dan mereka akan makan malam bersama keluarga merayakan Opa Pierre yang dinyatakan sembuh oleh dokter. Laki-laki itu tiba di kampus dengan Mercy hitam mengkilat. Semua mata tertuju ke mobil itu. Kacanya dilapisi film gelap, sehingga tak ada yang tahu siapa di dalamnya jika Opa Pierre tidak keluar. Sopir membukakan pintu belakang, sebuah tongkat muncul duluan, disusul sepasang kaki tua yang gendut dan agak bergetar, kaki Opa Pierre. Nonik menyambut Opa Pierre dengan girang. Diciumnya tangan lelaki tua itu, lalu pipinya dan keningnya yang licin.<br />
“Opa masih ingat Aida kan? Yang waktu itu nemanin Nonik pas ngejenguk Opa.” Opa Pierre mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aida tak yakin laki-laki itu ingat pada dirinya. Pertama, waktu menjenguk Aida cuma kenalan dan tak berbincang apa-apa dengannya. Kedua, Opa Pierre pakai kacamata yang tebalnya satu meter, mana mungkin dia melihat wajah Aida dengan jelas.<br />
Petugas Polisi tiga kali menanyakan kapan lagi Aida bertemu Opa Pierre. Ia mengelilingi Aida. Aroma tubuhnya yang masam, membuat Aida pusing.<br />
“Cuma dua kali itu saya ketemu Opa Pierre, Pak. Sumpah.”</p>
<p>“Kamu dan Nonik jadi ke Malaysia?”<br />
Nonik sudah menyiapkan dua tiket, satu untuknya, satu lagi untuk Aida. Tiket itu dibelinya begitu Nonik selesai sidang gelar S1-nya. Aida sendiri sudah selesai duluan tiga bulan lalu. Ia sengaja menunda wisuda demi bisa wisuda bareng Nonik. Aida juga yang membantu Nonik menyelesaikan skripsinya. Sebenarnya, Aida tak diijinkan pergi oleh Aep, pacarnya. Tapi karena itu adalah bulan terakhir Aida melajang, Aep akhirnya mengijinkannya. Tiga minggu dari hari kepulangan mereka dari Malaysia, Aida dan Aep akan melangsungkan pernikahan.<br />
Aida melewati koridor-koridor bandara dengan mata berbinar sekaligus kikuk. Serasa ada kupu-kupu terbang di dalam perut menggelitiknya penuh keriangan. Itu adalah kali pertama ia naik pesawat. Aida tak pernah menyangka bisa pergi ke luar negeri. Gratis pula. Untuk liburan, bukan untuk bekerja. Ia beruntung sekali bisa berteman baik dengan Nonik. Sesampai di Kuala Lumpur, seorang laki-laki muda menjemput mereka. Tanpa malu-malu, Nonik langsung berhambur menciumi lelaki itu.<br />
“Ichsan.” Demikian lelaki itu memperkenalkan dirinya. Berkulit putih, tampan, dan kelihatan cerdas. Aida harus membuka telinga lebar-lebar jika berbicara dengan Ichsan, sebab meski Bahasa Indonesia masih nyambung dengan orang Malaysia yang berbahasa Melayu, tetapi logat dan beberapa kata berbeda dari Bahasa Indonesia.<br />
Nonik mengajak Aida bersenang-senang. “Anggap aja ini kado kawinan gue buat lo. Tapi bukan buat Aep.” Derai tawa Nonik mengikuti setelah ia mengatakan kalimat itu. Ya, Aep tak mungkin diharapkan untuk mampu membiayai bulan madu. Ia baru lulus kuliah, kerja pun masih dalam masa percobaan, belum diangkat jadi pegawai. Tapi laki-laki itu tulus dan serius menyintai Aida, meski ia kadang menunjukan ketidaksukaan kedekatan Aida dengan Nonik.<br />
Nonik dan Aida berdiam selama enam malam tujuh hari di Kuala Lumpur. Sesiangan mereka jalan-jalan pelesir kota. Malamnya berisitirahat di hotel. Dari total enam malam itu, Nonik cuma tinggal satu malam di kamar hotel mereka. Sisanya, Nonik lebih memilih bobok bareng Ichsan.<br />
“Lo enggak takut hamil?”<br />
“Kalo hamil ya udah…kebetulan. Gue juga pengin punya anak dari Ichsan.” Nonik menjawab ringan.<br />
“Cinta emang buta ya.”<br />
“Cinta enggak buta, Da. Yang buta itu uang!” Derai tawa Nonik terdengar renyah. Aida juga tertawa, meski sebenarnya ia masih mencoba mencerna kalimat Nonik.<br />
Nonik nangis-nangis ketika berpisah di bandara, tak yakin kapan akan bisa bertemu lagi dengan Ichsan. Di pesawat pun, Aida masih berusaha menenangkan Nonik yang belum usai menangisi perpisahannya. Kelihatannya Nonik cinta mati pada Ichsan.</p>
