Feminisme dalam Fiksi
2

Feminisme dalam Fiksi

Perhatikan kalimat ini: “Dengan cepat kutikam pisau itu ke perut lelaki itu. Ia sangat kaget sekaligus menahan sakit. Sprei yang berwarna putih kini menjelma merah darah. Aku mencium lelaki itu dengan lembut.” (cerpen “Permainan Tempat Tidur”, Maya Wulan). Dalam cerpen tersebut Maya Wulan menggambarkan adegan ranjang nyaris secara detil sebanyak tiga halaman. Perhatikan pula kalimat…
Continue reading »

Perempuan yang (Tidak) Perkasa
3

Perempuan yang (Tidak) Perkasa

“Kamu seharusnya lahir jadi anak laki-laki; tentulah kamu akan jadi laki-laki yang tetap berani hati,” demikianlah kami dengar setiap kali sampai jemu telinga mendengarnya. (surat Kartini kepada Nyonya Ovink-Soer: Jepara, Agustus 1900)     Panggil dia ‘Kartini’ saja, seperti yang diminta Kartini sendiri dalam surat-suranya kepada sahabat-sahabatnya. Kalimat itu pula yang kemudian diadopsi Pramoedya Ananta…
Continue reading »

Keyakinan Tak Perlu Bukti
2

Keyakinan Tak Perlu Bukti

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20: 29.) Ada kecenderungan nihilistis dalam tulisan-tulisan Ratih Kumala. Tabula Rasanya diisi penuh karakter-karakter yang gagal hidupnya: drug addicts, dosen yang satu cintanya mati satunya lagi tak berbalas, lesbian yang wanita pujaannya (salah satu drug addicts tadi) mati OD, etc. Kecapan Budi Darma di belakang buku ini…
Continue reading »

Indonesia di Suatu Masa dalam Cerpen Sobron Aidit (Alm.)
0

Indonesia di Suatu Masa dalam Cerpen Sobron Aidit (Alm.)

    Bentara Budaya, 2006 Terakhir pak Sobron Aidit datang ke Indonesia, GPU mengadakan diskusi Indonesia Pada Suatu Masa dalam Cerita Pendek Sobron Aidit. Aku diminta membaca penggalan dua cerpen beliau, “Ziarah” dan “Naturalisasi II”. Tak lama setelah beliau kembali ke Perancis dan mengurus restaurannya, pak Sobron Aidit mengembuskan napas terakhirnya. Itu adalah kali terakhir…
Continue reading »