My Jakarta (Interview@JakartaGlobe)

Photo by Dalih Sembiring

Photo by Dalih Sembiring

Ratih Kumala is a Jakartan, first by birth and then by marriage. Born in the city 28 years ago, the writer-cum-editor moved to Palembang, South Sumatra Province, when she was in the fifth grade. She lived there for three years before her family took her to Solo, Central Java Province, where she eventually married writer Eka Kurniawan in 2006. Just one week after the wedding, Ratih followed her husband to the Big Durian.

What was it like to return to your birthplace?

I was shocked to see how much Jakarta had changed, especially the traffic. Let’s just say I’m glad my job doesn’t start at 9 a.m.
Continue reading

7

Young writers test the limits of teenlit

Daniel Rose, Contributor, Jakarta | The Jakarta Post, 05/11/2008

DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)

DYAN NURANINDYA: (JP/R. Berto Wedhatama)

A man who works in marketing and rarely reads fiction said that whenever he heard the word “writer”, the first thing that crossed his mind was eccentricity.

His definition of “eccentricity” is introverted and quiet on one hand; extroverted and rebellious on the other. In short, he thinks writers are a strange breed. Where did he get this idea? “The Hours and Finding Forrester,” he answered.

Three young writers sat in the waiting room of Gramedia Pustaka Utama (GPU) publishing company one afternoon – two girls and a guy. The girls, Ratih Kumala and Dyan Nuranindya, were wearing T-shirts, and the guy, Fadil Timorindo, wore a washed-out jacket and skinny jeans. There was nothing eccentric about their appearance.
Continue reading

5

Perempuan dan Kebebasan Memaknai Hidup:
Mengais Hikmah Filosofis di Balik Novel Genesis

Oleh: Prass Engky

Genesis
photo by kevindooley, some rights reserved.

I. Pendahuluan

Filsafat dan sastra mempunyai dasar pijak yang sama,yaitu realitas. Bila filsafat bertolak dari kenyataan lalu diabstraksikan, dicari jati dirinya, hakikatnya, maka sastra mulai dari apa yang ada dalam kenyataan lalu diolah lewat imajinasi. Imajinasi ini ada dalam cipta kemudian dituangkan dalam tulisan atau kata-kata (Sutrisno,1995: 16). Filsafat dan sastra bisa saling bergandengan. Kita dapat saja berfilsafat lewat sastra, apapun bentuknya. Hal ini telah dilakukan oleh kalangan sastrawan yang mengungkapkan dan mengkritisi realitas tertentu lewat kata-kata/bahasa.

Munculnya novelis-novelis perempuan dalam sastra Indonesia modern antara lain menunjukkan kerinduan dan semangat perempuan untuk menggarap dan mengkritisi realitas dari sudut pandang mereka. Ada muatan filosofi yang ingin diungkapkan lewat karya imajinatif mereka. Dalam tulisan ini, saya ingin ”mengais” (atau tepatnya: menafsir) muatan filosofi dari sebuah novel karya Ratih Kumala, berjudul Genesis. Sesuai dengan judulnya, makalah ini menyoroti tema ”kebebasan perempuan”, yang diperdalam dengan bantuan pandangan eksistensialisme Sartre.
Continue reading

Wajah Baru

Untuk menghindari kebosanan, blog ini pun mengalami perubahan wajah untuk kesekian kalinya. Tidak apa-apa, ya. Blog ini mempergunakan platform WordPress.org. Meskipun saya tak banyak tahu soal WordPress, tapi sepertinya merupakan platform yang paling banyak dipergunakan. Karena itu, banyak pula theme bagus gratisan. Lumayan, kan, kalau mau gunta-ganti baju sesuai musim dan suasana hati? Hehehe ….

3

Adegan Klise di Film

“Fangkly my dear, I dont give a damn.”
(kalimat dan agedan terkenal dalam film Gone With The Wind)

Seberapa sering anda mengingat adegan dalam film yang pernah ditonton? Kutipan di atas misalnya, ketika Scarlet O’Hara menahan kekasihnya Reth Butler. Tapi dengan acuh Reth malah menjawab demikian. Jangan lupa pula dengan adegan terkenal di serial film layar lebar James Bond. Akting yang khas ketika James Bond memperkenalkan dirinya, selalu dengan kalimat; “My name is Bond. James Bond.” Sambil bergaya kharismatik, membuat lawan bicaranya (terutama perampuan) jadi termehek-mehek.

Continue reading