<p>“Kapan terakhir kali kamu ketemu Nonik?”<br />
Hari H pernikahan Aida dan Aep dilangsungkan sederhana. Nonik berdandan dengan kebaya, sebagai sahabat dekat mempelai. Dengan senang Nonik membantu Aida menyediakan apa yang dia butuhkan selama hari pernikahannya. Mulai dari mengambilkan makan dan minum, mencarikan peniti ketika mengenakan baju pengantin, sampai akhirnya ikut beres-beres mengangkut kado dan menyimpankan uang saweran dari tetamu.<br />
Aida baru selesai difoto di kamar penganten bersama Aep ketika Nonik pamit pulang.<br />
“Gue minggu depan mau ke Malaysia, Da. Keliatannya enggak bakal balik lagi ke Jakarta.”<br />
“Hah?! Serius?”<br />
“Gue iri lihat lo sama Aep, berani memulai keluarga baru, meskipun kalian enggak punya apa-apa. Gue juga mau kayak lo.”<br />
“Lo mau kawin? Eh…, nikah sama Ichsan?”<br />
Aida mengangguk mantap, “Nanti gue kirimin lo tiket PP ke Kuala Lumpur kalau tanggal nikah gue udah fix. Tapi jangan bilang-bilang orang ya kalo gue ke Malaysia.” Nonik memeluk Aida dan pergi masih dengan kebaya.<br />
Seperti kebanyakan pengantin baru yang betah berlama-lama di dalam kamar. Aida dan Aep tak segera keluar kamar meski hari telah benderang. Ia baru keluar pukul satu siang, disambut suara-suara kerabat saudaranya yang bersiul-siul menggoda pasca malam pertama. Aida menyiapkan air teh untuk suaminya ketika tanpa sengaja ia mendengar berita di televisi. Kematian tragis seorang gadis dan ibunya di rumahnya, ada 12 tusukan di tubuh Nonik, dan delapan tusukan di tubuh ibunya. Aida seperti kehilangan kekuatan, air teh yang dipegangnya terjatuh. Cangkir itu menjadi keping. Disebutkan rumah Nonik penuh dengan ceceran darah, sebab ia tak langsung mati ketika baru beberapa tusukan, ia sempat menyeret tubuhnya demi melawan mata pisau. Seisi rumah melotot nganga  tak percaya melihat foto Nonik di televisi. Menjelang Maghrib, tiga petugas polisi berpakaian preman mendatangi Aida. Mereka tak memberi kesempatan pada Aida untuk menuntaskan salat Maghrib, dan memaksannya langsung ikut ke kantor untuk diinterogasi.</p>
<p>Aida dilepas keesokan paginya, menjelang Subuh. Aep menunggu semalaman di kantor polisi. Beberapa hari kemudian, mata Aida masih saja lekat ke televisi setiap berita kriminal dimulai. Mereka telah menemukan tersangka utamanya, seorang pejabat komisaris sebuah bank yang diduga adalah suami Nonik dengan inisial PM. Nonik adalah istri keenam dari lelaki itu.<br />
“PM?” Aida tertegun. Sebuah nama muncul begitu saja di kepalanya.  “Pierre Marten? Opa Pierre!”<br />
Aida memang tak pernah mendengar kabar apa-apa lagi dari polisi. Ibarat arsip yang terus tertumpuk, berdebu, lalu terlupakan. Berita kematian Nonik tertelan oleh berita-berita kriminal lain. Aida menata sendiri puzzle kematian sahabatnya. Ada banyak ‘mungkin’ yang muncul di kepala Aida.  Mungkin, ia cuma gadis yang dijual mamahnya ke Opa Pierre sebagai istri ke sekian agar kehidupan mereka bisa sejahtera, lalu mengaku-aku sebagai trust fund baby agar tak dicurigai orang. Nonik tak pernah menyintai Opa Pierre. Mungkin, cinta sejatinya adalah Ichsan, dan dengannya ia ingin menghabiskan sisa hidupnya. Mungkin, Opa Pierre telah mencium rencana Nonik untuk minggat ke Malaysia. Dan mungkin, Opa Pierre benar menyintainya hingga ia terbutakan oleh rasa cemburu. Tapi toh Nonik tak pernah percaya bahwa cinta itu buta.<br />
<em>Cuma uang yang bisa bikin buta.</em></p>
