Meet the Writer, Tariq Ali


I’m lucky enough to get an opportunity to meet this smart funny man, Tariq Ali. My husband, Eka Kurniawan, and I met him at the hotel in Kemang, Jakarta, to give him some books. And you know what, he gave us his book too! Its tittle is Fear of Mirrors. Lucky (^,^)v Then we got a chance to have a chat. I’m not saying it was a light chat, since we talked mostly about politics! Yes, can you believe it? But Mr. Ali was a very positive person whose able to bring the conversation into a nice chat. From Pramoedya Ananta Toer to Cuba, the chat got me carried away. For a man who admit don’t know much about Indonesia (than other Asia countries), he sure knew many about Indonesian history. One funny thing happen, when he saw a news paper named Koran Jakarta. He thought it was about religion. Then I explained that ‘koran’ in Indonesian means ‘news papper’, not ‘Al-Quran’. Hopefully we’ll get a chance to meet again in a future, sometime. I don’t know any other serious writer whose fun like him.

Date Night: Lenka

Lenka is the most adorable singer I’ve ever known. When I knew she would hold a concert in Jakarta, I made my husband look for her ticket! He looked for it in Disctara in some malls, but the ticket was sold out. Good thing, finally he found in on the internet. So, on 5 October 2011, we went to the concert cheerfully. This was the first time for us in our marriage watching a live concert together :) So, I guess this is a special date night ;)

Continue reading

1

Membaca Catatan Harian Si Boy

Saya harus curiga tiap kali Joko Anwar di twitter terlalu bersemangat mempromosikan satu film. Jika tidak film itu bikinannya sendiri, atau dia terlibat jadi sesuatu di situ. Ketika dia semangat mempromosikan Catatan Harian Si Boy (CHSB), saya jadi mencari-cari wajah Joko Anwar di film ini, dan betul saja…begitu adegan opening dia jadi bodyguard Si Boy yang perannya lumayan cool mirip-mirip Man in Black *nyengir*. Tak hanya itu, ternyata di credit tittle terlihat namanya menjadi consultant film ini.

Saya berkesempatan menonton film ini bersama beberapa rekan kerja. Film Catatan Si Boy (yang masih dibintangi Onky Alexander) memang bukan film angkatan saya. Saya menonton film ini ketika diputar di televisi, bertahun lalu, bukan di bioskop. Saya mungkin masih terlalu kecil ketika Catatan Si Boy versi Onky Alexander diputar di bioskop, pada era ’80-an. Namun begitu, saya cukup akrab sebab film ini (selain Lupus, Olga Sepatu Roda, Si Kabayan, dan Si Doi) masuk begitu saja dalam ingatan saya dan berdiam cukup lama. Terutama, tentu saja karena Onky Alexander ganteng, hahahaha. Saya pun sempat mengikuti gosip tentang Onky Alexander jaman dulu, dengan siapa dia pacaran, dan dengan siapa akhirnya dia menikah.

Ada yang berbeda dengan Si Boy yang sekarang. Dari segi film, perhatikan judulnya, bukan lagi Catatan Si Boy, melainkan Catatan Harian Si Boy. Meskipun kata ‘harian’ di posternya seperti diselipkan, hingga yang besar-besar terbaca adalah Catatan Si Boy. Kisah ini tetang Boy yang sudah sukses, susah ditemui dan berubah. Pacar Boy yang bernama Nuke (kalau tidak salah, dulu dimainkan oleh Paramitha Rusady) terbaring sakit. Ia memegang buku harian milik Boy. Anak perempuan Nuke (diperankan Carissa Putri) mencari-cari Boy agar bisa bertemu dengan ibunya yang sakit. Dia pun dibantu Satriyo (Ario Bayu) mencari Boy. Kisah cinta segitiga terselip di antara mereka, sebab ternyata putri Nuke ini sudah punya pacar yang hobi judi dan mengandalkan harta orangtua.

Continue reading

Kelas Online Menulis Cerpen Bersama Eka Kurniawan

Ada yang tertarik mengikuti kelas online menulis cerita pendek bersama Eka Kurniawan? Rencana kelas baru mulai 14 April 2011, diadakan oleh PlotPoint. Untuk yang tertarik, sila daftar di http://tulissekarang.com. Bisa juga sebelumnya bertanya dulu dengan ngobrol via YM di tulissekarang@yahoo.com. Yang menggunakan Twitter bisa follow@_PlotPoint, yang menggunakan Facebook, sila kunjungihttp://facebook.com/pages/plot-point-workshop.

3

Reader’s Block

Anda penulis? Menyebalkan bukan jika tiba-tiba terserang writer’s block? Tahu kan, itu lho…tiba-tiba lagi asik menulis, “terserang” masalah, entah mendadak mood jelek, rasa malas yang akut, mau nulis kurang bahan tulisan, dan lain-lain. Saya sering ditanya, gimana cara mengatasi writer’s block. Saya pribadi, akhir-akhir ini lebih suka membiarkan writer’s block itu sejenak menyerang saya, dan tak memaksakan otak saya untuk menulis. Jika merasa sudah tiba saatnya, saya akan mencoba memancing mood menulis dengan menulis hal-hal sederhana (misalnya menulis blog), atau membaca buku-buku yang menyenangkan, hingga nonton film yang bisa memancing ide-ide baru. Saya yakin, tiap penulis jika ditanya cara mengatasi writer’s block punya jawaban sendiri-sendiri.

Writer’s block itu ibaratnya “habluminallah” (tentu saja dengan tanda kutip, yang secara harafiah ‘hubungan manusia dengan Tuhan’). ‘tuhan’ (dengan ‘t’ kecil) di situ -versi saya- saya ibaratkan diri sendiri, penulis sebagai tuhan kecil untuk tulisannya sendiri. Bagaimana ia bertanggung jawab atas dirinya sebagai penulis dengan tulisan yang seharusnya ia hasilkan. Saya katakan ‘seharusnya’, karena memang banyak penulis yang mandeg begitu saja di tengah proses menulisnya (ya terserang writer’s block itu tadi) dan tak melanjutkan lagi. Tapi, ada lho, “habluminannas” dalam berkarya sastra (yang secara harafiah berarti ‘hubungan manusia dengan sesama’), yang berarti -versi saya- dalam hal sastra adalah hubungan buku yang dihasilkan oleh penulis yang bersangkutan dengan pembacanya.

Pernahkah Anda merasa sebal karena tahu bahwa tulisan Anda tak ada yang membacanya? Bagaimana cara tahunya? Yang sederhana dan paling mudah dilacak adalah ketika Anda melihat laporan dari penerbit, bahwa penjual buku Anda cuma beberapa gelintir saja alias tak laku. Kedua, cari saja orang yang mengapresiasi buku Anda dengan mereviewnya di media/internet, jangan-jangan isinya mencaci maki buku Anda. Atau lebih parah, tak ada yang mereviewnya sama sekali. Sakit hati, bukan? “Sialan, susah-susah aku nulis!” Umpat Anda dalam hati. Yah, tapi itulah resiko jadi penulis.
Continue reading