Feminisme dalam Fiksi
2

Feminisme dalam Fiksi

Perhatikan kalimat ini: “Dengan cepat kutikam pisau itu ke perut lelaki itu. Ia sangat kaget sekaligus menahan sakit. Sprei yang berwarna putih kini menjelma merah darah. Aku mencium lelaki itu dengan lembut.” (cerpen “Permainan Tempat Tidur”, Maya Wulan). Dalam cerpen tersebut Maya Wulan menggambarkan adegan ranjang nyaris secara detil sebanyak tiga halaman. Perhatikan pula kalimat…
Continue reading »

Perempuan yang (Tidak) Perkasa
3

Perempuan yang (Tidak) Perkasa

“Kamu seharusnya lahir jadi anak laki-laki; tentulah kamu akan jadi laki-laki yang tetap berani hati,” demikianlah kami dengar setiap kali sampai jemu telinga mendengarnya. (surat Kartini kepada Nyonya Ovink-Soer: Jepara, Agustus 1900)     Panggil dia ‘Kartini’ saja, seperti yang diminta Kartini sendiri dalam surat-suranya kepada sahabat-sahabatnya. Kalimat itu pula yang kemudian diadopsi Pramoedya Ananta…
Continue reading »