<p>-rk-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/nonik-sebuah-cerpen-805.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>quote</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/quote-800.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/quote-800.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 13:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Friederich Nietzsche]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=800</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;The author must keep his mouth shut when his work starts to speak.&#8221; Friederich Nietzsche]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;The author must keep his mouth shut when his work starts to speak.&#8221;</em><br />
<strong>Friederich Nietzsche</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/quote-800.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Finishing New Novel</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/finishing-new-novel-795.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/finishing-new-novel-795.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 14:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[It&#8217;s been three years since I got the first idea of writing this novel about &#8216;kretek&#8217; (clove-cigarette), the signature cigarette of Indonesia. This is the longest period for me finishing a piece of novel. I guess it explains why I always support producing cigarette (especially kretek), though I don&#8217;t smoke at all. I got my &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/finishing-new-novel-795.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rokok-kretek-gapri-.jpg" rel="lightbox[795]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/rokok-kretek-gapri-.jpg" alt="" title="rokok kretek gapri" width="298" height="223" class="alignleft size-full wp-image-796" /></a><br />
It&#8217;s been three years since I got the first idea of writing this novel about &#8216;kretek&#8217; (clove-cigarette), the signature cigarette of Indonesia. This is the longest period for me finishing a piece of novel. I guess it explains why I always support producing cigarette (especially kretek), though I don&#8217;t smoke at all. I got my reason, and the more I dig deeper  on to clove-cigarette, the more I see the core of a kretek and how it worth treasure. (In this part, you don&#8217;t have to be agree with me, especially if you hate smoking and smokers *wink*)<br />
<span id="more-795"></span><br />
I have given this hot-hot-hot fresh from the oven novel to my first readers. They are my closest friends whom I trust to be objective enough to criticize my work. And of course, one of them is my editor in Gramedia Pustaka Utama Publisher. Hopefully, by January or February 2012, my novel will be seen on the market. </p>
<p>If the previous novel, <em>Kronik Betawi</em>, I took my father&#8217;s background as its setting, then in this novel I took my mother&#8217;s. Somehow, even if I don&#8217;t mean to, those two novels bring me closer -spiritually- to my parents, although I don&#8217;t always have smooth relations with them. But those novels had transformed to time machine for me which allows me to peek deeper side of their personality and my families of the previous generations (whom I don&#8217;t even know at the present).</p>
<p>There&#8217;s a lot of ways to upgrade oneself. And for someone whom I think I had been too long stuck in a class, while the others have upgrading themselves, for me -as a writer- this is an upgrade. My dear readers, I humbly present to you: <em>GADIS KRETEK</em>, a novel.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/finishing-new-novel-795.