Tahi Lalat Ipong

Ipong punya banyak tahi lalat: ini kesimpulan saya setelah melihat pameran lukisannya di Vivi Yip Art Room (Sabtu, 2 Agustus 2008). Di banyak lukisan, bagian leher ke atas, saya menemukan satu titik cat. Awalnya, saya pikir itu karena dia doyan mencorat-coret hasil lukisannya dengan cat yang kelihatannya sengaja dicairkan dan diacak -rada mirip abstrak gitu deh, tapi bukan- (kalo baca katalognya, katanya ini ‘teknik dripping’ …gile, udah bisa nyontek teori seni nih tiba2 hahahahaha). Tapi setelah diamat-amati lagi, kelihatannya dia sengaja menjatuhkan satu titik tinta ke bagian tertentu, dan… eng-ing-eng… jadi deh tahi lalat! Saya membayangkan, ruang lukis dia pasti berantakan, cat di mana-mana. Mungkin juga, dia punya satu kaos khusus yang dia pakai berulang-ulang hanya untuk melukis, baju yang khusus dikorbankan kena cat acrylic. Ya, mirip-mirip ama tukang cat gitu deh… he he he.

Read more

JUNO

Dari sebulan yang lalu teman sama, Metta, wanti-wanti untuk menonton JUNO. Sebetulnya waktu film ini tayang di bioskop, saya sudah niat mau nonton, gara-garanya orang Hollywood muji-muji film ini. Termasuk waktu Ellen Page (pemeran Juno) tampil di acara Ellen Degenerest, keliatannya Ellen Page cool banget dan aktinya dipuji habis-habisan sama Ellen. Akhirnya, setelah melewati dua malam mengutak atik VCD Juno yang gak mau muter di laptop, saya berhasil juga menontonnya dengan meminjam laptop suami.

Read more

“Rumah Duka”

Kompas | Minggu, 6 Juli 2008

Hal pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku menamatkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku menangis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suaranya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.

Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.

”Tolong…, hormati keluarga kami yang sedang berduka,” desisku. Ia menghentikan langkah, menatapku sebentar, lantas berbalik dan berlalu. Mungkin sambil menangis.
Read more

Street Hunting Komunitas fotografer.net

Hari ini, saya diajak Husni Munir street hunting foto bersama teman-teman fotografer.net. Sejak malam sebelumnya, Husni memang sudah nginep di tempat saya. Maklum, rumah dia rada nun jauh di sana, jadi daripada bangun kepagian buat ngumpul di Gambir, mending pilih bermalam di rumah saya. Dari kemarin-kemarin Husni sudah manas-manasi saya biar terkontaminasi kamera juga. Tapi sengaja, saya jauh-jauh kalo dia lagi provokasi. Gak apa-apa deh jadi objek dia latihan aja, ketimbang saya kena racun kamera: soalnya kalo pengen harganya lumayan mahal (hiks).

Read more

Young writers test the limits of teenlit

Daniel Rose, Contributor, Jakarta | The Jakarta Post, 05/11/2008

DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)
DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)

A man who works in marketing and rarely reads fiction said that whenever he heard the word “writer”, the first thing that crossed his mind was eccentricity.

His definition of “eccentricity” is introverted and quiet on one hand; extroverted and rebellious on the other. In short, he thinks writers are a strange breed. Where did he get this idea? “The Hours and Finding Forrester,” he answered.

Three young writers sat in the waiting room of Gramedia Pustaka Utama (GPU) publishing company one afternoon – two girls and a guy. The girls, Ratih Kumala and Dyan Nuranindya, were wearing T-shirts, and the guy, Fadil Timorindo, wore a washed-out jacket and skinny jeans. There was nothing eccentric about their appearance.
Read more