Betawi versus Modernisasi

4 Comments

kronik-betawi

Oleh Muhammad Amin

Sampai saat tanah moyangku
tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota
terlihat murung wajah pribumi
terdengar langkah hewan bernyanyi

Itulah sebait syair dari lagu “Ujung Aspal Pondok Gede” yang dilantunkan penyanyi kawakan Iwan Fals. Nyanyian itu merupakan satu dari suara kegetiran orang-orang Betawi, penduduk asli Jakarta yang perlahan mulai terpinggirkan oleh modernisasi. Kawasan Pondok Gede sendiri kini sudah menjadi kawasan yang ditumbuhi gedung-gedung, tidak lagi kawasan asli Betawi di zamannya yang nyaman dan asri.

Kisah dalam novel ini bermula dari banjir Jakarta yang entah mengapa menjadi jadwal musiman. Haji Jaelani adalah salah satu warga Betawi yang harus menerima akibat dari perkembangan Jakarta, dan juga menerima konsekuensinya. Salah satunya adalah banjir akibat hilangnya banyak sekali resapan air yang dulu tersedia.
More

Novel KRONIK BETAWI Bisa Pesan di Sini :)

3 Comments

kronik-betawi

KRONIK BETAWI
Jenis : Fiksi/Novel
Penulis: Ratih Kumala
Penerbit: Gramedia Putaka Utama, 2009
Tebal: 268 halaman

Buat teman-teman yang males ke toko buku, novel Kronik Betawi bisa dipesan langsung lewat saya :)

Novel Kronik Betawi bercerita tentang perjalanan kota Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi dan menepis berbagai persepsi miring terutama dari para pendatang. Kerelaan berbagi dengan kaum pendatang dalam mengais rejeki di ibukota ternyata tidak sebanding dengan dampaknya. Kota Jakarta bagai bukan milik penduduk aslinya lagi. Diceritakan, pembangunan yang sembarangan dan pertumbuhan permukiman bahkan telah menghilangkan asal-usul serta sejarah beberapa tempat.

Novel ini khas Betawi. Menghibur, menyindir, dan ceplas-ceplos. Sebuah pengingat, dokumentasi, dan apresiasi bagi nilai-nilai dan keluhuran budaya Betawi yang patut dibanggakan.

Harga bukunya Rp. 40.000,- dan saya tidak menarik biaya pengiriman, selama masih di Indonesia. Tapi buat yang di luar negeri, so sorry… kena biaya kirim ya (maklum, paketinnya mahal hehe).

Kalau tertarik, silakan transfer ke:
BCA No.Rek. 1530234017
atasnama Ratih Kumala.

Lalu, konfirmai lewat email ke ratihkumala@gmail.com, jangan lupa mencantumkan alamat pengiriman dan nomor telepon (just in case). Novel Kronik Betawi segera dikirim setelah pembayaran diterima.

Betawi Jaman Doeloe

No Comments

Kita semua tahu, Jakarta telah berubah sedemikian rupa. Tapi seperti apakah Jakarta (alias Betawi, alias Batavia) sebelum perubahan itu ada? Sebelum gedung menjulang tinggi, sebelum jalan padat merayap, sebelum orang berkerumun bak rayap. Saya menemukan video menarik di YouTube.com yang diposting oleh falkonungu. Selamat menonton video pendek ini. Semoga kita makin menghargai ibukota ini.

kronik-betawi
Saya sering berpikir seperti apa Jakarta jaman dulu. Menulis Kronik Betawi lebih banyak membuka memori tentang Jakarta ketika saya masih kecil. Betapa semua berbeda ketika beberapa waktu lalu saya kembali ke Pondok Gede, rumah di mana saya dibesarkan. Rumah Sakit Husni Tamrin bukan lagi sebuah klinik bersalin kecil seperti ketika adik saya yang paling kecil dilahirkan. tanah pekuburan di depan gang masuk menuju rumah saya kini telah diratakan dan konon tulang belulang manusia sudah dipindahkan dari situ. Jalan gang yang dulu besar, kini serasa pendek dan sempit, sedangkan kebun kecapi yang dulu luas dan penuh nyamuk telah disulap jadi rumah bertingkat.

Buku saya keempat, Kronik Betawi , bercerita tentang Jakarta dari jaman penjajahan Jepang (tahun ’40-an) hingga awal era Reformasi (1998). Tiga tokoh yang merupakan anak daerah, yaitu Jaelani, Jarkasi dan Juleha (beserta garis keturunan keluarga mereka) tiba-tiba tergusur dan tergeser. Novel ini sengaja saya tulis dengan sangat ringan dan sederhana, jauh dari kesan “high-literature” yang jelimet. Ini adalah persembahan saya untuk kota kelahiran saya, Jakarta. Selamat membaca dan selamat makin mencintai Jakarta.