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meet the Writer, Tariq Ali</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 16:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Tariq Ali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[I&#8217;m lucky enough to get an opportunity to meet this smart funny man, Tariq Ali. My husband, Eka Kurniawan, and I met him at the hotel in Kemang, Jakarta, to give him some books. And you know what, he gave us his book too! Its tittle is Fear of Mirrors. Lucky (^,^)v Then we got &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/TariqAli_RatihKumala2.jpg" rel="lightbox[784]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/TariqAli_RatihKumala2-300x225.jpg" alt="" title="TariqAli_RatihKumala2" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-785" /></a><br />
I&#8217;m lucky enough to get an opportunity to meet this smart funny man, Tariq Ali. My husband, Eka Kurniawan, and I met him at the hotel in Kemang, Jakarta, to give him some books. And you know what, he gave us his book too! Its tittle is <em>Fear of Mirrors</em>. Lucky (^,^)v  Then we got a chance to have a chat. I&#8217;m not saying it was a light chat, since we talked mostly about politics! Yes, can you believe it? But Mr. Ali was a very positive person whose able to bring the conversation into a nice chat. From Pramoedya Ananta Toer to Cuba, the chat got me carried away. For a man who admit don&#8217;t know much about Indonesia (than other Asia countries), he sure knew many about Indonesian history. One funny thing happen, when he saw a news paper named Koran Jakarta. He thought it was about religion. Then I explained that &#8216;koran&#8217; in Indonesian means &#8216;news papper&#8217;, not &#8216;Al-Quran&#8217;. Hopefully we&#8217;ll get a chance to meet again in a future, sometime. I don&#8217;t know any other serious writer whose fun like him.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/meet-the-writer-tariq-ali-784.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In Memoriam: Steve Jobs</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/in-memoriam-steve-jobs-781.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/in-memoriam-steve-jobs-781.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 15:53:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journal]]></category>
		<category><![CDATA[Steve Jobs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[Thank you for all the piece of art you have created for us, Mr. Jobs. You will always be remembered.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Steve-Jobs-1955-2011.jpg" rel="lightbox[781]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Steve-Jobs-1955-2011-300x184.jpg" alt="" title="Steve-Jobs-1955-2011" width="300" height="184" class="aligncenter size-medium wp-image-782" /></a><br />
Thank you for all the piece of art you have created for us, Mr. Jobs. You will always be remembered.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/in-memoriam-steve-jobs-781.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Date Night: Lenka</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/date-night-lenka-777.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/date-night-lenka-777.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 15:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Lenka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=777</guid>
		<description><![CDATA[Lenka is the most adorable singer I&#8217;ve ever known. When I knew she would hold a concert in Jakarta, I made my husband look for her ticket! He looked for it in Disctara in some malls, but the ticket was sold out. Good thing, finally he found in on the internet. So, on 5 October &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/date-night-lenka-777.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Lenka1.jpg" rel="lightbox[777]"><img src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/Lenka1.jpg" alt="" title="Lenka1" width="300" height="400" class="alignleft size-full wp-image-772" /></a> Lenka is the most adorable singer I&#8217;ve ever known. When I knew she would hold a concert in Jakarta, I made my husband look for her ticket! He looked for it in Disctara in some malls, but the ticket was sold out. Good thing, finally he found in on the internet. So, on 5 October 2011, we went to the concert cheerfully. This was the first time for us in our marriage watching a live concert together :) So, I guess this is a special date night ;) </p>
<p><span id="more-777"></span></p>
<p>Lenka was about 5 months old pregnant! However, she still very energize on the stage! She sang this song for the little one on her belly, reminded us to our baby daughter, Kinan, at home. We love this song very much:</p>
<p>&#8220;Everything&#8217;s Okay&#8221; (lyric)</p>
<p>Keep giving me hope for a better day<br />
Keep giving me love to find a way<br />
Through this heaviness I feel<br />
I just need someone to say, everything&#8217;s okay</p>
<p>Woke my weary head<br />
Crawled out of my bed<br />
And I said, &#8220;Oh, how do I go on?&#8221;<br />
Nothing&#8217;s going right, shadow&#8217;s took the light<br />
And I said, &#8220;Oh, how do I go on?&#8221;</p>
<p>Sometimes I need a little sunshine<br />
And sometimes I need you</p>
<p>Keep giving me hope for a better day<br />
Keep giving love to find a way<br />
Through this messy life I made for myself<br />
Heaven knows I need a little</p>
<p>Hope for a better day<br />
A little love to find a way<br />
Through this heaviness I feel<br />
I just need someone to say, everything&#8217;s okay</p>
<p>I gave my hope to you<br />
When you were nearly through<br />
And you said, &#8220;Oh, I can&#8217;t go on&#8221;<br />
Well, now I need it back<br />
&#8216;Cause I have got a lack of all that&#8217;s good<br />
And I can&#8217;t go on</p>
<p>Yeah, Sometimes I just need a little sunshine<br />
And sometimes I need you</p>
<p>Keep giving me hope for a better day<br />
Keep giving love to find a way<br />
Through this messy life I made for myself<br />
Heaven knows I need a little</p>
<p>Hope for a better day<br />
A little love to find a way<br />
Through this heaviness I feel<br />
I just need someone to say, everything&#8217;s okay</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/date-night-lenka-777.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Catatan Harian Si Boy</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 16:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Ario Bayu]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Si Boy]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Onky Alexander]]></category>
		<category><![CDATA[Putrama Tuta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[Saya harus curiga tiap kali Joko Anwar di twitter terlalu bersemangat mempromosikan satu film. Jika tidak film itu bikinannya sendiri, atau dia terlibat jadi sesuatu di situ. Ketika dia semangat mempromosikan Catatan Harian Si Boy (CHSB), saya jadi mencari-cari wajah Joko Anwar di film ini, dan betul saja&#8230;begitu adegan opening dia jadi bodyguard Si Boy &#8230; <a href="http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/CatatnSiBoy.jpg" rel="lightbox[764]"><img class="alignleft size-full wp-image-768" title="CatatnSiBoy" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/CatatnSiBoy.jpg" alt="" width="178" height="284" /></a></p>
<p>Saya harus curiga tiap kali Joko Anwar di twitter terlalu bersemangat mempromosikan satu film. Jika tidak film itu bikinannya sendiri, atau dia terlibat jadi sesuatu di situ. Ketika dia semangat mempromosikan <em>Catatan Harian Si Boy</em> (CHSB), saya jadi mencari-cari wajah Joko Anwar di film ini, dan betul saja&#8230;begitu adegan opening dia jadi bodyguard Si Boy yang perannya lumayan cool mirip-mirip <em>Man in Black</em> *nyengir*. Tak hanya itu, ternyata di credit tittle terlihat namanya menjadi consultant film ini.</p>