Kronik Betawi, sebuah novel

15 Comments

Kronik Betawi

Kronik Betawi

“Untuk almarhum papahku, Haris Fadillah, dan Jakarta, kota kelahiranku. Dua nama yang telah membesarkanku.”

Kronik Betawi terbit pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Republika, Agustus-Desember 2008. Fiksi ini saya tulis selama kurang lebih satu tahun, berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmato yang kemudian saya kembangkan menjadi novel. Hari ini, tanggal 22 Mei 2009, saya menerima POD sebagai contoh fisik buku yang akan terbit dari Mbak Mirna, editor saya di GPU.

Bagi saya, novel ini menguak memori masa kecil. Saya lahir dan besar di Jakarta, tepatnya di Pondok Gede. Saya tinggal di lingkungan yang kental dengan budaya Betawi, di mana Bokir, Mandra (yang waktu itu masih miskin) sehari-hari bertemu dengan saya. Saya juga kerap menonton cucu-cucu Pak Haji Bokir berlatih di sanggar mereka saat malam minggu tiba.

Ketika novel ini terbit sebagai cerber di Republika pada tanggal 8 Agustus 2008, tengah malam hari tanggal 9 Agustus 2009, papah saya dipanggil Yang Kuasa. Ia belum sempat melihat karya saya yang teranyar. Untuk itulah novel ini saya persembahkan untuk Papah.

More

Shakespeare dalam Manga

3 Comments

yhst-51816236815316_2048_41943808 Pertama kali saya berkenalan dengan Shakespeare lewat Romeo and Juliette yang saya toton filmnya di TVRI, ketika itu saya masih SD. Film itu dilengkapi dengan subtitle Bahasa Indonesia yang sangat membantu saya memahami sebab waktu itu saya tidak bisa berbahasa Inggris. Saya tidak tahu siapa itu William Shakespeare, tapi film Romeo and Juliette ketika itu lumayan membekas di benak saya. Beberapa tahun kemudian, saya baru tahu kalau film itu sejatinya diangkat dari karya seseorang yang bernama William Shakespeare. Beberapa tahun kemudian (lagi) saya juga baru tahu kalau karya Shakespeare itu bukan novel, novelet atau cerpen, melainkan naskah drama teater. Kesimpulannya: saya lumayan lambat mengenal siapa itu Shakespeare, hehehe….

Ketika kuliah di jurusan Sastra Inggris, agaknya rada memalukan kalau tidak mengenal karya-karya Shakespeare. Terlebih lagi karena dosen-dosen saya kerap menyebut-nyebut namanya. Saya sempat ke perpustakaan kampus dan membaca buku William Shakespeare, dan hasilnya … (sejujurnya) saya bingung! Bahasa yang digunakan masih jadul (atau ‘klasik’, sebutan yang lebih elegan). Bahasa Inggris klasik tidak pernah benar-benar diajarkan di kampus saya. Untuk memahami sebuah kalimat berbahasa Inggris klasik, saya waktu itu bolak-balik membuka kamus, lumayan melelahkan. Mungkin ini adalah pengakuan dosa paling blak-blakan yang pernah saya lakukan: sewaktu jadi mahasiswa Sastra Inggris, saya lebih suka menonton film yang diangkat dari karya William Shakespeare ketimbang membacanya (semoga Tuhan mengampuni saya). Kisah-kisah yang ditulis Shakespeare bagi saya lebih mudah dipahami dengan menonton televisi. Satu-satunya kalimat yang paling saya ingat dari Shakespeare adalah “what’s in a name?” (apalah arti sebuah nama?) Ketika Juliette ngomong sendiri di jendela kamarnya, sementara Romeo nguping setelah tresspassing dengan cara lompat pagar. Lain itu, tidak. Alhasil dari menonton itu adalah: saya mengetahui jalan cerita karya-karya Shakespeare, tapi tidak menghapal kalimat per kalimat -ini adalah hal yang lumayan memalukan sebagai seorang lulusan Sastra Inggris-. Mungkin saya satu-satunya orang yang mengakui hal (memalukan) ini; tapi saya tahu tidak sedikit mahasiswa Sastra Inggris (di Indonesia) yang melakukan hal sama seperti saya. Hanya saja mereka masih punya harga diri untuk tidak mengakuinya hehehehe.

More