<p>Saya berkesempatan menonton film ini bersama beberapa rekan kerja. <em>Film Catatan Si Boy</em> (yang masih dibintangi Onky Alexander) memang bukan film angkatan saya. Saya menonton film ini ketika diputar di televisi, bertahun lalu, bukan di bioskop. Saya mungkin masih terlalu kecil ketika <em>Catatan Si Boy</em> versi Onky Alexander diputar di bioskop, pada era &#8217;80-an. Namun begitu, saya cukup akrab sebab film ini (selain <em>Lupus, Olga Sepatu Roda, Si Kabayan</em>, dan <em>Si Doi</em>) masuk begitu saja dalam ingatan saya dan berdiam cukup lama. Terutama, tentu saja karena Onky Alexander ganteng, hahahaha. Saya pun sempat mengikuti gosip tentang Onky Alexander jaman dulu, dengan siapa dia pacaran, dan dengan siapa akhirnya dia menikah.</p>
<p>Ada yang berbeda dengan Si Boy yang sekarang. Dari segi film, perhatikan judulnya, bukan lagi <em>Catatan Si Boy</em>, melainkan <em>Catatan Harian Si Boy</em>. Meskipun kata &#8216;harian&#8217; di posternya seperti diselipkan, hingga yang besar-besar terbaca adalah <em>Catatan Si Boy.</em> Kisah ini tetang Boy yang sudah sukses, susah ditemui dan berubah. Pacar Boy yang bernama Nuke (kalau tidak salah, dulu dimainkan oleh Paramitha Rusady) terbaring sakit. Ia memegang buku harian milik Boy. Anak perempuan Nuke (diperankan Carissa Putri) mencari-cari Boy agar bisa bertemu dengan ibunya yang sakit. Dia pun dibantu Satriyo (Ario Bayu) mencari Boy. Kisah cinta segitiga terselip di antara mereka, sebab ternyata putri Nuke ini sudah punya pacar yang hobi judi dan mengandalkan harta orangtua.</p>
<p><span id="more-764"></span></p>
<p>Awalnya saya menebak-nebak, apakah film ini akan bercerita tentang Si Boy dengan versi baru? Tetapi ternyata saya salah, film ini tentang Satriyo yang membaca catatan milik Si Boy yang kita kenal dulu. Karakter Boy jaman dulu, diwakili oleh Satriyo yang sekarang. Cakep, hobi balap, rajin salat, anak orang kaya, baik-baik tapi rebelious, dan rada-rada narsis. Sedangkan karakter Emon yang kebanci-bancian dan Kendi yang serampangan yang dulu diperankan oleh Didi Petet dan Dede Yusuf, diwakili oleh tokoh Heri dan Andi. Turunan karakter-karakter ini cukup cerdas diambil oleh penulisnya Priesnanda Dwisatria, dan tentu saja, sutradaranya Putrama Tuta.</p>
<p>Film CHSB ini cukup menghibur terutama dengan dialog yang sangat kekinian, blak-blakan dan lucu. Saya sempat banyak tertawa mendengar dialog-dialognya. Favorit saya, ketika tokoh Andi menasehati Satriyo dengan kalimat, &#8220;Lu ninggalin taik di sini, ninggalin taik di sana, lama-lama dunia ini penuh ama taik lu.&#8221; Sederhana, kocak, tapi ternyata penuh pesan moral. Meskipun sebenarnya di beberapa adegan dragging, seperti misalnya adegan ngobrol di kafe, tetapi kebosanan penonton bisa diselamatkan karena dialog yang hidup. Lebih dari itu, sinematografi yang oke dan editingnya membuat film ini berkesan sangat dinamis.</p>
<p>Yang saya agak kecewa adalah, mengenai pencarian Si Boy ini terkesan tempelan saja, agar sekedar bisa membawa nama besar <em>Catatan Si Boy</em>, yang memang sudah sangat populer dan sukses dari sononya. Tapi inti ceritanya mengenai kisah cinta dan persahabatan Satriyo dan teman-temannya. Padahal, jika ingin berdiri sendiri dengan -misalnya- dikasih judul <em>Blog Si Satriyo</em> (secara jaman sekarang catatan harian/jurnal sudah enggak ngetrend lagi *maksa sih*), kisah Satriyo dkk ini sudah cukup kuat dan menarik. Tapi tentu saja, dari segi penjualan mungkin akan tersendat, sebab Si Satriyo tidak memiliki nama besar seperti Si Boy. Anyway, itu sah-sah saja, apalagi jika memang tujuan film ini adalah komersil, dan bukan festival.</p>
<p>Seandainya saja, soal pencarian Si Boy porsinya ditambah (tak perlulah harus sampai seperti pencarian di reality show Termehek-mehek), tapi ditambah barang tiga atau empat scene lagi saja, pasti akan jadi perfect. Cara Satriyo akhirnya ketemu Si Boy pun terkesan dipaksa. Dia ke kantor Si Boy, meskipun sudah diusir satpam, Si Boy yang kebetulan sedang nongol langsung dikejar-kejar hingga ke helipad. Dan&#8230;viola! Ketemulah! Satriyo pun membacakan isi catatan harian itu ke Boy.</p>
<p>Adegan closing, adalah adegan penting yang ditunggu-tunggu: pertemuan Boy (Onky ALexander) dan Nuke. Tapi, yang mengecewakan adalah wajah keduanya tak kelihatan. Hhhmmm&#8230;I wonder why. Mungkinkah pakai peran pengganti? Wajah Nuke, yang dulu diperankan oleh Paramitha Rusady pun tak terlihat dari awal hingga akhir. Padahal ia adalah karakter kunci, meskipun cuma berakting di tempat tidur. Saya merasa, karena keterbatasan pemain ada adegan dengan dialog-dialog penting yang terpaksa dihilangkan. Yah, untungnya cerita masih bisa berjalan.</p>
<p>Apapun adanya Boy sekarang, film ini mampu menghibur saya sebagai film komersil. Dan untuk ini, saya bersyukur sebab jadi bisa ketawa-ketiwi. Cuma satu yang kuraaaaang banget: ke mana lagu &#8220;Terserah Boy&#8221;  karya Harry Sabar? Padahal saya pengin sekali dengar itu sebagai OST film ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/membaca-catatan-harian-si-boy-764.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelas Online Menulis Cerpen Bersama Eka Kurniawan</title>
		<link>http://ratihkumala.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-bersama-eka-kurniawan-754.php</link>
		<comments>http://ratihkumala.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-bersama-eka-kurniawan-754.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 13:18:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[On Writing]]></category>
		<category><![CDATA[Eka Kurniawan]]></category>
		<category><![CDATA[kelas menulis]]></category>
		<category><![CDATA[plotpoint]]></category>
		<category><![CDATA[tulissekarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratihkumala.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang tertarik mengikuti kelas online menulis cerita pendek bersama Eka Kurniawan? Rencana kelas baru mulai 14 April 2011, diadakan oleh PlotPoint. Untuk yang tertarik, sila daftar di http://tulissekarang.com. Bisa juga sebelumnya bertanya dulu dengan ngobrol via YM di tulissekarang@yahoo.com. Yang menggunakan Twitter bisa follow@_PlotPoint, yang menggunakan Facebook, sila kunjungihttp://facebook.com/pages/plot-point-workshop.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang tertarik mengikuti kelas online menulis cerita pendek bersama <a title="Eka kurniawan" href="http://ekakurniawan.com">Eka Kurniawan</a>? Rencana kelas baru mulai 14 April 2011, diadakan oleh <a href="http://tulissekarang.com/">PlotPoint</a>. Untuk yang tertarik, sila daftar di <a href="http://tulissekarang.com/">http://tulissekarang.com</a>. Bisa juga sebelumnya bertanya dulu dengan ngobrol via YM di <a href="mailto:tulissekarang@yahoo.com">tulissekarang@yahoo.com</a>. Yang menggunakan Twitter bisa follow<a href="http://twitter.com/_PlotPoint">@_PlotPoint</a>, yang menggunakan Facebook, sila kunjungi<a href="http://facebook.com/pages/plot-point-workshop">http://facebook.com/pages/plot-point-workshop</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratihkumala.com/blog/kelas-online-menulis-cerpen-bersama-eka-kurniawan-754.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

